Selasa, 05 Februari 2008

ETOS KERJA


Oleh : Uwes Fatoni



Orang yang beriman sangat dianjurkan untuk bekerja, berkarya dan berusaha dengan segenap tenaga. Berpangku tangan, termenung, menunggu nasib dan berleha-leha merupakan sikap-sikap yang harus dijauhi karena hal itu akan membuat seseorang menjadi insan pemalas yang tidak mampu mendayagunakan waktu. Sedangkan waktu laksana pedang jika kita tidak mampu menggunakannya maka dia akan memotong kita.


Seorang mukmin yang sempurna keimanannya ia memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Etos kerja artinya giat berusaha sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Orang yang bekerja dengan etos yang tinggi akan menjadi orang yang profesional dan dihargai orang lain. Rasulullah mengilustrasikan watak seorang mukmin bagaikan rahib tatkala malam hari, banyak beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Namun ketika siang hari ia laksana seekor serigala yang bersimbah peluh, berkuah keringat mencurahkan segenap potensi untuk bekerja dan berkarya.


Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang isinya Allah memerintahkan kita untuk bekerja dan mencari karunia yang telah dihamparkan-Nya di muka bumi "Dan katakanlah, "Bekerjalah", Allah akan melihat pekerjaanmu (juga) rasul-Nya dan orang beriman." (QS. at-Taubah: 105). "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". (QS. Al-Jum'ah: 10)


Bekerja merupakan bagian dari ibadah sehingga kita dituntut untuk bersungguh-sungguh menjalaninya. Namun bekerja dengan semangat yang tinggi jangan sampai melalaikan kita dari ibadah utama. Dalam sejarah dikenal kisah al-Qamah yang sukses dalam usaha peternakan berkat doa Rasulullah. Namun usaha yang maju menjadikannya terlena sampai meninggalkan ibadah. Di akhir kehidupannya Al-Qamah kembali sengsara dan menyesali perbuatannya.


Oleh karenanya kita harus senantiasa meningkatkan ibadah sekaligus memiliki etos kerja yang tinggi. Bagi orang yang beriman dunia merupakan ladang amal yang hasilnya akan dituai kelak di akherat. Rasulullah bersabda: "Bukanlah yang terbaik diantara kamu seseorang yang meninggalkan urusan dunia untuk kepentingan akherat, dan bukan pula yang meninggalkan urusan akhirat untuk kepentignan dunia. Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang mampu menggabungkan diantara keduanya karena urusan dunia merupakan pengantar menuju kebahagiaan akhirat."



Uwes Fatoni, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung 

2 komentar:

  1. saya setuju, dan sy ingin dptkan ayat2 etos kerja selain al-Jum'ah 10 n al-Tawbah 105

    Coba lihat disertasi Prof.Nanat Fatah Natsir, MS Rektor UIN Bandung. Beliau meneliti tentang etos kerja muslim. Kalau tidak salah bukunya juga berjudul Etos kerja muslim, hanya penerbitnya saya lupa.

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    BalasHapus


Oleh : Uwes Fatoni



Orang yang beriman sangat dianjurkan untuk bekerja, berkarya dan berusaha dengan segenap tenaga. Berpangku tangan, termenung, menunggu nasib dan berleha-leha merupakan sikap-sikap yang harus dijauhi karena hal itu akan membuat seseorang menjadi insan pemalas yang tidak mampu mendayagunakan waktu. Sedangkan waktu laksana pedang jika kita tidak mampu menggunakannya maka dia akan memotong kita.


Seorang mukmin yang sempurna keimanannya ia memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Etos kerja artinya giat berusaha sesuai dengan kemampuan dan keahliannya. Orang yang bekerja dengan etos yang tinggi akan menjadi orang yang profesional dan dihargai orang lain. Rasulullah mengilustrasikan watak seorang mukmin bagaikan rahib tatkala malam hari, banyak beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Namun ketika siang hari ia laksana seekor serigala yang bersimbah peluh, berkuah keringat mencurahkan segenap potensi untuk bekerja dan berkarya.


Dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang isinya Allah memerintahkan kita untuk bekerja dan mencari karunia yang telah dihamparkan-Nya di muka bumi "Dan katakanlah, "Bekerjalah", Allah akan melihat pekerjaanmu (juga) rasul-Nya dan orang beriman." (QS. at-Taubah: 105). "Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". (QS. Al-Jum'ah: 10)


Bekerja merupakan bagian dari ibadah sehingga kita dituntut untuk bersungguh-sungguh menjalaninya. Namun bekerja dengan semangat yang tinggi jangan sampai melalaikan kita dari ibadah utama. Dalam sejarah dikenal kisah al-Qamah yang sukses dalam usaha peternakan berkat doa Rasulullah. Namun usaha yang maju menjadikannya terlena sampai meninggalkan ibadah. Di akhir kehidupannya Al-Qamah kembali sengsara dan menyesali perbuatannya.


Oleh karenanya kita harus senantiasa meningkatkan ibadah sekaligus memiliki etos kerja yang tinggi. Bagi orang yang beriman dunia merupakan ladang amal yang hasilnya akan dituai kelak di akherat. Rasulullah bersabda: "Bukanlah yang terbaik diantara kamu seseorang yang meninggalkan urusan dunia untuk kepentingan akherat, dan bukan pula yang meninggalkan urusan akhirat untuk kepentignan dunia. Yang terbaik diantara kamu adalah orang yang mampu menggabungkan diantara keduanya karena urusan dunia merupakan pengantar menuju kebahagiaan akhirat."



Uwes Fatoni, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung 
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


2 komentar
  1. saya setuju, dan sy ingin dptkan ayat2 etos kerja selain al-Jum'ah 10 n al-Tawbah 105

    Coba lihat disertasi Prof.Nanat Fatah Natsir, MS Rektor UIN Bandung. Beliau meneliti tentang etos kerja muslim. Kalau tidak salah bukunya juga berjudul Etos kerja muslim, hanya penerbitnya saya lupa.

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    BalasHapus