Senin, 10 Maret 2008

MENYAMBUT BOOMING FILM AAC

Oleh : Uwes Fatoni


 Ayat-ayat Cinta (AAC) menjadi fenomena baru perfilman Indonesia. Film dakwah yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy ini mampu menyedot animo masyarakat baik tua, muda, agamawan, maupun awam untuk ikut menikmatinya. Tidak tanggung-tanggung tokoh sekaliber Dr. Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah sampai merekomendasikannya untuk ditonton oleh Umat Islam.


AAC berhasil menggebrak belantika film Indonesia yang selama ini identik dengan cerita picisan bermuatan seks bebas atau mistik. Film ini memberi warna baru sentuhan nilai-nilai religius sehingga menjadi oase di tengah kegersangan film nasional.


Film AAC juga mampu mematahkan argumen bahwa film dakwah tidak akan laku di pasaran. Bila sebelumnya film dakwah selalu terjerat masalah kekurangan dana karena tidak ada produser yang bersedia untuk membiayainya, maka di film ini MD pictures turun menjadi penopang kesuksesannya.


Selain itu keberhasilannya juga didukung oleh para sineas profesional. Sebut saja Hanung Bramantyo, sutradara kawakan yang sukses merebut nominasi piala Citra tahun 2004 dan 2007 terjun menggawanginya. Belum lagi para pemerannya yang terdiri dari artis muda berpengalaman setingkat Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Puteri, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca, Surya Saputra dan lain-lain. Jadi, bukan hal yang mustahil film dakwah menjadi film bermutu ketika digarap dengan serius.


Fenomena booming film AAC ini merupakan kelanjutan dari sukses film dakwah sebelumnya seperti Walisongo, Kiamat Sudah Dekat dan Nagabonar Jadi 2.


 


Konsep Film Dakwah


Dakwah selama ini diidentikan dengan ceramah melalui media lisan (dakwah bil lisan). Namun, seiring era globalisasi, dimana tren informasi dan komunikasi semakin canggih, media teknologi seperti film segera menggesernya. Sekalipun dakwah dengan lisan masih tetap eksis, media film akan mengambil peranan yang cukup signifikan dalam penyebaran pesan-pesan keagamaan.


Hanya saja film dakwah dituntut memiliki kualitas yaitu mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat. Film dakwah berkualitas bukan semata film yang penuh dibanjiri pesan ceramah menjemukan. Pesan yang disampaikan film dakwah harus halus sebagaimana yang sukses dicontohkan film Children of Heaven karya sineas Iran. Film tersebut berhasil menyampaikan pesan dakwah melalui peran anak kecil sampai mampu menguras air mata para penontonnya.


Selain itu juga film dakwah bukan film yang penuh dengan gambaran mistik, supranatural, berbau tahayul dan khurafat. Masyarakat sudah bosan dengan film-film yang jauh dari sisi rasionalitas. Film dakwah sejatinya bersinggungan dengan realitas kehidupan nyata sehingga mampu memberi pengaruh pada jiwa penonton.


Menurut Enjang AS (2004) dalam proses menonton film biasanya terjadi gejala identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang pemeran film. Mereka memahami dan merasakan apa yang dialami oleh pemeran, sehingga seolah-olah mereka mengalami sendiri adegan dalam film tersebut. Pengaruh film tidak hanya sampai di situ. Pesan-pesan yang termuat dalam adegan-adegan film akan membekas dalam jiwa penonton, dan kemudian membentuk karakter mereka.


Oleh karenanya wajar bila Onong Uchyana Effendi (2000), menyebut film sebagai media komunikasi yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan termasuk dakwah. Film dakwah yang relevan dengan kehidupan nyata, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Di sisi lain, film dakwah juga dituntut memainkan peranan sebagai media penyampaian gambaran budaya muslim, sekaligus jembatan budaya dengan peradaban lain. Bila selama ini citra Islam demikian negatif melalui film dakwah diharapkan muncul gambaran positif. Serangan budaya yang demikian gencar dilancarkan oleh Barat melalui film-film yang memuat budaya hedonis atau menghina Islam juga akan mudah tertangkal bila kita mampu menandinginya dengan film dakwah berkualitas.


 


Kelebihan dan Kekurangan AAC


Film AAC sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film-film remaja sejenisnya yang berisi kisah perjuangan, percintaan dan segala macam intrik kehidupan. Hanya yang membedakan film ini dengan yang lainnya adalah bingkai nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut saat ini diyakini sudah absen dalam film-film Indonesia. 


Film AAC juga mengangkat nilai-nilai multikulturalisme. Citra santri yang dulu dikenal sebagai kaum sarungan dan ketinggalan zaman, diangkat menjadi bagian dari masyarakat multikultur Mesir. Fahri, tokoh utama film tersebut, mampu eksis dan mengangkat taraf hidupnya melalui perjuangan dan kerja keras sehingga berhasil mencapai jenjang pendidikan S2 di universitas paling bergengsi di dunia Islam, al-Azhar University. Kesuksesannya tersebut diperoleh tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai seorang muslim Indonesia.


Di sisi lain, Film AAC juga sarat dengan sindiran dan kritik sosial. Pertama, AAC menyindir perilaku generasi muda, termasuk di Indonesia yang terbuai dengan konsep pacaran ala barat. Pacaran yang identik dengan pergaulan bebas ini dihantam habis-habisan dalam film tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam tidak mengenal pacaran, yang ada hanya proses taaruf dan kemudian dilanjutkan ke jenjang pernikahan.


Kedua, kritikan halus kepada masyarakat yang menyalahartikan konsep poligami terutama setelah Aa Gym menikah kembali. Di saat masyarakat terpolarisasi antara yang mendukung dan menolak konsep poligami, AAC mendudukannya pada posisi tepat. Poligami bisa terjadi bahkan akan disetujui oleh setiap orang, termasuk perempuan, bila seandainya mereka dalam posisi Aisha, istri Fahri.


Ketiga, kritikan tajam kepada pemerintah. AAC menggambarkan betapa sengsaranya menjadi warga Indonesia di luar negeri. Mereka diidentikkan sebagai warga kelas kedua setelah bangsa Mesir (Arab). Kondisi ini diperpuruk dengan minimnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap warganya yang terkena masalah hukum. Andai saja Fahri, dalam film tersebut, tidak mendapat dukungan dari kawan-kawan seperjuangannya di Universita Al-Azhar bisa dipastikan ia tidak akan berhasil keluar dari fitnah yang membelitnya di pengadilan.


Bila dalam posisi sebagai pelajar yang merupakan warga terhormat dan duta bangsa saja sudah demikian mengenaskan, bagaimana dengan warga Indonesia lainnya yang berprofesi sebagai TKI atau TKW, tentu kondisinya lebih menyedihkan lagi.


Selain memberikan kritikan, AAC tetap tidak kebal dari kritikan para penontonnya. Mereka yang sebelumnya telah membaca novel AAC banyak yang kecewa setelah menonton film tersebut. Tokoh Fahri yang demikian sempurna dalam novel, di film tidak terjiwai dengan sempurna dalam diri Fedi Nuril.


Di samping itu juga setting suasana film tersebut tidak seperti berada di Mesir. Hal ini memang wajar karena lokasi shooting film lebih banyak dilakukan di India sehingga kemudian terlihat seperti film India.


Selain itu dalam beberapa scene terdapat beberapa penyimpangan etika, misalnya penanggalan kerudung yang dilakukan oleh Nurul maupun Aisha. Sekalipun mereka berada di rumah atau kamar pribadi tentu tidak lazim untuk membuka kerudung, di saat penonton, yang notabene bukan muhrim melihatnya. Sutradara semestinya mampu memahami hal itu.


Namun, terlepas dari berbagai kekurangan tersebut, kita patut untuk tetap menyambut dan mengapresiasi film AAC tersebut, sekaligus juga berharap akan lahir film-film dakwah lainnya yang berkualitas. Bagaimanapun ternyata masyarakat Indonesia haus dengan film-film dakwah.


Penulis, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN, UNINUS dan STAI Siliwangi Bandung juga pengurus Forsimuda (Forum Silaturahmi Mubaligh Muda) Kota Bandung.

4 komentar:

  1. saya setuju dengan wacana yang bapak utarakan
    tadi memang bangsa ini butuh perubahan total semoga dengan adanya film aac ini bisa menyadarkan umat islam indonesia .amin

    Amin

    BalasHapus
  2. saya mau nambahin sedikit, ada satu scene pas oka antara lagi minum nu tea, atau pas ferdi nuril buka jus sambil jalan, apa iya mahasiswa al-azhar mau minum di botol sambil jalan, atau minum sambil berdiri. tapi saya memang setuju film itu tiada duanya sekarang, apalagi kalo liat tayangan sinetron yang bisa membunuh generasi muda.

    Segala sesuatu pasti ada kekurangannya. Tapi secara keseluruhan kita sepakat film tersebut sudah Islami bukan?


    BalasHapus
  3. yah emang agak islami..tapi yang bikin agak risih bwt gue tu ada sedikit adegan pas malam pertama tu....

    kalo yang itu gimana persepsi masing-masing. kalo memang pikirannya ngeres pasti mengarah ke sana. :))
    Yang jelas itu sekaligus menjadi motivasi bagi siapa saja yang sudah siap untuk segera menikah :) Jangan lewat pacaran, berbahaya.


    BalasHapus

Oleh : Uwes Fatoni


 Ayat-ayat Cinta (AAC) menjadi fenomena baru perfilman Indonesia. Film dakwah yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy ini mampu menyedot animo masyarakat baik tua, muda, agamawan, maupun awam untuk ikut menikmatinya. Tidak tanggung-tanggung tokoh sekaliber Dr. Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah sampai merekomendasikannya untuk ditonton oleh Umat Islam.


AAC berhasil menggebrak belantika film Indonesia yang selama ini identik dengan cerita picisan bermuatan seks bebas atau mistik. Film ini memberi warna baru sentuhan nilai-nilai religius sehingga menjadi oase di tengah kegersangan film nasional.


Film AAC juga mampu mematahkan argumen bahwa film dakwah tidak akan laku di pasaran. Bila sebelumnya film dakwah selalu terjerat masalah kekurangan dana karena tidak ada produser yang bersedia untuk membiayainya, maka di film ini MD pictures turun menjadi penopang kesuksesannya.


Selain itu keberhasilannya juga didukung oleh para sineas profesional. Sebut saja Hanung Bramantyo, sutradara kawakan yang sukses merebut nominasi piala Citra tahun 2004 dan 2007 terjun menggawanginya. Belum lagi para pemerannya yang terdiri dari artis muda berpengalaman setingkat Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Puteri, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca, Surya Saputra dan lain-lain. Jadi, bukan hal yang mustahil film dakwah menjadi film bermutu ketika digarap dengan serius.


Fenomena booming film AAC ini merupakan kelanjutan dari sukses film dakwah sebelumnya seperti Walisongo, Kiamat Sudah Dekat dan Nagabonar Jadi 2.


 


Konsep Film Dakwah


Dakwah selama ini diidentikan dengan ceramah melalui media lisan (dakwah bil lisan). Namun, seiring era globalisasi, dimana tren informasi dan komunikasi semakin canggih, media teknologi seperti film segera menggesernya. Sekalipun dakwah dengan lisan masih tetap eksis, media film akan mengambil peranan yang cukup signifikan dalam penyebaran pesan-pesan keagamaan.


Hanya saja film dakwah dituntut memiliki kualitas yaitu mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat. Film dakwah berkualitas bukan semata film yang penuh dibanjiri pesan ceramah menjemukan. Pesan yang disampaikan film dakwah harus halus sebagaimana yang sukses dicontohkan film Children of Heaven karya sineas Iran. Film tersebut berhasil menyampaikan pesan dakwah melalui peran anak kecil sampai mampu menguras air mata para penontonnya.


Selain itu juga film dakwah bukan film yang penuh dengan gambaran mistik, supranatural, berbau tahayul dan khurafat. Masyarakat sudah bosan dengan film-film yang jauh dari sisi rasionalitas. Film dakwah sejatinya bersinggungan dengan realitas kehidupan nyata sehingga mampu memberi pengaruh pada jiwa penonton.


Menurut Enjang AS (2004) dalam proses menonton film biasanya terjadi gejala identifikasi psikologis. Ketika proses decoding terjadi, para penonton menyamakan atau meniru seluruh pribadinya dengan salah seorang pemeran film. Mereka memahami dan merasakan apa yang dialami oleh pemeran, sehingga seolah-olah mereka mengalami sendiri adegan dalam film tersebut. Pengaruh film tidak hanya sampai di situ. Pesan-pesan yang termuat dalam adegan-adegan film akan membekas dalam jiwa penonton, dan kemudian membentuk karakter mereka.


Oleh karenanya wajar bila Onong Uchyana Effendi (2000), menyebut film sebagai media komunikasi yang ampuh, bukan saja untuk hiburan, tetapi juga untuk penerangan dan pendidikan termasuk dakwah. Film dakwah yang relevan dengan kehidupan nyata, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya akan mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


Di sisi lain, film dakwah juga dituntut memainkan peranan sebagai media penyampaian gambaran budaya muslim, sekaligus jembatan budaya dengan peradaban lain. Bila selama ini citra Islam demikian negatif melalui film dakwah diharapkan muncul gambaran positif. Serangan budaya yang demikian gencar dilancarkan oleh Barat melalui film-film yang memuat budaya hedonis atau menghina Islam juga akan mudah tertangkal bila kita mampu menandinginya dengan film dakwah berkualitas.


 


Kelebihan dan Kekurangan AAC


Film AAC sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film-film remaja sejenisnya yang berisi kisah perjuangan, percintaan dan segala macam intrik kehidupan. Hanya yang membedakan film ini dengan yang lainnya adalah bingkai nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut saat ini diyakini sudah absen dalam film-film Indonesia. 


Film AAC juga mengangkat nilai-nilai multikulturalisme. Citra santri yang dulu dikenal sebagai kaum sarungan dan ketinggalan zaman, diangkat menjadi bagian dari masyarakat multikultur Mesir. Fahri, tokoh utama film tersebut, mampu eksis dan mengangkat taraf hidupnya melalui perjuangan dan kerja keras sehingga berhasil mencapai jenjang pendidikan S2 di universitas paling bergengsi di dunia Islam, al-Azhar University. Kesuksesannya tersebut diperoleh tanpa menghilangkan jati dirinya sebagai seorang muslim Indonesia.


Di sisi lain, Film AAC juga sarat dengan sindiran dan kritik sosial. Pertama, AAC menyindir perilaku generasi muda, termasuk di Indonesia yang terbuai dengan konsep pacaran ala barat. Pacaran yang identik dengan pergaulan bebas ini dihantam habis-habisan dalam film tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam tidak mengenal pacaran, yang ada hanya proses taaruf dan kemudian dilanjutkan ke jenjang pernikahan.


Kedua, kritikan halus kepada masyarakat yang menyalahartikan konsep poligami terutama setelah Aa Gym menikah kembali. Di saat masyarakat terpolarisasi antara yang mendukung dan menolak konsep poligami, AAC mendudukannya pada posisi tepat. Poligami bisa terjadi bahkan akan disetujui oleh setiap orang, termasuk perempuan, bila seandainya mereka dalam posisi Aisha, istri Fahri.


Ketiga, kritikan tajam kepada pemerintah. AAC menggambarkan betapa sengsaranya menjadi warga Indonesia di luar negeri. Mereka diidentikkan sebagai warga kelas kedua setelah bangsa Mesir (Arab). Kondisi ini diperpuruk dengan minimnya perhatian pemerintah Indonesia terhadap warganya yang terkena masalah hukum. Andai saja Fahri, dalam film tersebut, tidak mendapat dukungan dari kawan-kawan seperjuangannya di Universita Al-Azhar bisa dipastikan ia tidak akan berhasil keluar dari fitnah yang membelitnya di pengadilan.


Bila dalam posisi sebagai pelajar yang merupakan warga terhormat dan duta bangsa saja sudah demikian mengenaskan, bagaimana dengan warga Indonesia lainnya yang berprofesi sebagai TKI atau TKW, tentu kondisinya lebih menyedihkan lagi.


Selain memberikan kritikan, AAC tetap tidak kebal dari kritikan para penontonnya. Mereka yang sebelumnya telah membaca novel AAC banyak yang kecewa setelah menonton film tersebut. Tokoh Fahri yang demikian sempurna dalam novel, di film tidak terjiwai dengan sempurna dalam diri Fedi Nuril.


Di samping itu juga setting suasana film tersebut tidak seperti berada di Mesir. Hal ini memang wajar karena lokasi shooting film lebih banyak dilakukan di India sehingga kemudian terlihat seperti film India.


Selain itu dalam beberapa scene terdapat beberapa penyimpangan etika, misalnya penanggalan kerudung yang dilakukan oleh Nurul maupun Aisha. Sekalipun mereka berada di rumah atau kamar pribadi tentu tidak lazim untuk membuka kerudung, di saat penonton, yang notabene bukan muhrim melihatnya. Sutradara semestinya mampu memahami hal itu.


Namun, terlepas dari berbagai kekurangan tersebut, kita patut untuk tetap menyambut dan mengapresiasi film AAC tersebut, sekaligus juga berharap akan lahir film-film dakwah lainnya yang berkualitas. Bagaimanapun ternyata masyarakat Indonesia haus dengan film-film dakwah.


Penulis, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN, UNINUS dan STAI Siliwangi Bandung juga pengurus Forsimuda (Forum Silaturahmi Mubaligh Muda) Kota Bandung.

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


4 komentar
  1. saya setuju dengan wacana yang bapak utarakan
    tadi memang bangsa ini butuh perubahan total semoga dengan adanya film aac ini bisa menyadarkan umat islam indonesia .amin

    Amin

    BalasHapus
  2. saya mau nambahin sedikit, ada satu scene pas oka antara lagi minum nu tea, atau pas ferdi nuril buka jus sambil jalan, apa iya mahasiswa al-azhar mau minum di botol sambil jalan, atau minum sambil berdiri. tapi saya memang setuju film itu tiada duanya sekarang, apalagi kalo liat tayangan sinetron yang bisa membunuh generasi muda.

    Segala sesuatu pasti ada kekurangannya. Tapi secara keseluruhan kita sepakat film tersebut sudah Islami bukan?


    BalasHapus
  3. yah emang agak islami..tapi yang bikin agak risih bwt gue tu ada sedikit adegan pas malam pertama tu....

    kalo yang itu gimana persepsi masing-masing. kalo memang pikirannya ngeres pasti mengarah ke sana. :))
    Yang jelas itu sekaligus menjadi motivasi bagi siapa saja yang sudah siap untuk segera menikah :) Jangan lewat pacaran, berbahaya.


    BalasHapus