Workshop Mendeley di UIN Ar-Raniry Aceh

Berbagi ilmu bersama dosen dan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh 2017

Tour de Merapi Yogyakarta 2017

Rombongan Tour Dosen dan Pegawai Administrasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 2017

Workshop OJS di UPI Tasikmalaya

Foto bersama pimpinan kampus UPI Tasikmalaya setelah Workshop OJS (Open Journal System) Juni 2017

Perpustakaan di Universitas Amerika

Pintu gerbang perpustakaan Davidsons Library UCSB, California Amerika Serikat.

Al Jam'iatul Washliyah Provinsi Jawa Barat

Kunjungan Pengurus Wilayah (PW) Al-Jam'iatul Washliyah ke Pengurus Daerah Al-Washiliyah Cirebon.

Sabtu, 08 September 2018

Prosiding Seminar Nasional Dakwah 2017

Prosiding Seminar Nasional Dakwah 2017


Kamis, 24 Agustus 2017

Unpad bersama Relawan Jurnal Indonesia Gelar Workshop Pengelolaan Jurnal


Pengelolaan jurnal ilmiah saat ini dipandang penting, mengingat jurnal menjadi ruang publikasi bagi guru besar, dosen, maupun mahasiswa. Regulasi terkait publikasi ilmiah juga telah ditetapkan Pemerintah melalui peraturan Kemenristekdikti. Namun, masih ada hambatan dalam proses implementasinya.
Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Unpad, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp. A(K), M.Kes., mengatakan, hambatan terbesar publikasi jurnal ilmiah baik secara nasional maupun internasional ialah budaya dosen, kendala bahasa dan pembiayaan. Maka tidak heran jika jumlah jurnal ilmiah Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan jumlah jurnal ilmiah Malaysia dan Thailand.
Hal tersebut dikatakan Prof. Budi saat membuka Workshop Pengelolaan dan Teknik Penulisan Jurnal Elektronik Terstandar Akreditasi di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Rabu (15/2). Workshop ini merupakan workshop jurnal pertama yang digelar di Indonesia. Acara yang berlangsung hingga Kamis (16/02) ini digelar atas kerja sama Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan dengan Relawan Jurnal Indonesia.
Workshop ini digelar dalam rangka membantu mewujudkan pengelolaan jurnal ilmiah secara elektronik yang berkualitas dan bereputasi di kancah nasional. Kegiatan diikuti oleh 200 peserta yang berasal di seluruh wilayah Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa pengelolaan jurnal sangat dibutuhkan oleh seluruh perguruan tinggi,” tambah Prof. Budi.
Jurnal ilmiah terakreditasi saat ini menjadi hal yang sangat penting sebagai syarat publikasi ilmiah. Prof. Budi mengatakan, hampir semua dosen yang ingin naik pangkat dan mendapatkan tunjangan haruslah mempublikasikan jurnal ilmiah. Publikasi ini juga menjadi salah satu syarat kelulusan mahasiswa Unpad untuk bisa menyelesaikan studinya.
Syarat publikasi ilmiah ini juga telah ditegaskan Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad. Untuk mahasiswa program Doktor, gelar cumlaude akan didapat jika melakukan publikasi internasional.
“Saya harap, semua yang hadir di sini bisa mengaplikasikan apa yang telah didapatkan dari acara workshop ini. Mudah-mudahan tahun depan jurnalnya bisa terakreditasi nasional maupun internasional. Dengan begitu, bisa membantu memperbaiki kualitas negara kita dalam mempublikasikan jurnal ilmiah,” ucap Prof. Budi di akhir sambutannya.
Sebelum acara workshop berlangsung, terdapat acara pelantikan pengurus RJI Jabar yang diketuai Dr. Uwes Fatoni, M. Ag., . Dalam sambutannya, Dr. Uwes mengucapkan terimakasih kepada Universitas Padjadjaran yang telah menyediakan fasilitas dan mendukung keberlangsungan acara.
“Menjadi kebanggaan kami, bisa membantu teman-teman semua (para peserta) bagaimana cara mengelola jurnal. Hal ini sesuai dengan visi dari RJI untuk membantu  mewujudkan pengelolaan jurnal ilmiah yang berkualitas dan bereputasi di kancah Nasional maupun Internasional,” ujar Dr. Uwes.
Lanjutnya, pengelola jurnal saat ini memang menjadi ujung tombak bukan hanya bagi akademik saja, akan tetapi bagi kehidupan dosen. Hal ini akan menjadi penentu profesi dosen.  Untuk itu, dibuatlah workshop ini agar para pengelola jurnal bisa lebih paham dan dapat mengatasi hambatan yang dihadapi dalam memublikasikan jurnal ilmiah di setiap perguruan tinggi.
Acara ini pun mendapat respons baik dari banyak peserta. Beberapa peserta dari luar Jawa Barat mengaku memperoleh banyak pengalaman terkait penulisan jurnal. Mereka mengungkapkan, workshop ini terbilang sangat jarang dilaksanakan di Indonesia, sehingga ada harapan bahwa workshop ini dapat terus berkelanjutan.*

Minggu, 12 Juni 2016

Taat Kepada Pemimpin Atau Kepada Media?


Perda Serang telah disosialisasikan dengan baik, bahkan di tempel di depan rumah ibu penjual warung yang kemarin diberitakan dirazia oleh Satpol PP.

Lalu apa yang salah dengan penegakan hukum oleh satpol PP. Jelas yang salah itu media nasional yang memframing berita perda tersebut. Seolah hanya media yang berhak untuk menilai sebuah peristiwa itu baik dan benar, masyarakat harus turut pada media. Padahal jelas yang diperintahkan Allah taat itu kepada pemerintah bukan pada media. (Lihat surat An-Nisaa:59).

Saya menanggapi pemberitaan media nasional di viral berita di postingan seotang wartawan senior bahwa media semestinya jangan memframing pemberitaaan tentang perda ini apalagi dengan dalih kemanusiaan. Karena jelas yang disalahkan bukan hanya satpol PP tapi juga aturan yang digunakan oleh satpol PP untuk ditegakkan. Apalagi seolah si ibu penjual nasi yang kena razia itu terdzolimi lalu dibuat penggalangan dana yang katanya sampai ratusan juta. Bagus sih penggalangan dana untuk membantu orang kesusahan apalagi di bulan Ramadan. Tapi jelas berita tersebut memframing bahwa orang islam seolah tidak toleran kepada orang yang tidak puasa.


Menariknya ternyata pandangan saya tentang framing media tersebut dinihilkan oleh sang wartawan. Saya disebut orang idiot, intoleran, penuh perasangka bahkan dituduh sudah pendidikan tinggi tapi sempit berpikir. Lah kok nyerang ke pribadi. Ah aneh. Wartawan kok begitu bahasanya. Padahal saya alumni dari kampus dia dulu kuliah.


Ya sudahlah, ini memang zaman kejayaan media. Para pemilik media adalah penguasa informasi, dan wartawan para rasulnya. Mereka menganggap bahwa beritanya adalah yang terbaik karena sudah mengikuti kaidah jurnalisme. Tapi kita tetap harus kritis dengan setiap pemberitaan dari media. Karena ada hirarki pengaruh dalam isi pemberitaan media : individu pekerja media, rutinitas media, organisasi media, luar media dan ideologi media (Shoemaker dan Reese). 


Dan ingat tidak ada perintah untuk taat pada media, yang ada perintah taat pada pemimpin. Ya iyalah. Hehe..
Prosiding Seminar Nasional Dakwah 2017
Prosiding Seminar Nasional Dakwah 2017


Unpad bersama Relawan Jurnal Indonesia Gelar Workshop Pengelolaan Jurnal

Pengelolaan jurnal ilmiah saat ini dipandang penting, mengingat jurnal menjadi ruang publikasi bagi guru besar, dosen, maupun mahasiswa. Regulasi terkait publikasi ilmiah juga telah ditetapkan Pemerintah melalui peraturan Kemenristekdikti. Namun, masih ada hambatan dalam proses implementasinya.
Direktur Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan Unpad, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp. A(K), M.Kes., mengatakan, hambatan terbesar publikasi jurnal ilmiah baik secara nasional maupun internasional ialah budaya dosen, kendala bahasa dan pembiayaan. Maka tidak heran jika jumlah jurnal ilmiah Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan jumlah jurnal ilmiah Malaysia dan Thailand.
Hal tersebut dikatakan Prof. Budi saat membuka Workshop Pengelolaan dan Teknik Penulisan Jurnal Elektronik Terstandar Akreditasi di Bale Sawala, Gedung Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Rabu (15/2). Workshop ini merupakan workshop jurnal pertama yang digelar di Indonesia. Acara yang berlangsung hingga Kamis (16/02) ini digelar atas kerja sama Direktorat Sumber Daya Akademik dan Perpustakaan dengan Relawan Jurnal Indonesia.
Workshop ini digelar dalam rangka membantu mewujudkan pengelolaan jurnal ilmiah secara elektronik yang berkualitas dan bereputasi di kancah nasional. Kegiatan diikuti oleh 200 peserta yang berasal di seluruh wilayah Indonesia.
“Ini menunjukkan bahwa pengelolaan jurnal sangat dibutuhkan oleh seluruh perguruan tinggi,” tambah Prof. Budi.
Jurnal ilmiah terakreditasi saat ini menjadi hal yang sangat penting sebagai syarat publikasi ilmiah. Prof. Budi mengatakan, hampir semua dosen yang ingin naik pangkat dan mendapatkan tunjangan haruslah mempublikasikan jurnal ilmiah. Publikasi ini juga menjadi salah satu syarat kelulusan mahasiswa Unpad untuk bisa menyelesaikan studinya.
Syarat publikasi ilmiah ini juga telah ditegaskan Rektor Unpad, Prof. Tri Hanggono Achmad. Untuk mahasiswa program Doktor, gelar cumlaude akan didapat jika melakukan publikasi internasional.
“Saya harap, semua yang hadir di sini bisa mengaplikasikan apa yang telah didapatkan dari acara workshop ini. Mudah-mudahan tahun depan jurnalnya bisa terakreditasi nasional maupun internasional. Dengan begitu, bisa membantu memperbaiki kualitas negara kita dalam mempublikasikan jurnal ilmiah,” ucap Prof. Budi di akhir sambutannya.
Sebelum acara workshop berlangsung, terdapat acara pelantikan pengurus RJI Jabar yang diketuai Dr. Uwes Fatoni, M. Ag., . Dalam sambutannya, Dr. Uwes mengucapkan terimakasih kepada Universitas Padjadjaran yang telah menyediakan fasilitas dan mendukung keberlangsungan acara.
“Menjadi kebanggaan kami, bisa membantu teman-teman semua (para peserta) bagaimana cara mengelola jurnal. Hal ini sesuai dengan visi dari RJI untuk membantu  mewujudkan pengelolaan jurnal ilmiah yang berkualitas dan bereputasi di kancah Nasional maupun Internasional,” ujar Dr. Uwes.
Lanjutnya, pengelola jurnal saat ini memang menjadi ujung tombak bukan hanya bagi akademik saja, akan tetapi bagi kehidupan dosen. Hal ini akan menjadi penentu profesi dosen.  Untuk itu, dibuatlah workshop ini agar para pengelola jurnal bisa lebih paham dan dapat mengatasi hambatan yang dihadapi dalam memublikasikan jurnal ilmiah di setiap perguruan tinggi.
Acara ini pun mendapat respons baik dari banyak peserta. Beberapa peserta dari luar Jawa Barat mengaku memperoleh banyak pengalaman terkait penulisan jurnal. Mereka mengungkapkan, workshop ini terbilang sangat jarang dilaksanakan di Indonesia, sehingga ada harapan bahwa workshop ini dapat terus berkelanjutan.*
Taat Kepada Pemimpin Atau Kepada Media?

Perda Serang telah disosialisasikan dengan baik, bahkan di tempel di depan rumah ibu penjual warung yang kemarin diberitakan dirazia oleh Satpol PP.

Lalu apa yang salah dengan penegakan hukum oleh satpol PP. Jelas yang salah itu media nasional yang memframing berita perda tersebut. Seolah hanya media yang berhak untuk menilai sebuah peristiwa itu baik dan benar, masyarakat harus turut pada media. Padahal jelas yang diperintahkan Allah taat itu kepada pemerintah bukan pada media. (Lihat surat An-Nisaa:59).

Saya menanggapi pemberitaan media nasional di viral berita di postingan seotang wartawan senior bahwa media semestinya jangan memframing pemberitaaan tentang perda ini apalagi dengan dalih kemanusiaan. Karena jelas yang disalahkan bukan hanya satpol PP tapi juga aturan yang digunakan oleh satpol PP untuk ditegakkan. Apalagi seolah si ibu penjual nasi yang kena razia itu terdzolimi lalu dibuat penggalangan dana yang katanya sampai ratusan juta. Bagus sih penggalangan dana untuk membantu orang kesusahan apalagi di bulan Ramadan. Tapi jelas berita tersebut memframing bahwa orang islam seolah tidak toleran kepada orang yang tidak puasa.


Menariknya ternyata pandangan saya tentang framing media tersebut dinihilkan oleh sang wartawan. Saya disebut orang idiot, intoleran, penuh perasangka bahkan dituduh sudah pendidikan tinggi tapi sempit berpikir. Lah kok nyerang ke pribadi. Ah aneh. Wartawan kok begitu bahasanya. Padahal saya alumni dari kampus dia dulu kuliah.


Ya sudahlah, ini memang zaman kejayaan media. Para pemilik media adalah penguasa informasi, dan wartawan para rasulnya. Mereka menganggap bahwa beritanya adalah yang terbaik karena sudah mengikuti kaidah jurnalisme. Tapi kita tetap harus kritis dengan setiap pemberitaan dari media. Karena ada hirarki pengaruh dalam isi pemberitaan media : individu pekerja media, rutinitas media, organisasi media, luar media dan ideologi media (Shoemaker dan Reese). 


Dan ingat tidak ada perintah untuk taat pada media, yang ada perintah taat pada pemimpin. Ya iyalah. Hehe..