Minggu, 02 Maret 2008

MEMILIH PEMIMPIN SEJATI

 foto.jpg


Oleh : Uwes Fatoni



 
Pemimpin dalam Alquran disebut waly al-amr. Waly artinya "pemilik", dan al-amr berarti "urusan" atau "perintah." Jadi, waly al-amr adalah orang yang mendapat amanat untuk menangani urusan dan kepentingan umat sekaligus memiliki wewenang untuk memerintah.

Istilah waly al-amr ini terdapat dalam ayat Al-Quran yang sangat populer di masyarakat. "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul serta kepada para pemimpin kamu" (QS. An-Nisa: 59)


Berdasarkan ayat di atas, pemimpin memiliki hak untuk ditaati. Ketaatan kepada pemimpin mengandung nilai yang sama dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan tersebut sifatnya nisbi. Artinya pemimpin wajib ditaati selama ia mengajak untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sebaliknya. Pemimpin seperti ini muncul dari hasil pilihan terbaik masyarakat.


Memilih pemimpin merupakan bagian dari hak masyarakat. Karena memilih adalah hak maka ia harus didasari kesukarelaan bukan paksaan, intimidasi atau kekerasan.


Dalam memilih pemimpin Alquran dan Hadits telah memberikan petunjuk, baik secara tersirat maupun tersurat. Paling tidak ada empat syarat pokok pemimpin sejati yang layak untuk dipilih. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan fisik. Ini terungkap dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 26 : "Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat…"


Kekuatan fisik merupakan syarat utama dalam memegang tanggung jawab berat mengurus umat. Dengan stamina yang prima pemimpin akan maksimal mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya mengurus umat. Bukan sebaliknya, umat yang memikirkan dan mengurus pemimpin yang sakit-sakitan.


Kriteria kuat fisik ini menjadi salah satu alasan Nabi Saw untuk tidak memberikan jabatan kepada Abu Dzar. "Wahai Abu Dzar, aku melihat engkau lemah. Aku suka untukmu apa yang aku suka untuk diriku. Karena itu, jangan memimpin (walau) dua orang dan jangan pula menjadi wali bagi harta anak yatim" (HR Bukhari Muslim)


Kedua, pemimpin sejati memiliki sifat terpercaya. "Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah orang yang kuat lagi terpecaya" (QS. Yusuf: 54). Sifat terpercaya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, tidak menyelewengkan jabatan untuk mencari keuntungan secara tidak sah.


Sifat terpercaya juga berhubungan dengan keahlian. Dalam manajemen modern dikenal ungkapan the right man on the right job, orang yang tepat menduduki jabatan yang tepat. Bila orang dan jabatannya tidak tepat, maka bukan kepercayaan yang hadir namun kekacauan yang akan menimpa, sebagaimana sabda Rasullah "Bila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya" (HR. Bukhari).


Ketiga, pemimpin sejati adalah pemimpin yang adil. "Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh) apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, supaya menetapkan dengan adil" (Qs. An-Nisa : 59). Orang adil dalam ayat lain posisinya bergandengan dengan orang yang berbuat baik "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik (QS. An-Nahl: 90).


Adil adalah sikap moderat, pertengahan antara berlebihan dan kekurangan. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang menjamin kemaslahatan masyarakat dengan memberikan keadilan yang merata ('adl syamil). Keadilan ini diberikan bukan saja kepada para pendukungnya tapi kepada seluruh masyarakat yang berada di bawah tanggung jawab kepemimpinannya. Oleh karenanya, bersikap adil merupakan perilaku terbaik pemimpin sejati.


Pemimpin adil menjadi salah satu diantara orang yang berada dalam naungan Allah. Selain itu, kebahagiaan Allah janjikan pula kepada mereka, sebagaimana sabda Rasulullah ''Para pemimpin yang adil akan tinggal di atas panggung-panggung yang terbuat dari cahaya, yaitu orang yang berlaku adil dalam memutuskan perkara dan mengurus ahli-ahlinya serta segala sesuatu yang diserahkan kepadanya.'' (HR Muslim). Bila pemimpin telah berada dalam naungan dan cahaya Allah maka ia pun akan membawa masyarakat ke arah yang sama.


Keempat, kriteria pemimpin sejati adalah pemimpin yang dicintai oleh umatnya. Rasulullah bersabda : "Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu, kamu mendoakannya dan dia pun mendoakanmu. Dan sejahat-jahat pemimpin ialah orang yang kamu benci dan membenci kamu, kamu kutuk dan  juga mengutuk kamu…. (HR. Muslim)


Dengan didasari kecintaan, setiap aturan dan keputusan yang dikeluarkan pemimpin akan otomatis ditaati oleh umatnya. Bila umat telah mencintai dengan sepenuh hati dan mentaati dengan segenap jiwa lahirlah pemimpin yang berwibawa. Al-Mawardi dalam kitab Adab al-Dunya wa al-Din, menyatakan bahwa pemimpin yang berwibawa (Sulthan Qahir) adalah pemimpin yang dapat mewujudkan ketentraman umat (za'im al-ummat) yang mengajak untuk menjalankan agama dan konsisten dalam menerapkan hukum.


Namun, keempat kriteria di atas tidak selamanya melekat secara sempurna dalam diri seseorang. Bila kondisi memaksa harus memilih yang terbaik diantara yang terburuk, maka orang yang paling sedikit kekurangannyalah yang harus dipilih. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin pasukan. Tapi, keduanya memiliki kelemahan masing-masing. Yang pertama kuat tapi bergelimang dosa sedangkan yang kedua baik keagamaannya namun lemah fisiknya. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: "Orang yang pertama, dosanya dipikul dirinya sendiri sedangkan kekuatannya akan mendukung kepentingan umat, sedangkan orang kedua keberagamaannya untuk dirinya sendiri sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dipimpinnya."


Demikian petunjuk Alquran dan Hadits tentang kriteria memilih pemimpin. Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk bisa memilih pemimpin sejati. Pemimpin yang bukan saja kuat secara fisik, tapi juga dapat dipercaya, berlaku adil dan dicintai oleh masyarakatnya. Amin


Uwes Fatoni, Aktivis Forsimuda (Forum Silaturahmi Mubaligh Muda) Kota Bandung. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

5 komentar:

  1. apa yang bapak utarakan tadi adalah kriteria pemimpin di islam atau di negara islam apa yang terjadi di indonesia /negara lain karena hukumnya
    hukum jahiliah wajar di sana terjadi ALLAH TIDAK RIDHO ,membuktikan mana hukum&pemimpin mana yang terbaik
    Kriteria pemimpin Islam berlaku dimanapun, baik di negara yang mengklaim sebagai Islam atau yang sekuler. Bukankah nilai-nilai Islam adalah nilai universal yang bisa diterapkan kapan pun dan dimanapun. Jadi tidak perlu membuat dikotomi.

    BalasHapus
  2. [...] http://kanguwes.wordpress.com/2008/03/02/memilih-pemimpin-sejati/, diakses pada jam 13.00 tanggal 14 desember 2008 [...]

    BalasHapus
  3. [...] http://kanguwes.wordpress.com/2008/03/02/memilih-pemimpin-sejati/, diakses pada jam 13.00 tanggal 14 desember 2008 [...]

    BalasHapus
  4. Bagus artikelnya... Boleh izin copas untuk di share ke yang lain?

    BalasHapus
  5. seorang insan10 Juli 2011 06.23

    mintak izin di copy

    BalasHapus

 foto.jpg


Oleh : Uwes Fatoni



 
Pemimpin dalam Alquran disebut waly al-amr. Waly artinya "pemilik", dan al-amr berarti "urusan" atau "perintah." Jadi, waly al-amr adalah orang yang mendapat amanat untuk menangani urusan dan kepentingan umat sekaligus memiliki wewenang untuk memerintah.

Istilah waly al-amr ini terdapat dalam ayat Al-Quran yang sangat populer di masyarakat. "Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul serta kepada para pemimpin kamu" (QS. An-Nisa: 59)


Berdasarkan ayat di atas, pemimpin memiliki hak untuk ditaati. Ketaatan kepada pemimpin mengandung nilai yang sama dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun ketaatan tersebut sifatnya nisbi. Artinya pemimpin wajib ditaati selama ia mengajak untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan sebaliknya. Pemimpin seperti ini muncul dari hasil pilihan terbaik masyarakat.


Memilih pemimpin merupakan bagian dari hak masyarakat. Karena memilih adalah hak maka ia harus didasari kesukarelaan bukan paksaan, intimidasi atau kekerasan.


Dalam memilih pemimpin Alquran dan Hadits telah memberikan petunjuk, baik secara tersirat maupun tersurat. Paling tidak ada empat syarat pokok pemimpin sejati yang layak untuk dipilih. Pertama, seorang pemimpin harus memiliki kekuatan fisik. Ini terungkap dalam Alquran surat Al-Qashash ayat 26 : "Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan adalah yang kuat…"


Kekuatan fisik merupakan syarat utama dalam memegang tanggung jawab berat mengurus umat. Dengan stamina yang prima pemimpin akan maksimal mencurahkan tenaga, pikiran dan waktunya mengurus umat. Bukan sebaliknya, umat yang memikirkan dan mengurus pemimpin yang sakit-sakitan.


Kriteria kuat fisik ini menjadi salah satu alasan Nabi Saw untuk tidak memberikan jabatan kepada Abu Dzar. "Wahai Abu Dzar, aku melihat engkau lemah. Aku suka untukmu apa yang aku suka untuk diriku. Karena itu, jangan memimpin (walau) dua orang dan jangan pula menjadi wali bagi harta anak yatim" (HR Bukhari Muslim)


Kedua, pemimpin sejati memiliki sifat terpercaya. "Sesungguhnya engkau menurut penilaian kami adalah orang yang kuat lagi terpecaya" (QS. Yusuf: 54). Sifat terpercaya berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, tidak menyelewengkan jabatan untuk mencari keuntungan secara tidak sah.


Sifat terpercaya juga berhubungan dengan keahlian. Dalam manajemen modern dikenal ungkapan the right man on the right job, orang yang tepat menduduki jabatan yang tepat. Bila orang dan jabatannya tidak tepat, maka bukan kepercayaan yang hadir namun kekacauan yang akan menimpa, sebagaimana sabda Rasullah "Bila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya" (HR. Bukhari).


Ketiga, pemimpin sejati adalah pemimpin yang adil. "Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh) apabila kamu menetapkan hukum diantara manusia, supaya menetapkan dengan adil" (Qs. An-Nisa : 59). Orang adil dalam ayat lain posisinya bergandengan dengan orang yang berbuat baik "Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik (QS. An-Nahl: 90).


Adil adalah sikap moderat, pertengahan antara berlebihan dan kekurangan. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang menjamin kemaslahatan masyarakat dengan memberikan keadilan yang merata ('adl syamil). Keadilan ini diberikan bukan saja kepada para pendukungnya tapi kepada seluruh masyarakat yang berada di bawah tanggung jawab kepemimpinannya. Oleh karenanya, bersikap adil merupakan perilaku terbaik pemimpin sejati.


Pemimpin adil menjadi salah satu diantara orang yang berada dalam naungan Allah. Selain itu, kebahagiaan Allah janjikan pula kepada mereka, sebagaimana sabda Rasulullah ''Para pemimpin yang adil akan tinggal di atas panggung-panggung yang terbuat dari cahaya, yaitu orang yang berlaku adil dalam memutuskan perkara dan mengurus ahli-ahlinya serta segala sesuatu yang diserahkan kepadanya.'' (HR Muslim). Bila pemimpin telah berada dalam naungan dan cahaya Allah maka ia pun akan membawa masyarakat ke arah yang sama.


Keempat, kriteria pemimpin sejati adalah pemimpin yang dicintai oleh umatnya. Rasulullah bersabda : "Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang kamu cintai dan dia juga mencintai kamu, kamu mendoakannya dan dia pun mendoakanmu. Dan sejahat-jahat pemimpin ialah orang yang kamu benci dan membenci kamu, kamu kutuk dan  juga mengutuk kamu…. (HR. Muslim)


Dengan didasari kecintaan, setiap aturan dan keputusan yang dikeluarkan pemimpin akan otomatis ditaati oleh umatnya. Bila umat telah mencintai dengan sepenuh hati dan mentaati dengan segenap jiwa lahirlah pemimpin yang berwibawa. Al-Mawardi dalam kitab Adab al-Dunya wa al-Din, menyatakan bahwa pemimpin yang berwibawa (Sulthan Qahir) adalah pemimpin yang dapat mewujudkan ketentraman umat (za'im al-ummat) yang mengajak untuk menjalankan agama dan konsisten dalam menerapkan hukum.


Namun, keempat kriteria di atas tidak selamanya melekat secara sempurna dalam diri seseorang. Bila kondisi memaksa harus memilih yang terbaik diantara yang terburuk, maka orang yang paling sedikit kekurangannyalah yang harus dipilih. Ini sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Beliau ditanya tentang dua orang yang dicalonkan untuk memimpin pasukan. Tapi, keduanya memiliki kelemahan masing-masing. Yang pertama kuat tapi bergelimang dosa sedangkan yang kedua baik keagamaannya namun lemah fisiknya. Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: "Orang yang pertama, dosanya dipikul dirinya sendiri sedangkan kekuatannya akan mendukung kepentingan umat, sedangkan orang kedua keberagamaannya untuk dirinya sendiri sedangkan kelemahannya menjadi petaka bagi yang dipimpinnya."


Demikian petunjuk Alquran dan Hadits tentang kriteria memilih pemimpin. Semoga Allah memberi kekuatan kepada kita untuk bisa memilih pemimpin sejati. Pemimpin yang bukan saja kuat secara fisik, tapi juga dapat dipercaya, berlaku adil dan dicintai oleh masyarakatnya. Amin


Uwes Fatoni, Aktivis Forsimuda (Forum Silaturahmi Mubaligh Muda) Kota Bandung. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


5 komentar
  1. apa yang bapak utarakan tadi adalah kriteria pemimpin di islam atau di negara islam apa yang terjadi di indonesia /negara lain karena hukumnya
    hukum jahiliah wajar di sana terjadi ALLAH TIDAK RIDHO ,membuktikan mana hukum&pemimpin mana yang terbaik
    Kriteria pemimpin Islam berlaku dimanapun, baik di negara yang mengklaim sebagai Islam atau yang sekuler. Bukankah nilai-nilai Islam adalah nilai universal yang bisa diterapkan kapan pun dan dimanapun. Jadi tidak perlu membuat dikotomi.

    BalasHapus
  2. [...] http://kanguwes.wordpress.com/2008/03/02/memilih-pemimpin-sejati/, diakses pada jam 13.00 tanggal 14 desember 2008 [...]

    BalasHapus
  3. [...] http://kanguwes.wordpress.com/2008/03/02/memilih-pemimpin-sejati/, diakses pada jam 13.00 tanggal 14 desember 2008 [...]

    BalasHapus
  4. Bagus artikelnya... Boleh izin copas untuk di share ke yang lain?

    BalasHapus
  5. seorang insan10 Juli 2011 06.23

    mintak izin di copy

    BalasHapus