Kamis, 18 April 2013

ULANG TAHUN AL-QURAN

Oleh: Uwes Fatoni, M.Ag



Setiap tanggal 17 Ramadhan kita senantiasa memperingati hari ulang tahun Alquran yang dikenal dengan nuzulul Quran atau hari diturunkannya Alquran. Peringatan nuzulul Quran ini didasarkan pada firman Allah : “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Alquran…” (QS. al-Baqarah [2] : 185)


Ulang tahun Alquran tentu perlu disambut dengan gembira. Peringatannya bukan saja melalui kegiatan seremonial atau tabligh akbar, namun juga dengan terus mendekatkan Alquran pada diri kita sehingga ia menjadi spirit dalam kehidupan.


Di bulan suci ini ketika setiap ibadah diganjar berlipat-lipat ganda dibandingkan bulan-bulan yang lain, sudah sepantasnya Alquran menjadi spirit ibadah. Spirit utama dan pertama Alquran adalah amalan membaca (iqra) Alquran.Kita menjadikannya sebagai hudan, petunjuk dan pedoman dalam keseharian. Tatkala Alquran telah menjadipedoman kehidupan akan lahir Alquran yang berjalan.


Rasulullah merupakan orang yang pertama menjadi Alquran yang berjalan. Siti Aisyah pernah ditanya “Bagaimanakah sebenarnya akhlak Rasulullah?” Ia menjawab “Akhlak Rasulullah itu adalah Alquran”. Ini menjadi cerminan bahwa rasul telah mewujudkan Alquran yang berjalan dalam dirinya melalui ucap, sikap dan perilaku sehari-hari.


Kita sebagai umatnya tentu saja perlu mengikuti contoh Rasul tersebut dengan menjadikan setiap diri kita Alquran-Alquran yang berjalan. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan cara mengimani, mempelajari, menghapal, mengajarkan, dan mengamalkan Alquran. Dengan cara-cara tersebut akan lahir dalam diri kita akhlak-akhlak yang terpuji selaras dengan sabda Rasul “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).


Dalam rangka memperingati ulang tahun Alquran sekaligus mengisi bulan suci Ramadhan sepantasnya kita terus menjaga amalan membaca Alquran ini sehingga ajaran-ajarannya menjadi pedoman dalam perilaku dan kehidupan kita sehari-hari. Amin


Wallahu a’lam


Uwes Fatoni, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.

0 komentar:

Posting Komentar

Oleh: Uwes Fatoni, M.Ag



Setiap tanggal 17 Ramadhan kita senantiasa memperingati hari ulang tahun Alquran yang dikenal dengan nuzulul Quran atau hari diturunkannya Alquran. Peringatan nuzulul Quran ini didasarkan pada firman Allah : “Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Alquran…” (QS. al-Baqarah [2] : 185)


Ulang tahun Alquran tentu perlu disambut dengan gembira. Peringatannya bukan saja melalui kegiatan seremonial atau tabligh akbar, namun juga dengan terus mendekatkan Alquran pada diri kita sehingga ia menjadi spirit dalam kehidupan.


Di bulan suci ini ketika setiap ibadah diganjar berlipat-lipat ganda dibandingkan bulan-bulan yang lain, sudah sepantasnya Alquran menjadi spirit ibadah. Spirit utama dan pertama Alquran adalah amalan membaca (iqra) Alquran.Kita menjadikannya sebagai hudan, petunjuk dan pedoman dalam keseharian. Tatkala Alquran telah menjadipedoman kehidupan akan lahir Alquran yang berjalan.


Rasulullah merupakan orang yang pertama menjadi Alquran yang berjalan. Siti Aisyah pernah ditanya “Bagaimanakah sebenarnya akhlak Rasulullah?” Ia menjawab “Akhlak Rasulullah itu adalah Alquran”. Ini menjadi cerminan bahwa rasul telah mewujudkan Alquran yang berjalan dalam dirinya melalui ucap, sikap dan perilaku sehari-hari.


Kita sebagai umatnya tentu saja perlu mengikuti contoh Rasul tersebut dengan menjadikan setiap diri kita Alquran-Alquran yang berjalan. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan cara mengimani, mempelajari, menghapal, mengajarkan, dan mengamalkan Alquran. Dengan cara-cara tersebut akan lahir dalam diri kita akhlak-akhlak yang terpuji selaras dengan sabda Rasul “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).


Dalam rangka memperingati ulang tahun Alquran sekaligus mengisi bulan suci Ramadhan sepantasnya kita terus menjaga amalan membaca Alquran ini sehingga ajaran-ajarannya menjadi pedoman dalam perilaku dan kehidupan kita sehari-hari. Amin


Wallahu a’lam


Uwes Fatoni, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung.
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply