Selasa, 08 Januari 2008

SEREN TAUN, TAHUN BARUAN ALA ORANG SUNDA

seren tahun


Oleh : Uwes Fatoni


Tanggal satu Januari kemarin kita ramai-ramai merayakan tahun baru, namun tahukah anda bahwa pada tanggal tersebut waktunya bersamaan dengan perayaan tahun baru dalam budaya sunda? Tentu saja perayaan tersebut berdasarkan perhitungan tahun dalam penanggalan Sunda.


Dalam budaya Sunda perayaan tahun baru dikenal dengan seren taun. Berdasarkan makna katanya, seren taun berarti serah terima tahun yang telah lewat kepada tahun yang akan datang atau disebut juga pergantian tahun. Perayaan seren taun merupakan upacara yang sangat luhung dengan nilai-nilai dan falsafah hidup. Di dalamnya terdapat beberapa prosesi spiritual yang mengandung nilai-nilai religius yaitu upaya pendekatan diri kepada Tuhan sekaligus kepada alam melalui pertunjukan seni kolosal yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.


Dalam konteks kehidupan masyarakat Sunda yang kental dengan budaya pertanian atau agraris, seren taun merupakan wahana pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Bersyukur atas hasil pertanian yang telah diperoleh pada tahun-tahun yang telah lewat dan berdoa agar mendapatkan hasil panen yang lebih baik pada tahun-tahun yang akan datang. Oleh karenanya upacara seren taun dianggap hampir sama dengan Thanksgiving Day di Barat.


Bila ditelusuri dalam sejarah, menurut Anis Djatisunda, seren taun telah berkembang sejak jaman Pajajaran. Pada saat itu pelaksanaannya dilakukan secara serentak di seluruh wilayah kerajaan mulai dari Pakuan sampai daerah kapuunan dan kakolotan. Perayaan seren taun berdasarkan waktunya terbagi menjadi dua bentuk: pertama, perayaan yang sifatnya tahunan atau disebut juga upacara seren taun guru bumi. Perayaan ini dilaksanakan di Pakuan dan juga di seluruh wilayah kerajaan. Dan kedua, perayaan yang sifatnya sewindu (delapan tahun) sekali yang dikenal dengan upacara seren taun tutug galur atau biasa disebut upacara kuwera bakhti yang perayaannya dilakukan di Pakuan saja.


Bentuk perayaan kedua upacara tersebut sama saja, yang membedakan hanya pada kelengkapan upacara, batas waktu dan tempat pelaksanaannya. Seren taun guru bumi dilaksanakan selama 4 hari sebelum bulan purnama dan berakhir pada hari malam bulan purnama tanggal satu bulan Mangsa Guru atau bulan pertama kalender Pajajaran (awal tahun). Sedangkan seren taun tutug galur dilaksanakan selama sepuluh hari yaitu dari sepuluh hari terakhir bulan mangsa bakti (bulan terakhir kalender Pajajaran) dan puncaknya sama seperti seren taun guru bumi yaitu pada malam bulan purnama tanggal satu bulan Mangsa Guru.


Perlu dipahami bahwa dalam penanggalan kalender Pajajaran satu bulan tidak dihitung dari banyaknya hari, tapi dihitung dari mulai bulan purnama sampai bulan purnama berikutnya. Sistem penanggalan ini sama seperti perhitungan kalender lunar atau sistem qamariyah (bulan) dalam Islam. Hanya yang membedakannya adalah dalam penghitungan awal bulan.


Selanjutnya dalam perjalanan sejarah upacara seren taun ini mendapatkan banyak pengaruh termasuk dari agama Islam. Saat ini tinggal seren taun guru bumi yang masih diadakan yaitu mulai dari tangal 18 Rayagung (Dzulhijjah) sampai puncaknya tanggal 22 Rayagung. Pelaksanaannya pun sekarang tidak lagi di seluruh daerah tatar Sunda namun hanya di kampung-kampung adat saja, seperti di Cigugur Kuningan, Cisungsang Lebak, Sirna Resmi Cisolok Sukabumi, dan Sindang Barang Bogor. Di luar daerah tersebut sudah tidak ada.


Penyebab seren taun hanya tersisa di kampung adat adalah berkaitan dengan ketersediaan perangkat upacara. Di kampung-kampung adat perangkat upacara seperti leuit, lisung dan alat-alat musik tradisional masih tersedia dan terpelihara dengan baik. Sedangkan di kampung-kampung biasa yang bukan kampung adat perangkat upacara tersebut sudah hilang diganti dengan peralatan modern.


Prosesi Upacara


Seren taun kemarin bersamaan dengan tahun baru masehi yaitu tanggal 1 Januari 2007. Namun Berbeda dengan perayaan tahun baru masehi yang cenderung bernuansa hura-hura tanpa memiliki makna, perayaan seren taun penuh dengan simbol-simbol budaya. Misalnya, sebelum prosesi seren taun ada beberapa prosesi ritual yang dilakukan yaitu prosesi Jatnika Nibakeun Sri ka Bumi. Prosesi ini dilakukan di saat menyebar benih hingga menuai benih selama 45-50 hari. Selanjutnya ada prosesi Jatnika Ngamitkeun Sri ti Bumi yang dilanjutkan dengan Ngunjal dan Rasul Pare di Leuit atau memasukkan padi ke dalam lumbung padi. Dan puncaknya terakhir upacara seren taun.


Dalam perayaan seren taun seperti juga perayaan tahun baru masa sekarang, terdapat pagelaran musik dan hiburan. Bila dalam tahun baru perayaan diramaikan dengan pagelaran musik pop, rock atau dangdut, maka dalam seren taun hiburannya adalah pagelaran musik tradisional seperti Angklung, Tanjidor dan Calung. Demikian pula bila tahun baruan terdapat konvoi kendaraan roda dua atau roda empat, maka dalam seren taun diadakan arak-arakan yang dikenal dengan Helaran. Semua masyarakat baik laki-laki atau perempuan mulai dari anak-anak, muda-mudi hingga orang tua ikut dalam barisan Helaran. Mereka berjalan dengan mengenakan pakaian khas Sunda.




Dalam Helaran tersebut terdapat satu barisan khusus yang disebut dongdang yaitu sekelompok orang yang bertugas memanggul hasil bumi seperti padi, sayur-mayur, dan buah-buahan. Selain itu dalam helaran diiringi pula tarian massal serta atraksi kesenian seperti Kendang Pencak, Parebut Seeng, Angklung Gubrag, Calung, dan Reog.




Adat dan Kepercayaan




Diantara penyebab seren taun tidak berkembang luas di masyarakat Sunda adalah munculnya anggapan dalam upacara tersebut telah campur aduk antara adat, budaya dan kepercayaan lokal. Seperti di Cigugur Kuningan, seren taun dilaksanakan oleh masyarakat kampung adat Cigugur yang menganut ajaran Madrais. Kelompok tersebut oleh masyarakat umum dianggap aliran sesat dan dikelompokkan sebagai penganut aliran kepercayaan. Akibatnya upacara seren taun pun dianggap sesat karena menjadi bagian dari kelompok aliran kepercayaan tersebut.




Sedangkan di Kampung adat Sirna Resmi Cisolok Sukabumi atau di kasepuhan cisungsang Lebak, sekalipun masyarakatnya menganut agama Islam, namun pengaruh budaya sunda tempo dulu masih tetap ada yaitu keyakinan kepada dewi Sri  sebagai dewi pemelihara padi. Dalam berdoa pun selain memanjatkan syukur kepada Tuhan Pencipta alam, juga terselip puji-pujian kepada Sang Dewi. Dengan keyakinan seperti itu akibatnya masyarakat umum menganggap bahwa seren taun mendekati kepada unsur mempersekutukan Tuhan.




Namun meskipun begitu tak ada salahnya seren taun terus dijaga dan dilestarikan karena selain mengandung nilai budaya yang luhur, upacara ini juga memiliki potensi pariwisata dengan keunikan, kesakralan dan kelangkaannya. Bagaimanapun budaya Sunda merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas diri kita sebagai orang Sunda. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan ngamumule budaya sendiri.


Uwes Fatoni, Pemerhati Budaya Sunda, Penggiat Tepat Institute.

12 komentar:

  1. Teu kenging mung ngabahas seren taun, iraha kinten-kinten Kang uwes bade suran-seren oge 'nyerenkeun' hehehhe pan ayeunamah tos janten Bpk dosen, wilujeung ah....

    BalasHapus
  2. Kamana wae kang Ali ? Meni teu aya kabar. Sabaraha kali abdi ningal tulisanna di Koran. Hebat lah produktif terus. "Seren Taun" eta teh tulisan kanggo di Kompas Jawa Barat tapi teu dimuat wae, jadi weh dipublish di weblog. Hehe.
    Alhamdulillah kamari tos lebet CPNS lewat tes. Nya ari tos milik mah moal kamana, nya Kang. Pidu'ana taun ayeuna abdi bade "nyerenkeun". Nya usaha weh. Pidu'ana.
    Kang Kumaha tos rengse Disertasi teh. Aya informasi tentang penelitian teu? sugan abdi tiasa ngiringan.

    BalasHapus
  3. Runno Tanwir Elalby7 Juli 2008 09.51

    Abdi urang Manado tapi resep ka Budaya Sunda. Malah mah, pun bojo oge urang Sunda... mugi-mugi diaku ku urang Sunda. Punten tulisan Kang Uwes ku Abdi di-copy..nya...

    Mangga. Wilujeng atuh mudah-mudahan tiasa ngamumule budaya sunda.

    BalasHapus
  4. Info; Seren Taun 22 Rayagung 1941 S Cigugur Kuningan. Rangkaian acaranya rencananya dimulai dari 16 Des 2008 s.d. puncaknya tgl 21 Des 2008. - setiarsa 08157127747

    BalasHapus
  5. bangga euy jadi urang sunda.............

    BalasHapus
  6. laknatulah sunda!!!yang mo debat nih tel gua.021-87902688 gua tunggu s

    BalasHapus
  7. Prosesi singkat upacara adat seren taun 2010 di ciptagelar bisa liat disini.
    http://vimeo.com/13825028

    BalasHapus
  8. Abu Aisyah Abdurrahman M17 Agustus 2010 03.44

    Akang Punten abdi ngopy file-na nya'. Abdurrhman nih....

    BalasHapus
  9. Abu Aisyah Abdurrahman M17 Agustus 2010 03.52

    Abdi sanes urang Sunda, tapi di Bogor atus 12 tahun. ayeuna bade penelitian masalah seren taun. aya nu bade ngabantu teu nya'? kontak wae ka abdi

    BalasHapus
  10. boy wangsapraja15 Januari 2011 07.31

    Maksudnya apa elo ngomong gitu alhadad ! Dari namanya kayaknya elo orang arab. Jangan karena orang arab, islam elo paling bener ! Gimana tentang TKW yang di siksa di Arab saudi tuh. Mendingan elo ngaca deh, jangan cuma cari jeleknya orang lain.

    BalasHapus
  11. Saya tertarik dalam artikel Anda pada pariwisata.
    Ini benar-benar menginspirasi saya tentang keindahan alam.
    Saya juga memiliki artikel yang sama tentang proses pembelajaran yang dapat Anda kunjungi di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

    BalasHapus

seren tahun


Oleh : Uwes Fatoni


Tanggal satu Januari kemarin kita ramai-ramai merayakan tahun baru, namun tahukah anda bahwa pada tanggal tersebut waktunya bersamaan dengan perayaan tahun baru dalam budaya sunda? Tentu saja perayaan tersebut berdasarkan perhitungan tahun dalam penanggalan Sunda.


Dalam budaya Sunda perayaan tahun baru dikenal dengan seren taun. Berdasarkan makna katanya, seren taun berarti serah terima tahun yang telah lewat kepada tahun yang akan datang atau disebut juga pergantian tahun. Perayaan seren taun merupakan upacara yang sangat luhung dengan nilai-nilai dan falsafah hidup. Di dalamnya terdapat beberapa prosesi spiritual yang mengandung nilai-nilai religius yaitu upaya pendekatan diri kepada Tuhan sekaligus kepada alam melalui pertunjukan seni kolosal yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat.


Dalam konteks kehidupan masyarakat Sunda yang kental dengan budaya pertanian atau agraris, seren taun merupakan wahana pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Bersyukur atas hasil pertanian yang telah diperoleh pada tahun-tahun yang telah lewat dan berdoa agar mendapatkan hasil panen yang lebih baik pada tahun-tahun yang akan datang. Oleh karenanya upacara seren taun dianggap hampir sama dengan Thanksgiving Day di Barat.


Bila ditelusuri dalam sejarah, menurut Anis Djatisunda, seren taun telah berkembang sejak jaman Pajajaran. Pada saat itu pelaksanaannya dilakukan secara serentak di seluruh wilayah kerajaan mulai dari Pakuan sampai daerah kapuunan dan kakolotan. Perayaan seren taun berdasarkan waktunya terbagi menjadi dua bentuk: pertama, perayaan yang sifatnya tahunan atau disebut juga upacara seren taun guru bumi. Perayaan ini dilaksanakan di Pakuan dan juga di seluruh wilayah kerajaan. Dan kedua, perayaan yang sifatnya sewindu (delapan tahun) sekali yang dikenal dengan upacara seren taun tutug galur atau biasa disebut upacara kuwera bakhti yang perayaannya dilakukan di Pakuan saja.


Bentuk perayaan kedua upacara tersebut sama saja, yang membedakan hanya pada kelengkapan upacara, batas waktu dan tempat pelaksanaannya. Seren taun guru bumi dilaksanakan selama 4 hari sebelum bulan purnama dan berakhir pada hari malam bulan purnama tanggal satu bulan Mangsa Guru atau bulan pertama kalender Pajajaran (awal tahun). Sedangkan seren taun tutug galur dilaksanakan selama sepuluh hari yaitu dari sepuluh hari terakhir bulan mangsa bakti (bulan terakhir kalender Pajajaran) dan puncaknya sama seperti seren taun guru bumi yaitu pada malam bulan purnama tanggal satu bulan Mangsa Guru.


Perlu dipahami bahwa dalam penanggalan kalender Pajajaran satu bulan tidak dihitung dari banyaknya hari, tapi dihitung dari mulai bulan purnama sampai bulan purnama berikutnya. Sistem penanggalan ini sama seperti perhitungan kalender lunar atau sistem qamariyah (bulan) dalam Islam. Hanya yang membedakannya adalah dalam penghitungan awal bulan.


Selanjutnya dalam perjalanan sejarah upacara seren taun ini mendapatkan banyak pengaruh termasuk dari agama Islam. Saat ini tinggal seren taun guru bumi yang masih diadakan yaitu mulai dari tangal 18 Rayagung (Dzulhijjah) sampai puncaknya tanggal 22 Rayagung. Pelaksanaannya pun sekarang tidak lagi di seluruh daerah tatar Sunda namun hanya di kampung-kampung adat saja, seperti di Cigugur Kuningan, Cisungsang Lebak, Sirna Resmi Cisolok Sukabumi, dan Sindang Barang Bogor. Di luar daerah tersebut sudah tidak ada.


Penyebab seren taun hanya tersisa di kampung adat adalah berkaitan dengan ketersediaan perangkat upacara. Di kampung-kampung adat perangkat upacara seperti leuit, lisung dan alat-alat musik tradisional masih tersedia dan terpelihara dengan baik. Sedangkan di kampung-kampung biasa yang bukan kampung adat perangkat upacara tersebut sudah hilang diganti dengan peralatan modern.


Prosesi Upacara


Seren taun kemarin bersamaan dengan tahun baru masehi yaitu tanggal 1 Januari 2007. Namun Berbeda dengan perayaan tahun baru masehi yang cenderung bernuansa hura-hura tanpa memiliki makna, perayaan seren taun penuh dengan simbol-simbol budaya. Misalnya, sebelum prosesi seren taun ada beberapa prosesi ritual yang dilakukan yaitu prosesi Jatnika Nibakeun Sri ka Bumi. Prosesi ini dilakukan di saat menyebar benih hingga menuai benih selama 45-50 hari. Selanjutnya ada prosesi Jatnika Ngamitkeun Sri ti Bumi yang dilanjutkan dengan Ngunjal dan Rasul Pare di Leuit atau memasukkan padi ke dalam lumbung padi. Dan puncaknya terakhir upacara seren taun.


Dalam perayaan seren taun seperti juga perayaan tahun baru masa sekarang, terdapat pagelaran musik dan hiburan. Bila dalam tahun baru perayaan diramaikan dengan pagelaran musik pop, rock atau dangdut, maka dalam seren taun hiburannya adalah pagelaran musik tradisional seperti Angklung, Tanjidor dan Calung. Demikian pula bila tahun baruan terdapat konvoi kendaraan roda dua atau roda empat, maka dalam seren taun diadakan arak-arakan yang dikenal dengan Helaran. Semua masyarakat baik laki-laki atau perempuan mulai dari anak-anak, muda-mudi hingga orang tua ikut dalam barisan Helaran. Mereka berjalan dengan mengenakan pakaian khas Sunda.




Dalam Helaran tersebut terdapat satu barisan khusus yang disebut dongdang yaitu sekelompok orang yang bertugas memanggul hasil bumi seperti padi, sayur-mayur, dan buah-buahan. Selain itu dalam helaran diiringi pula tarian massal serta atraksi kesenian seperti Kendang Pencak, Parebut Seeng, Angklung Gubrag, Calung, dan Reog.




Adat dan Kepercayaan




Diantara penyebab seren taun tidak berkembang luas di masyarakat Sunda adalah munculnya anggapan dalam upacara tersebut telah campur aduk antara adat, budaya dan kepercayaan lokal. Seperti di Cigugur Kuningan, seren taun dilaksanakan oleh masyarakat kampung adat Cigugur yang menganut ajaran Madrais. Kelompok tersebut oleh masyarakat umum dianggap aliran sesat dan dikelompokkan sebagai penganut aliran kepercayaan. Akibatnya upacara seren taun pun dianggap sesat karena menjadi bagian dari kelompok aliran kepercayaan tersebut.




Sedangkan di Kampung adat Sirna Resmi Cisolok Sukabumi atau di kasepuhan cisungsang Lebak, sekalipun masyarakatnya menganut agama Islam, namun pengaruh budaya sunda tempo dulu masih tetap ada yaitu keyakinan kepada dewi Sri  sebagai dewi pemelihara padi. Dalam berdoa pun selain memanjatkan syukur kepada Tuhan Pencipta alam, juga terselip puji-pujian kepada Sang Dewi. Dengan keyakinan seperti itu akibatnya masyarakat umum menganggap bahwa seren taun mendekati kepada unsur mempersekutukan Tuhan.




Namun meskipun begitu tak ada salahnya seren taun terus dijaga dan dilestarikan karena selain mengandung nilai budaya yang luhur, upacara ini juga memiliki potensi pariwisata dengan keunikan, kesakralan dan kelangkaannya. Bagaimanapun budaya Sunda merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas diri kita sebagai orang Sunda. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan ngamumule budaya sendiri.


Uwes Fatoni, Pemerhati Budaya Sunda, Penggiat Tepat Institute.

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


12 komentar
  1. Teu kenging mung ngabahas seren taun, iraha kinten-kinten Kang uwes bade suran-seren oge 'nyerenkeun' hehehhe pan ayeunamah tos janten Bpk dosen, wilujeung ah....

    BalasHapus
  2. Kamana wae kang Ali ? Meni teu aya kabar. Sabaraha kali abdi ningal tulisanna di Koran. Hebat lah produktif terus. "Seren Taun" eta teh tulisan kanggo di Kompas Jawa Barat tapi teu dimuat wae, jadi weh dipublish di weblog. Hehe.
    Alhamdulillah kamari tos lebet CPNS lewat tes. Nya ari tos milik mah moal kamana, nya Kang. Pidu'ana taun ayeuna abdi bade "nyerenkeun". Nya usaha weh. Pidu'ana.
    Kang Kumaha tos rengse Disertasi teh. Aya informasi tentang penelitian teu? sugan abdi tiasa ngiringan.

    BalasHapus
  3. Runno Tanwir Elalby7 Juli 2008 09.51

    Abdi urang Manado tapi resep ka Budaya Sunda. Malah mah, pun bojo oge urang Sunda... mugi-mugi diaku ku urang Sunda. Punten tulisan Kang Uwes ku Abdi di-copy..nya...

    Mangga. Wilujeng atuh mudah-mudahan tiasa ngamumule budaya sunda.

    BalasHapus
  4. Info; Seren Taun 22 Rayagung 1941 S Cigugur Kuningan. Rangkaian acaranya rencananya dimulai dari 16 Des 2008 s.d. puncaknya tgl 21 Des 2008. - setiarsa 08157127747

    BalasHapus
  5. bangga euy jadi urang sunda.............

    BalasHapus
  6. laknatulah sunda!!!yang mo debat nih tel gua.021-87902688 gua tunggu s

    BalasHapus
  7. Prosesi singkat upacara adat seren taun 2010 di ciptagelar bisa liat disini.
    http://vimeo.com/13825028

    BalasHapus
  8. Abu Aisyah Abdurrahman M17 Agustus 2010 03.44

    Akang Punten abdi ngopy file-na nya'. Abdurrhman nih....

    BalasHapus
  9. Abu Aisyah Abdurrahman M17 Agustus 2010 03.52

    Abdi sanes urang Sunda, tapi di Bogor atus 12 tahun. ayeuna bade penelitian masalah seren taun. aya nu bade ngabantu teu nya'? kontak wae ka abdi

    BalasHapus
  10. boy wangsapraja15 Januari 2011 07.31

    Maksudnya apa elo ngomong gitu alhadad ! Dari namanya kayaknya elo orang arab. Jangan karena orang arab, islam elo paling bener ! Gimana tentang TKW yang di siksa di Arab saudi tuh. Mendingan elo ngaca deh, jangan cuma cari jeleknya orang lain.

    BalasHapus
  11. Saya tertarik dalam artikel Anda pada pariwisata.
    Ini benar-benar menginspirasi saya tentang keindahan alam.
    Saya juga memiliki artikel yang sama tentang proses pembelajaran yang dapat Anda kunjungi di www.pariwisata.gunadarma.ac.id

    BalasHapus