Selasa, 06 Mei 2008

MENANGIS


Oleh : Uwes Fatoni


Suatu hari Rasulullah memberikan khutbah di hadapan para sahabat yang sebelumnya belum pernah beliau sampaikan. Dalam Khutbah tersebut Rasululllah bersabda: "Andaikan kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Seketika itu para sahabat menutup muka masing-masing sambil menangis terisak-isak (HR Bukhari Muslim).


Menangis adalah ekspresi kejiwaan yang secara naluriah terjadi tatkala seseorang dalam keadaan sedih atau takut. Di masyarakat menangis sering diidentikkan sebagai perilaku lemah dan tidak pantas untuk ditampakkan dalam kehidupan.


Namun, dalam Islam menangis adalah satu bentuk kesadaran diri terutama ketika beribadah. Ibadah yang khusu' akan disertai kesadaran bahwa dirinya adalah makhluk yang dhaif, makhluk lemah yang tidak memiliki kekuatan apapun di hadapan Allah. Ia juga akan bersyukur atas karunia mendapatkan kehormatan besar untuk mampu berkomunikasi dengan Allah sekaligus rindu berjumpa dengan-Nya kelak di akhirat. Dengan kesadaran tersebut tentu air mata takan terasa jatuh bercucuran.


Namun, menangis di sini bukan menangis dengan rekayasa, apalagi diniatkan untuk dilihat orang lain (riya) agar disangka khusu' dalam beribadah. Sejatinya air mata yang menetes adalah air mata yang refleks keluar semata-mata pengaruh dari proses yang terjadi dari dalam batin. Jadi, semakin khusu' ibadah seseorang, maka semakin deras pula cucuran air matanya yang keluar.


Rasulullah banyak diriwayatkan menangis tatkala sedang beribadah sendirian. Siti Aisyah r.a. seringkali mendapatkan beliau sedang mencucurkan air mata tatkala melaksanakan qiyamul lail, ataupun ketika membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Hal tersebut terjadi karena Rasulullah menganggap menangis adalah penanda kekhusu'an dalam beribadah. Allah berfirman "Dan sujudlah mereka sambil menangis, dan bertambah khusu'. (Al-Isra:109)


Dalam sebuah hadits Rasulullah menjanjikan orang yang berdzikir ingat kepada Allah ketika sendirian sampai air mataya bercucuran adalah termasuk diantara tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat di saat tidak ada naungan selain Allah. Bahkan dalam hadits riwayat Tirmidzi orang tersebut Rasulullah janjikan tidak akan masuk neraka.


Demikian berharganya Rasululah sampai menyamakan nilai tetesan air mata karena takut kepada Allah sama dengan nilai tetesan darah para syuhada yang berjuang di jalan Allah. "Tiada sesuatu pun yang lebih Allah cintai dibandingkan dua tetes dan dua bekas. Tetesan air mata karena takut kepada allah, dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas dalam perjuangan fisabilillah dan bekas perjuangan kewajiban kepada Allah. (HR. Tirmidzi).



Uwes Fatoni, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

4 komentar:

  1. Kang Uwes emang Yahuuuut
    Kang nitip link ah, sugan aya nu ngaklik...
    http://www.inter-metrofund.com/index.php?id=investasioke

    Soleh
    Panyileukan

    BalasHapus
  2. شبحنا الله memang saat-saat sekarang untuk menangis karena takut akan azab Allah, akan dosa-dosa kita yang terus membumbung, tentang kondisi umat Islam di Palestina masih sangat sulit, mereka lebih senang menangis karena diputusin pacar, barang-barang yang paling dia senangi hilang, tidak diterima di perguruan tinggi/ sekolah favorit, atau kita tidak lulus interviw saat kita melamar kerja di sebuah perusahaan. Apakah ada yang salah dengan keadaan psikologis kita,?1 wajar memang bila kita gagal meraih apa yang kita inginkan, keinginan tidak sesuai dengan kenyataan lalu kita menangis, tapi akankah kita bisa mencucurkan air mata didalam setiap tahajud dan shalat kita dengan mengingat segala dosa yang telah kita lakukan, ingat orang-orang yang pernah kita dholimi, pernah kita bohongi,. Mudah-mudahan kita terhindar dari kerasnya hati dan sifat-sifat yang akan menjauhkan kita dengan Allah Swt.

    BalasHapus
  3. Nugraha Dwi Laksana KPI C VII11 Oktober 2008 12.34

    kadang saya berpikir, kalo laki-laki yang menangis itu cengeng, tidak pantas. namun ternyata saya merasakannya sendiri, bahwa menangis saat beribadah qiyamul lail (walaupun kalo cuma ada perlu saja),membuat hati saya tenang.
    saya baru tahu, ternyata nilai tetesan air mata karena takut kepada Allah sama dengan nilai tetesan darah para syuhada.
    semoga menjadi motivasi buat kita semua.
    amieeeeen..

    BalasHapus
  4. dulu aku merasa menangis itu adalah cengeng, Namun setelah teringat dengan dosa yang kita perbuat, barulah ku sadar, bahwa berdoa sambil menangis ternyata lebih khusu' dalam memohon ampunan

    BalasHapus


Oleh : Uwes Fatoni


Suatu hari Rasulullah memberikan khutbah di hadapan para sahabat yang sebelumnya belum pernah beliau sampaikan. Dalam Khutbah tersebut Rasululllah bersabda: "Andaikan kalian mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Seketika itu para sahabat menutup muka masing-masing sambil menangis terisak-isak (HR Bukhari Muslim).


Menangis adalah ekspresi kejiwaan yang secara naluriah terjadi tatkala seseorang dalam keadaan sedih atau takut. Di masyarakat menangis sering diidentikkan sebagai perilaku lemah dan tidak pantas untuk ditampakkan dalam kehidupan.


Namun, dalam Islam menangis adalah satu bentuk kesadaran diri terutama ketika beribadah. Ibadah yang khusu' akan disertai kesadaran bahwa dirinya adalah makhluk yang dhaif, makhluk lemah yang tidak memiliki kekuatan apapun di hadapan Allah. Ia juga akan bersyukur atas karunia mendapatkan kehormatan besar untuk mampu berkomunikasi dengan Allah sekaligus rindu berjumpa dengan-Nya kelak di akhirat. Dengan kesadaran tersebut tentu air mata takan terasa jatuh bercucuran.


Namun, menangis di sini bukan menangis dengan rekayasa, apalagi diniatkan untuk dilihat orang lain (riya) agar disangka khusu' dalam beribadah. Sejatinya air mata yang menetes adalah air mata yang refleks keluar semata-mata pengaruh dari proses yang terjadi dari dalam batin. Jadi, semakin khusu' ibadah seseorang, maka semakin deras pula cucuran air matanya yang keluar.


Rasulullah banyak diriwayatkan menangis tatkala sedang beribadah sendirian. Siti Aisyah r.a. seringkali mendapatkan beliau sedang mencucurkan air mata tatkala melaksanakan qiyamul lail, ataupun ketika membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Hal tersebut terjadi karena Rasulullah menganggap menangis adalah penanda kekhusu'an dalam beribadah. Allah berfirman "Dan sujudlah mereka sambil menangis, dan bertambah khusu'. (Al-Isra:109)


Dalam sebuah hadits Rasulullah menjanjikan orang yang berdzikir ingat kepada Allah ketika sendirian sampai air mataya bercucuran adalah termasuk diantara tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat di saat tidak ada naungan selain Allah. Bahkan dalam hadits riwayat Tirmidzi orang tersebut Rasulullah janjikan tidak akan masuk neraka.


Demikian berharganya Rasululah sampai menyamakan nilai tetesan air mata karena takut kepada Allah sama dengan nilai tetesan darah para syuhada yang berjuang di jalan Allah. "Tiada sesuatu pun yang lebih Allah cintai dibandingkan dua tetes dan dua bekas. Tetesan air mata karena takut kepada allah, dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas dalam perjuangan fisabilillah dan bekas perjuangan kewajiban kepada Allah. (HR. Tirmidzi).



Uwes Fatoni, Staf Pengajar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


4 komentar
  1. Kang Uwes emang Yahuuuut
    Kang nitip link ah, sugan aya nu ngaklik...
    http://www.inter-metrofund.com/index.php?id=investasioke

    Soleh
    Panyileukan

    BalasHapus
  2. شبحنا الله memang saat-saat sekarang untuk menangis karena takut akan azab Allah, akan dosa-dosa kita yang terus membumbung, tentang kondisi umat Islam di Palestina masih sangat sulit, mereka lebih senang menangis karena diputusin pacar, barang-barang yang paling dia senangi hilang, tidak diterima di perguruan tinggi/ sekolah favorit, atau kita tidak lulus interviw saat kita melamar kerja di sebuah perusahaan. Apakah ada yang salah dengan keadaan psikologis kita,?1 wajar memang bila kita gagal meraih apa yang kita inginkan, keinginan tidak sesuai dengan kenyataan lalu kita menangis, tapi akankah kita bisa mencucurkan air mata didalam setiap tahajud dan shalat kita dengan mengingat segala dosa yang telah kita lakukan, ingat orang-orang yang pernah kita dholimi, pernah kita bohongi,. Mudah-mudahan kita terhindar dari kerasnya hati dan sifat-sifat yang akan menjauhkan kita dengan Allah Swt.

    BalasHapus
  3. Nugraha Dwi Laksana KPI C VII11 Oktober 2008 12.34

    kadang saya berpikir, kalo laki-laki yang menangis itu cengeng, tidak pantas. namun ternyata saya merasakannya sendiri, bahwa menangis saat beribadah qiyamul lail (walaupun kalo cuma ada perlu saja),membuat hati saya tenang.
    saya baru tahu, ternyata nilai tetesan air mata karena takut kepada Allah sama dengan nilai tetesan darah para syuhada.
    semoga menjadi motivasi buat kita semua.
    amieeeeen..

    BalasHapus
  4. dulu aku merasa menangis itu adalah cengeng, Namun setelah teringat dengan dosa yang kita perbuat, barulah ku sadar, bahwa berdoa sambil menangis ternyata lebih khusu' dalam memohon ampunan

    BalasHapus