Rabu, 14 November 2007

NABI TERAKHIR

Oleh Uwes Fatoni


Dipublikasikan dalam kolom Hikmah Republika tanggal 5 Nopember 2007


Dalam sebuah riwayat dikisahkan Syeikh Abdulkadir Jaelani, seorang ulama yang sangat tinggi ilmunya, suatu malam sedang bermunajat mendekatkan diri kepada Allah. Tiba-tiba dari sudut atas mihrab muncul cahaya yang sangat menyilaukan. Dari arah cahaya tersebut terdengar suara, "Wahai Abdulkadir, aku adalah Tuhanmu, apa yang telah aku haramkan bagimu telah aku halalkan".



Syeikh Abdulkadir tertegun mendengar suara tersebut. Setelah sadar dari kekagetannya beliau berkata dalam hati, "Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, maka tidak mungkin Allah SWT akan mengubah syariatnya." Kemudian Abdulkadir yakin bahwa cahaya yang datang itu bukan suara Tuhan melainkan iblis. Lalu beliau mengucapkan ta'awudz, A'udzubillahi minasyaitanir rajim. Tiba-tiba cahaya itu terbakar sambil berkata, "Sudah banyak orang yang telah aku perdayai, tetapi engkau luput dari tipu dayaku ini."
Kisah tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mudah tertipu oleh bujuk rayu iblis dan setan. Iblis dan setan telah bersumpah senantiasa berusaha memperdaya dan membelokkan arah kita dari jalan Allah (QS Al-A'raf [7] : 16-17). Syeikh Abdulkadir Jaelani yang bagi sebagian umat Islam dianggap sebagai waliyullah, sampai diganggu oleh Iblis bahkan hampir terjerumus menganggap dirinya sebagai nabi atau rasul baru. Berkat ketinggian ilmu dan kedekatannya kepada Allah akhirnya beliau selamat dari keyakinan sesat tersebut.

Dalam Islam diyakini bahwa Muhammad Saw adalah nabi dan rasul terakhir. "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi." (QS Al-Ahzab [33] :40). Tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Syariat yang beliau bawa adalah syariat yang sudah final dan berlaku sepanjang zaman. Allah tidak akan mengubah atau menggantinya dengan menunjuk nabi atau rasul baru.

Demikian pula hanya nama Muhammad yang layak berdampingan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Tidak ada nama lain yang berhak mengganti nama yang agung ini. Bahkan orang yang beriman dan cinta kepada Allah namun tanpa beriman dan cinta kepada Muhammad, Allah tolak keimanan dan kecintaannya tesebut, sebagaimana firman-Nya :
"Katakanlah (kepada orang Yahudi dan Nasrani): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran [3] : 31)

Semoga kita menjadi orang yang mencintai Allah, dicintai Allah, mencintai Rasul dan dicintai Rasul serta mendapatkan syafaatnya kelak di yaumul hisab. Amin.

Uwes Fatoni, Staf Pengajar UIN SGD Bandung

1 komentar:

Oleh Uwes Fatoni


Dipublikasikan dalam kolom Hikmah Republika tanggal 5 Nopember 2007


Dalam sebuah riwayat dikisahkan Syeikh Abdulkadir Jaelani, seorang ulama yang sangat tinggi ilmunya, suatu malam sedang bermunajat mendekatkan diri kepada Allah. Tiba-tiba dari sudut atas mihrab muncul cahaya yang sangat menyilaukan. Dari arah cahaya tersebut terdengar suara, "Wahai Abdulkadir, aku adalah Tuhanmu, apa yang telah aku haramkan bagimu telah aku halalkan".



Syeikh Abdulkadir tertegun mendengar suara tersebut. Setelah sadar dari kekagetannya beliau berkata dalam hati, "Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, maka tidak mungkin Allah SWT akan mengubah syariatnya." Kemudian Abdulkadir yakin bahwa cahaya yang datang itu bukan suara Tuhan melainkan iblis. Lalu beliau mengucapkan ta'awudz, A'udzubillahi minasyaitanir rajim. Tiba-tiba cahaya itu terbakar sambil berkata, "Sudah banyak orang yang telah aku perdayai, tetapi engkau luput dari tipu dayaku ini."
Kisah tersebut dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak mudah tertipu oleh bujuk rayu iblis dan setan. Iblis dan setan telah bersumpah senantiasa berusaha memperdaya dan membelokkan arah kita dari jalan Allah (QS Al-A'raf [7] : 16-17). Syeikh Abdulkadir Jaelani yang bagi sebagian umat Islam dianggap sebagai waliyullah, sampai diganggu oleh Iblis bahkan hampir terjerumus menganggap dirinya sebagai nabi atau rasul baru. Berkat ketinggian ilmu dan kedekatannya kepada Allah akhirnya beliau selamat dari keyakinan sesat tersebut.

Dalam Islam diyakini bahwa Muhammad Saw adalah nabi dan rasul terakhir. "Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi-nabi." (QS Al-Ahzab [33] :40). Tidak ada lagi nabi dan rasul setelah beliau. Syariat yang beliau bawa adalah syariat yang sudah final dan berlaku sepanjang zaman. Allah tidak akan mengubah atau menggantinya dengan menunjuk nabi atau rasul baru.

Demikian pula hanya nama Muhammad yang layak berdampingan dengan nama Allah dalam kalimat syahadat. Tidak ada nama lain yang berhak mengganti nama yang agung ini. Bahkan orang yang beriman dan cinta kepada Allah namun tanpa beriman dan cinta kepada Muhammad, Allah tolak keimanan dan kecintaannya tesebut, sebagaimana firman-Nya :
"Katakanlah (kepada orang Yahudi dan Nasrani): "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." (Ali Imran [3] : 31)

Semoga kita menjadi orang yang mencintai Allah, dicintai Allah, mencintai Rasul dan dicintai Rasul serta mendapatkan syafaatnya kelak di yaumul hisab. Amin.

Uwes Fatoni, Staf Pengajar UIN SGD Bandung
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


1 komentar