Minggu, 06 April 2008

MENDAMBAKAN UIN YANG MENCERAHKAN


Oleh : Uwes Fatoni, M.Ag



Tanggal 8 April 2008 UIN SGD Bandung memperingati dies natalis yang ke-40. Peringatan ulang tahun kali ini layak untuk diapresiasi, karena waktunya bersamaan dengan pesta demokrasi masyarakat Jawa Barat memilih Gubernur. Satu diantara tiga kandidat pasangan wakil gubernur adalah lulusan UIN Bandung. Hal tersebut menjadi penanda bahwa lulusan kampus yang terletak di Cibiru ini layak untuk diperhitungkan.


Dalam sepuluh tahun terakhir memang lulusan UIN, dulu IAIN Bandung, banyak yang masuk dalam wilayah pengabdian yang berbeda dengan latar belakang pendidikan mereka di kampus. Bila biasanya alumni UIN menjadi ustad, da'i atau pegawai negeri di lingkungan departemen agama, maka paska reformasi saat ini, tidak sedikit diantara mereka yang aktif di dunia politik. Ada yang berhasil menduduki jabatan pimpinan daerah seperti menjadi Bupati di Subang atau Tasikmalaya. Tidak sedikit yang menjadi anggota legislatif dari tingkat kabupaten/kota sampai pusat, anggota KPU dan organisasi politik lainnya.


Fenomena tersebut di satu segi menjadi penanda bahwa lulusan UIN mampu eksis di masyarakat. Bukankah masyarakat Jawa Barat dikenal sangat kuat dengan ruh keislamannya, wajar bila kemudian lulusan UIN mampu beradaptasi dan diterima di masyarakat karena mereka memiliki dasar ilmu keagamaan yang cukup baik yang diperoleh di kampus. Namun di sisi lain, hal itu menandakan bahwa alumni UIN tidak profesional karena kebanyakan mereka bekerja di luar bidang studi yang pernah digelutinya. Sejatinya perguruan tinggi dianggap berhasil tatkala alumninya mampu bekerja secara profesional sesuai dengan profesi dan latar belakang pendidikannya.


Di sisi lain belum tentu keberhasilan alumni menjadi gambaran keberhasilan lembaga almamaternya. Banyak yang mempertanyakan sejauh mana andil kampus dalam membibit dan membina mereka sehingga sukses di puncak karir. Jangan-jangan keberhasilan tersebut semata-mata karena prestasi pribadi, bukan hasil gemblengan studi di kampus.



Rekam Jejak Sejarah


UIN SGD Bandung merupakan metamorfosis dari IAIN SGD Bandung. Melihat sejarah kemunculannya tahun 1968 IAIN Bandung merupakan hasil dukungan dari tokoh dan alim ulama di Jawa Barat untuk mengimbangi semangat zaman. Santri yang sebelumnya dianggap tradisonal dan terbelakang diberi wadah pembinaan untuk mengkaji keislaman secara lebih modern melalui IAIN. Tidak aneh bila awal cita-cita pendiriannya ia dianggap sebagai lembaga dakwah sekaligus lembaga akademis untuk mencetak ulama yang cendekiawan dan cendekiawan yang ulama.


Tatkala semangat zaman kembali berubah, dikotomi ilmu agama dan ilmu umum tidak lagi mendapat ruang, maka tiga tahun UIN menjadi nama dan bentuk baru. Perubahan ini diresmikan secara langsung oleh Presiden SBY melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 57 Tahun 2005. Dengan perubahan ini UIN Bandung bercita-cita menjadi Perguruan Tinggi Islam yang memiliki keunggulan akademik yang kompetitif, profesional, demokratis, mandiri yang dilandasi nilai-nilai keislaman.


Hanya memang masih banyak pertanyaan tentang sejauh mana perubahan nama tersebut berpengaruh pada prestasinya yang diraihnya. Jangan-jangan hanya perubahan nama saja tanpa ada perubahan isi secara signifikan.


Selain itu juga muncul satu kekhawatiran, dengan perubahan dari institut menjadi universitas ini fakultas dan jurusan agama akan tergeser dan tergusur oleh fakultas umum sebagaimana yang dialami di beberapa universitas Islam di Indonesia dan juga di Kota Bandung. Tentu pertanyaan di atas perlu dijawab dengan langkah-langkah yang riil.


Perlu diinsyafi bahwa setiap proses pasti membutuhkan waktu. Demikian juga proses membentuk UIN Bandung menjadi universitas unggulan dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat tentu membutuhkan waktu. Tidak bisa dalam waktu sekejap harapan tersebut terwujud. Butuh sepuluh atau duapuluh tahun untuk menuju ke arah sana.


Menjadi tantangan yang menarik tatkala saat ini UIN Bandung masih tetap sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah Departemen Agama. Sekalipun secara teknis akademis memang bidang ilmu umum berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, namun secara teknis operasional tetap saja UIN berada di bawah Depag. Perlu mencari strategi bagaimana agar bisa berkompetisi dengan perguruan tinggi umum seperti dalam UMPTN/SPMB. Beberapa jurusan umum di UIN Bandung saat ini telah masuk dalam ujian nasional penyaringan mahasiswa tersebut..


Sedangkan Masalah kekhawatiran akan ditinggalkannya fakultas agama oleh calon mahasiswa bisa dijawab dengan memegang prinsip yang melandasi perubahan UIN Bandung, yaitu wahyu memandu ilmu. Melalui prinsip tersebut ilmu agama dan ilmu umum kedua-duanya harus menjadi unggulan karena diyakini berasal dari sumber yang sama yaitu Allah Swt. Dengan demikian ilmu agama perlu diperkuat dengan ilmu umum dan ilmu umum diberikan ruh dengan ilmu-ilmu agama.


Hal ini bisa dilihat dari delapan fakultas yang ada di UIN Bandung yang merupakan gabungan antara ilmu agama dan ilmu umum yaitu Fakultas Adab dan Humaniora; Fakultas Dakwah dan Komunikasi; Fakultas Syariah dan Hukum; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan; Fakultas Ushuluddin dan Filsafat; Fakultas Psikologi; Fakultas Ilmu Sosial dan Politik; dan Fakultas Sains dan Teknologi.


Satu masalah yang masih menjadi pekerjaan rumah yaitu pendirian Mahad Ali (pesantren mahasiswa) yang belum terealisasikan. Melalui lembaga ini sejatinya mahasiswa UIN akan mampu menguasai bahasa Arab dan Inggris. Semoga saja bantuan infrastrktur dari IDB (Islamic Development Bank) nanti menjadikan Mahad Ali sebagai prioritas program pertama yang akan direalisasikan. Bila mahasiswa sudah mahir dalam kedua bahasa tersebut maka mereka akan mudah dalam mengakses ilmu keislaman dan juga ilmu umum.



Menuju Universitas yang Mencerahkan


Dalam umur manusia empat puluh tahun merupakan usia yang matang dan dewasa. Usia empat puluh mengikuti jejak sejarah Nabi Muhammad adalah usia kerasulan. Maka sudah sepatutnya UIN Bandung di tahun ini dan tahun selanjutnya semakin memperkuat misi profetisnya. yaitu menjadi pencerah bagi masyarakat terutama Umat Islam Jawa Barat.


Kepemimpinan Rektor UIN Bandung saat ini dipegang untuk kedua kalinya oleh Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS. Beliau guru besar bidang pendidikan yang cukup berhasil mengantarkan peralihan IAIN menjadi UIN. Keluaasan jaringan organisasinya di tingkat nasional menjadi penopang utama keberhasilan tersebut selain tentu saja dukungan dari seluruh civitas akademika. Saat ini Prof. Nanat adalah Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Pusat juga Ketua Umum Ikatan Cendekiawa Muslim Indonesia (ICMI) pusat. Tentu jaringan yang sangat luas tersebut akan menjadi modal awal untuk memperkenalkan UIN Bandung ke tingkat nasional dan juga internasional.


Di samping itu upaya menjadikan UIN Bandung sebagai Riset University juga perlu diapresiasi dan didukung penuh. Dengan misi menuju universitas riset berarti perlu dibina tenaga pendidik yang profesional dan mampu menjabarkan tri dharma perguruan tinggi. Kerjasama dengan perguruan tinggi lain menjadi cara termudah untuk mewujudhkannya seperti yang telah dijalani yaitu kerjasama dengan Universitas Padjadjaran, STT Telkom dan terakhir dengan ITB.


Semoga UIN Bandung ke depan semakin maju dan mampu mencerahkan masyarakat Jawa Barat lebih khusus umat Islam. Selamat berulang tahun UIN-ku, UIN kita semua.

7 komentar:

  1. UIN ulang tahun, tapi jangan mengulangi kesalahan. Semoga UIN tidak menciptakan mahasiswa dan alumni yang gegar kebudayaan ketika nanti beres dari UIN. Hese gawe...tapi sare oge pagawean kan? hehehe


    Bukankah pekerjaan banyak, ron? Tapi yang jadi masalah tidak ada yang menggaji. Ah cukup weh jadi anggota dewan. ya lumayan Dewan Keluarga Masjid. Hehehe.

    BalasHapus
  2. Selamat atas Hari ulang Tahun UIN???
    Semoga sistem pengajaran dan fasilitas dalam belajar mengajar dapat diperbaiki. dan harapan bagi kami bisa menjadi lulusan yang bisa bermanfaat bagi diri dan orang banyak. kerja sama yang UIN bina dan buat dengan PTN yang lain bisa dimanfaatkan dengan baik.
    tapi kita patut tanyakan kita menginduk dlam sistem pendidikan bingung karena ada 2 DEPAG dan DepDiknas yang mungkin hak seperti ini yang membuat pendidikan kita masih bimbang. mungkin kita bisa satukan ke 2 sistem tersebut, sehingga tidak terjadi kebingungan.


    Bukankah ilmu yang kita dapat patut kita syukuri dengan mengucap Alhamdulillah kepada Allah Tuhan semesta Alam.
    Ilmu patut kita jaga dengan mengamalkannya.

    Allahuakbar UIN yang aku cinta??

    BalasHapus
  3. Selamat atas Hari ulang Tahun UIN???
    Semoga sistem pengajaran dan fasilitas dalam belajar mengajar dapat diperbaiki. dan harapan bagi kami bisa menjadi lulusan yang bisa bermanfaat bagi diri dan orang banyak. kerja sama yang UIN bina dan buat dengan PTN yang lain bisa dimanfaatkan dengan baik.
    tapi kita patut tanyakan kita menginduk dlam sistem pendidikan bingung karena ada 2 DEPAG dan DepDiknas yang mungkin hak seperti ini yang membuat pendidikan kita masih bimbang. mungkin kita bisa satukan ke 2 sistem tersebut, sehingga tidak terjadi kebingungan.

    Bukankah ilmu yang kita dapat patut kita syukuri dengan mengucap Alhamdulillah kepada Allah Tuhan semesta Alam.
    Ilmu patut kita jaga dengan mengamalkannya.

    Allahuakbar UIN yang aku cinta??

    BalasHapus
  4. Syifa Nur Kholidah14 Oktober 2008 06.25

    Pada dasarnya mahasiswa yang kuliah di UIN, berlatar belakang dari pondok pesantren pada tahun-tahun kebelakang sehingga mayoritas alumni UIN banyak yang menjadi seorang-da'i dan bekerja di departemen agama. tapi, pada zaman reformasi sekarang mahasiswa lebih memilih jalan hidupnya dengan kemampuan sendiri yang kurang didasari dengan kekuatan agama sehingga alumni UIN sekarang kebanyakan pekerjaannya tidak sesuai dengan jurusannya masing-masing.

    BalasHapus
  5. dalam tulisa bapak tentang mendambakan uin yang mencerahkan saya melihat beberapa hal yang memang dalam kenyataannya mahasiswa uin yang seharusnya menjadi orang yang bisa di sebut intelektual muda tapi ternyata mahasiswa-mahasiswa lulusan uin ternyata hanya menjadi DKM mesjid-mesjid tempat tinggalnya. hal tersebut tidak lain karena sarana dan prasarana yang terdapat di kampus uin belum memadai sehingga lulusannya pun banyak sekali yang bekerja tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh alumni uin.terus uin yang diharapkan untuk mencerahkan itu uin yang seperti apa?

    BalasHapus
  6. minta doa spy bs msuk UIN gunung jati yaaaa....

    BalasHapus
  7. ass..mohon do'a.na supaya bisa masuk uin
    oia kalo biaya awal masuk uin untuk jurusan tarbiyah dan keguruan berapa ya??
    mohon informasi.na n_n

    BalasHapus


Oleh : Uwes Fatoni, M.Ag



Tanggal 8 April 2008 UIN SGD Bandung memperingati dies natalis yang ke-40. Peringatan ulang tahun kali ini layak untuk diapresiasi, karena waktunya bersamaan dengan pesta demokrasi masyarakat Jawa Barat memilih Gubernur. Satu diantara tiga kandidat pasangan wakil gubernur adalah lulusan UIN Bandung. Hal tersebut menjadi penanda bahwa lulusan kampus yang terletak di Cibiru ini layak untuk diperhitungkan.


Dalam sepuluh tahun terakhir memang lulusan UIN, dulu IAIN Bandung, banyak yang masuk dalam wilayah pengabdian yang berbeda dengan latar belakang pendidikan mereka di kampus. Bila biasanya alumni UIN menjadi ustad, da'i atau pegawai negeri di lingkungan departemen agama, maka paska reformasi saat ini, tidak sedikit diantara mereka yang aktif di dunia politik. Ada yang berhasil menduduki jabatan pimpinan daerah seperti menjadi Bupati di Subang atau Tasikmalaya. Tidak sedikit yang menjadi anggota legislatif dari tingkat kabupaten/kota sampai pusat, anggota KPU dan organisasi politik lainnya.


Fenomena tersebut di satu segi menjadi penanda bahwa lulusan UIN mampu eksis di masyarakat. Bukankah masyarakat Jawa Barat dikenal sangat kuat dengan ruh keislamannya, wajar bila kemudian lulusan UIN mampu beradaptasi dan diterima di masyarakat karena mereka memiliki dasar ilmu keagamaan yang cukup baik yang diperoleh di kampus. Namun di sisi lain, hal itu menandakan bahwa alumni UIN tidak profesional karena kebanyakan mereka bekerja di luar bidang studi yang pernah digelutinya. Sejatinya perguruan tinggi dianggap berhasil tatkala alumninya mampu bekerja secara profesional sesuai dengan profesi dan latar belakang pendidikannya.


Di sisi lain belum tentu keberhasilan alumni menjadi gambaran keberhasilan lembaga almamaternya. Banyak yang mempertanyakan sejauh mana andil kampus dalam membibit dan membina mereka sehingga sukses di puncak karir. Jangan-jangan keberhasilan tersebut semata-mata karena prestasi pribadi, bukan hasil gemblengan studi di kampus.



Rekam Jejak Sejarah


UIN SGD Bandung merupakan metamorfosis dari IAIN SGD Bandung. Melihat sejarah kemunculannya tahun 1968 IAIN Bandung merupakan hasil dukungan dari tokoh dan alim ulama di Jawa Barat untuk mengimbangi semangat zaman. Santri yang sebelumnya dianggap tradisonal dan terbelakang diberi wadah pembinaan untuk mengkaji keislaman secara lebih modern melalui IAIN. Tidak aneh bila awal cita-cita pendiriannya ia dianggap sebagai lembaga dakwah sekaligus lembaga akademis untuk mencetak ulama yang cendekiawan dan cendekiawan yang ulama.


Tatkala semangat zaman kembali berubah, dikotomi ilmu agama dan ilmu umum tidak lagi mendapat ruang, maka tiga tahun UIN menjadi nama dan bentuk baru. Perubahan ini diresmikan secara langsung oleh Presiden SBY melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 57 Tahun 2005. Dengan perubahan ini UIN Bandung bercita-cita menjadi Perguruan Tinggi Islam yang memiliki keunggulan akademik yang kompetitif, profesional, demokratis, mandiri yang dilandasi nilai-nilai keislaman.


Hanya memang masih banyak pertanyaan tentang sejauh mana perubahan nama tersebut berpengaruh pada prestasinya yang diraihnya. Jangan-jangan hanya perubahan nama saja tanpa ada perubahan isi secara signifikan.


Selain itu juga muncul satu kekhawatiran, dengan perubahan dari institut menjadi universitas ini fakultas dan jurusan agama akan tergeser dan tergusur oleh fakultas umum sebagaimana yang dialami di beberapa universitas Islam di Indonesia dan juga di Kota Bandung. Tentu pertanyaan di atas perlu dijawab dengan langkah-langkah yang riil.


Perlu diinsyafi bahwa setiap proses pasti membutuhkan waktu. Demikian juga proses membentuk UIN Bandung menjadi universitas unggulan dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat tentu membutuhkan waktu. Tidak bisa dalam waktu sekejap harapan tersebut terwujud. Butuh sepuluh atau duapuluh tahun untuk menuju ke arah sana.


Menjadi tantangan yang menarik tatkala saat ini UIN Bandung masih tetap sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah Departemen Agama. Sekalipun secara teknis akademis memang bidang ilmu umum berada di bawah Departemen Pendidikan Nasional, namun secara teknis operasional tetap saja UIN berada di bawah Depag. Perlu mencari strategi bagaimana agar bisa berkompetisi dengan perguruan tinggi umum seperti dalam UMPTN/SPMB. Beberapa jurusan umum di UIN Bandung saat ini telah masuk dalam ujian nasional penyaringan mahasiswa tersebut..


Sedangkan Masalah kekhawatiran akan ditinggalkannya fakultas agama oleh calon mahasiswa bisa dijawab dengan memegang prinsip yang melandasi perubahan UIN Bandung, yaitu wahyu memandu ilmu. Melalui prinsip tersebut ilmu agama dan ilmu umum kedua-duanya harus menjadi unggulan karena diyakini berasal dari sumber yang sama yaitu Allah Swt. Dengan demikian ilmu agama perlu diperkuat dengan ilmu umum dan ilmu umum diberikan ruh dengan ilmu-ilmu agama.


Hal ini bisa dilihat dari delapan fakultas yang ada di UIN Bandung yang merupakan gabungan antara ilmu agama dan ilmu umum yaitu Fakultas Adab dan Humaniora; Fakultas Dakwah dan Komunikasi; Fakultas Syariah dan Hukum; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan; Fakultas Ushuluddin dan Filsafat; Fakultas Psikologi; Fakultas Ilmu Sosial dan Politik; dan Fakultas Sains dan Teknologi.


Satu masalah yang masih menjadi pekerjaan rumah yaitu pendirian Mahad Ali (pesantren mahasiswa) yang belum terealisasikan. Melalui lembaga ini sejatinya mahasiswa UIN akan mampu menguasai bahasa Arab dan Inggris. Semoga saja bantuan infrastrktur dari IDB (Islamic Development Bank) nanti menjadikan Mahad Ali sebagai prioritas program pertama yang akan direalisasikan. Bila mahasiswa sudah mahir dalam kedua bahasa tersebut maka mereka akan mudah dalam mengakses ilmu keislaman dan juga ilmu umum.



Menuju Universitas yang Mencerahkan


Dalam umur manusia empat puluh tahun merupakan usia yang matang dan dewasa. Usia empat puluh mengikuti jejak sejarah Nabi Muhammad adalah usia kerasulan. Maka sudah sepatutnya UIN Bandung di tahun ini dan tahun selanjutnya semakin memperkuat misi profetisnya. yaitu menjadi pencerah bagi masyarakat terutama Umat Islam Jawa Barat.


Kepemimpinan Rektor UIN Bandung saat ini dipegang untuk kedua kalinya oleh Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS. Beliau guru besar bidang pendidikan yang cukup berhasil mengantarkan peralihan IAIN menjadi UIN. Keluaasan jaringan organisasinya di tingkat nasional menjadi penopang utama keberhasilan tersebut selain tentu saja dukungan dari seluruh civitas akademika. Saat ini Prof. Nanat adalah Presidium Korps Alumni HMI (KAHMI) Pusat juga Ketua Umum Ikatan Cendekiawa Muslim Indonesia (ICMI) pusat. Tentu jaringan yang sangat luas tersebut akan menjadi modal awal untuk memperkenalkan UIN Bandung ke tingkat nasional dan juga internasional.


Di samping itu upaya menjadikan UIN Bandung sebagai Riset University juga perlu diapresiasi dan didukung penuh. Dengan misi menuju universitas riset berarti perlu dibina tenaga pendidik yang profesional dan mampu menjabarkan tri dharma perguruan tinggi. Kerjasama dengan perguruan tinggi lain menjadi cara termudah untuk mewujudhkannya seperti yang telah dijalani yaitu kerjasama dengan Universitas Padjadjaran, STT Telkom dan terakhir dengan ITB.


Semoga UIN Bandung ke depan semakin maju dan mampu mencerahkan masyarakat Jawa Barat lebih khusus umat Islam. Selamat berulang tahun UIN-ku, UIN kita semua.

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


7 komentar
  1. UIN ulang tahun, tapi jangan mengulangi kesalahan. Semoga UIN tidak menciptakan mahasiswa dan alumni yang gegar kebudayaan ketika nanti beres dari UIN. Hese gawe...tapi sare oge pagawean kan? hehehe


    Bukankah pekerjaan banyak, ron? Tapi yang jadi masalah tidak ada yang menggaji. Ah cukup weh jadi anggota dewan. ya lumayan Dewan Keluarga Masjid. Hehehe.

    BalasHapus
  2. Selamat atas Hari ulang Tahun UIN???
    Semoga sistem pengajaran dan fasilitas dalam belajar mengajar dapat diperbaiki. dan harapan bagi kami bisa menjadi lulusan yang bisa bermanfaat bagi diri dan orang banyak. kerja sama yang UIN bina dan buat dengan PTN yang lain bisa dimanfaatkan dengan baik.
    tapi kita patut tanyakan kita menginduk dlam sistem pendidikan bingung karena ada 2 DEPAG dan DepDiknas yang mungkin hak seperti ini yang membuat pendidikan kita masih bimbang. mungkin kita bisa satukan ke 2 sistem tersebut, sehingga tidak terjadi kebingungan.


    Bukankah ilmu yang kita dapat patut kita syukuri dengan mengucap Alhamdulillah kepada Allah Tuhan semesta Alam.
    Ilmu patut kita jaga dengan mengamalkannya.

    Allahuakbar UIN yang aku cinta??

    BalasHapus
  3. Selamat atas Hari ulang Tahun UIN???
    Semoga sistem pengajaran dan fasilitas dalam belajar mengajar dapat diperbaiki. dan harapan bagi kami bisa menjadi lulusan yang bisa bermanfaat bagi diri dan orang banyak. kerja sama yang UIN bina dan buat dengan PTN yang lain bisa dimanfaatkan dengan baik.
    tapi kita patut tanyakan kita menginduk dlam sistem pendidikan bingung karena ada 2 DEPAG dan DepDiknas yang mungkin hak seperti ini yang membuat pendidikan kita masih bimbang. mungkin kita bisa satukan ke 2 sistem tersebut, sehingga tidak terjadi kebingungan.

    Bukankah ilmu yang kita dapat patut kita syukuri dengan mengucap Alhamdulillah kepada Allah Tuhan semesta Alam.
    Ilmu patut kita jaga dengan mengamalkannya.

    Allahuakbar UIN yang aku cinta??

    BalasHapus
  4. Syifa Nur Kholidah14 Oktober 2008 06.25

    Pada dasarnya mahasiswa yang kuliah di UIN, berlatar belakang dari pondok pesantren pada tahun-tahun kebelakang sehingga mayoritas alumni UIN banyak yang menjadi seorang-da'i dan bekerja di departemen agama. tapi, pada zaman reformasi sekarang mahasiswa lebih memilih jalan hidupnya dengan kemampuan sendiri yang kurang didasari dengan kekuatan agama sehingga alumni UIN sekarang kebanyakan pekerjaannya tidak sesuai dengan jurusannya masing-masing.

    BalasHapus
  5. dalam tulisa bapak tentang mendambakan uin yang mencerahkan saya melihat beberapa hal yang memang dalam kenyataannya mahasiswa uin yang seharusnya menjadi orang yang bisa di sebut intelektual muda tapi ternyata mahasiswa-mahasiswa lulusan uin ternyata hanya menjadi DKM mesjid-mesjid tempat tinggalnya. hal tersebut tidak lain karena sarana dan prasarana yang terdapat di kampus uin belum memadai sehingga lulusannya pun banyak sekali yang bekerja tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh alumni uin.terus uin yang diharapkan untuk mencerahkan itu uin yang seperti apa?

    BalasHapus
  6. minta doa spy bs msuk UIN gunung jati yaaaa....

    BalasHapus
  7. ass..mohon do'a.na supaya bisa masuk uin
    oia kalo biaya awal masuk uin untuk jurusan tarbiyah dan keguruan berapa ya??
    mohon informasi.na n_n

    BalasHapus