Jumat, 22 Februari 2008

MENANTI FILM DAKWAH BERKUALITAS

ayat-ayat c




Oleh : Uwes Fatoni
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung


Dimuat di REPUBLIKA tanggal 22 Februari 2008


Geert Wilders, anggota Parlemen Belanda, sedang membuat film berisi penghinaan terhadap Alquran. Film ini rencananya akan ditayangkan di salah satu televisi Belanda, tetapi kemudian mendapat penentangan keras karena muncul kekhawatiran akan mendatangkan letupan baru konflik lintas budaya.




Sepertinya Geert tidak mengambil pelajaran dari Theo van Gogh, sutradara film Submission (2004). Film yang melecehkan umat Islam itu memantik kebencian dan mengantarkannya ke liang kubur.




Gogh tewas dibunuh Mohamad Bouyeri, seorang fundamentalis Muslim. Bila Geert tetap dengan rencananya bisa jadi ia akan mengikuti jejak Gogh.




Gerakan Geert merupakan kelanjutan dari pemikirannya yang nyeleneh dan selalu memancing kemarahan umat Islam. Telah lama ia dikenal sebagai tokoh anti-Islam Belanda dan film menjadi cara terbarunya dalam menyebarluaskan kebenciannya terhadap Islam.




Film sejak lama telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat. Dengan caranya yang halus (audio visual) film mampu membentuk opini publik tanpa disadari oleh khalayak. Tidak aneh kemudian film yang pada mulanya dianggap sebagai tontonan berubah menjadi tuntunan.




Film Hollywood
Berbicara tentang film sebagai media propaganda, Hollywood merupakan ikon film propaganda dunia saat ini. Industri hiburan produk AS ini seringkali membentuk stigma tentang masyarakat atau budaya di luar mereka, tak terkecuali Islam dan umat Islam.




Usai berakhirnya perang dingin yang dimenangkan kapitalisme Amerika atas komunisme Uni Sovyet, Barat membidik Islam sebagai musuh berikutnya. Pengeboman WTC menjadi pembenaran pemikiran tersebut.




Hal ini disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia melalui film-film Hollywood. Film kemudian menjadi media paling ampuh membentuk citra negatif Islam, sekalipun ada juga beberapa di antaranya yang tetap objektif memperlihatkan kebenaran Islam.




Bila dikelompokkan, film Hollywood yang bercerita tentang Islam terbagi kepada tiga jenis. Pertama, film yang menggambarkan citra buruk Islam, misalnya film Alladin (1992). Dalam film ini Islam dicitrakan sebagai budaya terbelakang yang memberlakukan hukuman, menurut orang Barat, tidak manusiawi, yaitu potong tangan. Film True Lies (1994) dan The Siege (1998) tidak kalah buruknya. Keduanya mencitrakan orang Arab dan Islam sebagai teroris.




Kedua, film yang memperlihatkan Islam secara positif. Beberapa di antaranya The Messenger (1976), Lion of the Dessert (1981), Robin Hood: Prince of Thieves (1991), dan Kingdom of Heaven (2005). Film-film tersebut menggambarkan tokoh Muslim yang memiliki jiwa mulia.




Ketiga, film yang bersifat netral, tidak menjelek-jelekkan tapi juga tidak memuji Islam. Ini seperti Malcolm X (1992) dan Ali (2001) yang bercerita tentang biografi dua tokoh black Muslim Amerika. Dari tiga jenis film Hollywood di atas, jenis pertama saat ini semakin gencar diproduksi dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.




Hal ini tentunya membawa implikasi serius bagi umat berupa citra buruk di mata masyarakat internasional. Apalagi, kemudian terorisme dan berbagai bentuk kekerasan kerap muncul di negara-negara Islam. Citra tersebut pun semakin tertancap kuat.




Dari reaksi ke aksi
Dalam menghadapi rencana pemutaran film Geert, umat Islam memberikan reaksi cukup keras. Negara-negara Arab bahkan menyampaikan keberatannya kepada Pemerintah Belanda. Mereka berencana memboikot produk asal Negeri Kincir Angin tersebut bila tuntutannya tidak dipenuhi.




Bisa dibayangkan, belum diputar saja film tersebut sudah menuai reaksi sedemikian hebat. Bagaimana bila benar-benar disiarkan?




Reaksi umat Islam kemungkinan akan jauh lebih besar dari reaksi mereka terhadap pemuatan kartun Nabi Muhammad di majalah Jyllands-Posten Denmark beberapa waktu lalu. Namun, ada satu reaksi unik yang berasal dari Liga Arab Eropa. Mereka memberikan reaksi dengan cara yang maju, yaitu membuat film tandingan yang memperlihatkan sisi positif Alquran dan Islam.




Cara ini tentu lebih elegan dan lebih beradab dibandingkan dengan demonstrasi besar-besaran. Perlawanan dilakukan dengan menggunakan senjata yang sama, yaitu film.




Sejauh ini umat Islam menyadari bahwa mereka seringkali hanya menjadi konsumen dan objek sasaran industri kapitalisme hiburan dunia. Sudah selayaknya umat Islam mulai beranjak menjadi produsen film.




Children of Heaven, film asal Iran bisa menjadi contoh menarik untuk diikuti. Hasil karya sineas Iran ini tidak tanggung-tanggung mampu menembus nominasi Piala Oscar.




Di Indonesia, film Islam atau film dakwah termasuk barang langka. Dulu pernah muncul Cut Nyak Dien, Alkautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah, serta Fatahillah. Namun, film-film seperti ini kemudian menghilang seiring dengan matinya perfilman Indonesia.




Saat ini film layar lebar mulai bangkit kembali. Hanya saja isinya cenderung kontraproduktif dengan dakwah Islam. Saat ini yang sering muncul dan laku di pasaran adalah film-film berisi pesan pergaulan bebas.




Lihat saja dari judulnya Buruan Cium Gue, Maaf Aku Menghamili Istri Anda, sangat miris. Tidak kalah pula bermunculan film horor yang penuh muatan bid'ah, takhayul, dan khurafat.




Bila selama ini film dipandang sebagai cerminan masyarakat, maka melihat kondisi seperti itu tentu kita perlu meratapinya. Namun, ada kabar gembira. Film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari Novel karya Habiburrahman El-Shirazy akan dirilis pada 28 Februari mendatang.




Ini mungkin bisa menjadi oase di tengah gersangnya perfilman Indonesia, sekaligus menjadi gebarakan baru dakwah Islam melalui media layar lebar. Memang tidak mudah untuk melahirkan film dakwah.




Selain tujuan dan isi pesannya harus Islami, para pemain filmnya pun dituntut konsisten dalam berperilaku. Hal itu tentu sangat berat, terutama tatkala dunia artis identik dengan dunia glamor.




Tentu tidak ringan bagi mereka untuk berperilaku Islami dalam kehidupan keseharian sebagaimana pesan mereka dalam film dakwah. Bila perilaku mereka bertentangan dalam film dengan kenyataan, pesan dakwah film akan menemui kegagalan. Masyarakat senantiasa menuntut konsistensi antara perilaku dan pesan dakwah. Sudah siapkah artis film dakwah menghadapi hal ini?




Dalam aspek lain, film dakwah juga menuntut sineas-sineas Muslim yang berkualitas. Film dakwah selain mengusung idealisme nilai-nilai Islam juga dituntut memiliki nilai jual di masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab para sineas Muslim.




Kita memang memiliki Chaerul Umam yang berhasil mengangkat tema-tema keislaman dalam filmnya sampai meraih nominasi Piala Citra. Ada juga Deddy Mizwar, spesialis sinetron dakwah. Namun, itu belum cukup dibandingkan dengan perkembangan film-film yang mengusung kemungkaran.




Kita menanti film-film dakwah berkualitas lainnya yang mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat di tengah gencarnya arus globalisasi. Film-film tersebut juga diharapkan bisa menandingi film-film Barat yang sering menciptakan citra buruk Islam, seperti yang sedang dilakukan Geert Wilders saat ini.




Ikhtisar:
- Film telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat.
- Umat Islam seringkali hanya menjadi konsumen dan objek sasaran industri kapitalisme hiburan dunia.
- Produksi film bernuansa Islami di Indonesia justru merosot.

3 komentar:

  1. wah.., rajin nulis di republika nih? sukses terus...



    Iya nih alhamdulillah, Amiiiiin

    BalasHapus
  2. wow tulisan yang bagus sangat memberi inspirasi.. sebenernya saya ingin mengangkat tema ini dalam acara talkshow yang diadakan kampus saya FEUI, mas bersedia gak ikut berpartisipasi di acara ini.. acaranya rencananya februari 2009..

    ada no atau alamat yang bisa dihubungi? mas boleh email ke kita di berdzikir@yahoo.com bila tertarik.

    terimakasih mas.. ditunggu kabarnya..

    BalasHapus

ayat-ayat c




Oleh : Uwes Fatoni
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung


Dimuat di REPUBLIKA tanggal 22 Februari 2008


Geert Wilders, anggota Parlemen Belanda, sedang membuat film berisi penghinaan terhadap Alquran. Film ini rencananya akan ditayangkan di salah satu televisi Belanda, tetapi kemudian mendapat penentangan keras karena muncul kekhawatiran akan mendatangkan letupan baru konflik lintas budaya.




Sepertinya Geert tidak mengambil pelajaran dari Theo van Gogh, sutradara film Submission (2004). Film yang melecehkan umat Islam itu memantik kebencian dan mengantarkannya ke liang kubur.




Gogh tewas dibunuh Mohamad Bouyeri, seorang fundamentalis Muslim. Bila Geert tetap dengan rencananya bisa jadi ia akan mengikuti jejak Gogh.




Gerakan Geert merupakan kelanjutan dari pemikirannya yang nyeleneh dan selalu memancing kemarahan umat Islam. Telah lama ia dikenal sebagai tokoh anti-Islam Belanda dan film menjadi cara terbarunya dalam menyebarluaskan kebenciannya terhadap Islam.




Film sejak lama telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat. Dengan caranya yang halus (audio visual) film mampu membentuk opini publik tanpa disadari oleh khalayak. Tidak aneh kemudian film yang pada mulanya dianggap sebagai tontonan berubah menjadi tuntunan.




Film Hollywood
Berbicara tentang film sebagai media propaganda, Hollywood merupakan ikon film propaganda dunia saat ini. Industri hiburan produk AS ini seringkali membentuk stigma tentang masyarakat atau budaya di luar mereka, tak terkecuali Islam dan umat Islam.




Usai berakhirnya perang dingin yang dimenangkan kapitalisme Amerika atas komunisme Uni Sovyet, Barat membidik Islam sebagai musuh berikutnya. Pengeboman WTC menjadi pembenaran pemikiran tersebut.




Hal ini disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia melalui film-film Hollywood. Film kemudian menjadi media paling ampuh membentuk citra negatif Islam, sekalipun ada juga beberapa di antaranya yang tetap objektif memperlihatkan kebenaran Islam.




Bila dikelompokkan, film Hollywood yang bercerita tentang Islam terbagi kepada tiga jenis. Pertama, film yang menggambarkan citra buruk Islam, misalnya film Alladin (1992). Dalam film ini Islam dicitrakan sebagai budaya terbelakang yang memberlakukan hukuman, menurut orang Barat, tidak manusiawi, yaitu potong tangan. Film True Lies (1994) dan The Siege (1998) tidak kalah buruknya. Keduanya mencitrakan orang Arab dan Islam sebagai teroris.




Kedua, film yang memperlihatkan Islam secara positif. Beberapa di antaranya The Messenger (1976), Lion of the Dessert (1981), Robin Hood: Prince of Thieves (1991), dan Kingdom of Heaven (2005). Film-film tersebut menggambarkan tokoh Muslim yang memiliki jiwa mulia.




Ketiga, film yang bersifat netral, tidak menjelek-jelekkan tapi juga tidak memuji Islam. Ini seperti Malcolm X (1992) dan Ali (2001) yang bercerita tentang biografi dua tokoh black Muslim Amerika. Dari tiga jenis film Hollywood di atas, jenis pertama saat ini semakin gencar diproduksi dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.




Hal ini tentunya membawa implikasi serius bagi umat berupa citra buruk di mata masyarakat internasional. Apalagi, kemudian terorisme dan berbagai bentuk kekerasan kerap muncul di negara-negara Islam. Citra tersebut pun semakin tertancap kuat.




Dari reaksi ke aksi
Dalam menghadapi rencana pemutaran film Geert, umat Islam memberikan reaksi cukup keras. Negara-negara Arab bahkan menyampaikan keberatannya kepada Pemerintah Belanda. Mereka berencana memboikot produk asal Negeri Kincir Angin tersebut bila tuntutannya tidak dipenuhi.




Bisa dibayangkan, belum diputar saja film tersebut sudah menuai reaksi sedemikian hebat. Bagaimana bila benar-benar disiarkan?




Reaksi umat Islam kemungkinan akan jauh lebih besar dari reaksi mereka terhadap pemuatan kartun Nabi Muhammad di majalah Jyllands-Posten Denmark beberapa waktu lalu. Namun, ada satu reaksi unik yang berasal dari Liga Arab Eropa. Mereka memberikan reaksi dengan cara yang maju, yaitu membuat film tandingan yang memperlihatkan sisi positif Alquran dan Islam.




Cara ini tentu lebih elegan dan lebih beradab dibandingkan dengan demonstrasi besar-besaran. Perlawanan dilakukan dengan menggunakan senjata yang sama, yaitu film.




Sejauh ini umat Islam menyadari bahwa mereka seringkali hanya menjadi konsumen dan objek sasaran industri kapitalisme hiburan dunia. Sudah selayaknya umat Islam mulai beranjak menjadi produsen film.




Children of Heaven, film asal Iran bisa menjadi contoh menarik untuk diikuti. Hasil karya sineas Iran ini tidak tanggung-tanggung mampu menembus nominasi Piala Oscar.




Di Indonesia, film Islam atau film dakwah termasuk barang langka. Dulu pernah muncul Cut Nyak Dien, Alkautsar, Titian Serambut Dibelah Tujuh, Nada dan Dakwah, serta Fatahillah. Namun, film-film seperti ini kemudian menghilang seiring dengan matinya perfilman Indonesia.




Saat ini film layar lebar mulai bangkit kembali. Hanya saja isinya cenderung kontraproduktif dengan dakwah Islam. Saat ini yang sering muncul dan laku di pasaran adalah film-film berisi pesan pergaulan bebas.




Lihat saja dari judulnya Buruan Cium Gue, Maaf Aku Menghamili Istri Anda, sangat miris. Tidak kalah pula bermunculan film horor yang penuh muatan bid'ah, takhayul, dan khurafat.




Bila selama ini film dipandang sebagai cerminan masyarakat, maka melihat kondisi seperti itu tentu kita perlu meratapinya. Namun, ada kabar gembira. Film Ayat-Ayat Cinta yang diangkat dari Novel karya Habiburrahman El-Shirazy akan dirilis pada 28 Februari mendatang.




Ini mungkin bisa menjadi oase di tengah gersangnya perfilman Indonesia, sekaligus menjadi gebarakan baru dakwah Islam melalui media layar lebar. Memang tidak mudah untuk melahirkan film dakwah.




Selain tujuan dan isi pesannya harus Islami, para pemain filmnya pun dituntut konsisten dalam berperilaku. Hal itu tentu sangat berat, terutama tatkala dunia artis identik dengan dunia glamor.




Tentu tidak ringan bagi mereka untuk berperilaku Islami dalam kehidupan keseharian sebagaimana pesan mereka dalam film dakwah. Bila perilaku mereka bertentangan dalam film dengan kenyataan, pesan dakwah film akan menemui kegagalan. Masyarakat senantiasa menuntut konsistensi antara perilaku dan pesan dakwah. Sudah siapkah artis film dakwah menghadapi hal ini?




Dalam aspek lain, film dakwah juga menuntut sineas-sineas Muslim yang berkualitas. Film dakwah selain mengusung idealisme nilai-nilai Islam juga dituntut memiliki nilai jual di masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab para sineas Muslim.




Kita memang memiliki Chaerul Umam yang berhasil mengangkat tema-tema keislaman dalam filmnya sampai meraih nominasi Piala Citra. Ada juga Deddy Mizwar, spesialis sinetron dakwah. Namun, itu belum cukup dibandingkan dengan perkembangan film-film yang mengusung kemungkaran.




Kita menanti film-film dakwah berkualitas lainnya yang mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat di tengah gencarnya arus globalisasi. Film-film tersebut juga diharapkan bisa menandingi film-film Barat yang sering menciptakan citra buruk Islam, seperti yang sedang dilakukan Geert Wilders saat ini.




Ikhtisar:
- Film telah menjadi media propaganda dalam menyebarkan suatu pemahaman kepada masyarakat.
- Umat Islam seringkali hanya menjadi konsumen dan objek sasaran industri kapitalisme hiburan dunia.
- Produksi film bernuansa Islami di Indonesia justru merosot.

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


3 komentar
  1. wah.., rajin nulis di republika nih? sukses terus...



    Iya nih alhamdulillah, Amiiiiin

    BalasHapus
  2. wow tulisan yang bagus sangat memberi inspirasi.. sebenernya saya ingin mengangkat tema ini dalam acara talkshow yang diadakan kampus saya FEUI, mas bersedia gak ikut berpartisipasi di acara ini.. acaranya rencananya februari 2009..

    ada no atau alamat yang bisa dihubungi? mas boleh email ke kita di berdzikir@yahoo.com bila tertarik.

    terimakasih mas.. ditunggu kabarnya..

    BalasHapus