Senin, 24 Maret 2008

SAHABAT SETIAP SAAT

Oleh Uwes Fatoni


 (Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba Honda Writing 2008)


 


Kota besar selalu identik dengan kemacetan. Perhatikan saja jalanan di waktu jam-jam masuk kantor pagi hari atau jam pulang kantor sore hari. Setiap pengguna jalan selalu disergap kemacetan. Kondisi ini seolah menjadi sarapan pagi di hari senin sampai muncul ungkapan I hate Monday, hari senin hari yang paling dibenci.


Keadaan di atas dulu pernah saya alami tatkala pulang pergi kerja menggunakan kendaraan umum atau numpang ikut mobil teman sekantor. Namun sejak tiga tahun terakhir itu bukan lagi masalah karena motor Honda datang menjadi solusinya. Ke manapun saya pergi motor Honda menjadi sahabat terdekat  setiap saat. Sahabat yang tak pernah marah sampai mogok atau berhenti di tengah jalan karena Honda memang motor Jepang terbaik di kelasnya.


Dalam kondisi macet separah apapun dengan motor Honda saya masih bisa maju mencari celah-celah di sekitar kendaraan roda empat. Seringkali teman-teman saya menjuluki pengendara motor bagaikan air yang senantiasa bisa mengalir selama ada celah untuk bisa dilewati. Hanya memang ada juga saat saya merasa risi menjadi pengendara motor ketika biker yang lain sudah tidak mengindahkan aturan berlalu lintas. Para biker jalanan yang tidak disiplin menjadi bagian yang memperparah kemacetan.


Di beberapa persimpangan jalan yang langganan macet beberapa pengendara motor karena ingin cepat sampai tujuan mereka rela menerobos naik trotoar untuk menghindari kemacetan panjang. Di Bandung ini sering terlihat di persimpangan Buah Batu Soekarno Hatta dari arah timur atau barat. Para biker itu naik ke trotoar yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Tentu saja hal itu bukan contoh yang baik. Sekalipun motor Honda bisa digunakan untuk hal itu, sejak awal saya sudah menetapkan hati untuk bisa menjadi pengendara motor yang baik.


Diantara banyak pengalaman sabahat sejati saya, motor Honda, ada satu momen yang sangat berkesan dalam hati, yaitu tatkala mudik lebaran bersama-sama dengan sahabat ini.


 


Mudik Lebaran


Proses mudik memang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Bisa kita lihat setiap tahun para pemudik selalu dibayang-bayangi dengan kenaikan ongkos perjalanan atau biasa disebut tueslag. Bagi para penumpang kendaraan umum mereka harus berebutan untuk bisa naik dan mendapatkan tempat yang nyaman. Ini terutama terjadi pada para penumpang angkutan massal kelas ekonomi, seperti bus, kereta api atau kapal laut.


Demikian juga di tengah perjalanan kemacetan seringkali menyergap mengakibatkan terkuras banyak tenaga dan pikiran. Dari proses ini kita bisa melihat betapa perjuangan untuk mudik sangat merepotkan.


Mungkin bagi masyarakat golongan menengah ke atas bisa menghindari mudik yang melelahkan seperti di atas dengan mengendarai kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan rental untuk ditumpangi satu keluarga atau bersama beberapa orang saudara. Namun bagi masyarakat seperti saya yang pulang kampung dengan jarak tidak terlalu jauh mengendarai motor sendirian atau berkonvoi sampai puluhan dan ratusan motor menjadi pilihan. Hanya memang sering menjadi kekhawatiran tatkala banyaknya arus pemudik seringkali muncul berbagai peristiwa kecelakaan di jalanan. Ada yang karena kelalaian orang (human error) atau ada juga karena faktor ketidaksengajaan. Namun yang pasti berbagai kecelakaan ini bagi korban dan keluarganya sangat merugikan dan mampu membuat suasana lebaran berubah dari kegembiraan menjadi kesedihan.


Mengapa masyarakat begitu antusias untuk mudik padahal sangat besar pengorbanan yang harus mereka tebus untuk itu. Pertama, mudik memang menjadi ajang silaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman yang barangkali di hari-hari biasa sangat jarang untuk dilakukan. Ini karena jarak yang jauh atau karena memang sanak saudara yang lain juga di hari selain lebaran juga merantau. Selain itu juga silaturahmi yang paling penting adalah dengan orang tua atau yang dituakan. Silaturahmi ketika lebaran dilakukan dari anak kepada orang tua atau dari saudara yang lebih muda kepada yang lebih tua.


Kedua, pulang kampung menjadi sarana menunjukkan prestise keberhasilan setelah sekian waktu merantau. Bagi masyarakat, dianggap berhasil di panyabaan ketika pulang kampung banyak berbagi kepada saudara atau tetangga. Namun ada juga yang sekedar pamer kekayaan seperti membawa kendaraan atau memakai pakaian dan perhiasan yang mencolok. Bahkan bagi beberapa orang terutama pemuda banyak yang menunjukkan keberhasilannya di rantau ketika pulang kampung bergaya orang kota dalam ucapan maupun tingkah lakunya. Dari pamer prestise ini kemudian menarik orang-orang kampung lainnya untuk pergi nyaba.


Ketiga, pulang kampung menjadi sarana relaksasi sejenak di tengah kesibukan pekerjaan. Dengan pulang kampung, rasa penat akan sedikit terkurangi. Dan keempat pulang kampung menjadi media pengumpulan energi komunalitas. Biasanya di kota orang menjadi sangat individualistis, senantiasa mencari keuntungan materi yang berlebihan, kalau perlu sikut kanan-sikut kiri, menjilat ke atas, menjejak ke bawah. Ketika pulang kampung energi kebersamaan kembali diperkuat dengan saling membantu saudara yang kekurangan.


Melihat berbagai keuntungan teologis, psikologis, dan sosiologis seperti itu maka tidak aneh masyarakat begitu antusias untuk pulang kampung, berapapun biaya yang harus dikeluarkan selagi mampu akan mereka tanggung.


Mudik lebaran mengendarai motor menjadi alternatif masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah termasuk saya. Di bandingkan bus, kereta api, travel atau mobil sewaan naik motor Honda adalah pilihan terbaik dan termasuk murah meriah. Bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan untuk dalam perjalanan mudik lebaran antara naik sepeda motor dengan naik kendaraan umum hemat seperempatnya.


Fenomena banyaknya pengguna sepeda motor terus meningkat setiap tahun. Sejak tahun 2005 hingga 2007 kemarin para pemudik motor meningkat sampai 40 persen. Hal ini kemudian bisa dilihat dari indikator penjualan motor Honda menjelang lebaran. Motor Honda di Bandung bahkan mampu terjual 30 persen lebih banyak dibandingkan bulan-bulan biasa. Bukan isapan jempol bila kemudian jumlah motor di Indonesia adalah terbesar ketiga di dunia. Tidak kurang 19 juta motor yang sebagian besarnya bermerek Honda seperti milik saya di masyarakat. Ini bisa dibandingkan dengan jumlah mobil saat ini yang hanya mencapai 7 juta.


Selain itu juga kemajuan teknologi motor bebek dan sekuter telah didukung dengan perkembangan teknologi produksi. Kabar terakhir pabrikan motor Honda di Indonesia mampu menghasilkan 1 unit dalam setiap menit. Kondisi ini setara dengan produksi pabrikan motor di India. Bahkan beberapa waktu yang lalu pabrikan motor Honda Astra telah mampu mencapai produksi 10 juta sejak awal produksinya. Ini tentu satu prestasi yang membanggakan bukan hanya bagi Honda tapi juga bagi masyarakat Indonesia.


Berdasarkan data dinas Perhubungan kota bandung saat ini saja jumlah pemilih motor di Kota Bandung mencapai tujuh ratus ribuan. Tidak aneh bila kemudian motor terlihat ada di mana-mana apalagi ketika mudik lebaran.


Pilihan naik motor Honda ternyata bukan hanya saya sendiri. Sebagian besar masyarakat perkotaan seperti di Bandung memiliki antusiasme yang sama untuk pulang kampung dengan motor. Apalagi ketika saat ini motor Honda kreditan bisa diperoleh dengan mudah. Dengan uang muka 500.000 masyarakat bisa pulang kampung sambil bergaya naik motor. Dan memang tidak terasa selama tiga tahun bayar cicilan 450.000 per bulan motor menjadi milik pribadi. Tapi ada juga kasus karena tidak mampu bayar cicilan setelah lebaran, motornya kemudian diambil oleh perusahaan pembiayaan.


Salah satu motivasi saya ketika memilih motor Honda sebagai sahabat waktu mudik karena adanya gengsi tersendiri ketika sampai di kampung halaman. Bagi masyarakat pedesaan yang tergolong ekonomi menengah ke bawah, motor Honda termasuk kendaraan mewah. Siapa saja yang mudik dengan membawa motor Honda, berarti dia telah berhasil dirantau.


Selain itu juga ada kelebihan lain ketika motor Honda dibawa pulang kampung. Disana sepeda motor menjadi alat transportasi cepat untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara yang berlokasi cukup jauh. Bila lebaran sebelumnya saya seringkali hanya bisa bertemu dengan kawan, sahabat yang tinggal dekat rumah dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, maka dengan motor Honda, teman-teman jauh saya pun bisa saya sambangi.


Diantara kelebihan motor Honda selain harganya ekonomis juga setiap tahun harganya relatif tidak naik besar karena komponen motor Honda 90 persen adalah produk lokal bahkan kerjasama dengan UKM Indonesia. Selain itu juga bodinya yang praktis, sederhana dengan biaya perawatan ringan sehingga terjangkau oleh kocek. Tidak kalah pentingnya juga motor Honda bahan bakarnya irit sehingga menghemat ongkos pulang kampung.


Di samping berbagai kelebihan di atas, sewajarnya ada pula beberapa kelemahan mengendarai motor termasuk Honda. Ini terutama ketika pemakaiannya tidak disertai kehati-hatian dan pemeliharaan yang baik. Berbagai penelitian sudah menyatakan bahwa kecelakaan yang paling banyak terjadi di jalanan adalah kecelakaan motor. Informasi dari Dishub DKI Jakarta, setiap hari di Jakarta terjadi 8 kecelakaan yang menyebabkan kerugian dan cacat tubuh bahkan mengakibatkan kematian. Kecelakaan motor ini terjadi terutama di jalanan yang memiliki arah dua arus.


Faktor lain yang bisa menyebabkan kecelakaan adalah jarak tempuh yang jauh. Semakin jauh mengendarai motor maka bisa semakin berbahaya. Hal ini terutama berkaitan dengan kekuatan fisik dan konsentrasi bikernya, di samping tentu saja kondisi motor itu sendiri. Apalagi bila kemudian para pengendaranya tidak menggunakan fasilitas berkendaraan yang lengkap seperti helm, jaket dan sarung tangan. Tanpa kelengkapan ini pengendara motor bisa mengalami bahaya kesehatan untuk jangka panjang. Contoh misalkan pengedara motor yang jarang memakai jaket akan terkena penyakit paru-paru basah. Bila ini tidak diperhatikan maka tentu saja akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar di kemudian hari. Padahal kita semua tahu bahwa kesehatan itu mahal harganya.


Masalah paling utama yang juga dihadapi oleh para biker adalah kecenderungan untuk tidak berdisiplin dijalan raya, juga banyak yang tidak sabaran, senang jalan pintas dan tidak mau mengalah.


Melihat kondisi seperti ini maka pantas bila kemudian pemerintah membuat imbauan untuk para pemudik agar tidak mudik dengan motor. Namun imbauan itu ternyata tidak menggema di telinga masyarakat. Masyarakat seperti saya tetap memilih motor Honda sebagai alat transportasi mudik lebaran.


Karena para pemudik dengan motor tetap banyak akhirnya kemudian membuat jalur khusus bagi pengendara motor, bahkan di beberapa kota setiap seribu motor dikawal dua mobil patroli polisi untuk diberangkatkan secara bergelombang. Selain itu juga dibuat aturan jumlah pengendara motor dibatasi dua orang permotor dengan jumlah barang bawaan tidak berlebihan.


Bagi saya pecinta berat motor Honda aturan tersebut sangat saya patuhi. Saya tidak berharap ketidakdisiplinan di jalan raya bisa membuat kerugian yang tidak diinginkan. Sejatinya memang setiap pengendara motor bisa mematuhi aturan berlalu lintas. Selain itu juga mereka menjaga ketertiban dan kedisiplinan dalam berkendaraan. Sebab tanpa peran serta masyarakat terutama para pemilik kendaraan roda dua, maka upaya pemerintah untuk mengatur dan memberikan kenyamanan di jalan raya tidak akan tercapai. Dan saya tidak berharap peristiwa yang membahayakan terjadi tatkala saya bersama dengan sahabat yang tidak pernah marah ini.


Bagaimana dengan anda?





 

1 komentar:

  1. RAHMAH KPI C VII11 Oktober 2008 13.05

    motor tetaplah motor (sapa bilang sahabat!!!) ga' bisa dijadikan sahabat yang lebih memiliki rasa atau bisa dibilang ruh yang membuatnya menjadi hidup...

    BalasHapus

Oleh Uwes Fatoni


 (Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba Honda Writing 2008)


 


Kota besar selalu identik dengan kemacetan. Perhatikan saja jalanan di waktu jam-jam masuk kantor pagi hari atau jam pulang kantor sore hari. Setiap pengguna jalan selalu disergap kemacetan. Kondisi ini seolah menjadi sarapan pagi di hari senin sampai muncul ungkapan I hate Monday, hari senin hari yang paling dibenci.


Keadaan di atas dulu pernah saya alami tatkala pulang pergi kerja menggunakan kendaraan umum atau numpang ikut mobil teman sekantor. Namun sejak tiga tahun terakhir itu bukan lagi masalah karena motor Honda datang menjadi solusinya. Ke manapun saya pergi motor Honda menjadi sahabat terdekat  setiap saat. Sahabat yang tak pernah marah sampai mogok atau berhenti di tengah jalan karena Honda memang motor Jepang terbaik di kelasnya.


Dalam kondisi macet separah apapun dengan motor Honda saya masih bisa maju mencari celah-celah di sekitar kendaraan roda empat. Seringkali teman-teman saya menjuluki pengendara motor bagaikan air yang senantiasa bisa mengalir selama ada celah untuk bisa dilewati. Hanya memang ada juga saat saya merasa risi menjadi pengendara motor ketika biker yang lain sudah tidak mengindahkan aturan berlalu lintas. Para biker jalanan yang tidak disiplin menjadi bagian yang memperparah kemacetan.


Di beberapa persimpangan jalan yang langganan macet beberapa pengendara motor karena ingin cepat sampai tujuan mereka rela menerobos naik trotoar untuk menghindari kemacetan panjang. Di Bandung ini sering terlihat di persimpangan Buah Batu Soekarno Hatta dari arah timur atau barat. Para biker itu naik ke trotoar yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Tentu saja hal itu bukan contoh yang baik. Sekalipun motor Honda bisa digunakan untuk hal itu, sejak awal saya sudah menetapkan hati untuk bisa menjadi pengendara motor yang baik.


Diantara banyak pengalaman sabahat sejati saya, motor Honda, ada satu momen yang sangat berkesan dalam hati, yaitu tatkala mudik lebaran bersama-sama dengan sahabat ini.


 


Mudik Lebaran


Proses mudik memang memerlukan pengorbanan yang sangat besar. Bisa kita lihat setiap tahun para pemudik selalu dibayang-bayangi dengan kenaikan ongkos perjalanan atau biasa disebut tueslag. Bagi para penumpang kendaraan umum mereka harus berebutan untuk bisa naik dan mendapatkan tempat yang nyaman. Ini terutama terjadi pada para penumpang angkutan massal kelas ekonomi, seperti bus, kereta api atau kapal laut.


Demikian juga di tengah perjalanan kemacetan seringkali menyergap mengakibatkan terkuras banyak tenaga dan pikiran. Dari proses ini kita bisa melihat betapa perjuangan untuk mudik sangat merepotkan.


Mungkin bagi masyarakat golongan menengah ke atas bisa menghindari mudik yang melelahkan seperti di atas dengan mengendarai kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan rental untuk ditumpangi satu keluarga atau bersama beberapa orang saudara. Namun bagi masyarakat seperti saya yang pulang kampung dengan jarak tidak terlalu jauh mengendarai motor sendirian atau berkonvoi sampai puluhan dan ratusan motor menjadi pilihan. Hanya memang sering menjadi kekhawatiran tatkala banyaknya arus pemudik seringkali muncul berbagai peristiwa kecelakaan di jalanan. Ada yang karena kelalaian orang (human error) atau ada juga karena faktor ketidaksengajaan. Namun yang pasti berbagai kecelakaan ini bagi korban dan keluarganya sangat merugikan dan mampu membuat suasana lebaran berubah dari kegembiraan menjadi kesedihan.


Mengapa masyarakat begitu antusias untuk mudik padahal sangat besar pengorbanan yang harus mereka tebus untuk itu. Pertama, mudik memang menjadi ajang silaturahmi dengan sanak saudara di kampung halaman yang barangkali di hari-hari biasa sangat jarang untuk dilakukan. Ini karena jarak yang jauh atau karena memang sanak saudara yang lain juga di hari selain lebaran juga merantau. Selain itu juga silaturahmi yang paling penting adalah dengan orang tua atau yang dituakan. Silaturahmi ketika lebaran dilakukan dari anak kepada orang tua atau dari saudara yang lebih muda kepada yang lebih tua.


Kedua, pulang kampung menjadi sarana menunjukkan prestise keberhasilan setelah sekian waktu merantau. Bagi masyarakat, dianggap berhasil di panyabaan ketika pulang kampung banyak berbagi kepada saudara atau tetangga. Namun ada juga yang sekedar pamer kekayaan seperti membawa kendaraan atau memakai pakaian dan perhiasan yang mencolok. Bahkan bagi beberapa orang terutama pemuda banyak yang menunjukkan keberhasilannya di rantau ketika pulang kampung bergaya orang kota dalam ucapan maupun tingkah lakunya. Dari pamer prestise ini kemudian menarik orang-orang kampung lainnya untuk pergi nyaba.


Ketiga, pulang kampung menjadi sarana relaksasi sejenak di tengah kesibukan pekerjaan. Dengan pulang kampung, rasa penat akan sedikit terkurangi. Dan keempat pulang kampung menjadi media pengumpulan energi komunalitas. Biasanya di kota orang menjadi sangat individualistis, senantiasa mencari keuntungan materi yang berlebihan, kalau perlu sikut kanan-sikut kiri, menjilat ke atas, menjejak ke bawah. Ketika pulang kampung energi kebersamaan kembali diperkuat dengan saling membantu saudara yang kekurangan.


Melihat berbagai keuntungan teologis, psikologis, dan sosiologis seperti itu maka tidak aneh masyarakat begitu antusias untuk pulang kampung, berapapun biaya yang harus dikeluarkan selagi mampu akan mereka tanggung.


Mudik lebaran mengendarai motor menjadi alternatif masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah termasuk saya. Di bandingkan bus, kereta api, travel atau mobil sewaan naik motor Honda adalah pilihan terbaik dan termasuk murah meriah. Bisa dibayangkan biaya yang dikeluarkan untuk dalam perjalanan mudik lebaran antara naik sepeda motor dengan naik kendaraan umum hemat seperempatnya.


Fenomena banyaknya pengguna sepeda motor terus meningkat setiap tahun. Sejak tahun 2005 hingga 2007 kemarin para pemudik motor meningkat sampai 40 persen. Hal ini kemudian bisa dilihat dari indikator penjualan motor Honda menjelang lebaran. Motor Honda di Bandung bahkan mampu terjual 30 persen lebih banyak dibandingkan bulan-bulan biasa. Bukan isapan jempol bila kemudian jumlah motor di Indonesia adalah terbesar ketiga di dunia. Tidak kurang 19 juta motor yang sebagian besarnya bermerek Honda seperti milik saya di masyarakat. Ini bisa dibandingkan dengan jumlah mobil saat ini yang hanya mencapai 7 juta.


Selain itu juga kemajuan teknologi motor bebek dan sekuter telah didukung dengan perkembangan teknologi produksi. Kabar terakhir pabrikan motor Honda di Indonesia mampu menghasilkan 1 unit dalam setiap menit. Kondisi ini setara dengan produksi pabrikan motor di India. Bahkan beberapa waktu yang lalu pabrikan motor Honda Astra telah mampu mencapai produksi 10 juta sejak awal produksinya. Ini tentu satu prestasi yang membanggakan bukan hanya bagi Honda tapi juga bagi masyarakat Indonesia.


Berdasarkan data dinas Perhubungan kota bandung saat ini saja jumlah pemilih motor di Kota Bandung mencapai tujuh ratus ribuan. Tidak aneh bila kemudian motor terlihat ada di mana-mana apalagi ketika mudik lebaran.


Pilihan naik motor Honda ternyata bukan hanya saya sendiri. Sebagian besar masyarakat perkotaan seperti di Bandung memiliki antusiasme yang sama untuk pulang kampung dengan motor. Apalagi ketika saat ini motor Honda kreditan bisa diperoleh dengan mudah. Dengan uang muka 500.000 masyarakat bisa pulang kampung sambil bergaya naik motor. Dan memang tidak terasa selama tiga tahun bayar cicilan 450.000 per bulan motor menjadi milik pribadi. Tapi ada juga kasus karena tidak mampu bayar cicilan setelah lebaran, motornya kemudian diambil oleh perusahaan pembiayaan.


Salah satu motivasi saya ketika memilih motor Honda sebagai sahabat waktu mudik karena adanya gengsi tersendiri ketika sampai di kampung halaman. Bagi masyarakat pedesaan yang tergolong ekonomi menengah ke bawah, motor Honda termasuk kendaraan mewah. Siapa saja yang mudik dengan membawa motor Honda, berarti dia telah berhasil dirantau.


Selain itu juga ada kelebihan lain ketika motor Honda dibawa pulang kampung. Disana sepeda motor menjadi alat transportasi cepat untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara yang berlokasi cukup jauh. Bila lebaran sebelumnya saya seringkali hanya bisa bertemu dengan kawan, sahabat yang tinggal dekat rumah dan bisa ditempuh dengan jalan kaki, maka dengan motor Honda, teman-teman jauh saya pun bisa saya sambangi.


Diantara kelebihan motor Honda selain harganya ekonomis juga setiap tahun harganya relatif tidak naik besar karena komponen motor Honda 90 persen adalah produk lokal bahkan kerjasama dengan UKM Indonesia. Selain itu juga bodinya yang praktis, sederhana dengan biaya perawatan ringan sehingga terjangkau oleh kocek. Tidak kalah pentingnya juga motor Honda bahan bakarnya irit sehingga menghemat ongkos pulang kampung.


Di samping berbagai kelebihan di atas, sewajarnya ada pula beberapa kelemahan mengendarai motor termasuk Honda. Ini terutama ketika pemakaiannya tidak disertai kehati-hatian dan pemeliharaan yang baik. Berbagai penelitian sudah menyatakan bahwa kecelakaan yang paling banyak terjadi di jalanan adalah kecelakaan motor. Informasi dari Dishub DKI Jakarta, setiap hari di Jakarta terjadi 8 kecelakaan yang menyebabkan kerugian dan cacat tubuh bahkan mengakibatkan kematian. Kecelakaan motor ini terjadi terutama di jalanan yang memiliki arah dua arus.


Faktor lain yang bisa menyebabkan kecelakaan adalah jarak tempuh yang jauh. Semakin jauh mengendarai motor maka bisa semakin berbahaya. Hal ini terutama berkaitan dengan kekuatan fisik dan konsentrasi bikernya, di samping tentu saja kondisi motor itu sendiri. Apalagi bila kemudian para pengendaranya tidak menggunakan fasilitas berkendaraan yang lengkap seperti helm, jaket dan sarung tangan. Tanpa kelengkapan ini pengendara motor bisa mengalami bahaya kesehatan untuk jangka panjang. Contoh misalkan pengedara motor yang jarang memakai jaket akan terkena penyakit paru-paru basah. Bila ini tidak diperhatikan maka tentu saja akan mengakibatkan kerugian yang lebih besar di kemudian hari. Padahal kita semua tahu bahwa kesehatan itu mahal harganya.


Masalah paling utama yang juga dihadapi oleh para biker adalah kecenderungan untuk tidak berdisiplin dijalan raya, juga banyak yang tidak sabaran, senang jalan pintas dan tidak mau mengalah.


Melihat kondisi seperti ini maka pantas bila kemudian pemerintah membuat imbauan untuk para pemudik agar tidak mudik dengan motor. Namun imbauan itu ternyata tidak menggema di telinga masyarakat. Masyarakat seperti saya tetap memilih motor Honda sebagai alat transportasi mudik lebaran.


Karena para pemudik dengan motor tetap banyak akhirnya kemudian membuat jalur khusus bagi pengendara motor, bahkan di beberapa kota setiap seribu motor dikawal dua mobil patroli polisi untuk diberangkatkan secara bergelombang. Selain itu juga dibuat aturan jumlah pengendara motor dibatasi dua orang permotor dengan jumlah barang bawaan tidak berlebihan.


Bagi saya pecinta berat motor Honda aturan tersebut sangat saya patuhi. Saya tidak berharap ketidakdisiplinan di jalan raya bisa membuat kerugian yang tidak diinginkan. Sejatinya memang setiap pengendara motor bisa mematuhi aturan berlalu lintas. Selain itu juga mereka menjaga ketertiban dan kedisiplinan dalam berkendaraan. Sebab tanpa peran serta masyarakat terutama para pemilik kendaraan roda dua, maka upaya pemerintah untuk mengatur dan memberikan kenyamanan di jalan raya tidak akan tercapai. Dan saya tidak berharap peristiwa yang membahayakan terjadi tatkala saya bersama dengan sahabat yang tidak pernah marah ini.


Bagaimana dengan anda?





 

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


1 komentar
  1. RAHMAH KPI C VII11 Oktober 2008 13.05

    motor tetaplah motor (sapa bilang sahabat!!!) ga' bisa dijadikan sahabat yang lebih memiliki rasa atau bisa dibilang ruh yang membuatnya menjadi hidup...

    BalasHapus