Workshop Mendeley di UIN Ar-Raniry Aceh

Berbagi ilmu bersama dosen dan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh 2017

Tour de Merapi Yogyakarta 2017

Rombongan Tour Dosen dan Pegawai Administrasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 2017

Workshop OJS di UPI Tasikmalaya

Foto bersama pimpinan kampus UPI Tasikmalaya setelah Workshop OJS (Open Journal System) Juni 2017

Perpustakaan di Universitas Amerika

Pintu gerbang perpustakaan Davidsons Library UCSB, California Amerika Serikat.

Al Jam'iatul Washliyah Provinsi Jawa Barat

Kunjungan Pengurus Wilayah (PW) Al-Jam'iatul Washliyah ke Pengurus Daerah Al-Washiliyah Cirebon.

Senin, 13 Mei 2013

DI BALIK BENTROKAN AHMADIYAH DI TENJOWARINGIN TASIKMALAYA


Peristiwa pengrusakan tempat ibadah dan rumah tinggal jemaat Ahmadi di Wanasigra Tenjowaringin Salawu Tasikmalaya pada minggu dinihari (5/5) telah menuai banyak kecaman.  Gubernur Jawa Barat dan Presiden SBY tidak menyetujui kekerasan dalam menyelesaikan konflik Umat Islam - Ahmadiyah ini. Presiden SBY 3 hari setelah kejadian mentwit dalam akun Twitternya, @SBYudhoyono, agar semua kelompok baik Ahmadiyah maupun Umat Islam mematuhi kebijakan, saling tahan diri dan cegah kekerasan.

Aparat keamanan sebagai garda terdepan dalam menjaga situasi keamaan perlu didukung oleh semua pihak. Jemaat Ahmadiyah dan umat Islam perlu menahan diri masing-masing untuk tidak melanggar aturan. Kasus bentrokan yang terjadi di desa Tenjowaringin menjadi bukti bahwa umat Islam maupun jemaat Ahmadiyah sama-sama tidak bisa menahan diri. Umat Islam terpicu melakukan penyerangan karena sikap ngotot jemaat Ahmadiyah yang ingin terus menyelenggarakan  Jalsah Salanah (pertemuan anggota Ahmadiyah tahunan) se-Jawa Barat di Wanasigra yang dihadiri oleh lebih dari 1000 jemaat Ahmadi.

Bila ditelusuri, kasus penyerangan tersebut tidak terjadi secara spontan. Sebelumnya telah ada beberapa peristiwa serupa, namun tidak sampai terjadi penyerangan karena aparat telah terlebih dulu mampu mengatasinya. Penulis mengetahui hal ini karena selama satu tahun terakhir telah beberapa kali berkunjung ke Tenjowaringin mengadakan penelitian perihal pola komunikasi umat Islam dan jemaat Ahmadiyah. Beberapa tokoh Ahmadiyah dan tokoh umat Islam pernah penulis temui dan wawancarai. Penulis pernah ikut shalat Jum'at baik di masjid Ahmadiyah maupun di masjid NU.

Basis Ahmadiyah

Berdasarkan kondisi geografis, desa Tenjowaringin berada di perbatasan antara Tasikmalaya dan Garut. Sejak tahun 1960-an desa ini telah dikenal sebagai basis Ahmadiyah terbesar di Tasikmalaya. Warga Ahmadiyah mencapai 80 persen dari 4.500 warga. Wilayah Desa Tenjowaringin meliputi lima dusun: Wanasigra, Citeguh, Sukasari, Cigunung Tilu dan Ciomas.  Wanasigra yang malam minggu kemarin mengalami penyerangan, 95  persen warganya jemaat ahmadiyah. Dusun ini merupakan pusat utama dan pertama penyebaran Ahmadiyah dengan tokohnya Ajengan Ejen, imam masjid al-Fadhal Wanasigra. Di Dusun ini pula cabang pertama Ahmadiyah di Tenjowaringin berdiri. Bahkan Khalifah Ahmadiyah IV Mirza Thahir Ahmad tahun 2000 pernah berkunjung untuk meresmikan SMU Plus al-Wahid milik Ahmadiyah.

Sedangkan di Dusun Citeguh, lokasi dimana masjid Baitus Subhan dirusak massa, jumlah jemaat Ahmadiyah sekitar 75 persen. Hal yang sama juga di Dusun Sukasari dan Cigunung Tilu  yang warga Ahmadinya lebih dari setengah jumlah penduduk. Hanya di kampung Ciomas Ahmadiyah menjadi minoritas yaitu sekitar lima persen.

Selama satu tahun meneliti, secara kasat mata penulis tidak melihat ada masalah dalam interaksi sosial masyarakat. Komunikasi di antara warga Ahmadi dan non-Ahmadi tidak menampakkan adanya konflik. Bulan Agustus tahun kemarin penulis menyaksikan riuhnya pertandingan bola voli antar dusun dalam rangka menyambut kemerdekaan RI. Tidak ada gejolak sedikit pun di antara warga. Demikian juga pada Bulan April kemarin, pemilihan kepala desa berlangsung secara damai. Dari empat kandidat, tiga orang berasal dari warga Ahmadi dan satu orang non-Ahmadi. Jumlah suara terbesar diperoleh calon dari jemaat Ahmadi, diikuti calon dari warga non-Ahmadi.

IMG-20120715-00745
Pertandingan Bola Voli antar Kampung di Desa Tenjowaringin Juli 2012

Bara dalam Sekam

Berbeda dengan komunikasi sosial, komunikasi kehidupan beragama warga di desa Tenjowaringin cukup  riskan. Banyak potensi konflik yang terpendam seperti bara dalam sekam. Polarisasi masjid misalnya. Masjid dipisah antara masjid Ahmadi dan masjid non-ahmadi. Jemaat Ahmadi menolak untuk shalat di masjid bukan Ahmadi, demikian juga sebaliknya. Aturan Ahmadiyah yang melarang bermakmum kepada selain Ahmadi menjadi penyebab terciptanya polarisasi masjid ini. Karena hal itu pula, di dusun tertentu yang hanya ada masjid Ahmadi, warga NU harus pergi ke daerah Garut untuk sekedar menjalankan shalat Jum’at.

Tahun 2009 warga NU mendirikan masjid al-Aqsha di Patrol Dusun Sukasari. Kepala Desa Tenjowaringin yang penganut Ahmadi menolak memberikan rekomendasi sekalipun semua persyaratan terpenuhi. Berkat dukungan MUI desa dan pemerintah kecamatan Salawu, masjid ini bisa berdiri dan mengantongi izin dari dari Kementerian Agama.

Masjid al-Aqsha sering mengadakan kegiatan pengajian dan tabligh akbar dengan mengundang mubaligh dari luar Tenjowaringin. Pesan-pesan dakwah dalam pengajian tersebut terbilang cukup keras, banyak mengungkapkan kesesatan ajaran Ahmadiyah yang membuat merah telinga jemaat. Seringkali ketika berlangsung pengajian, beberapa warga Ahmadi menjauh. Esoknya muncul ketegangan antara jemaat Ahmadi dengan jemaat al-Aqsha.

20120708_102648
Pengajian Mingguan Ibu-ibu di Masjid Al-Aqsha

Kegiatan keagamaan cukup aktif dilakukan oleh jemaat Ahmadi di masjid mereka. Tidak ada upaya penutupan secara paksa terhadap masjid Ahmadi di Desa Tenjowaringin seperti yang terjadi daerah-daerah lain. Jemaat cukup tenang untuk melaksakanan ibadah ritual mereka. Dari Masjid Ahmadi seringkali terdengar kumandang azan ketika waktu shalat. Selebihnya suara ceramah atau pengajian hanya terdengar di dalam masjid.

Dalam satu tahun terakhir masjid Ahmadi telah banyak bertambah di desa ini. Beberapa  di antara masjid jemaat bahkan ada yang mengalami pemugaran sehingga lebih luas dan lebih indah seperti masjid di Muringis dan Sukasari. Sekalipun aparat kepolisian sudah meminta jemaat untuk menghentikan pembangunan masjid tersebut, mereka terus membangunnya. Kasus pembangunan masjid Ahmadiyah ini pernah memicu penyerangan. Namun kemudian tidak terjadi.
IMG-20121005-00807

Suasana Damai Masjid Ahmadi Sukasari setelah Jum'atan

Komunikasi Konteks Rendah

Ketika diamati secara mendalam komunikasi antara jemaat Ahmadi dan non-Ahmadi di Tenjowaringin berlangsung dalam kategori komunikasi konteks rendah. Mengikuti pendapat Edward T. Hall dalam bukunya Beyond Culture (1976) komunikasi dibedakan antara konteks tinggi dan konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi berisi pesan yang bersifat implisit, tidak langsung  dan tidak terus terang. Sedangkan komunikasi  konteks-rendah ditandai dengan pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas dan berterus terang. Dalam komunikasi konteks tinggi ketidaksetujuan seringkali disamarkan sehingga tidak menjadi konflik terbuka. Sebaliknya dalam komunikasi konteks rendah ketidaksetujuan diungkapkan secara vulgar dan berakhir dengan perselisihan.

Warga Ahmadi dan non-Ahmadi Ketika mereka memperdebatkan tentang ajaran Ahmadiyah sering mengungkapkan dengan bahasa langsung (they say what they mean). Mereka saling menuding dengan intonasi bicara yang tinggi.  Ketika muncul perbedaan pendapat seringkali berakhir dengan perselisihan karena kedua-duanya mempertahankan pendapat masing-masing (they mean what they way).

Hal ini bisa dilihat dalam peristiwa penyerangan minggu kemarin. Warga Ahmadiyah yang ingin menyelenggarakan kegiatan tahunan organisasinya menolak dengan cara lugas permintaan masyarakat dan aparat kepolisian untuk menghentikan kegiatan mereka. Mereka berargumen itu hak mereka dalam beragama yang dilindungi oleh Undang-Undang. Sebaliknya umat Islam  juga terus menekan jemaat agar tidak melanjutkan aktivitas keagamaan mereka yang dianggap menyebarkan ajaran sesat karena itu melanggar SKB tiga menteri dan Peraturan Gubernur Jawa Barat.

Dengan situasi seperti itu memang sulit untuk menciptakan suasana keamaan yang permanen. Kejadian bentrokan seperti minggu dinihari akan mudah terulang kembali bila tidak ada kesadaran dari seluruh pihak untuk mentaati aturan dan hukum sebagaimana yang disarankan Presiden SBY. Secara pribadi saya tidak berharap konflik seperti ini kembali terulang baik di Tenjowaringin maupun di lokasi lain.. Wallahu a’lam

Salam

kanguwes.nazuka.net

Selasa, 30 April 2013

Yuk dukung Aplikasi Android Buatan UIN Bandung!





Oleh Uwes Fatoni. Tadi malam ketika saya sedang ngoprek tampilan Google play yang baru tanpa sengaja di layar tablet saya muncul aplikasi-aplikasi populer buatan lokal "Popular in your area" tulisannya. Wah benar-benar menarik nih. Tanpa susah payah saya bisa mengecek beberapa aplikasi yang direkomendasikan oleh Google Play.

Tidak sengaja juga mata saya tertarik pada sebuah aplikasi bergambar kaligrafi orang shalat. Nama aplikasinya "Tuntunan Shalat". Ketika saya buka deskripsi pertamanya membuat saya tersenyum gembira. "Application is made by a graduate student in UIN Bandung. Wah anak UIN Bandung ternyata sudah bisa buat aplikasi android. Tercantum Developer pembuatnya bernama LABKOMIF UIN Bandung. dengan alamat visit webpage http://www.uinsgd.ac.id/home. Saya yakin pasti yang membuat anak-anak Lab komputer Fakultas Saintek Jurusan Teknik Informatika. Coba saya cek di website resmi kampus adakah penjelasan tentang aplikasi ini, Sayang kampus sendiri tidak memberikan informasinya.

LABKOMIF UIN Bandung paling sudah menciptakan 5 aplikasi yaitu : Tuntunan Shalat, Halo Pangandaran, Agent Travel Bandung, Password Documents dan Tabpage Indicator Sample. Aplikasi terakhir sepertinya aplikasi coba-coba. Saya sangat mendukung sekali pembuatan aplikasi ini, karena ini menandakan bahwa UIN Bandung sudah bisa masuk dan terlibat dalam Teknologi Infomasi tingkat Global. Siapapun bisa mengdownload dan menginstall aplikasi android ini diseluruh dunia.

Tapi jangan dulu bangga, ternyata bukan hanya UIN Bandung yang sudah masuk dunia permainan Google ini. Sebelumnya tiga mahasiswa UIN Syarif hidayatullah telah berhasil membuat aplikasi android bernama "sharee-sharia economics education" bekerjasama dengan Lingkar Studi Ekonomi Syariah (Lisensi) sebagai aplikasi ekonomi syariah pertama di Indonesia. Ada juga aplikasi mahasiswa UIN Suska bernama "Latin Names of Plants", aplikasi tentang pembelajaran biologi. Namun sayang keduanya tidak mendapat dukungan seperti aplikasi buatan UIN Bandung. Aplikasi sharee hanya mendapat 39 bintang 5 dari total 45 komentator. sedangkan "Latin Names of Plants" tidak ada yang mengomentar dan memberi rating satu orang pun.Jadi saya pikir Aplikasi Tuntunan shalat perlu mendapat perhatian dan terus dipromosikan.

Kalau melihat tanggal upload aplikasi "Tuntunan Shalat" ini tercantum 13 Maret 2013. Ini artinya telah lebih dari satu bulan aplikasi dengan ukuran 9,97 MB ini nongol di Google Play. Terakhir rata-rata ratingnya mendapat point 4,7 dari 324 komentator. Yang memberi bintang 5 ada 266 orang termasuk saya salah satunya. hehe...  Namun ada juga yang memberi rating rendah 1 bintang dari 5 orang dan 2 bintang dari 7 orang.

Kebanyakan komentar yang memberi bintang 5 menyebut aplikasi tersebut awesome, good, bagus, berguna banget, alus euy. Mungkin para komentator ini masih anak-anak UIN Bandung yang surprise dengan aplikasi buatan dari kampus cibiru ini. Namun, aplikasi ini tidak lepas dari kritik juga. Disebutkan oleh komentator yang memberi bintang 1 "Ada terjemahan doa iftitah yang salah dan melenceng." Tidak aneh bila kemudian mereka meminta segera ada perbaikan. Menurut mereka makna yang salah dalam pembelajaran shalat akan salah juga bila dipraktekkan dan ini akan mempengaruhi nilai shalat orang yang mempraktekkannya. Bahkan salah seorang komentator "Riski Saputra" memberi sindiran keras  "Sanggupkah anda menanggung dosanya? Andai tidak sanggup memperbaiki, lebih baik cabut dari peredaran."

Saya kira aplikasi ini memang perlu segera diperbaiki dengan versi-versi perbaikan selanjutnya. Perlu kehati-hatian dalam pembuatan aplikasi keagamaan. Harus ada pengecekan terlebih dahulu oleh ahli fikih yang kompeten. Saya kira di UIN Bandung sangat banyak dosen maupun profesor bidangnya yang bersedia mengecek terlebih dahulu aplikasi tersebut.

Kebanggaan ini tentu harus terus ditumbuhkan di kalangan civitas akademik UIN Bandung. Perlu kerjasama untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi keislaman bidang lainnya, termasuk dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi tempat saya mengabdi. Dan yang lebih penting lagi ayo dukung aplikasi ini dengan mendownload dan memberinya komentar konstruktif. PUSINFOKOM UIN SGD BANDUNG, kang Ibnu, Kang Dudi promosikan dong aplikasi ini, minimal di website resmi kampus.

Kalau bukan kita siapa lagi yang mendukung. Kalau bukan sekarang kapan lagi kita bisa bangga dengan kampus sendiri. Maju terus LABKOMIF UIN Bandung.

Kalau mau mengunduh Ini alamat aplikasinya di Google Play

Salam,

kanguwes.com

Jumat, 19 April 2013

Suka Duka Jadi Pengawas UN (4) Protes Honor



1366341710658382857

Pengalaman Pengawas UN Tingkat Satuan Pendidikan Kejar Paket C di Kota Bandung

Pengalaman Duka terakhir berkaitan dengan honor sebagai pengawas satuan. Melihat judul tulisan anda pasti sudah memperkirakan kemana arah tulisan ini. Namun, terlebih dahulu saya perlu menginformasikan bahwa saya dan teman-teman pengawas Paket C di Kota Bandung bukan mempermasalahkan uang tapi kami lebih memperhatikan rasa keadilan kami yang dilanggar oleh panitia UN tingkat Kota Bandung dan Provinsi.

Suka Duka Jadi Pengawas UN (3) Dari Gotong Soal Sampai Tanda Tangan


13663366981240712486


Pengalaman Pengawas UN Tingkat Satuan Pendidikan Kejar Paket C di Kota Bandung

Pengalaman duka Kedua dalam kegiatan UN kemarin adalah pengalaman sebagai pengawas itu sendiri. Pengawas UN itu ada 2, pengawas satuan pendidikan yang berasal dari Perguruan tinggi dan Pengawas Ruang yang berasal dari guru. Dalam kegiatan kemarin tugas saya adalah sebagai pengawas satuan pendidikan dari Perguruan Tinggi atau dulu disebut pengawas independen (lihat dalam Suka Duka Jadi Pengawas UN 1). Pengalaman saya menjadi pengawas UN 2 tahun yang lalu, sangat jauh berbeda dengan pengalaman kemarin. Salah satu hal yang menjadi perbedaan signifikannya tahun ini pengawas satuan pendidikan bukan hanya pengawas tapi juga menjadi bagian panitia pelaksanaan UN.

Suka Duka Jadi Pengawas UN (2) Rahasia Kode Soal

13663074111991193406

Pengalaman Duka yang pertama yang saya alami selama menjadi pengawas UN Kejar Paket C satuan pendidikan kemarin adalah tentang Naskah Soal.

Sebagaimana disebutkan dalam catatan saya terdahulu (lihat Suka Duka Jadi Pengawas UN (1)) peserta UN Kejar Paket C harus menyelesaikan ujian 7 mata pelajaran dalam waktu 4 hari. Tiga  hari pertama banyak diantara mereka yang sudah keluar dari ruangan sekalipun waktu yang tersisa masih 30 menit lagi. Hal ini terutama terjadi pada ujian jam kedua (pukul 16.00-18.00) dimana kondisi fisik mereka sudah lelah. Pagi hari kerja atau berkumpul di PKBM untuk persiapan,  dan siang hari ikut ujian.

Suka Duka Jadi Pengawas UN (1)

13663018441057294388

Pengalaman Pengawas UN Tingkat Satuan Pendidikan Kejar Paket C di Kota Bandung

Alhamdulilah, baru saja tadi sore saya menyelesaikan amanah dari Panitia UN tingkat SMA/MA/SMK menjadi pengawas tingkat satuan atau yang dulu dikenal sebagai pengawas independen dari Perguruan Tinggi. Hanya 18 dosen UIN SGD Bandung yang disetujui menjadi pengawas UN tahun ini. Pengawas satuan pendidikan ini dibagi menjadi 3 kelompok : pengawas SMA, SMK dan Kejar Paket C. Saya sendiri ditugasi menjadi  pengawas UN Paket C. Suka duka yang saya alami 4 hari kemarin ingin saya bagi dengan pembaca.

Kamis, 18 April 2013

ULANG TAHUN AL-QURAN

Oleh: Uwes Fatoni, M.Ag



Setiap tanggal 17 Ramadhan kita senantiasa memperingati hari ulang tahun Alquran yang dikenal dengan nuzulul Quran atau hari diturunkannya Alquran. Peringatan nuzulul Quran ini didasarkan pada firman Allah : “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Alquran…” (QS. al-Baqarah [2] : 185)

DI BALIK BENTROKAN AHMADIYAH DI TENJOWARINGIN TASIKMALAYA

Peristiwa pengrusakan tempat ibadah dan rumah tinggal jemaat Ahmadi di Wanasigra Tenjowaringin Salawu Tasikmalaya pada minggu dinihari (5/5) telah menuai banyak kecaman.  Gubernur Jawa Barat dan Presiden SBY tidak menyetujui kekerasan dalam menyelesaikan konflik Umat Islam - Ahmadiyah ini. Presiden SBY 3 hari setelah kejadian mentwit dalam akun Twitternya, @SBYudhoyono, agar semua kelompok baik Ahmadiyah maupun Umat Islam mematuhi kebijakan, saling tahan diri dan cegah kekerasan.

Aparat keamanan sebagai garda terdepan dalam menjaga situasi keamaan perlu didukung oleh semua pihak. Jemaat Ahmadiyah dan umat Islam perlu menahan diri masing-masing untuk tidak melanggar aturan. Kasus bentrokan yang terjadi di desa Tenjowaringin menjadi bukti bahwa umat Islam maupun jemaat Ahmadiyah sama-sama tidak bisa menahan diri. Umat Islam terpicu melakukan penyerangan karena sikap ngotot jemaat Ahmadiyah yang ingin terus menyelenggarakan  Jalsah Salanah (pertemuan anggota Ahmadiyah tahunan) se-Jawa Barat di Wanasigra yang dihadiri oleh lebih dari 1000 jemaat Ahmadi.

Bila ditelusuri, kasus penyerangan tersebut tidak terjadi secara spontan. Sebelumnya telah ada beberapa peristiwa serupa, namun tidak sampai terjadi penyerangan karena aparat telah terlebih dulu mampu mengatasinya. Penulis mengetahui hal ini karena selama satu tahun terakhir telah beberapa kali berkunjung ke Tenjowaringin mengadakan penelitian perihal pola komunikasi umat Islam dan jemaat Ahmadiyah. Beberapa tokoh Ahmadiyah dan tokoh umat Islam pernah penulis temui dan wawancarai. Penulis pernah ikut shalat Jum'at baik di masjid Ahmadiyah maupun di masjid NU.

Basis Ahmadiyah

Berdasarkan kondisi geografis, desa Tenjowaringin berada di perbatasan antara Tasikmalaya dan Garut. Sejak tahun 1960-an desa ini telah dikenal sebagai basis Ahmadiyah terbesar di Tasikmalaya. Warga Ahmadiyah mencapai 80 persen dari 4.500 warga. Wilayah Desa Tenjowaringin meliputi lima dusun: Wanasigra, Citeguh, Sukasari, Cigunung Tilu dan Ciomas.  Wanasigra yang malam minggu kemarin mengalami penyerangan, 95  persen warganya jemaat ahmadiyah. Dusun ini merupakan pusat utama dan pertama penyebaran Ahmadiyah dengan tokohnya Ajengan Ejen, imam masjid al-Fadhal Wanasigra. Di Dusun ini pula cabang pertama Ahmadiyah di Tenjowaringin berdiri. Bahkan Khalifah Ahmadiyah IV Mirza Thahir Ahmad tahun 2000 pernah berkunjung untuk meresmikan SMU Plus al-Wahid milik Ahmadiyah.

Sedangkan di Dusun Citeguh, lokasi dimana masjid Baitus Subhan dirusak massa, jumlah jemaat Ahmadiyah sekitar 75 persen. Hal yang sama juga di Dusun Sukasari dan Cigunung Tilu  yang warga Ahmadinya lebih dari setengah jumlah penduduk. Hanya di kampung Ciomas Ahmadiyah menjadi minoritas yaitu sekitar lima persen.

Selama satu tahun meneliti, secara kasat mata penulis tidak melihat ada masalah dalam interaksi sosial masyarakat. Komunikasi di antara warga Ahmadi dan non-Ahmadi tidak menampakkan adanya konflik. Bulan Agustus tahun kemarin penulis menyaksikan riuhnya pertandingan bola voli antar dusun dalam rangka menyambut kemerdekaan RI. Tidak ada gejolak sedikit pun di antara warga. Demikian juga pada Bulan April kemarin, pemilihan kepala desa berlangsung secara damai. Dari empat kandidat, tiga orang berasal dari warga Ahmadi dan satu orang non-Ahmadi. Jumlah suara terbesar diperoleh calon dari jemaat Ahmadi, diikuti calon dari warga non-Ahmadi.

IMG-20120715-00745
Pertandingan Bola Voli antar Kampung di Desa Tenjowaringin Juli 2012

Bara dalam Sekam

Berbeda dengan komunikasi sosial, komunikasi kehidupan beragama warga di desa Tenjowaringin cukup  riskan. Banyak potensi konflik yang terpendam seperti bara dalam sekam. Polarisasi masjid misalnya. Masjid dipisah antara masjid Ahmadi dan masjid non-ahmadi. Jemaat Ahmadi menolak untuk shalat di masjid bukan Ahmadi, demikian juga sebaliknya. Aturan Ahmadiyah yang melarang bermakmum kepada selain Ahmadi menjadi penyebab terciptanya polarisasi masjid ini. Karena hal itu pula, di dusun tertentu yang hanya ada masjid Ahmadi, warga NU harus pergi ke daerah Garut untuk sekedar menjalankan shalat Jum’at.

Tahun 2009 warga NU mendirikan masjid al-Aqsha di Patrol Dusun Sukasari. Kepala Desa Tenjowaringin yang penganut Ahmadi menolak memberikan rekomendasi sekalipun semua persyaratan terpenuhi. Berkat dukungan MUI desa dan pemerintah kecamatan Salawu, masjid ini bisa berdiri dan mengantongi izin dari dari Kementerian Agama.

Masjid al-Aqsha sering mengadakan kegiatan pengajian dan tabligh akbar dengan mengundang mubaligh dari luar Tenjowaringin. Pesan-pesan dakwah dalam pengajian tersebut terbilang cukup keras, banyak mengungkapkan kesesatan ajaran Ahmadiyah yang membuat merah telinga jemaat. Seringkali ketika berlangsung pengajian, beberapa warga Ahmadi menjauh. Esoknya muncul ketegangan antara jemaat Ahmadi dengan jemaat al-Aqsha.

20120708_102648
Pengajian Mingguan Ibu-ibu di Masjid Al-Aqsha

Kegiatan keagamaan cukup aktif dilakukan oleh jemaat Ahmadi di masjid mereka. Tidak ada upaya penutupan secara paksa terhadap masjid Ahmadi di Desa Tenjowaringin seperti yang terjadi daerah-daerah lain. Jemaat cukup tenang untuk melaksakanan ibadah ritual mereka. Dari Masjid Ahmadi seringkali terdengar kumandang azan ketika waktu shalat. Selebihnya suara ceramah atau pengajian hanya terdengar di dalam masjid.

Dalam satu tahun terakhir masjid Ahmadi telah banyak bertambah di desa ini. Beberapa  di antara masjid jemaat bahkan ada yang mengalami pemugaran sehingga lebih luas dan lebih indah seperti masjid di Muringis dan Sukasari. Sekalipun aparat kepolisian sudah meminta jemaat untuk menghentikan pembangunan masjid tersebut, mereka terus membangunnya. Kasus pembangunan masjid Ahmadiyah ini pernah memicu penyerangan. Namun kemudian tidak terjadi.
IMG-20121005-00807

Suasana Damai Masjid Ahmadi Sukasari setelah Jum'atan

Komunikasi Konteks Rendah

Ketika diamati secara mendalam komunikasi antara jemaat Ahmadi dan non-Ahmadi di Tenjowaringin berlangsung dalam kategori komunikasi konteks rendah. Mengikuti pendapat Edward T. Hall dalam bukunya Beyond Culture (1976) komunikasi dibedakan antara konteks tinggi dan konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi berisi pesan yang bersifat implisit, tidak langsung  dan tidak terus terang. Sedangkan komunikasi  konteks-rendah ditandai dengan pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas dan berterus terang. Dalam komunikasi konteks tinggi ketidaksetujuan seringkali disamarkan sehingga tidak menjadi konflik terbuka. Sebaliknya dalam komunikasi konteks rendah ketidaksetujuan diungkapkan secara vulgar dan berakhir dengan perselisihan.

Warga Ahmadi dan non-Ahmadi Ketika mereka memperdebatkan tentang ajaran Ahmadiyah sering mengungkapkan dengan bahasa langsung (they say what they mean). Mereka saling menuding dengan intonasi bicara yang tinggi.  Ketika muncul perbedaan pendapat seringkali berakhir dengan perselisihan karena kedua-duanya mempertahankan pendapat masing-masing (they mean what they way).

Hal ini bisa dilihat dalam peristiwa penyerangan minggu kemarin. Warga Ahmadiyah yang ingin menyelenggarakan kegiatan tahunan organisasinya menolak dengan cara lugas permintaan masyarakat dan aparat kepolisian untuk menghentikan kegiatan mereka. Mereka berargumen itu hak mereka dalam beragama yang dilindungi oleh Undang-Undang. Sebaliknya umat Islam  juga terus menekan jemaat agar tidak melanjutkan aktivitas keagamaan mereka yang dianggap menyebarkan ajaran sesat karena itu melanggar SKB tiga menteri dan Peraturan Gubernur Jawa Barat.

Dengan situasi seperti itu memang sulit untuk menciptakan suasana keamaan yang permanen. Kejadian bentrokan seperti minggu dinihari akan mudah terulang kembali bila tidak ada kesadaran dari seluruh pihak untuk mentaati aturan dan hukum sebagaimana yang disarankan Presiden SBY. Secara pribadi saya tidak berharap konflik seperti ini kembali terulang baik di Tenjowaringin maupun di lokasi lain.. Wallahu a’lam

Salam

kanguwes.nazuka.net
Yuk dukung Aplikasi Android Buatan UIN Bandung!




Oleh Uwes Fatoni. Tadi malam ketika saya sedang ngoprek tampilan Google play yang baru tanpa sengaja di layar tablet saya muncul aplikasi-aplikasi populer buatan lokal "Popular in your area" tulisannya. Wah benar-benar menarik nih. Tanpa susah payah saya bisa mengecek beberapa aplikasi yang direkomendasikan oleh Google Play.

Tidak sengaja juga mata saya tertarik pada sebuah aplikasi bergambar kaligrafi orang shalat. Nama aplikasinya "Tuntunan Shalat". Ketika saya buka deskripsi pertamanya membuat saya tersenyum gembira. "Application is made by a graduate student in UIN Bandung. Wah anak UIN Bandung ternyata sudah bisa buat aplikasi android. Tercantum Developer pembuatnya bernama LABKOMIF UIN Bandung. dengan alamat visit webpage http://www.uinsgd.ac.id/home. Saya yakin pasti yang membuat anak-anak Lab komputer Fakultas Saintek Jurusan Teknik Informatika. Coba saya cek di website resmi kampus adakah penjelasan tentang aplikasi ini, Sayang kampus sendiri tidak memberikan informasinya.

LABKOMIF UIN Bandung paling sudah menciptakan 5 aplikasi yaitu : Tuntunan Shalat, Halo Pangandaran, Agent Travel Bandung, Password Documents dan Tabpage Indicator Sample. Aplikasi terakhir sepertinya aplikasi coba-coba. Saya sangat mendukung sekali pembuatan aplikasi ini, karena ini menandakan bahwa UIN Bandung sudah bisa masuk dan terlibat dalam Teknologi Infomasi tingkat Global. Siapapun bisa mengdownload dan menginstall aplikasi android ini diseluruh dunia.

Tapi jangan dulu bangga, ternyata bukan hanya UIN Bandung yang sudah masuk dunia permainan Google ini. Sebelumnya tiga mahasiswa UIN Syarif hidayatullah telah berhasil membuat aplikasi android bernama "sharee-sharia economics education" bekerjasama dengan Lingkar Studi Ekonomi Syariah (Lisensi) sebagai aplikasi ekonomi syariah pertama di Indonesia. Ada juga aplikasi mahasiswa UIN Suska bernama "Latin Names of Plants", aplikasi tentang pembelajaran biologi. Namun sayang keduanya tidak mendapat dukungan seperti aplikasi buatan UIN Bandung. Aplikasi sharee hanya mendapat 39 bintang 5 dari total 45 komentator. sedangkan "Latin Names of Plants" tidak ada yang mengomentar dan memberi rating satu orang pun.Jadi saya pikir Aplikasi Tuntunan shalat perlu mendapat perhatian dan terus dipromosikan.

Kalau melihat tanggal upload aplikasi "Tuntunan Shalat" ini tercantum 13 Maret 2013. Ini artinya telah lebih dari satu bulan aplikasi dengan ukuran 9,97 MB ini nongol di Google Play. Terakhir rata-rata ratingnya mendapat point 4,7 dari 324 komentator. Yang memberi bintang 5 ada 266 orang termasuk saya salah satunya. hehe...  Namun ada juga yang memberi rating rendah 1 bintang dari 5 orang dan 2 bintang dari 7 orang.

Kebanyakan komentar yang memberi bintang 5 menyebut aplikasi tersebut awesome, good, bagus, berguna banget, alus euy. Mungkin para komentator ini masih anak-anak UIN Bandung yang surprise dengan aplikasi buatan dari kampus cibiru ini. Namun, aplikasi ini tidak lepas dari kritik juga. Disebutkan oleh komentator yang memberi bintang 1 "Ada terjemahan doa iftitah yang salah dan melenceng." Tidak aneh bila kemudian mereka meminta segera ada perbaikan. Menurut mereka makna yang salah dalam pembelajaran shalat akan salah juga bila dipraktekkan dan ini akan mempengaruhi nilai shalat orang yang mempraktekkannya. Bahkan salah seorang komentator "Riski Saputra" memberi sindiran keras  "Sanggupkah anda menanggung dosanya? Andai tidak sanggup memperbaiki, lebih baik cabut dari peredaran."

Saya kira aplikasi ini memang perlu segera diperbaiki dengan versi-versi perbaikan selanjutnya. Perlu kehati-hatian dalam pembuatan aplikasi keagamaan. Harus ada pengecekan terlebih dahulu oleh ahli fikih yang kompeten. Saya kira di UIN Bandung sangat banyak dosen maupun profesor bidangnya yang bersedia mengecek terlebih dahulu aplikasi tersebut.

Kebanggaan ini tentu harus terus ditumbuhkan di kalangan civitas akademik UIN Bandung. Perlu kerjasama untuk mengembangkan aplikasi-aplikasi keislaman bidang lainnya, termasuk dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi tempat saya mengabdi. Dan yang lebih penting lagi ayo dukung aplikasi ini dengan mendownload dan memberinya komentar konstruktif. PUSINFOKOM UIN SGD BANDUNG, kang Ibnu, Kang Dudi promosikan dong aplikasi ini, minimal di website resmi kampus.

Kalau bukan kita siapa lagi yang mendukung. Kalau bukan sekarang kapan lagi kita bisa bangga dengan kampus sendiri. Maju terus LABKOMIF UIN Bandung.

Kalau mau mengunduh Ini alamat aplikasinya di Google Play

Salam,

kanguwes.com


1366341710658382857

Pengalaman Pengawas UN Tingkat Satuan Pendidikan Kejar Paket C di Kota Bandung

Pengalaman Duka terakhir berkaitan dengan honor sebagai pengawas satuan. Melihat judul tulisan anda pasti sudah memperkirakan kemana arah tulisan ini. Namun, terlebih dahulu saya perlu menginformasikan bahwa saya dan teman-teman pengawas Paket C di Kota Bandung bukan mempermasalahkan uang tapi kami lebih memperhatikan rasa keadilan kami yang dilanggar oleh panitia UN tingkat Kota Bandung dan Provinsi.

13663366981240712486


Pengalaman Pengawas UN Tingkat Satuan Pendidikan Kejar Paket C di Kota Bandung

Pengalaman duka Kedua dalam kegiatan UN kemarin adalah pengalaman sebagai pengawas itu sendiri. Pengawas UN itu ada 2, pengawas satuan pendidikan yang berasal dari Perguruan tinggi dan Pengawas Ruang yang berasal dari guru. Dalam kegiatan kemarin tugas saya adalah sebagai pengawas satuan pendidikan dari Perguruan Tinggi atau dulu disebut pengawas independen (lihat dalam Suka Duka Jadi Pengawas UN 1). Pengalaman saya menjadi pengawas UN 2 tahun yang lalu, sangat jauh berbeda dengan pengalaman kemarin. Salah satu hal yang menjadi perbedaan signifikannya tahun ini pengawas satuan pendidikan bukan hanya pengawas tapi juga menjadi bagian panitia pelaksanaan UN.
13663074111991193406

Pengalaman Duka yang pertama yang saya alami selama menjadi pengawas UN Kejar Paket C satuan pendidikan kemarin adalah tentang Naskah Soal.

Sebagaimana disebutkan dalam catatan saya terdahulu (lihat Suka Duka Jadi Pengawas UN (1)) peserta UN Kejar Paket C harus menyelesaikan ujian 7 mata pelajaran dalam waktu 4 hari. Tiga  hari pertama banyak diantara mereka yang sudah keluar dari ruangan sekalipun waktu yang tersisa masih 30 menit lagi. Hal ini terutama terjadi pada ujian jam kedua (pukul 16.00-18.00) dimana kondisi fisik mereka sudah lelah. Pagi hari kerja atau berkumpul di PKBM untuk persiapan,  dan siang hari ikut ujian.
13663018441057294388

Pengalaman Pengawas UN Tingkat Satuan Pendidikan Kejar Paket C di Kota Bandung

Alhamdulilah, baru saja tadi sore saya menyelesaikan amanah dari Panitia UN tingkat SMA/MA/SMK menjadi pengawas tingkat satuan atau yang dulu dikenal sebagai pengawas independen dari Perguruan Tinggi. Hanya 18 dosen UIN SGD Bandung yang disetujui menjadi pengawas UN tahun ini. Pengawas satuan pendidikan ini dibagi menjadi 3 kelompok : pengawas SMA, SMK dan Kejar Paket C. Saya sendiri ditugasi menjadi  pengawas UN Paket C. Suka duka yang saya alami 4 hari kemarin ingin saya bagi dengan pembaca.

Oleh: Uwes Fatoni, M.Ag



Setiap tanggal 17 Ramadhan kita senantiasa memperingati hari ulang tahun Alquran yang dikenal dengan nuzulul Quran atau hari diturunkannya Alquran. Peringatan nuzulul Quran ini didasarkan pada firman Allah : “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Alquran…” (QS. al-Baqarah [2] : 185)