Minggu, 26 September 2010

Ke Mana Acara Dakwah Ramadan di TV?




Beragam acara televisi bernuansa Ramadan sedikit demi sedikit mulai menghilang dari layar kaca, tergantikan dengan wajah awalnya sebelum Ramadan. Menarik untuk disimak ternyata fenomena acara dakwah Ramadan di televisi dari tahun ke tahun selalu sama. Mendadak ramai dan kemudian menghilang seiring berlalunya Ramadan.


Dalam perkuliahan Jurnalisme Dakwah yang saya pegang muncul diskusi menarik tentang fenomena ini. Mahasiswa diminta untuk melakukan riset kecil-kecilan baik secara berkelompok maupun perorangan tentang acara dakwah di televisi pada bulan Ramadan. Hasilnya kemudian didiskusikan. Dalam diskusi mereka mengungkapkan beberapa temuan menarik.

Pertama, Bila kita membedah acara dakwah Ramadan di televisi dari kacamata fungsi jurnalisme maka kita bisa membuat empat kategori yaitu 1) memberikan informasi (to inform), 2) mendidik (to educate), 3) mempengaruhi (to influence) dan 4) menghibur (to entertain).

Acara dalam kategori memberi informasi seperti berita seputar Ramadan dari berbagai penjuru nusantara bahkan penjuru dunia. Acara dalam kategori mendidik atau mempengaruhi diantaranya ceramah keagamaan yang disiarkan langsung dari lokasi tertentu (tabligh akbar) atau ceramah menjelang berbuka puasa sebelum kumandang azan magrib. Acara dalam kategori menghibur seperti sinetron religi, komedi situasi, musik religi, dll.

Acara dakwah bisa juga gabungan dari dua atau lebih kategori tersebut seperti memberi informasi sekaligus mendidik atau mempengaruhi, mendidik sekaligus menghibur, atau memberi informasi dan juga menghibur.

Kedua, Ketika dicermati beberapa acara dakwah ternyata aspek hiburannya, dalam bentuk lawakan, lebih mendominasi daripada aspek informasi atau pendidikan. Di sinilah kemudian terlihat pesan-peorsan dakwah tersisihkan oleh lawakan. Hal ini bisa dilihat dalam acara-acara sahur yang menampilkan para pelawak.

Sayangnya para pelawak kita masih membuat humor picisan seperti menghina fisik, mencela, melakukan kekerasan (sekalipun dengan barang yang tidak membahayakan seperti stereoform), atau melawak di luar konteks. Parahnya sang ustad sebagai pelengkap acara tersebut terlihat keteter tidak bisa mengimbangi lawakan tersebut atau sebaliknya ikut terbawa melakukan lawakan tersebut sekalipun tidak terlihat lucu. Disinilah kemudian istilah tuntunan jadi tontonan dan tontonan jadi tuntunan berlaku.

Terlepas dari berbagai kekurangan tersebut kita tentu wajib mengapresiasi kreativitas media untuk mengisi bulan Ramadan dengan suguhan yang religius. Beberapa tahun yang lalu MUI pernah menyelenggarakan penilaian dan penghargaan acara dakwah di televisi melalui MUI Award. MUI memberikan penghargaan bagi acara dakwah di televisi yang berkualitas. Sayangnya penghargaan tersebut sudah tidak ada lagi.

Ramadan telah usai, usia pula kebanyakan acara-acara dakwah di televisi tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bila sebuah acara dakwah baru muncul di bulan Ramadan bisa dipastikan setelah Ramadan acara tersebut akan kembali menghilang. Sebaliknya, bila acara tersebut telah ada sebelum bulan Ramadan, maka ia akan terus berlanjut sekalipun Ramadan telah berlalu.

Mungkin inilah sebabnya kita selalu merindukan bulan Ramadan. Selain kemeriahan suasana di rumah dan di masjid-masjid, bisa jadi disebabkan oleh televisi yang mendadak menjadi religius. Andai saja setiap bulan adalah Ramadan....

3 komentar:

  1. Ko really pack. .
    now just follow the trend of the entertainment world today, they just copied most pertelivisian, if the season so religion all religion, if the season of mystery, all television stations in unison followed.

    BalasHapus
  2. its not good. .
    but also our people need for elighttenment in media film. .!!
    T_T

    BalasHapus
  3. [...] Retrieved from : http://kanguwes.wordpress.com/2010/09/27/ke-mana-acara-dakwah-ramadan-di-tv/ [...]

    BalasHapus

Ke Mana Acara Dakwah Ramadan di TV?



Beragam acara televisi bernuansa Ramadan sedikit demi sedikit mulai menghilang dari layar kaca, tergantikan dengan wajah awalnya sebelum Ramadan. Menarik untuk disimak ternyata fenomena acara dakwah Ramadan di televisi dari tahun ke tahun selalu sama. Mendadak ramai dan kemudian menghilang seiring berlalunya Ramadan.


Dalam perkuliahan Jurnalisme Dakwah yang saya pegang muncul diskusi menarik tentang fenomena ini. Mahasiswa diminta untuk melakukan riset kecil-kecilan baik secara berkelompok maupun perorangan tentang acara dakwah di televisi pada bulan Ramadan. Hasilnya kemudian didiskusikan. Dalam diskusi mereka mengungkapkan beberapa temuan menarik.

Pertama, Bila kita membedah acara dakwah Ramadan di televisi dari kacamata fungsi jurnalisme maka kita bisa membuat empat kategori yaitu 1) memberikan informasi (to inform), 2) mendidik (to educate), 3) mempengaruhi (to influence) dan 4) menghibur (to entertain).

Acara dalam kategori memberi informasi seperti berita seputar Ramadan dari berbagai penjuru nusantara bahkan penjuru dunia. Acara dalam kategori mendidik atau mempengaruhi diantaranya ceramah keagamaan yang disiarkan langsung dari lokasi tertentu (tabligh akbar) atau ceramah menjelang berbuka puasa sebelum kumandang azan magrib. Acara dalam kategori menghibur seperti sinetron religi, komedi situasi, musik religi, dll.

Acara dakwah bisa juga gabungan dari dua atau lebih kategori tersebut seperti memberi informasi sekaligus mendidik atau mempengaruhi, mendidik sekaligus menghibur, atau memberi informasi dan juga menghibur.

Kedua, Ketika dicermati beberapa acara dakwah ternyata aspek hiburannya, dalam bentuk lawakan, lebih mendominasi daripada aspek informasi atau pendidikan. Di sinilah kemudian terlihat pesan-peorsan dakwah tersisihkan oleh lawakan. Hal ini bisa dilihat dalam acara-acara sahur yang menampilkan para pelawak.

Sayangnya para pelawak kita masih membuat humor picisan seperti menghina fisik, mencela, melakukan kekerasan (sekalipun dengan barang yang tidak membahayakan seperti stereoform), atau melawak di luar konteks. Parahnya sang ustad sebagai pelengkap acara tersebut terlihat keteter tidak bisa mengimbangi lawakan tersebut atau sebaliknya ikut terbawa melakukan lawakan tersebut sekalipun tidak terlihat lucu. Disinilah kemudian istilah tuntunan jadi tontonan dan tontonan jadi tuntunan berlaku.

Terlepas dari berbagai kekurangan tersebut kita tentu wajib mengapresiasi kreativitas media untuk mengisi bulan Ramadan dengan suguhan yang religius. Beberapa tahun yang lalu MUI pernah menyelenggarakan penilaian dan penghargaan acara dakwah di televisi melalui MUI Award. MUI memberikan penghargaan bagi acara dakwah di televisi yang berkualitas. Sayangnya penghargaan tersebut sudah tidak ada lagi.

Ramadan telah usai, usia pula kebanyakan acara-acara dakwah di televisi tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bila sebuah acara dakwah baru muncul di bulan Ramadan bisa dipastikan setelah Ramadan acara tersebut akan kembali menghilang. Sebaliknya, bila acara tersebut telah ada sebelum bulan Ramadan, maka ia akan terus berlanjut sekalipun Ramadan telah berlalu.

Mungkin inilah sebabnya kita selalu merindukan bulan Ramadan. Selain kemeriahan suasana di rumah dan di masjid-masjid, bisa jadi disebabkan oleh televisi yang mendadak menjadi religius. Andai saja setiap bulan adalah Ramadan....
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


3 komentar
  1. Ko really pack. .
    now just follow the trend of the entertainment world today, they just copied most pertelivisian, if the season so religion all religion, if the season of mystery, all television stations in unison followed.

    BalasHapus
  2. its not good. .
    but also our people need for elighttenment in media film. .!!
    T_T

    BalasHapus
  3. [...] Retrieved from : http://kanguwes.wordpress.com/2010/09/27/ke-mana-acara-dakwah-ramadan-di-tv/ [...]

    BalasHapus