Selasa, 11 Desember 2007

ADA APA DENGAN TRAFFIC LIGHT KOTA BANDUNG?

Oleh : Uwes Fatoni


Traffic light  di kota Bandung banyak yang mengalami gangguan bahkan tak sedikit yang sudah rusak. Menurut informasi dinas PU kerusakan ini diakibatkan aksi pencurian fasilitas umum yang semakin merajalela. Akibatnya di beberapa persimpangan jalan lampu merah tidak lagi berfungsi dan sering menimbulkan kemacetan. Ini diperparah dengan sikap serakah para pengendara motor atau mobil yang berebutan saling mendahului melewati persimpangan jalan.


Secara fisik model traffic light di Kota Bandung juga sudah ketinggalan zaman. Tatkala lampu merah di kota-kota besar lain sudah dilengkapi dengan countdown atau timer penunjuk waktu, traffic light kota bandung masih model lama. Lampu merah tanpa waktu mundur yang telihat kadangkala terasa terlalu lama atau terkadang terasa lebih singkat dari semestinya. Baru di persimpangan jalan merdeka dekat BIP atau Gedung DPRD Kota Bandung yang traffic lightnya dilengkapi dengan countdown. Semestinya semua lampu merah di Kota Bandung sudah dilengkapi dengan fasilitas transparansi waktu tersebut.


Selain itu lampu merah sebagai bagian dari fasilitas umum di beberapa ruas jalan terasa gelap gulita di malam hari karena tidak dilengkapi lampu penerangan jalan. Akibatnya sering timbul rasa waswas ketika melewati lampu stopan khawatir akan menjadi korban aksi kriminalitas. Di waktu tertentu lampu merah di malam hari seringkali dijadikan tempat transaksi para wanita tuna susila. Ini tentu mengurangi kenyamanan berkendara ketika melewati tempat tersebut.


Kondisi fisik beberapa ruas jalan juga sangat memperihatinkan. Aspal di beberapa lampu merah tidak lagi nyaman untuk dilewati. Seperti di persimpangan Soekarno Hatta - Cibaduyut dekat terminal Leuwi Panjang dan di persimpangan Soekarno Hatta - Kiaracondong dekat Kantor Samsat aspal jalanan di daerah tersebut sudah bergelombang karena rem kendaraan besar yang tonasenya tidak sesuai dengan kekuatan jalan. Ketika melewati persimpangan itu kendaraan berjalan bak melewati ombak banyu, ampul-ampulan.


Sumber Kemacetan


Kemacetan di kota Bandung seringkali dimulai dari lampu merah. Ini bisa dilihat pada jam-jam masuk kantor pagi hari dan jam pulang kantor sore hari. Dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah tanpa timer traffic light yang sesuai menyebabkan kemacetan menjadi sarapan pagi dan makanan sore para pengendara motor dan mobil. Bahkan di akhir pekan pengunjung dari Jakarta yang bershopping ria menambah beban jalanan kota Bandung.


Hal ini diperparah dengan munculnya para pengamen, pengemis dan pedagang asongan yang mengambil keuntungan di bawah lampu merah. Pengamen mulai dari yang sekedar bermodal kecrekan tutup botol sampai group boys band unjuk kebolehan ketika lampu menunjukan tanda berhenti. Penjual asongan, pengecer koran, sampai pengemis dari ibu-ibu dan bayinya, anak kecil sampai orang cacat berkeliaran menengadahkan tangan mengharap belas kasihan. Bahkan tak ketinggalan sales produk tertentu bergumul membagi-bagikan selebaran di sela-sela pekatnya knalpot kendaraan. Bersama-sama pak polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas mereka mencari peruntungan dari kendaraan yang berhenti.


Berdasarkan perda K3 (Kebersihan, ketertiban dan Keindahan) Kota Bandung tahun 2005 lampu merah sebagai tempat umum semestinya tidak boleh digunakan oleh para pengemis, pengamen dan penjual asongan. Namun sayangnya aturan tersebut belum ditegakkan dengan sepenuhnya.


Sumber kemacetan lainnya berasal dari pengendara motor yang tidak disiplin tatkala melewati lampu stopan. Di beberapa persimpangan ketika lampu menunjukkan tanda berhenti banyak pengendara motor yang naik ke trotoar untuk menghindari kemacetan panjang. Ini sering terjadi di persimpangan Buah Batu Soekarno Hatta dari arah timur, barat, utara dan selatan. Motor seringkali melewati trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi para pejalan kaki. Akibatnya sering terjadi adu mulut antara pejalan kaki yang merasa terganggu dengan para pengendara motor.


Sebenarnya pertengahan 2007 pernah ada penelitian kerjasama antara Dinas Perhubungan Kota Bandung dengan Jurusan Transportasi ITB dalam mengatur pengendara motor ketika berada di persimpangan lampu merah. Sayang tidak diketahui sejauh mana hasilnya dan apa rekomendasi dari penelitian tersebut. Saat ini justru kebanyakan pengendara motor malah menjadi penguasa jalanan selain supir angkot.


Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan seperti itu, semestinya pemerintah kota Bandung perlu memberikan perhatian lebih pada kondisi traffic light. Perbaikan dan penertiban bukan saja perlu dilakukan pada fisik traffic lightnya tapi juga pada masyarakat yang memanfaatkan dan berada di sekitarnya. Kita tidak berharap kota Bandung menjadi kota macet seperti Jakarta yang banyak diberitakan saat ini.. Sudah semestinya berbagai ketentuan dan peraturan daerah perlu ditegakkan dengan sungguh-sungguh.


Selain itu juga peran serta masyarakat dalam menjaga ketertiban dan kedisiplinan berkendaraan perlu terus ditingkatkan. Tanpa peran serta masyarakat upaya pemerintah tidak akan berhasil. Bila di persimpangan jalan saja yang sudah memiliki pengaturan berupa traffic light masyarakat tidak mampu berdisiplin apalagi di tempat lain. Maka mari kita berdisiplin mulai dari diri sendiri dan mulai pula dari sekarang juga.


Penulis, Warga Bandung, Penggiat Tepas Institute

0 komentar:

Posting Komentar

Oleh : Uwes Fatoni


Traffic light  di kota Bandung banyak yang mengalami gangguan bahkan tak sedikit yang sudah rusak. Menurut informasi dinas PU kerusakan ini diakibatkan aksi pencurian fasilitas umum yang semakin merajalela. Akibatnya di beberapa persimpangan jalan lampu merah tidak lagi berfungsi dan sering menimbulkan kemacetan. Ini diperparah dengan sikap serakah para pengendara motor atau mobil yang berebutan saling mendahului melewati persimpangan jalan.


Secara fisik model traffic light di Kota Bandung juga sudah ketinggalan zaman. Tatkala lampu merah di kota-kota besar lain sudah dilengkapi dengan countdown atau timer penunjuk waktu, traffic light kota bandung masih model lama. Lampu merah tanpa waktu mundur yang telihat kadangkala terasa terlalu lama atau terkadang terasa lebih singkat dari semestinya. Baru di persimpangan jalan merdeka dekat BIP atau Gedung DPRD Kota Bandung yang traffic lightnya dilengkapi dengan countdown. Semestinya semua lampu merah di Kota Bandung sudah dilengkapi dengan fasilitas transparansi waktu tersebut.


Selain itu lampu merah sebagai bagian dari fasilitas umum di beberapa ruas jalan terasa gelap gulita di malam hari karena tidak dilengkapi lampu penerangan jalan. Akibatnya sering timbul rasa waswas ketika melewati lampu stopan khawatir akan menjadi korban aksi kriminalitas. Di waktu tertentu lampu merah di malam hari seringkali dijadikan tempat transaksi para wanita tuna susila. Ini tentu mengurangi kenyamanan berkendara ketika melewati tempat tersebut.


Kondisi fisik beberapa ruas jalan juga sangat memperihatinkan. Aspal di beberapa lampu merah tidak lagi nyaman untuk dilewati. Seperti di persimpangan Soekarno Hatta - Cibaduyut dekat terminal Leuwi Panjang dan di persimpangan Soekarno Hatta - Kiaracondong dekat Kantor Samsat aspal jalanan di daerah tersebut sudah bergelombang karena rem kendaraan besar yang tonasenya tidak sesuai dengan kekuatan jalan. Ketika melewati persimpangan itu kendaraan berjalan bak melewati ombak banyu, ampul-ampulan.


Sumber Kemacetan


Kemacetan di kota Bandung seringkali dimulai dari lampu merah. Ini bisa dilihat pada jam-jam masuk kantor pagi hari dan jam pulang kantor sore hari. Dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus bertambah tanpa timer traffic light yang sesuai menyebabkan kemacetan menjadi sarapan pagi dan makanan sore para pengendara motor dan mobil. Bahkan di akhir pekan pengunjung dari Jakarta yang bershopping ria menambah beban jalanan kota Bandung.


Hal ini diperparah dengan munculnya para pengamen, pengemis dan pedagang asongan yang mengambil keuntungan di bawah lampu merah. Pengamen mulai dari yang sekedar bermodal kecrekan tutup botol sampai group boys band unjuk kebolehan ketika lampu menunjukan tanda berhenti. Penjual asongan, pengecer koran, sampai pengemis dari ibu-ibu dan bayinya, anak kecil sampai orang cacat berkeliaran menengadahkan tangan mengharap belas kasihan. Bahkan tak ketinggalan sales produk tertentu bergumul membagi-bagikan selebaran di sela-sela pekatnya knalpot kendaraan. Bersama-sama pak polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas mereka mencari peruntungan dari kendaraan yang berhenti.


Berdasarkan perda K3 (Kebersihan, ketertiban dan Keindahan) Kota Bandung tahun 2005 lampu merah sebagai tempat umum semestinya tidak boleh digunakan oleh para pengemis, pengamen dan penjual asongan. Namun sayangnya aturan tersebut belum ditegakkan dengan sepenuhnya.


Sumber kemacetan lainnya berasal dari pengendara motor yang tidak disiplin tatkala melewati lampu stopan. Di beberapa persimpangan ketika lampu menunjukkan tanda berhenti banyak pengendara motor yang naik ke trotoar untuk menghindari kemacetan panjang. Ini sering terjadi di persimpangan Buah Batu Soekarno Hatta dari arah timur, barat, utara dan selatan. Motor seringkali melewati trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi para pejalan kaki. Akibatnya sering terjadi adu mulut antara pejalan kaki yang merasa terganggu dengan para pengendara motor.


Sebenarnya pertengahan 2007 pernah ada penelitian kerjasama antara Dinas Perhubungan Kota Bandung dengan Jurusan Transportasi ITB dalam mengatur pengendara motor ketika berada di persimpangan lampu merah. Sayang tidak diketahui sejauh mana hasilnya dan apa rekomendasi dari penelitian tersebut. Saat ini justru kebanyakan pengendara motor malah menjadi penguasa jalanan selain supir angkot.


Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan seperti itu, semestinya pemerintah kota Bandung perlu memberikan perhatian lebih pada kondisi traffic light. Perbaikan dan penertiban bukan saja perlu dilakukan pada fisik traffic lightnya tapi juga pada masyarakat yang memanfaatkan dan berada di sekitarnya. Kita tidak berharap kota Bandung menjadi kota macet seperti Jakarta yang banyak diberitakan saat ini.. Sudah semestinya berbagai ketentuan dan peraturan daerah perlu ditegakkan dengan sungguh-sungguh.


Selain itu juga peran serta masyarakat dalam menjaga ketertiban dan kedisiplinan berkendaraan perlu terus ditingkatkan. Tanpa peran serta masyarakat upaya pemerintah tidak akan berhasil. Bila di persimpangan jalan saja yang sudah memiliki pengaturan berupa traffic light masyarakat tidak mampu berdisiplin apalagi di tempat lain. Maka mari kita berdisiplin mulai dari diri sendiri dan mulai pula dari sekarang juga.


Penulis, Warga Bandung, Penggiat Tepas Institute

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply