Kamis, 19 Juni 2008

DAKWAH DAMAI





Oleh Uwes Fatoni


Dakwah sebagai upaya internalisasi, transmisi, transformasi dan difusi ajaran Islam di tengah kehidupan masyarakat telah demikian semarak di negara kita. Namun, proses penyebaran nilai-nilai Islam ini tercoreng dan mendapatkan citra buruk tatkala beberapa kelompok Islam melakukannya dengan cara-cara kekerasan. Sejatinya, proses dakwah perlu mencerminkan makna Islam itu sendiri.


Menurut Ibn Mundzir dalam Kitab lisan al-'Arab akar kata Islam adalah aslama yang berarti pasrah, tunduk, patuh dan damai. Jadi, Islam adalah agama perdamaian yang disebarluaskan dengan penuh kesejukan. sebuah kesalahan besar bila dakwah disampaikan dengan kekerasan. Bukan dakwah namanya bila menghina, mengganggu bahkan menyakiti orang lain. Sebaliknya, dakwah itu harus penuh dengan kesejukan, melalui tutur kata yang baik (bi ahsan al-qaul) dan dengan peringai yang baik pula (bi ahsan al-'amal), sebagaimana firman Allah :


"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Q.S Fushilat [41] : 33)


Dakwah damai ini telah menjadi kebutuhan di tengah kondisi masyarakat yang multikultur, multietnik dan multiagama. Allah sangat menghargai keragaman manusia. Banyak ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa keragaman adalah sunnatullah. Manusia beragam dalam suku dan bangsa (Q.S Al-Hujurat [49] :13), beragam dalam bahasa dan warna kulit (Q.S Thaha [30] :21) dan cenderung untuk berkelompok (Q.S ar-Rum [30]:22). Keragaman ini menjadi tantangan bagi da'i dalam meramu dan menyajikan pesan dakwah yang menenangkan.


Dalam beberapa ayat Al-Quran Allah telah memberi petunjuk tentang metode berdakwah secara damai. Misalnya melalui ta'aruf atau saling mengenal dan menerima (Q.S Al-Hujurat [49]:13), ishlah (Q.S Al-Mujadilah [58]:10), menyeru kepada ungkapan yang sama (Q.S Ali Imran [3]:64), toleransi dan tidak saling menghina (Q.S Al-An'am [6]:108) dan yang paling utama dengan cara bijak, contoh teladan serta berdebat secara baik-baik (Q.S An-Nahl [16]:125)


Semoga kita diberi kekuatan dalam mendakwahkan Islam secara damai sehingga citra Islam sebagai agama perdamaian bisa terwujud dan rahmatan lil 'alamin bisa tercipta. Amin

5 komentar:

  1. Besar harapan kami bila bapak berkenan memberikan izin kepada kami untuk memuat kambali tulisan ini di blog sekaligus media cetak kami [bulletin].

    Makasih

    BalasHapus
  2. Memang kondisi umat Islam sedang memburuk, baik dalam kualitas keimanan, maupun pencitraan nama Islam sendiri baik itu dimata umat Islam sendiri terlebih-lebih dimata umat luar Islam, terutama setelah kerusuhan-kerusuhan yang kini sering terjadi, yang dengan mudah mengatas namakan agama Islam, miris memang111
    Kenapa dengan Islam? Islam yang seharusnya aman, lemah lembut, dan agama yang cinta akan perdamaian tapi kini arti tersebut hampir terkikis habis oleh beberapa kelompok saja, yang lebih ironis lagi kelompok itu adalah bagian dari kita, saudara seakidah dengan kita yaitu mereka benar-benar dari dalam Islam sendiri,. Apakah mereka tidak tau akan hakikat Islam.
    Entahlah siapa yang harus disalahkan untuk urusan ini, kita juga tidak dapat mutlak saling menyalahkan karena kita sadar kita hidup diatas keberagaman seperti tersyirat dalam al-Quran bahwa Manusia beragam dalam suku dan bangsa (Q.S Al-Hujurat [49] :13), beragam dalam bahasa dan warna kulit (Q.S Thaha [30] :21) dan cenderung untuk berkelompok (Q.S ar-Rum [30]:22). Jadi wajar jika kita rentan akan perselisian, tidak kesepahaman, dan ketidaksamaan dalam hal pendapat dan keinginan.
    Mudah-mudahan dengan fenomena-fenomena kemarin kita bisa banyak belajar dan menarik ibrah untuk kemajuan umat Islam, jadikan sebagai cambuk agar kita bisa lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang menerpa, karena tanpa adanya kesadaran dari masing-masing individu, sulit untuk membuktikan dan memperbaiki pencitraan umat Islam karena da'i juga manusia yang masih jauh dari perfect. Da'i hanya bisa memberi Mauidhah Hasanah, dan menyampaikan untuk suatu perubahan akan tetapi perubahan itu terjadi atau tidaknya tergantung kita yang mengamalkannya,karena da'i tidak akan pernah tau perasaan dan isi kepala setiap mad'u nya. Please selamatkan agama Islam terus perbaiki kembali jalinan silaturrahmi diantara kita.selain kita umat Islam siapa lagi yang akan perduli sama Islam. Betul tidak……

    BalasHapus
  3. Tidak berlebihan jika seorang guru diumpamakan sebagai matahari yang mampu memberikan cahaya seluruh jagat raya, mampu menggantikan malam menjadi siang dari gelap gulita menjadi terang benderang, begitu istimewa memang sosok seorang penyampai kebenaran, pengistafet ilmu, berapa hadist yang menganjurkan agar kita selalu hormat dan menghargai guru kita walaupun dia hanya mengajarkan satu huruf kepada kita. Good Lack………….Tuk guru-guru yang bertebaran di permukaan bumi, Thak's karenamu kita jadi tau beragam ilmu, kita bisa membaca dan menulis itu tidak lepas dari campur tangan mu. Adanya presiden, mentri, dokter, itu semua bermula padamu, dari sebuah kata-kalimat-bait. Ingsa Allah pahalanya selalu mengalir walaupun engkau sudah tidak bisa kami lihat, tapi pengabdian, kekarismatikan dan kekomunikatifan caramu menyampaikan materi itu kan selalu ku kenang.

    BalasHapus
  4. siti rohmah KPI C VII11 Oktober 2008 12.51

    kita jangan terlalu terpengaruh oleh image seperti itu,memang kita akui bahwa orang yang melakukan itu orang islam tapi jangan mengambil kesimpulan yang buruk.

    BalasHapus
  5. [...] Retrieved from : http://kanguwes.wordpress.com/2008/06/19/dakwah-damai/#more-108 [...]

    BalasHapus





Oleh Uwes Fatoni


Dakwah sebagai upaya internalisasi, transmisi, transformasi dan difusi ajaran Islam di tengah kehidupan masyarakat telah demikian semarak di negara kita. Namun, proses penyebaran nilai-nilai Islam ini tercoreng dan mendapatkan citra buruk tatkala beberapa kelompok Islam melakukannya dengan cara-cara kekerasan. Sejatinya, proses dakwah perlu mencerminkan makna Islam itu sendiri.


Menurut Ibn Mundzir dalam Kitab lisan al-'Arab akar kata Islam adalah aslama yang berarti pasrah, tunduk, patuh dan damai. Jadi, Islam adalah agama perdamaian yang disebarluaskan dengan penuh kesejukan. sebuah kesalahan besar bila dakwah disampaikan dengan kekerasan. Bukan dakwah namanya bila menghina, mengganggu bahkan menyakiti orang lain. Sebaliknya, dakwah itu harus penuh dengan kesejukan, melalui tutur kata yang baik (bi ahsan al-qaul) dan dengan peringai yang baik pula (bi ahsan al-'amal), sebagaimana firman Allah :


"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Q.S Fushilat [41] : 33)


Dakwah damai ini telah menjadi kebutuhan di tengah kondisi masyarakat yang multikultur, multietnik dan multiagama. Allah sangat menghargai keragaman manusia. Banyak ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa keragaman adalah sunnatullah. Manusia beragam dalam suku dan bangsa (Q.S Al-Hujurat [49] :13), beragam dalam bahasa dan warna kulit (Q.S Thaha [30] :21) dan cenderung untuk berkelompok (Q.S ar-Rum [30]:22). Keragaman ini menjadi tantangan bagi da'i dalam meramu dan menyajikan pesan dakwah yang menenangkan.


Dalam beberapa ayat Al-Quran Allah telah memberi petunjuk tentang metode berdakwah secara damai. Misalnya melalui ta'aruf atau saling mengenal dan menerima (Q.S Al-Hujurat [49]:13), ishlah (Q.S Al-Mujadilah [58]:10), menyeru kepada ungkapan yang sama (Q.S Ali Imran [3]:64), toleransi dan tidak saling menghina (Q.S Al-An'am [6]:108) dan yang paling utama dengan cara bijak, contoh teladan serta berdebat secara baik-baik (Q.S An-Nahl [16]:125)


Semoga kita diberi kekuatan dalam mendakwahkan Islam secara damai sehingga citra Islam sebagai agama perdamaian bisa terwujud dan rahmatan lil 'alamin bisa tercipta. Amin

«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


5 komentar
  1. Besar harapan kami bila bapak berkenan memberikan izin kepada kami untuk memuat kambali tulisan ini di blog sekaligus media cetak kami [bulletin].

    Makasih

    BalasHapus
  2. Memang kondisi umat Islam sedang memburuk, baik dalam kualitas keimanan, maupun pencitraan nama Islam sendiri baik itu dimata umat Islam sendiri terlebih-lebih dimata umat luar Islam, terutama setelah kerusuhan-kerusuhan yang kini sering terjadi, yang dengan mudah mengatas namakan agama Islam, miris memang111
    Kenapa dengan Islam? Islam yang seharusnya aman, lemah lembut, dan agama yang cinta akan perdamaian tapi kini arti tersebut hampir terkikis habis oleh beberapa kelompok saja, yang lebih ironis lagi kelompok itu adalah bagian dari kita, saudara seakidah dengan kita yaitu mereka benar-benar dari dalam Islam sendiri,. Apakah mereka tidak tau akan hakikat Islam.
    Entahlah siapa yang harus disalahkan untuk urusan ini, kita juga tidak dapat mutlak saling menyalahkan karena kita sadar kita hidup diatas keberagaman seperti tersyirat dalam al-Quran bahwa Manusia beragam dalam suku dan bangsa (Q.S Al-Hujurat [49] :13), beragam dalam bahasa dan warna kulit (Q.S Thaha [30] :21) dan cenderung untuk berkelompok (Q.S ar-Rum [30]:22). Jadi wajar jika kita rentan akan perselisian, tidak kesepahaman, dan ketidaksamaan dalam hal pendapat dan keinginan.
    Mudah-mudahan dengan fenomena-fenomena kemarin kita bisa banyak belajar dan menarik ibrah untuk kemajuan umat Islam, jadikan sebagai cambuk agar kita bisa lebih dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang menerpa, karena tanpa adanya kesadaran dari masing-masing individu, sulit untuk membuktikan dan memperbaiki pencitraan umat Islam karena da'i juga manusia yang masih jauh dari perfect. Da'i hanya bisa memberi Mauidhah Hasanah, dan menyampaikan untuk suatu perubahan akan tetapi perubahan itu terjadi atau tidaknya tergantung kita yang mengamalkannya,karena da'i tidak akan pernah tau perasaan dan isi kepala setiap mad'u nya. Please selamatkan agama Islam terus perbaiki kembali jalinan silaturrahmi diantara kita.selain kita umat Islam siapa lagi yang akan perduli sama Islam. Betul tidak……

    BalasHapus
  3. Tidak berlebihan jika seorang guru diumpamakan sebagai matahari yang mampu memberikan cahaya seluruh jagat raya, mampu menggantikan malam menjadi siang dari gelap gulita menjadi terang benderang, begitu istimewa memang sosok seorang penyampai kebenaran, pengistafet ilmu, berapa hadist yang menganjurkan agar kita selalu hormat dan menghargai guru kita walaupun dia hanya mengajarkan satu huruf kepada kita. Good Lack………….Tuk guru-guru yang bertebaran di permukaan bumi, Thak's karenamu kita jadi tau beragam ilmu, kita bisa membaca dan menulis itu tidak lepas dari campur tangan mu. Adanya presiden, mentri, dokter, itu semua bermula padamu, dari sebuah kata-kalimat-bait. Ingsa Allah pahalanya selalu mengalir walaupun engkau sudah tidak bisa kami lihat, tapi pengabdian, kekarismatikan dan kekomunikatifan caramu menyampaikan materi itu kan selalu ku kenang.

    BalasHapus
  4. siti rohmah KPI C VII11 Oktober 2008 12.51

    kita jangan terlalu terpengaruh oleh image seperti itu,memang kita akui bahwa orang yang melakukan itu orang islam tapi jangan mengambil kesimpulan yang buruk.

    BalasHapus
  5. [...] Retrieved from : http://kanguwes.wordpress.com/2008/06/19/dakwah-damai/#more-108 [...]

    BalasHapus