Jumat, 19 April 2013

Suka Duka Jadi Pengawas UN (2) Rahasia Kode Soal

13663074111991193406

Pengalaman Duka yang pertama yang saya alami selama menjadi pengawas UN Kejar Paket C satuan pendidikan kemarin adalah tentang Naskah Soal.

Sebagaimana disebutkan dalam catatan saya terdahulu (lihat Suka Duka Jadi Pengawas UN (1)) peserta UN Kejar Paket C harus menyelesaikan ujian 7 mata pelajaran dalam waktu 4 hari. Tiga  hari pertama banyak diantara mereka yang sudah keluar dari ruangan sekalipun waktu yang tersisa masih 30 menit lagi. Hal ini terutama terjadi pada ujian jam kedua (pukul 16.00-18.00) dimana kondisi fisik mereka sudah lelah. Pagi hari kerja atau berkumpul di PKBM untuk persiapan,  dan siang hari ikut ujian.

Keunikan soal UN tahun 2013 adalah kode soal yang mencapai jumlah 20. Bahkan menurut Bu Theresia (Kabid Pendidikan formal dan Nonformal Disdik Kota Bandung yang sedang monev ke lokasi saya)  jumlah kode soal mencapai 30. Ini berarti dalam satu ruangan kelas yang terdiri atas 20 peserta, masing-masing peserta mendapatkan soal yang berbeda, sehingga mungkin dalam pandangan kementrian pendidikan hal itu bisa menghindari kecurangan, seperti siswa mencontek atau mendapatkan bocoran.

Berdasarkan informasi dari peserta banyak diantara mereka yang mendapatkan sms gelap yang berisi jawaban UN.  Sekalipun sms tersebut banyak bertebaran, namun tidak ada satupun yang mereka percayai. Bila benar itu jawabannya, berarti pengirim sms itu harus mengirim 800 jawaban untuk satu mata ujian (20 kode x 40 soal). Sekalipun disebutkan kode soalnya, peserta jelas tidak bisa mengetahui kode soal berapa yang mereka sedang kerjakan karena kodenya dalam bentuk barcode yang tidak bisa dibaca oleh mata telanjang. Harus ada alatnya untuk membaca barcode seperti aplikasi scanner barcode.

13663074111991193406

Soal UN Paket C dengan Barkode sebelah kanan atas

Sejak awal, Koordinator Subrayon sudah mewanti-wanti kepada saya dan juga pengawas satuan lainnya untuk melaksanakan 5 P :

1. Perhatikan Naskah soal harus menyatu dengan LJUN, jika terpisah maka harus diganti dengan cadangan.

2. Perhatikan Naskah soal bagus, tidak rusak dan LJUN utuh rapi. bila tidak harus diganti dengan cadangan.

3. Perhatikan siswa mengisi identitas, dan nomor peserta di naskah soal dan LJUN

4. Perhatikan semua naskah soal dan hasil LJUN masuk amplop yang berbeda.

5. Perhatikan Naskah soal dan LJUN dirobek di akhir pengerjaan.

Setelah diperhatikan ternyata Naskah soal itu dalam bentuk kertas A3 yang dilipat 2 menjadi A4 dan tiap halaman tidak dihekter. Cover naskah soal di halaman awal menyatu dengan LJUN di halaman akhir. di bagian kanan atas soal dan LJUN terdapat barcode yang tidak bisa dibaca oleh pengawas maupun oleh peserta.

Kekacauan terjadi pada pengepakan naskah soal UN kejar paket C dari percetakannya. Ternyata pengepakan soal dalam amplop yang disegel dibuat berdasarkan PKBM bukan ruang ujian. Akibatnya dalam satu amplop bukan hanya paket soal berjumlah 21 (20 untuk peserta dan 1 untuk cadangan) tapi juga ada yang 3, 5, 9, 11, 19 atau jumlah lainnya yang kurang dari 21, sehingga terkadang pengawas 2 ruang harus bekerja sama untuk berbagi naskah soal yang jumlahnya tidak pas.

Banyak kejadian dan kasus yang muncul berkaitan dengan naskah soal ini

Dihari pertama ditemukan kejadian, Cover naskah soal tertulis PPKN program IPA sedangkan di halaman dalam soal tertulis PPKN program IPS. Pengawas ruang langsung mengganti naskah dan LJUNnya.

Di hari ketiga ditemukan naskah soal ekonomi hilang 2 lembar halaman yang berisi 5 soal. Ternyata ada beberapa siswa yang teledor tidak mengecek kelengkapan soal di awal pengerjaan. Ada 4 orang siswa yang melaporkan naskah soalnya seperti itu setelah waktu berjalan 1 jam. Mereka telah mengerjakan 25 soal dan baru menyadari ternyata soal 26 sampai 30 hilang. Akibatnya mereka diberikan soal yang baru dan memulai dari nomor 1 lagi. Bahkan ada juga yang melaporkan 5 soal terakhir tidak ada pada saat 15 menit sebelum waktu ujian selesai. Ketika dia diberikan alternatif oleh pengawas ruang untuk mengerjakan naskah yang baru atau tetap dengan naskah yang sudah 35 soal dia jawab. Ia lebih memilih mengorbankan 5 soal yang hilang karena dia tidak punya waktu lagi. Ia menghitung kancing saja untuk menjawab soal yang hilang itu. Sambil menengadahkan tangan ia berdoa “mudah-mudahan saja ada yang benar”.

13663087191186958763Contoh soal yang hilang halamannya (soal ditutup takut itu masih rahasia negara)

Masih di hari Ketiga, terjadi kekacauan informasi tentang mata pelajaran apa dulu yang diujikan. dalam jadwal yang dibuat panitia jam pertama hari Rabu adalah B. Inggris jam kedua ekonomi. Ternyata datang sms ke koordinator lokasi jam pertama harus ekonomi dan jam kedua B. Inggris. Ketika dilihat di POS (Prosedur Operasi Standar) ternyata memang isi sms itu benar. Saya berinisiatif bertanya ke koordinator subrayon. Jawabannya “Wah saya tidak tahu jadwal hari ini, Ikut saja sesuai POS”. Loh…

Oke lah masalah jadwal bisa diselesaikan dengan segera, toh sudah ada jadwal dalam POSnya. Yang jadi penasaran saya ingin mengetahui barkode soal. Iseng-iseng pada hari ketiga saya buka tablet Samsung saya di ruang panitia. Saya unduh aplikasi android barcode scanner. Dan saya sorotkan kamera ke barcode naskah soal bekas dipakai hari senin. Jreng….. terbukalah rahasia itu.

1366307512730613673

Memindai Barkode dengan aplikasi Barcode scanner

13663075911853590405

Hasil Memindai Barkode

Inilah barkode seluruh naskah soal UN Kejar Paket C yang saya pindai setelah soal dikerjakan :

- Sosiologi  CSH E01

- B. Indonesia CSA E01

- PPKN      : CSK-E01

- Geografi : CSI-E01

- Ekonomi : CSE-E01

- B. Inggris : CSB-E01

- Matematika : CSC-E01

Kode di atas adalah kode barcode untuk soal UN Kejar Paket C. Saya tidak tahu untuk kode barkode soal UN SMA/SMK karena saya tidak menjadi pengawasnya. Kode E01 berarti soal kode nomor 1. Ketika saya coba pindai satu kelas ternyata kodenya memang berjumlah 20 yaitu E01 dampai E20. Wah bila tau begini siswa yang hilang lembaran soalnya tadi tidak akan kerepotan harus memulai lagi dari awal. Tinggal pindai saja barkode soalnya lalu cari soal cadangan yang barkodenya sama. Selesai.

Kalau sudah terbuka begitu rahasianya berarti siswa bisa tahu dong kode soalnya, terutama siswa yang memiliki HP smartphone? Tunggu dulu. Dalam tata tertib siswa dilarang membawa HP ke dalam ruang kelas. Bila pun ada HP tersebut harus dimatikan dan disimpan di tas yang diletakkan di depan ruang kelas sampai ujian selesai dan soal diserahkan ke pengawas.

Menurut saya Informasi tentang barkode ini penting untuk diketahui oleh pengawas ruang agar mereka tidak kesulitan menghadapi kasus seperti di atas. Masih untung kalau naskah soal yang rusak sedikit, Bisa digunakan cadangan di ruangan yang sama atau di ruangan lain di sekolah tersebut. bagaimana kalau banyak?

Hal ini terjadi pada hari Ketiga di lokasi saya mengawas. Saat itu diketahui ternyata naskah soal B. Inggris kurang 35 paket. Ini terjadi karena sebagaimana di jelaskan di atas dalam satu amplop jumlah soal tidak hanya 21 tapi juga ada yang kurang bahkan hanya ada 3. Beruntung ada 38 siswa yang tidak ikut UN tanpa keterangan, jadi naskah soalnya diserahkan kepada 35 siswa yang tidak kebagian. Hanya saja 35 itu harus dikumpulkan dari 25 kelas yang tersebar jauh, sehingga menghabiskan waktu hampir 15 menit untuk siswa menunggu haknya. Usut punya usut ternyata 35 paket soal itu terbawa ke lokasi yang lain. dan pengawas satuan di lokasi tersebut tidak melaporkannya ke koordinator subrayon. hadeuh….

Dalam aturan bila naskah soal kurang dan tidak ada lagi soal cadangan baik di sekolah tersebut atau di sekolah terdekat, maka panitia boleh memfoto copy naskah soal yang ada dan peserta dipersilahkan untuk mengisi soal langsung dalam naskah, tidak di LJUN fotocopy. hasil pengisian tersebut oleh pengawas ruang dimasukkan dalam amplop terpisah dan disebutkan dalam berita acara. Nanti oleh panitia UN bagian scanning LJU jawaban siswa tersebut akan disalinkan ke dalam LJUN yang baru sesuai dengan barkodenya. Beruntung kasus ini tidak terjadi di lokasi saya. Bila terjadi, bisa dibayangkan psikologi si peserta, ia pasti akan merasa was-was karena cara mengisinya berbeda.

Masalah lainnya yang saya temui tentang pengumpulan berkas LJUN bekas pakai. Di hari pertama saya mengirimkan hasil LJUN ke Subrayon, Saya bingung apakah naskah soal bekasnya harus dikirimkan juga. Saya kontak subrayon. Jawabannya “Jangan dibawa kesini, di sini tidak ada tempat untuk menyimpan soal bekas”. “Jadi harus disimpan di mana pak?” tanya saya kebingungan. “di lokasi sekolah saja”. Dalam pikiran saya bila soal ini tidak diamankan dan disimpan kembali di subrayon dengan penjagaan polisi, bukankah ini bisa menjadi peluang untuk kebocoran soal UN di 11 provinsi lain yang belum UN? Wah gawat nih…

Beruntung di hari kedua Bu Theresia datang. Saya tanyakan kekhawatiran saya tersebut. Menurutnya hal itu tidak akan terjadi karena 11 provinsi yang UN nya lambat itu percetakannya berbeda dan soalnya juga berbeda. Lega hati saya.

136630820294181202

Bu Theresia sedang Monev dan memberikan solusi kepada panitia pelaksana

Tulisan berikutnya tentang pengawas UN dan Honor. Tunggu saja

0 komentar:

Posting Komentar

13663074111991193406

Pengalaman Duka yang pertama yang saya alami selama menjadi pengawas UN Kejar Paket C satuan pendidikan kemarin adalah tentang Naskah Soal.

Sebagaimana disebutkan dalam catatan saya terdahulu (lihat Suka Duka Jadi Pengawas UN (1)) peserta UN Kejar Paket C harus menyelesaikan ujian 7 mata pelajaran dalam waktu 4 hari. Tiga  hari pertama banyak diantara mereka yang sudah keluar dari ruangan sekalipun waktu yang tersisa masih 30 menit lagi. Hal ini terutama terjadi pada ujian jam kedua (pukul 16.00-18.00) dimana kondisi fisik mereka sudah lelah. Pagi hari kerja atau berkumpul di PKBM untuk persiapan,  dan siang hari ikut ujian.

Keunikan soal UN tahun 2013 adalah kode soal yang mencapai jumlah 20. Bahkan menurut Bu Theresia (Kabid Pendidikan formal dan Nonformal Disdik Kota Bandung yang sedang monev ke lokasi saya)  jumlah kode soal mencapai 30. Ini berarti dalam satu ruangan kelas yang terdiri atas 20 peserta, masing-masing peserta mendapatkan soal yang berbeda, sehingga mungkin dalam pandangan kementrian pendidikan hal itu bisa menghindari kecurangan, seperti siswa mencontek atau mendapatkan bocoran.

Berdasarkan informasi dari peserta banyak diantara mereka yang mendapatkan sms gelap yang berisi jawaban UN.  Sekalipun sms tersebut banyak bertebaran, namun tidak ada satupun yang mereka percayai. Bila benar itu jawabannya, berarti pengirim sms itu harus mengirim 800 jawaban untuk satu mata ujian (20 kode x 40 soal). Sekalipun disebutkan kode soalnya, peserta jelas tidak bisa mengetahui kode soal berapa yang mereka sedang kerjakan karena kodenya dalam bentuk barcode yang tidak bisa dibaca oleh mata telanjang. Harus ada alatnya untuk membaca barcode seperti aplikasi scanner barcode.

13663074111991193406

Soal UN Paket C dengan Barkode sebelah kanan atas

Sejak awal, Koordinator Subrayon sudah mewanti-wanti kepada saya dan juga pengawas satuan lainnya untuk melaksanakan 5 P :

1. Perhatikan Naskah soal harus menyatu dengan LJUN, jika terpisah maka harus diganti dengan cadangan.

2. Perhatikan Naskah soal bagus, tidak rusak dan LJUN utuh rapi. bila tidak harus diganti dengan cadangan.

3. Perhatikan siswa mengisi identitas, dan nomor peserta di naskah soal dan LJUN

4. Perhatikan semua naskah soal dan hasil LJUN masuk amplop yang berbeda.

5. Perhatikan Naskah soal dan LJUN dirobek di akhir pengerjaan.

Setelah diperhatikan ternyata Naskah soal itu dalam bentuk kertas A3 yang dilipat 2 menjadi A4 dan tiap halaman tidak dihekter. Cover naskah soal di halaman awal menyatu dengan LJUN di halaman akhir. di bagian kanan atas soal dan LJUN terdapat barcode yang tidak bisa dibaca oleh pengawas maupun oleh peserta.

Kekacauan terjadi pada pengepakan naskah soal UN kejar paket C dari percetakannya. Ternyata pengepakan soal dalam amplop yang disegel dibuat berdasarkan PKBM bukan ruang ujian. Akibatnya dalam satu amplop bukan hanya paket soal berjumlah 21 (20 untuk peserta dan 1 untuk cadangan) tapi juga ada yang 3, 5, 9, 11, 19 atau jumlah lainnya yang kurang dari 21, sehingga terkadang pengawas 2 ruang harus bekerja sama untuk berbagi naskah soal yang jumlahnya tidak pas.

Banyak kejadian dan kasus yang muncul berkaitan dengan naskah soal ini

Dihari pertama ditemukan kejadian, Cover naskah soal tertulis PPKN program IPA sedangkan di halaman dalam soal tertulis PPKN program IPS. Pengawas ruang langsung mengganti naskah dan LJUNnya.

Di hari ketiga ditemukan naskah soal ekonomi hilang 2 lembar halaman yang berisi 5 soal. Ternyata ada beberapa siswa yang teledor tidak mengecek kelengkapan soal di awal pengerjaan. Ada 4 orang siswa yang melaporkan naskah soalnya seperti itu setelah waktu berjalan 1 jam. Mereka telah mengerjakan 25 soal dan baru menyadari ternyata soal 26 sampai 30 hilang. Akibatnya mereka diberikan soal yang baru dan memulai dari nomor 1 lagi. Bahkan ada juga yang melaporkan 5 soal terakhir tidak ada pada saat 15 menit sebelum waktu ujian selesai. Ketika dia diberikan alternatif oleh pengawas ruang untuk mengerjakan naskah yang baru atau tetap dengan naskah yang sudah 35 soal dia jawab. Ia lebih memilih mengorbankan 5 soal yang hilang karena dia tidak punya waktu lagi. Ia menghitung kancing saja untuk menjawab soal yang hilang itu. Sambil menengadahkan tangan ia berdoa “mudah-mudahan saja ada yang benar”.

13663087191186958763Contoh soal yang hilang halamannya (soal ditutup takut itu masih rahasia negara)

Masih di hari Ketiga, terjadi kekacauan informasi tentang mata pelajaran apa dulu yang diujikan. dalam jadwal yang dibuat panitia jam pertama hari Rabu adalah B. Inggris jam kedua ekonomi. Ternyata datang sms ke koordinator lokasi jam pertama harus ekonomi dan jam kedua B. Inggris. Ketika dilihat di POS (Prosedur Operasi Standar) ternyata memang isi sms itu benar. Saya berinisiatif bertanya ke koordinator subrayon. Jawabannya “Wah saya tidak tahu jadwal hari ini, Ikut saja sesuai POS”. Loh…

Oke lah masalah jadwal bisa diselesaikan dengan segera, toh sudah ada jadwal dalam POSnya. Yang jadi penasaran saya ingin mengetahui barkode soal. Iseng-iseng pada hari ketiga saya buka tablet Samsung saya di ruang panitia. Saya unduh aplikasi android barcode scanner. Dan saya sorotkan kamera ke barcode naskah soal bekas dipakai hari senin. Jreng….. terbukalah rahasia itu.

1366307512730613673

Memindai Barkode dengan aplikasi Barcode scanner

13663075911853590405

Hasil Memindai Barkode

Inilah barkode seluruh naskah soal UN Kejar Paket C yang saya pindai setelah soal dikerjakan :

- Sosiologi  CSH E01

- B. Indonesia CSA E01

- PPKN      : CSK-E01

- Geografi : CSI-E01

- Ekonomi : CSE-E01

- B. Inggris : CSB-E01

- Matematika : CSC-E01

Kode di atas adalah kode barcode untuk soal UN Kejar Paket C. Saya tidak tahu untuk kode barkode soal UN SMA/SMK karena saya tidak menjadi pengawasnya. Kode E01 berarti soal kode nomor 1. Ketika saya coba pindai satu kelas ternyata kodenya memang berjumlah 20 yaitu E01 dampai E20. Wah bila tau begini siswa yang hilang lembaran soalnya tadi tidak akan kerepotan harus memulai lagi dari awal. Tinggal pindai saja barkode soalnya lalu cari soal cadangan yang barkodenya sama. Selesai.

Kalau sudah terbuka begitu rahasianya berarti siswa bisa tahu dong kode soalnya, terutama siswa yang memiliki HP smartphone? Tunggu dulu. Dalam tata tertib siswa dilarang membawa HP ke dalam ruang kelas. Bila pun ada HP tersebut harus dimatikan dan disimpan di tas yang diletakkan di depan ruang kelas sampai ujian selesai dan soal diserahkan ke pengawas.

Menurut saya Informasi tentang barkode ini penting untuk diketahui oleh pengawas ruang agar mereka tidak kesulitan menghadapi kasus seperti di atas. Masih untung kalau naskah soal yang rusak sedikit, Bisa digunakan cadangan di ruangan yang sama atau di ruangan lain di sekolah tersebut. bagaimana kalau banyak?

Hal ini terjadi pada hari Ketiga di lokasi saya mengawas. Saat itu diketahui ternyata naskah soal B. Inggris kurang 35 paket. Ini terjadi karena sebagaimana di jelaskan di atas dalam satu amplop jumlah soal tidak hanya 21 tapi juga ada yang kurang bahkan hanya ada 3. Beruntung ada 38 siswa yang tidak ikut UN tanpa keterangan, jadi naskah soalnya diserahkan kepada 35 siswa yang tidak kebagian. Hanya saja 35 itu harus dikumpulkan dari 25 kelas yang tersebar jauh, sehingga menghabiskan waktu hampir 15 menit untuk siswa menunggu haknya. Usut punya usut ternyata 35 paket soal itu terbawa ke lokasi yang lain. dan pengawas satuan di lokasi tersebut tidak melaporkannya ke koordinator subrayon. hadeuh….

Dalam aturan bila naskah soal kurang dan tidak ada lagi soal cadangan baik di sekolah tersebut atau di sekolah terdekat, maka panitia boleh memfoto copy naskah soal yang ada dan peserta dipersilahkan untuk mengisi soal langsung dalam naskah, tidak di LJUN fotocopy. hasil pengisian tersebut oleh pengawas ruang dimasukkan dalam amplop terpisah dan disebutkan dalam berita acara. Nanti oleh panitia UN bagian scanning LJU jawaban siswa tersebut akan disalinkan ke dalam LJUN yang baru sesuai dengan barkodenya. Beruntung kasus ini tidak terjadi di lokasi saya. Bila terjadi, bisa dibayangkan psikologi si peserta, ia pasti akan merasa was-was karena cara mengisinya berbeda.

Masalah lainnya yang saya temui tentang pengumpulan berkas LJUN bekas pakai. Di hari pertama saya mengirimkan hasil LJUN ke Subrayon, Saya bingung apakah naskah soal bekasnya harus dikirimkan juga. Saya kontak subrayon. Jawabannya “Jangan dibawa kesini, di sini tidak ada tempat untuk menyimpan soal bekas”. “Jadi harus disimpan di mana pak?” tanya saya kebingungan. “di lokasi sekolah saja”. Dalam pikiran saya bila soal ini tidak diamankan dan disimpan kembali di subrayon dengan penjagaan polisi, bukankah ini bisa menjadi peluang untuk kebocoran soal UN di 11 provinsi lain yang belum UN? Wah gawat nih…

Beruntung di hari kedua Bu Theresia datang. Saya tanyakan kekhawatiran saya tersebut. Menurutnya hal itu tidak akan terjadi karena 11 provinsi yang UN nya lambat itu percetakannya berbeda dan soalnya juga berbeda. Lega hati saya.

136630820294181202

Bu Theresia sedang Monev dan memberikan solusi kepada panitia pelaksana

Tulisan berikutnya tentang pengawas UN dan Honor. Tunggu saja
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply