Minggu, 13 Januari 2008

HIJRAH MASA KINI

Oleh : Uwes Fatoni


Hijrah merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam. Perpindahan Nabi Muhammad dan para sahabat dari Mekah ke Madinah ini selain sebuah strategi politik juga menjadi cerminan betapa tingginya tingkat keimanan kaum muslimin saat itu. Tanpa keimanan yang kuat mereka pasti akan enggan untuk meninggalkan tanah kelahiran pergi merantau ke tempat yang jauh. Oleh karenanya Al-Quran menyebutkan hijrah sebagai salah satu kriteria iman yang benar.




"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman" (QS. Al-Anfal [8] : 74)




Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqari, dalam Jubdat al-Tafsir min Fath al-Qadir, orang-orang yang benar-benar beriman itu artinya orang-orang yang sempurna dalam keimanannya. Mereka bersedia berhijrah dan berjihad di jalan Allah sebagai realisasi dari karakteristik orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.




Namun Rasul telah menyatakan bahwa setelah penaklukan (futuh) Mekah tidak ada lagi hijrah. Lalu bagaimana cara kita agar bisa memperoleh pahala dan kedudukan hijrah? Kita bisa melakukan hijrah secara maknawi. Hijrah ini bukan lagi perpindahan tempat namun lebih esensial yaitu perpindahan karakter dari sifat-sifat yang buruk menuju sifat-sifat yang baik. Hal ini bisa dilakukan melalui empat bentuk hijrah, yaitu : hijrah dari kebodohan menuju kecerdasan; hijrah dari syirik (menyekutukan Allah) menuju tauhid (mengesakan Allah); hijrah dari perpecahan menuju persatuan dan terakhir hijrah dari perbuatan dosa menuju taubat dan tidak akan mengulangi dosa tersebut.




Allah berfirman dalam Surat al-Mudatsir ayat 5 "dan perbuatan dosa tinggalkanlah". Dalam sebuah hadits Rasul pun bersabda "Orang yang berhijrah adalah orang yagn meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah" (Al-Hadits). Jadi siapapun yang menjauhi setiap larangan Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, mereka akan memperoleh derajat yang sama dengan derajat orang yang berhijrah.




Bagi orang yang berhijrah Allah memberikan jaminan mereka akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. "Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan menemukan di muka bumi ini tempat yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa yang berhijrah dari rumahnya dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpa (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS an-Nisa [4]: 100).


UWES FATONI, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

1 komentar:

  1. Ayi Uwes, leres pisan... Teu tiasa komen nanaon, tos lengkep tur jentre... :mrgreen:

    Hatur nuhun Kang, Mugi urang tiasa hijrah kana kasaenan. Amin

    BalasHapus

Oleh : Uwes Fatoni


Hijrah merupakan peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam. Perpindahan Nabi Muhammad dan para sahabat dari Mekah ke Madinah ini selain sebuah strategi politik juga menjadi cerminan betapa tingginya tingkat keimanan kaum muslimin saat itu. Tanpa keimanan yang kuat mereka pasti akan enggan untuk meninggalkan tanah kelahiran pergi merantau ke tempat yang jauh. Oleh karenanya Al-Quran menyebutkan hijrah sebagai salah satu kriteria iman yang benar.




"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman" (QS. Al-Anfal [8] : 74)




Menurut Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asqari, dalam Jubdat al-Tafsir min Fath al-Qadir, orang-orang yang benar-benar beriman itu artinya orang-orang yang sempurna dalam keimanannya. Mereka bersedia berhijrah dan berjihad di jalan Allah sebagai realisasi dari karakteristik orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.




Namun Rasul telah menyatakan bahwa setelah penaklukan (futuh) Mekah tidak ada lagi hijrah. Lalu bagaimana cara kita agar bisa memperoleh pahala dan kedudukan hijrah? Kita bisa melakukan hijrah secara maknawi. Hijrah ini bukan lagi perpindahan tempat namun lebih esensial yaitu perpindahan karakter dari sifat-sifat yang buruk menuju sifat-sifat yang baik. Hal ini bisa dilakukan melalui empat bentuk hijrah, yaitu : hijrah dari kebodohan menuju kecerdasan; hijrah dari syirik (menyekutukan Allah) menuju tauhid (mengesakan Allah); hijrah dari perpecahan menuju persatuan dan terakhir hijrah dari perbuatan dosa menuju taubat dan tidak akan mengulangi dosa tersebut.




Allah berfirman dalam Surat al-Mudatsir ayat 5 "dan perbuatan dosa tinggalkanlah". Dalam sebuah hadits Rasul pun bersabda "Orang yang berhijrah adalah orang yagn meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah" (Al-Hadits). Jadi siapapun yang menjauhi setiap larangan Allah dan mengerjakan segala perintah-Nya, mereka akan memperoleh derajat yang sama dengan derajat orang yang berhijrah.




Bagi orang yang berhijrah Allah memberikan jaminan mereka akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat. "Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan menemukan di muka bumi ini tempat yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa yang berhijrah dari rumahnya dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpa (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS an-Nisa [4]: 100).


UWES FATONI, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


1 komentar
  1. Ayi Uwes, leres pisan... Teu tiasa komen nanaon, tos lengkep tur jentre... :mrgreen:

    Hatur nuhun Kang, Mugi urang tiasa hijrah kana kasaenan. Amin

    BalasHapus