Rabu, 14 November 2007

MEMBONGKAR "ALQURAN SUCI"

alquran

Dimuat di Pikiran Rakyat tanggal 30 Oktober 2007

Oleh Uwes Fatoni

Beberapa hari terakhir ini Pikiran Rakyat mengangkat berita tentang hilangnya sejumlah orang di Jawa Barat. Ada indikasi mereka menghilang karena kabur bersama kelompok aliran tertentu. Tidak kurang tiga orang yang telah hilang dan dilaporkan kepada polisi oleh keluarganya.


Pertama kasus Lidia alias Ifet atau Tufatul Maulidia (20), seorang mahasiswi Akademi Analis Kesehatan "An Naser" Sumber Cirebon. Gadis Desa Mertapada Kulon Astanajapura Cirebon ini kabur dari rumah sejak 13 Agustus 2007 silam. Diduga ia kabur bergabung bersama kelompoknya. Terakhir ia masih sempat mengirimkan SMS ucapan selamat Idul Fitri kepada keluarganya, namun sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (PR, Jumat, 5/10).
Kedua, kasus Achriani Yulvie (19). Mahasiswi Politeknik Pajajaran "Insan Cinta Bangsa" Bandung ini tidak pulang sejak 9 September 2007. Setelah dilaporkan ke pihak kepolisian, keluarganya malah mendapat ancaman teror berupa telepon gelap yang mengatasnamakan Kapolres Karawang (PR, 7/10). Dan terakhir, Ria Riani (22) karyawati Pabrik Tekstil Kahatex, menghilang sejak 9 Oktober 2007. Gadis Majalengka ini pun raib tanpa diketahui kabarnya (PR, 22/10).
Ketiga kasus di atas mengarah kepada gerakan ""Alquran Suci"" yang pusat kegiatannya belum diketahui sampai sekarang. MUI Jawa Barat belum menyatakan aliran ini sesat, karena kesulitan dalam melacak keberadaan gerakan underground tersebut. Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang-orang yang hilang seperti sebuah kebetulan adalah para gadis, bahkan ada mahasiswi? Kemudian mengapa para gadis tersebut memilih untuk berkumpul dengan kelompoknya dibandingkan dengan keluarga? Dan apa sebenarnya yang diinginkan oleh kelompok tersebut dari mereka?
Hal inilah yang kemudian memicu keresahan di masyarakat. Bukan hanya keluarga korban yang resah akan keselamatan anaknya yang hilang, namun juga setiap keluarga yang memiliki anak gadis pasti memiliki kekhawatiran yang sama. Ada kemungkinan sebenarnya saat ini jumlah gadis yang menjadi korban lebih banyak lagi, namun karena keluarganya belum mengetahui atau menyadari, mereka belum melaporkannya kepada polisi.
Modus operandi
Aliran keagamaan yang gerakannya seperti "Alquran Suci" ini pernah menggegerkan Bandung beberapa tahun yang lalu. Tercatat saat itu banyak orang tua yang melaporkan anaknya hilang atau sikapnya berubah secara drastis setelah masuk kelompok tertentu. Masjid Salman ITB saat itu menjadi pusat penerimaan laporan orang yang terjebak kelompok tersebut. Tidak kurang seratus orang yang melapor atau dilaporkan oleh orang tuanya.
Modus operandi dari kelompok tersebut biasanya berawal dari doktrin diharuskannya calon anggota kelompok untuk "hijrah" dengan membayar sejumlah uang. Doktrin ini kemudian mengharuskan mereka menutupi identitas keanggotaannya. Pembayaran sejumlah uang ini kemudian melebar menjadi kewajiban menyetor sejumlah uang yang ditargetkan setiap bulannya. Setiap anggota mendapat kewajiban untuk menyerahkan uang sesuai dengan tingkatannya dalam kelompok tersebut mulai dari puluhan ribu sampai jutaan. Bila mereka tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut pada satu bulan tertentu, maka kewajiban itu diakumulasikan pada bulan berikutnya. Sebenarnya mereka sendiri tidak mengetahui kemana dan untuk apa uang tersebut digunakan. Dengan indoktrinasi yang sangat ketat mereka kemudian tidak berani mempertanyakannya.
Dengan semakin bertambahnya kewajiban menyetor uang, akhirnya untuk memenuhi kewajiban tersebut mereka menggunakan berbagai macam cara termasuk mencuri uang orang tua. Lambat laun orang tua mereka curiga dan akhirnya mengetahui keterlibatannya dalam kelompok tersebut. Karena sudah diketahui identitasnya mereka kemudian meninggalkan rumah dan tidak pernah memberi kabar lagi.
Kemudian beberapa orang ada yang mulai menyadari kesalahannya bergabung dalam kelompok tersebut. Namun para pemimpin kelompok tersebut tidak sudi kehilangan sumber pendapatannya. Mereka menghalang-halangi bahkan sampai melakukan teror atau intimidasi psikologis, seperti mengancam akan membunuh. Tentunya bagi anggota yang tidak kuat secara psikologis mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ingin keluar tapi takut dengan diteror yang terus menerus. Bila mereka tetap di dalam mereka sudah tidak nyaman. Akhirnya mereka terjebak di dalamnya. Kondisi seperti ini banyak dialami terutama oleh gadis remaja yang belum memiliki banyak pengalaman.
Namun mengapa kejadian beberapa tahun yang lalu tersebut sekarang muncul kembali? Ada kecenderungan kelompok ini senantiasa merubah nama gerakannya untuk menutupi identitas. Misalnya dulu dikenal ada kelompok Islam Murni, kemudian menjadi Darul Hadits dan terakhir bernama Islam Jemaah. Ada dugaan bahwa aliran "Alquran Suci" adalah metamorfosis dari aliran inkarussunnah. Tapi ada juga yang menudingnya digerakkan oleh kelompok NII atau N11 (N sebelas).
Gerakan kelompok ini sekalipun dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun bisa diketahui melalui modus operandinya. Misalnya beberapa bulan terakhir di kampus UIN Bandung terdengar kabar ada gerakan yang aktif kembali merekrut mahasiswa setelah beberapa tahun vakum. Penulis mengetahui hal ini ketika beberapa mahasiswa berkonsultasi tentang gerakan keislaman. Mereka kemudian menceritakan pernah diajak masuk kelompok tertentu oleh orang-orang tertentu. Ada yang menolak sejak awal pertemuan karena mengetahui dan memahami alur berpikirnya akan mengarah kepada kelompok itu. Namun ada juga mahasiswa yang penasaran dan kemudian mau diajak berdiskusi di suatu tempat tertentu yang cukup rahasia. Di sana menurutnya berkumpul juga beberapa orang seusianya yang tidak dikenal. Namun akhirnya ia menolak untuk masuk karena tidak mau membayar sejumlah uang tertentu sebagai "mahar" menjadi anggota. Beberapa mahasiswa lain katanya ada yang berhasil diajak masuk dan sampai sekarang masih aktif.
Ketika penulis mencoba mengajak dialog orang tersebut dengan cara minta dipertemukan melalui mahasiswa tadi, ternyata orang tersebut menghilang dan tidak pernah muncul kembali. Kelihatannya orang-orang tersebut ketakutan bila gerakannya diketahui Mereka hanya berani mengajak orang-orang yang semangat keagamaannya tinggi namun pemahaman keagamaannya rendah. Mereka tidak mau bila diajak diskusi dengan orang yang memiliki dasar keagamaan yang cukup baik. Terakhir, ada kabar gerakan rekrutmen ini masih berjalan namun para pendakwahnya berbeda-beda.
Membongkar Motif
Ada banyak motif di belakang aliran "Alquran Suci" atau aliran-aliran keagamaan sejenis ini lainnya. Selain upaya pengumpulan dana untuk misi dan kepentingan kelompoknya, ada juga motif politik, yaitu ingin mewujudkan cita-cita politik seperti yang dilakukan oleh kelompok NII yaitu mendirikan negara Islam. Namun motif yang paling mengkhawatirkan adalah upaya menghancurkan citra Islam dari dalam.
Upaya penghancuran citra Islam ini, bila sebelumnya dilakukan melalui penstereotipan Islam dengan kekerasan atau terorisme, sekarang dilakukan dengan penciptaan stigma ketakutan kepada kelompok pengajian. Tatkala masyarakat sedang gandrung dengan pengajian, dzikir bersama atau halaqah seperti di kampus-kampus, mereka sengaja menyusup untuk menciptakan stigma ketakutan di masyarakat. Stigma ini kemudian bukan hanya menempel pada kelompok mereka saja tapi juga merembet kepada kelompok lain yang sebenarnya masih memiliki pemahaman keagamaan yang lurus.
Isu aliran sesat dan menghilangnya sejumlah orang ini bisa jadi dimanfaatkan untuk bentuk kejahatan lainnya. Bila menghilangnya sejumlah gadis di atas karena mereka bergabung dengan kelompoknya, hal itu masih bisa dicari jalan keluar yaitu dengan mencari dan menemukan kembali mereka, baik oleh keluarganya atau oleh pihak kepolisian. Atau seandainya Allah menghendaki mereka akan mendapat hidayah untuk sadar dari kekeliruannya dan kemudian keluar dari kelompok tersebut, kembali kepada keluarganya.
Yang menjadi kekhawatiran, kasus ini justru menjadi justifikasi bahwa setiap gadis yang hilang kemudian dianggap kabur dari keluarganya. Padahal bisa jadi mereka telah menjadi korban perdagangan (trafficking) anak remaja dan wanita yang sekarang sedang marak terjadi. Mereka diindoktrinasi untuk ikut kelompok tertentu kemudian diminta menjauh dari keluarganya, padahal sebenarnya mereka akan dibawa kabur keluar daerah atau bahkan keluar negeri untuk kemudian dijadikan sebagai wanita penghibur.
Sekalipun indikasi menuju arah tersebut sampai saat ini belum kelihatan, namun tentu kita jangan lengah, tetap waspada, sebab hal seperti itu tidak mustahil untuk terjadi. Seperti diberitakan sebuah media, di Batam tiga karyawati perusahaan dilaporkan menghilang sejak 7 Oktober 2007, yaitu Heni Fitriani (20) dan Elmina Sari (20) keduanya bekerja di PT Yokogawa serta Ade Irma S (20) karyawati PT Sanyo Precision. Praktis telah tiga minggu ketiga wanita ini menghilang. Siapa yang bisa menyangkal bila ternyata ketiganya telah menjadi korban trafficking. Bukankah Batam dikenal sebagai lokasi strategis untuk keluar masuk Singapura dan Malaysia atau negara lainnya? Tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di Jawa Barat.
Oleh karenanya kita tidak cukup hanya merasa resah tanpa melakukan apapun. Kita harus melakukan upaya preventif dan kuratif. Biarlah upaya membongkar sindikat aliran sesat ini kita serahkan kepada kepolisian dan aparat keamanan. Kita bantu MUI, FUUI atau lembaga lain yang sedang berupaya menganalisis kesesatan aliran ini dengan memberikan informasi tentang kelompok tersebut. Yang tak kalah penting kita harus terus menjaga keluarga dan anak-anak kita agar tidak terjerumus masuk ke dalam kelompok tersebut. Cara yang paling ampuh yaitu dengan membuka komunikasi antar anggota keluarga sehingga apa yang terjadi, bisa segera diketahui dan diantisipasi sebelum sesuatu yang lebih buruk menimpa keluarga kita.
Tidak lupa kita pun menyatukan tangan bersama-sama seluruh komponen masyarakat di lingkungan kita sehingga setiap gerakan yang mencurigakan bisa dihadang bersama-sama. Jangan sampai kita kalah oleh gerakan sesat ini karena kita berjalan masing-masing sedangkan mereka bergerak secara terorganisir. Ada pepatah arab menyatakan, "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh ketidakbenaran yang terorganisir." Bila kita sebagai kelompok yang benar tidak terorganisir, maka mereka akan mudah membuat kita resah. Namun bila kita bersatu dan terorganisir, pasti mereka akan mudah kita kalahkan.

Uwes Fatoni, Staf Pengajar UIN SGD Bandung dan Penggiat Tepas Institute

0 komentar:

Posting Komentar

alquran

Dimuat di Pikiran Rakyat tanggal 30 Oktober 2007

Oleh Uwes Fatoni

Beberapa hari terakhir ini Pikiran Rakyat mengangkat berita tentang hilangnya sejumlah orang di Jawa Barat. Ada indikasi mereka menghilang karena kabur bersama kelompok aliran tertentu. Tidak kurang tiga orang yang telah hilang dan dilaporkan kepada polisi oleh keluarganya.


Pertama kasus Lidia alias Ifet atau Tufatul Maulidia (20), seorang mahasiswi Akademi Analis Kesehatan "An Naser" Sumber Cirebon. Gadis Desa Mertapada Kulon Astanajapura Cirebon ini kabur dari rumah sejak 13 Agustus 2007 silam. Diduga ia kabur bergabung bersama kelompoknya. Terakhir ia masih sempat mengirimkan SMS ucapan selamat Idul Fitri kepada keluarganya, namun sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (PR, Jumat, 5/10).
Kedua, kasus Achriani Yulvie (19). Mahasiswi Politeknik Pajajaran "Insan Cinta Bangsa" Bandung ini tidak pulang sejak 9 September 2007. Setelah dilaporkan ke pihak kepolisian, keluarganya malah mendapat ancaman teror berupa telepon gelap yang mengatasnamakan Kapolres Karawang (PR, 7/10). Dan terakhir, Ria Riani (22) karyawati Pabrik Tekstil Kahatex, menghilang sejak 9 Oktober 2007. Gadis Majalengka ini pun raib tanpa diketahui kabarnya (PR, 22/10).
Ketiga kasus di atas mengarah kepada gerakan ""Alquran Suci"" yang pusat kegiatannya belum diketahui sampai sekarang. MUI Jawa Barat belum menyatakan aliran ini sesat, karena kesulitan dalam melacak keberadaan gerakan underground tersebut. Yang menjadi pertanyaan, mengapa orang-orang yang hilang seperti sebuah kebetulan adalah para gadis, bahkan ada mahasiswi? Kemudian mengapa para gadis tersebut memilih untuk berkumpul dengan kelompoknya dibandingkan dengan keluarga? Dan apa sebenarnya yang diinginkan oleh kelompok tersebut dari mereka?
Hal inilah yang kemudian memicu keresahan di masyarakat. Bukan hanya keluarga korban yang resah akan keselamatan anaknya yang hilang, namun juga setiap keluarga yang memiliki anak gadis pasti memiliki kekhawatiran yang sama. Ada kemungkinan sebenarnya saat ini jumlah gadis yang menjadi korban lebih banyak lagi, namun karena keluarganya belum mengetahui atau menyadari, mereka belum melaporkannya kepada polisi.
Modus operandi
Aliran keagamaan yang gerakannya seperti "Alquran Suci" ini pernah menggegerkan Bandung beberapa tahun yang lalu. Tercatat saat itu banyak orang tua yang melaporkan anaknya hilang atau sikapnya berubah secara drastis setelah masuk kelompok tertentu. Masjid Salman ITB saat itu menjadi pusat penerimaan laporan orang yang terjebak kelompok tersebut. Tidak kurang seratus orang yang melapor atau dilaporkan oleh orang tuanya.
Modus operandi dari kelompok tersebut biasanya berawal dari doktrin diharuskannya calon anggota kelompok untuk "hijrah" dengan membayar sejumlah uang. Doktrin ini kemudian mengharuskan mereka menutupi identitas keanggotaannya. Pembayaran sejumlah uang ini kemudian melebar menjadi kewajiban menyetor sejumlah uang yang ditargetkan setiap bulannya. Setiap anggota mendapat kewajiban untuk menyerahkan uang sesuai dengan tingkatannya dalam kelompok tersebut mulai dari puluhan ribu sampai jutaan. Bila mereka tidak mampu memenuhi kewajiban tersebut pada satu bulan tertentu, maka kewajiban itu diakumulasikan pada bulan berikutnya. Sebenarnya mereka sendiri tidak mengetahui kemana dan untuk apa uang tersebut digunakan. Dengan indoktrinasi yang sangat ketat mereka kemudian tidak berani mempertanyakannya.
Dengan semakin bertambahnya kewajiban menyetor uang, akhirnya untuk memenuhi kewajiban tersebut mereka menggunakan berbagai macam cara termasuk mencuri uang orang tua. Lambat laun orang tua mereka curiga dan akhirnya mengetahui keterlibatannya dalam kelompok tersebut. Karena sudah diketahui identitasnya mereka kemudian meninggalkan rumah dan tidak pernah memberi kabar lagi.
Kemudian beberapa orang ada yang mulai menyadari kesalahannya bergabung dalam kelompok tersebut. Namun para pemimpin kelompok tersebut tidak sudi kehilangan sumber pendapatannya. Mereka menghalang-halangi bahkan sampai melakukan teror atau intimidasi psikologis, seperti mengancam akan membunuh. Tentunya bagi anggota yang tidak kuat secara psikologis mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ingin keluar tapi takut dengan diteror yang terus menerus. Bila mereka tetap di dalam mereka sudah tidak nyaman. Akhirnya mereka terjebak di dalamnya. Kondisi seperti ini banyak dialami terutama oleh gadis remaja yang belum memiliki banyak pengalaman.
Namun mengapa kejadian beberapa tahun yang lalu tersebut sekarang muncul kembali? Ada kecenderungan kelompok ini senantiasa merubah nama gerakannya untuk menutupi identitas. Misalnya dulu dikenal ada kelompok Islam Murni, kemudian menjadi Darul Hadits dan terakhir bernama Islam Jemaah. Ada dugaan bahwa aliran "Alquran Suci" adalah metamorfosis dari aliran inkarussunnah. Tapi ada juga yang menudingnya digerakkan oleh kelompok NII atau N11 (N sebelas).
Gerakan kelompok ini sekalipun dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun bisa diketahui melalui modus operandinya. Misalnya beberapa bulan terakhir di kampus UIN Bandung terdengar kabar ada gerakan yang aktif kembali merekrut mahasiswa setelah beberapa tahun vakum. Penulis mengetahui hal ini ketika beberapa mahasiswa berkonsultasi tentang gerakan keislaman. Mereka kemudian menceritakan pernah diajak masuk kelompok tertentu oleh orang-orang tertentu. Ada yang menolak sejak awal pertemuan karena mengetahui dan memahami alur berpikirnya akan mengarah kepada kelompok itu. Namun ada juga mahasiswa yang penasaran dan kemudian mau diajak berdiskusi di suatu tempat tertentu yang cukup rahasia. Di sana menurutnya berkumpul juga beberapa orang seusianya yang tidak dikenal. Namun akhirnya ia menolak untuk masuk karena tidak mau membayar sejumlah uang tertentu sebagai "mahar" menjadi anggota. Beberapa mahasiswa lain katanya ada yang berhasil diajak masuk dan sampai sekarang masih aktif.
Ketika penulis mencoba mengajak dialog orang tersebut dengan cara minta dipertemukan melalui mahasiswa tadi, ternyata orang tersebut menghilang dan tidak pernah muncul kembali. Kelihatannya orang-orang tersebut ketakutan bila gerakannya diketahui Mereka hanya berani mengajak orang-orang yang semangat keagamaannya tinggi namun pemahaman keagamaannya rendah. Mereka tidak mau bila diajak diskusi dengan orang yang memiliki dasar keagamaan yang cukup baik. Terakhir, ada kabar gerakan rekrutmen ini masih berjalan namun para pendakwahnya berbeda-beda.
Membongkar Motif
Ada banyak motif di belakang aliran "Alquran Suci" atau aliran-aliran keagamaan sejenis ini lainnya. Selain upaya pengumpulan dana untuk misi dan kepentingan kelompoknya, ada juga motif politik, yaitu ingin mewujudkan cita-cita politik seperti yang dilakukan oleh kelompok NII yaitu mendirikan negara Islam. Namun motif yang paling mengkhawatirkan adalah upaya menghancurkan citra Islam dari dalam.
Upaya penghancuran citra Islam ini, bila sebelumnya dilakukan melalui penstereotipan Islam dengan kekerasan atau terorisme, sekarang dilakukan dengan penciptaan stigma ketakutan kepada kelompok pengajian. Tatkala masyarakat sedang gandrung dengan pengajian, dzikir bersama atau halaqah seperti di kampus-kampus, mereka sengaja menyusup untuk menciptakan stigma ketakutan di masyarakat. Stigma ini kemudian bukan hanya menempel pada kelompok mereka saja tapi juga merembet kepada kelompok lain yang sebenarnya masih memiliki pemahaman keagamaan yang lurus.
Isu aliran sesat dan menghilangnya sejumlah orang ini bisa jadi dimanfaatkan untuk bentuk kejahatan lainnya. Bila menghilangnya sejumlah gadis di atas karena mereka bergabung dengan kelompoknya, hal itu masih bisa dicari jalan keluar yaitu dengan mencari dan menemukan kembali mereka, baik oleh keluarganya atau oleh pihak kepolisian. Atau seandainya Allah menghendaki mereka akan mendapat hidayah untuk sadar dari kekeliruannya dan kemudian keluar dari kelompok tersebut, kembali kepada keluarganya.
Yang menjadi kekhawatiran, kasus ini justru menjadi justifikasi bahwa setiap gadis yang hilang kemudian dianggap kabur dari keluarganya. Padahal bisa jadi mereka telah menjadi korban perdagangan (trafficking) anak remaja dan wanita yang sekarang sedang marak terjadi. Mereka diindoktrinasi untuk ikut kelompok tertentu kemudian diminta menjauh dari keluarganya, padahal sebenarnya mereka akan dibawa kabur keluar daerah atau bahkan keluar negeri untuk kemudian dijadikan sebagai wanita penghibur.
Sekalipun indikasi menuju arah tersebut sampai saat ini belum kelihatan, namun tentu kita jangan lengah, tetap waspada, sebab hal seperti itu tidak mustahil untuk terjadi. Seperti diberitakan sebuah media, di Batam tiga karyawati perusahaan dilaporkan menghilang sejak 7 Oktober 2007, yaitu Heni Fitriani (20) dan Elmina Sari (20) keduanya bekerja di PT Yokogawa serta Ade Irma S (20) karyawati PT Sanyo Precision. Praktis telah tiga minggu ketiga wanita ini menghilang. Siapa yang bisa menyangkal bila ternyata ketiganya telah menjadi korban trafficking. Bukankah Batam dikenal sebagai lokasi strategis untuk keluar masuk Singapura dan Malaysia atau negara lainnya? Tidak menutup kemungkinan hal ini juga terjadi di Jawa Barat.
Oleh karenanya kita tidak cukup hanya merasa resah tanpa melakukan apapun. Kita harus melakukan upaya preventif dan kuratif. Biarlah upaya membongkar sindikat aliran sesat ini kita serahkan kepada kepolisian dan aparat keamanan. Kita bantu MUI, FUUI atau lembaga lain yang sedang berupaya menganalisis kesesatan aliran ini dengan memberikan informasi tentang kelompok tersebut. Yang tak kalah penting kita harus terus menjaga keluarga dan anak-anak kita agar tidak terjerumus masuk ke dalam kelompok tersebut. Cara yang paling ampuh yaitu dengan membuka komunikasi antar anggota keluarga sehingga apa yang terjadi, bisa segera diketahui dan diantisipasi sebelum sesuatu yang lebih buruk menimpa keluarga kita.
Tidak lupa kita pun menyatukan tangan bersama-sama seluruh komponen masyarakat di lingkungan kita sehingga setiap gerakan yang mencurigakan bisa dihadang bersama-sama. Jangan sampai kita kalah oleh gerakan sesat ini karena kita berjalan masing-masing sedangkan mereka bergerak secara terorganisir. Ada pepatah arab menyatakan, "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh ketidakbenaran yang terorganisir." Bila kita sebagai kelompok yang benar tidak terorganisir, maka mereka akan mudah membuat kita resah. Namun bila kita bersatu dan terorganisir, pasti mereka akan mudah kita kalahkan.

Uwes Fatoni, Staf Pengajar UIN SGD Bandung dan Penggiat Tepas Institute
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

This is the last post.


Tidak ada komentar:

Leave a Reply