Selasa, 04 Desember 2007

MEMPERBINCANGKAN BANDUNG AGAMIS 2008

bandungagamis


Oleh Uwes Fatoni



Di usianya yang ke-197 Kota Bandung dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan. Masalah kebodohan, pengangguran, kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, kenakalan remaja dan aliran sesat menjadi konsumsi rutin masyarakat. Untuk mengurai benang kusut masalah tersebut pemerintah kota Bandung mencanangkan tujuh program prioritas yang meliput bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup, olah raga, seni budaya dan agama. Bidang agama dijadikan sebagai ujung tombak pembangunan melalui program "Bandung Kota Agamis 2008."


Pencanangan program "Bandung Agamis 2008" ini bersamaan dengan program bidang lainnya yaitu "Bandung Cerdas 2008", "Bandung Sehat 2007", " Bandung Berwawasan Lingkungan Hidup 2008", "Bandung Makmur 2008", "Bandung Kota Seni Dan Budaya 2008" dan "Bandung Berprestasi Olah Raga 2008". Hal ini didasari pemikiran bahwa pembangunan bidang agama tidak akan sukses bila tanpa disertai pembangunan bidang lainnya.


Program Bandung Agamis 2008 adalah implementasi dari visi kota Bandung sebagai Kota Jasa yang Bermartabat (Bersih, Makmur, Taat dan bersahabat). Dari taat ini kemudian diturunkan menjadi agamis. Ini sesuai dengan kondisi penduduk kota Bandung yang dikenal sangat religius. Dari jumlah penduduk 2.197.734 jiwa, 88,8 persen adalah Islam, satu persen katolik, 8,8 persen protestan, 0,5 persen Hindu dan 0,9 persen Budha (BPS 2004).


Beberapa kabupaten atau kota di Jawa Barat menggunakan istilah Syari'at Islam dalam program pembangunan daerahnya seperti Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Garut dan Tangerang. Berbagai peraturan daerah (perda) bernuansa syari'at Islam dikeluarkan. Muncul suara-suara oposisi yang menentang perda tersebut karena dianggap diskriminatif pada masyarakat non-Islam.


Penggunaan istilah agamis dalam program unggulan Kota Bandung ini sangat tepat karena akan mampu meminimalisir lahirnya pro-kontra di masyarakat. Dengan istilah ini pro-kontra tidak lagi menemukan relevansinya karena istilah agamis konotasinya lebih bersifat netral dan bisa diterima oleh semua penganut agama. Berbeda misalnya dengan penggunaan istilah Islami atau Syari'at Islam.


Konsep Bandung Agamis 2008 sering dilontarkan oleh Walikota Dada Rosada. Ia sering mengungkapkan makna filosofis program tersebut. Menurutnya Agamis itu bukan Islami. Dalam Bandung Kota Agamis semua agama diakui eksistensinya. Namun pernyataan ini masih menyisakan masalah. Bila maknanya "bukan Islami", lalu bagaimana dengan umat Islam sebagai penduduk mayoritas yang ingin menjalankan kehidupan berdasarkan ajaran Islam. Bukankah kehidupan seperti itu disebut kehidupan Islami? Namun bila agamis menurut walikota itu artinya "bukan hanya Islami", maka itu bisa diterima.


Sayangnya konsep dan rancangan program Bandung Agamis 2008 ini belum pernah dijelaskan kepada publik secara lengkap dan komprehensif sehingga seolah-olah ia belum siap untuk dilaksanakan. Padahal tahun 2008 sudah di depan mata, tinggal menunggu beberapa minggu lagi. Tentu kita tidak mengharapkan program ini diperdebatkan pada saat seharusnya sudah diimplementasikan.


Untuk mensukseskan program tersebut dibutuhkan aspirasi dan pendapat dari masyarakat. Selama ini sangat sedikit masyarakat yang mengetahui adanya program tersebut. Barangkali ini karena kurangnya sosialisasi tentang program tersebut kepada masyarakat.


Penulis tidak beranggapan bahwa masyarakat Bandung apatis terhadap pencanangan program ini. Barangkali masyarakat selama ini mempersepsi bahwa pembangunan di kota Bandung telah cukup apresiatif terhadap kegiatan keagamaan. Tanpa mengusung istilah keagamaan pun Kota Bandung dianggap telah religius. Ini bisa dilihat dari berbagai prestasi keagamaan yang telah dicapai selama ini.


Prestasi Keagamaan


Berbagai program pembangunan keagamaan di Kota Bandung berhasil dijalankan oleh pemerintah. Penutupan lokalisasi Saritem beberapa waktu yang lalu merupakan prestasi yang sangat monumental. Sejak didirikannya 200 tahun yang lalu pusat mesum terbesar di Kota Bandung ini merupakan problem sosial yang sangat sulit diatasi. Berbagai upaya penertiban telah beberapa kali dilakukan pemerintah namun selalu berakhir gagal. Baru pada masa walikota sekarang masalah Saritem mampu tuntas diselesaikan yaitu dengan ditutup secara permanen.


Penutupan ini bukan tanpa resiko. Orang-orang yang merasa dirugikan dengan penutupan tersebut melakukan perlawanan balik. Tidak kurang walikota pun mendapat ancaman pembunuhan melalui pesan singkat (SMS). Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus maju apalagi dengan mendapat dukungan luas masyarakat. Citra Saritem yang kotor ini kemudian direhabilitasi melalui pemberdayaan Masjid Daar at-taubah di lokasi tersebut.


Prestasi pembangunan keagamaan lainnya adalah penataan alun-alun menjadi bagian masjid agung atau sekarang disebut masjid raya. Dengan penataan ini alun-alun terlihat lebih asri dan nyaman. Saat ini alun-alun Bandung dengan taman menggantungnya serta Masjid Raya dengan menara kembarnya telah menjadi ikon baru wisata religius di Kota Bandung. Status barunya sebagai bagian dari masjid raya, telah menjadikan alun-alun bukan hanya milik masyarakat Bandung tapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat.


Dalam even-even keagamaan, Kota Bandung juga memiliki prestasi yang sangat membanggakan. Pada MTQ tingkat Jawa Barat di Cirebon beberapa waktu yang lalu Kota Bandung berhasil menyabet Juara Umum. Dua MTQ sebelumnya di Garut dan Bekasi Kota Bandung meraih posisi runner up. Ada rencana MTQ tingkat Jawa Barat April 2008 diselenggarakan di Kota Bandung.


Berbagai prestasi tersebut tentunya tidak akan berhasil tanpa upaya yang sinergis antara pemerintah dengan tokoh agama. Prestasi-prestasi tersebut menjadi modal awal untuk pelaksanaan program "Bandung Kota Agamis 2008".


Harapan


Sejatinya program Bandung Kota agamis 2008 ini dipersiapkan oleh sebuah lembaga yang khusus mengkaji berbagai masalah keagamaan di Kota Bandung. Di dalamnya terwakili berbagai unsur lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi. Dengan begitu konsep yang dihasilkannya nanti benar-benar matang karena digodog oleh sebuah lembaga yang representatif.


Namun lembaga bukan satu-satunya tolak ukur kesuksesan sebuah program. Justru yang dibutuhkan adalah aspirasi dan dukungan masyarakat terhadap program tersebut. Kita berharap "Bandung Kota Agamis" tidak hanya sekedar digulirkan pada tahun 2008 saja. Alangkah baiknya program ini bisa terus dijalankan bahkan dijadikan visi kota Bandung ke depannya. Semoga.


Uwes Fatoni, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung dan Penggiat Tepat Institute

2 komentar:

  1. Ass. Wr. Wb.,

    Mohon doa restunya..

    No1 Dada Rosada-Ayi Vivananda

    Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bandung 2008-2013

    Wass. Wr. Wb.

    BalasHapus

bandungagamis


Oleh Uwes Fatoni



Di usianya yang ke-197 Kota Bandung dihadapkan pada berbagai permasalahan sosial kemasyarakatan. Masalah kebodohan, pengangguran, kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, kenakalan remaja dan aliran sesat menjadi konsumsi rutin masyarakat. Untuk mengurai benang kusut masalah tersebut pemerintah kota Bandung mencanangkan tujuh program prioritas yang meliput bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan hidup, olah raga, seni budaya dan agama. Bidang agama dijadikan sebagai ujung tombak pembangunan melalui program "Bandung Kota Agamis 2008."


Pencanangan program "Bandung Agamis 2008" ini bersamaan dengan program bidang lainnya yaitu "Bandung Cerdas 2008", "Bandung Sehat 2007", " Bandung Berwawasan Lingkungan Hidup 2008", "Bandung Makmur 2008", "Bandung Kota Seni Dan Budaya 2008" dan "Bandung Berprestasi Olah Raga 2008". Hal ini didasari pemikiran bahwa pembangunan bidang agama tidak akan sukses bila tanpa disertai pembangunan bidang lainnya.


Program Bandung Agamis 2008 adalah implementasi dari visi kota Bandung sebagai Kota Jasa yang Bermartabat (Bersih, Makmur, Taat dan bersahabat). Dari taat ini kemudian diturunkan menjadi agamis. Ini sesuai dengan kondisi penduduk kota Bandung yang dikenal sangat religius. Dari jumlah penduduk 2.197.734 jiwa, 88,8 persen adalah Islam, satu persen katolik, 8,8 persen protestan, 0,5 persen Hindu dan 0,9 persen Budha (BPS 2004).


Beberapa kabupaten atau kota di Jawa Barat menggunakan istilah Syari'at Islam dalam program pembangunan daerahnya seperti Kabupaten Cianjur, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Garut dan Tangerang. Berbagai peraturan daerah (perda) bernuansa syari'at Islam dikeluarkan. Muncul suara-suara oposisi yang menentang perda tersebut karena dianggap diskriminatif pada masyarakat non-Islam.


Penggunaan istilah agamis dalam program unggulan Kota Bandung ini sangat tepat karena akan mampu meminimalisir lahirnya pro-kontra di masyarakat. Dengan istilah ini pro-kontra tidak lagi menemukan relevansinya karena istilah agamis konotasinya lebih bersifat netral dan bisa diterima oleh semua penganut agama. Berbeda misalnya dengan penggunaan istilah Islami atau Syari'at Islam.


Konsep Bandung Agamis 2008 sering dilontarkan oleh Walikota Dada Rosada. Ia sering mengungkapkan makna filosofis program tersebut. Menurutnya Agamis itu bukan Islami. Dalam Bandung Kota Agamis semua agama diakui eksistensinya. Namun pernyataan ini masih menyisakan masalah. Bila maknanya "bukan Islami", lalu bagaimana dengan umat Islam sebagai penduduk mayoritas yang ingin menjalankan kehidupan berdasarkan ajaran Islam. Bukankah kehidupan seperti itu disebut kehidupan Islami? Namun bila agamis menurut walikota itu artinya "bukan hanya Islami", maka itu bisa diterima.


Sayangnya konsep dan rancangan program Bandung Agamis 2008 ini belum pernah dijelaskan kepada publik secara lengkap dan komprehensif sehingga seolah-olah ia belum siap untuk dilaksanakan. Padahal tahun 2008 sudah di depan mata, tinggal menunggu beberapa minggu lagi. Tentu kita tidak mengharapkan program ini diperdebatkan pada saat seharusnya sudah diimplementasikan.


Untuk mensukseskan program tersebut dibutuhkan aspirasi dan pendapat dari masyarakat. Selama ini sangat sedikit masyarakat yang mengetahui adanya program tersebut. Barangkali ini karena kurangnya sosialisasi tentang program tersebut kepada masyarakat.


Penulis tidak beranggapan bahwa masyarakat Bandung apatis terhadap pencanangan program ini. Barangkali masyarakat selama ini mempersepsi bahwa pembangunan di kota Bandung telah cukup apresiatif terhadap kegiatan keagamaan. Tanpa mengusung istilah keagamaan pun Kota Bandung dianggap telah religius. Ini bisa dilihat dari berbagai prestasi keagamaan yang telah dicapai selama ini.


Prestasi Keagamaan


Berbagai program pembangunan keagamaan di Kota Bandung berhasil dijalankan oleh pemerintah. Penutupan lokalisasi Saritem beberapa waktu yang lalu merupakan prestasi yang sangat monumental. Sejak didirikannya 200 tahun yang lalu pusat mesum terbesar di Kota Bandung ini merupakan problem sosial yang sangat sulit diatasi. Berbagai upaya penertiban telah beberapa kali dilakukan pemerintah namun selalu berakhir gagal. Baru pada masa walikota sekarang masalah Saritem mampu tuntas diselesaikan yaitu dengan ditutup secara permanen.


Penutupan ini bukan tanpa resiko. Orang-orang yang merasa dirugikan dengan penutupan tersebut melakukan perlawanan balik. Tidak kurang walikota pun mendapat ancaman pembunuhan melalui pesan singkat (SMS). Namun hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus maju apalagi dengan mendapat dukungan luas masyarakat. Citra Saritem yang kotor ini kemudian direhabilitasi melalui pemberdayaan Masjid Daar at-taubah di lokasi tersebut.


Prestasi pembangunan keagamaan lainnya adalah penataan alun-alun menjadi bagian masjid agung atau sekarang disebut masjid raya. Dengan penataan ini alun-alun terlihat lebih asri dan nyaman. Saat ini alun-alun Bandung dengan taman menggantungnya serta Masjid Raya dengan menara kembarnya telah menjadi ikon baru wisata religius di Kota Bandung. Status barunya sebagai bagian dari masjid raya, telah menjadikan alun-alun bukan hanya milik masyarakat Bandung tapi juga menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Barat.


Dalam even-even keagamaan, Kota Bandung juga memiliki prestasi yang sangat membanggakan. Pada MTQ tingkat Jawa Barat di Cirebon beberapa waktu yang lalu Kota Bandung berhasil menyabet Juara Umum. Dua MTQ sebelumnya di Garut dan Bekasi Kota Bandung meraih posisi runner up. Ada rencana MTQ tingkat Jawa Barat April 2008 diselenggarakan di Kota Bandung.


Berbagai prestasi tersebut tentunya tidak akan berhasil tanpa upaya yang sinergis antara pemerintah dengan tokoh agama. Prestasi-prestasi tersebut menjadi modal awal untuk pelaksanaan program "Bandung Kota Agamis 2008".


Harapan


Sejatinya program Bandung Kota agamis 2008 ini dipersiapkan oleh sebuah lembaga yang khusus mengkaji berbagai masalah keagamaan di Kota Bandung. Di dalamnya terwakili berbagai unsur lembaga keagamaan, organisasi kemasyarakatan dan perguruan tinggi. Dengan begitu konsep yang dihasilkannya nanti benar-benar matang karena digodog oleh sebuah lembaga yang representatif.


Namun lembaga bukan satu-satunya tolak ukur kesuksesan sebuah program. Justru yang dibutuhkan adalah aspirasi dan dukungan masyarakat terhadap program tersebut. Kita berharap "Bandung Kota Agamis" tidak hanya sekedar digulirkan pada tahun 2008 saja. Alangkah baiknya program ini bisa terus dijalankan bahkan dijadikan visi kota Bandung ke depannya. Semoga.


Uwes Fatoni, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung dan Penggiat Tepat Institute

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


2 komentar
  1. Ass. Wr. Wb.,

    Mohon doa restunya..

    No1 Dada Rosada-Ayi Vivananda

    Pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bandung 2008-2013

    Wass. Wr. Wb.

    BalasHapus