Workshop Mendeley di UIN Ar-Raniry Aceh

Berbagi ilmu bersama dosen dan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh 2017

Tour de Merapi Yogyakarta 2017

Rombongan Tour Dosen dan Pegawai Administrasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 2017

Workshop OJS di UPI Tasikmalaya

Foto bersama pimpinan kampus UPI Tasikmalaya setelah Workshop OJS (Open Journal System) Juni 2017

Perpustakaan di Universitas Amerika

Pintu gerbang perpustakaan Davidsons Library UCSB, California Amerika Serikat.

Al Jam'iatul Washliyah Provinsi Jawa Barat

Kunjungan Pengurus Wilayah (PW) Al-Jam'iatul Washliyah ke Pengurus Daerah Al-Washiliyah Cirebon.

Sabtu, 22 Maret 2014

Awas Uang Laknat Caleg!





 Masa kampanye menjelang Pemilu 9 April 2014 saat ini banyak caleg yang menggelontorkan uang untuk menarik dukungan dari masyarakat. Mereka membagi-bagikan uang, bantuan, paket sembako dan hadiah lainnya agar dipilih oleh rakyat.

Tahukah Anda bahwa caleg yang membagi-bagikan uang seperti itu ditengarai memperolehnya dari jalan yang tidak sah. Ketika terpilih menjadi anggota dewan mereka pun akan menggunakan jalan korupsi untuk mengembalikan modalnya tersebut. Apakah Anda mau ikut berkontribusi menyuburkan korupsi di negeri ini? Banyak yang teriak-teriak marah dengan kasus korupsi tapi pemberian uang hasil korupsi diterima juga.

Bila alasan anda masih tetap menerima uang caleg karena dianggap rezeki nomplok lima tahun sekali, camkanlah bahwa Allah menyatakan itu rezeki yang haram. Rezeki yang tidak akan membawa berkah dunia dan juga akherat.

Rasulullah dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa orang yang membaiat pemimpin karena mendapat imbalan harta  tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dirahmati, tidak akan diampuni dosanya, dan akan disiksa dengan siksaan yang sangat pedih.

Berikut hadits tersebut lebih lengkapnya. Rasulullah bersabda : “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dirahmati, tidak diampuni dosanya, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih. Pertama, orang berkelebihan air, namun tak mau memberikannya kepada musafir yang memerlukan atau makhluk lainnya. Kedua, orang yang menjual barang dagangan sesudah Ashar dengan bersumpah menyebut nama Allah SWT agar pembeli tertarik, tetapi barang tersebut tidak sesuai dengan yang ia tawarkan.

Ketiga, orang yang membaiat pemimpin dan ia tidak membaiatnya, kecuali mendapat imbalan harta. Apabila ia diberi harta itu, ia memenuhi baiatnya dan apabila ia tidak diberi harta, ia tidak membaiatnya.” (HR Imam Ahmad bin Han bal, Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Menurut KH. Ali Mustofa Ya’kub membaiat pemimpin dalam konteks Indonesia saat ini adalah dengan cara memilih atau memberikan suara dalam pemilu. Caleg atau capres yang memberikan uang agar mereka dipilih rakyat, berarti telah melakukan “money politic”, uang politik yang dilaknat Allah karena  membuat bangsa rusak dunia dan akherat.

Anda Masih mau menerima uang politik dari caleg? Silahkan ambil saja, tapi laknat Allah akan bersama Anda, Mau?

Mumpung sedang ramai kampanye Pemilu 2014  ayo kita kampanyekan  : “Jangan ambil uangnya dan jangan pilih orangnya”.

Dakwah di Amerika Serikat

di Masjid Al-Hikmah Komunitas Muslim New York Amerika Serikat


Republika (8/3) memberitakan pencekalan dan penahanan Ustaz Felix Siauw oleh otoritas bandara Internasional Houston, AS, pada 5 Maret 2014. Ustaz keturunan Tionghoa ini dikabarkan dipenjara selama 26 jam sehingga ia membatalkan agenda dakwahnya di 11 negara bagian di AS.


Berita pencekalan Ustaz Felix Siauw ini ramai menjadi topik pembicaraan jamaah masjid Al-Hikmah, New York. Pasalnya, Kota New York akan menjadi kota terakhir rihlah dakwah ustaz muda tersebut di Negeri Paman Sam. Kebetulan ketika dalam proses penahanan, Ustaz Felix Siauw sempat menyampaikan kabar penahanannya tersebut sekaligus memohon doa kepada Ustaz Shamsi Ali, tokoh Islam terkenal New York asal Indonesia. Saya yang sedang meneliti Islam di Amerika dan dakwah Imam Shamsi Ali mengikuti perkembangan penahanan Ustaz Felix Siauw ini dari beliau.


Bagi umat Islam di Amerika, proses pemeriksaan (screening) di Bandara Internasional Amerika memang sering menjadi momok yang menakutkan. Bagi mereka yang memiliki nama Islam, terutama nama yang sama dengan tersangka teroris, akan masuk dalam daftar merah Departement of Home Land (DHL List) Amerika. Ketika ia masuk bandara, namanya otomatis ditandai silang dan langsung ditahan untuk diwawancarai oleh bagian imigrasi bandara. Ketika datang kabar Ustaz Felix Siauw ditahan, jamaah masjid Al-Hikmah menduga bahwa ia ditahan karena masuk dalam daftar tersebut. Namun, ketika diketahui pencekalan terjadi karena pelanggaran visa, akhirnya rumor tersebut hilang.


Ustaz Felix Siauw tahun lalu sebenarnya sudah pernah mengadakan dakwah keliling di Amerika dan tidak ada masalah. Ketika kemarin ia kembali diundang oleh ICMI untuk berceramah di 11 negara bagian dengan biaya ditanggung oleh panitia, visa yang digunakannya adalah visa B1/B2, yaitu visa untuk tujuan berkunjung (visitor). Di Amerika masalah visa sangat sensitif.


Ustaz Felix Siauw ditanya apakah medapat honor dari kegiatan-kegiatan dakwahnya, ia menjawab iya. Akibat salah menggunakan visa tersebut, ia kemudian ditahan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut, bukan dipenjara sebagaimana berita Republika. Setelah pemeriksaan, ia diputuskan tidak boleh masuk Amerika. Dalam beberapa kasus yang lain, penolakan masuk ke Amerika ini biasanya tanpa ada penjelasan sama sekali dari pihak imigrasi bandara.


Tentu saja, peristiwa penolakan Ustaz Felix Siauw ini sangat disayangkan oleh umat Islam di Amerika, khususnya dari Indonesia. Kehadiran ustaz dari Tanah Air akan semakin menyemarakkan kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam yang saat ini sedang menggeliat.


Lahan subur Pascaperistiwa terorisme 9/11, Islam di Amerika menghadapi tantangan yang sangat berat. Umat Islam setelah peristiwa itu digambarkan oleh media sebagai orang-orang yang menganut paham kekerasan dan terorisme sehingga dianggap berbahaya bagi keselamatan negeri Barack Obama ini. Namun seiring waktu, Islam justru semakin berkembang dan menemukan lahan suburnya di Amerika. Imam Faisal Abdul Rauf dalam bukunya, Moving the Mountain: Be yond the Ground Zero to a New Vision of Islam in America (2012), sudah memprediski Islam di Amerika akan berkembang secara bertahap.


Dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah Islamic center atau masjid di Amerika mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut Imam Sham si Ali, sebelum peristiwa 9/11 tahun 2001 jumlah masjid di New York masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu, jumlah masjid ber tambah sampai 250 buah yang tersebar di seantero Kota New York. Bahkan, Islamic Center Park 51 yang berada dua blok dari Ground Zero tempat WTC hancur, diizinkan berdiri oleh wali kota New York saat itu, Bloomberg, yang keturunan Yahudi, padahal saat itu beberapa warga New York menentangnya.


Perkembangan Islam juga bisa dilihat dari menjamurnya kedai makanan halal. Dalam empat tahun terakhir di Kota New York bermunculan pedagang kaki lima (cart food) yang berlabel "halal food". Hampir di setiap pusat keramaian dan tempat wisata New York bisa ditemukan dengan mudah kedai makanan halal tersebut, seperti di Times Square, kantor PBB, bahkan dekat lokasi memorial Park 9/11 Ground Zero.


Umat Islam di Kota New York memang sangat cepat pertumbuhannya. Ini terjadi karena faktor imigrasi atau kedatangan pekerja migran dari negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Bangladesh, dan Mesir, selain juga karena faktor keturunan dan konversi masuk Islam. Pertumbuhan kuantitas umat Islam ini juga dibarengi dengan pertumbuhan aliran Islam. Di Kota New York terdapat komunitas Islam Sunni, Syi'ah, bahkan Ahmadiyah. Mereka menyatu dengan perbedaannya masing-masing mengembangkan dakwahnya dan juga membentuk organisasi Islam di tingkat kota maupun tingkat nasional.


Inovasi dakwah


Ada sisi unik dari kegiatan dakwah Islam di Amerika. Dakwah tidak hanya dilakukan secara eksklusif internal, tapi juga secara eksternal (outreach), yaitu melalui dialog dengan komunitas agama lain. Seperti Imam Shamsi Ali yang menginisiasi program dialog lintas iman (interfaith dialogue) dengan komunitas Yahudi bersama-sama dengan Rabbi Marc Schneier, tokoh terkenal Rabbi Yahudi di New York. Ide dialog ini awalnya banyak ditentang oleh kedua komunitas tersebut.


Isu Palestina-Israel sering menjadi bahan bakar yang mudah menyulut emosi para imam dan rabi ketika mereka awal-awal berdialog. Saat itu, prasangka dan stereotip masih sangat kuat menyelimuti. Seiring waktu kedua komunitas ini mulai saling menyapa dan saling memahami. Imam Shamsi Ali dan Rabbi Schneier bahkan menerbitkan buku bersama berjudul, Sons of Abraham: Issues Unite and Divide Jews and Muslims (2013), yang memaparkan kesamaan dan perbedaan kedua agama turunan Nabi Ibrahim ini. Buku tersebut disambut hangat oleh komunitas Islam dan juga Yahudi. Beberapa kali telah diadakan bedah buku, termasuk pada Ahad (9/3) di Komunitas Islam Jamaica New York. ●

Dimuat di Opini Republika

Uwes Fatoni  ;   Dosen UIN Bandung, Peserta Program Sandwich Kemenag RI di Amerika

Dakwah di Amerika Serikat

8 Pekerjaan yang Jarang Ditemukan di Amerika



Dalam pandangan saya, pekerjaan apapun selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan menghasilkan uang adalah pekerjaan yang baik. Terlepas apakah pekerjaan itu terkategorikan pekerjaan kasar atau pekerjaan profesional. Selama tinggal di Amerika Serikat saat ini, saya memperhatikan ragam profesi yang digeluti oleh orang-orang Amerika dan membandingkannya dengan di tanah air. Ada beberapa pekerjaan yang di Amerika ternyata tidak dikenal atau jarang dilakukan atau tidak lagi dilakukan oleh manusia alias sudah diganti oleh mesin. Pekerjaan apakah itu :

1. Kondektur Bis

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Santa Barbara, angkutan umum yang saya temui selain taksi adalah bis kota yaitu MTD Santa Barbara. Tipenya sama dengan Busway Trans Jakarta. Di sini tidak ada angkutan kota (angkot) seperti di tanah air, hanya ada bis atau kereta untuk angkutan umum darat. Perbedaan Bis kota di sini dengan di tanah air adalah sopir bis yang bekerja sendiri. Tidak ada konduktur apalagi petugas keamanan seperti di Trans Jakarta. Penumpang membayar ongkos dengan memasukkan uang cash atau kartu langganan ke mesin yang berada tepat di pintu masuk bis bersebelahan dengan kursi supir. Ongkos jarak jauh atau dekat sama $1.75. Untuk orang tua dan anak-anak ada pengurangan harga. Kita bisa menghemat dengan membeli kartu tiket pass 10 rit untuk 10 kali naik bis seharga $11. Kalau ingin lebih berhemat lagi beli kartu pass untuk 30 hari hanya $52, mau berapa kali pun dalam sehari kita naik bis bebas dengan kartu ini. Khusus mahasiswa dan pelajar mereka cukup menunjukkan kartu mahasiswa yang sudah diberi stiker khusus, karena mereka sudah membayarnya bersamaan dengan bayara uang kuliah/sekolah. Bila kita ingin berhenti, tidak perlu menggedor-gedor pintu atau memukul kaca bis dengan koin, cukup tarik tali yang melintang di pinggir jendela, dan tanda “request stop” akan berbunyi. Kelebihan bis kota di Amerika, sepeda bisa naik ke bis, ada rak depan bis yang bisa disimpan untuk sepeda. Tapi kita sendiri yang harus menaikkan dan menurunkan sepeda tersebut.

13928804701924784409

2. Tukang Parkir

Bila di tanah air tukang parkir bisa ditemui di mana-mana, baik yang resmi dengan baju oranyenya, maupun yang liar yang menarik tarif parkir seenak jidatnya, seperti di Gazibu hari Minggu, di Amerika saya tidak menemukan satu pun tukang parkir. Semua karcis parkir melalui mesin, sama seperti yang baru diujicobakan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Bedanya, kalau di Bandung masih ada tukang parkir dengan pakaian warna oranye dengan strip batik yang menjaga mesin dan mengawasi pemilik mobil yang tidak membayar parkir, di Amerika hanya ada mesin parkir tidak ada yang menjaga satu orang pun. Setiap orang yang membawa mobil mendatangi mesin tersebut lalu membayar biaya parkir dengan Kartu ATM atau Kartu Kredit untuk satu atau dua jam. Bila ada yang tidak membayar karcis parkir atau waktu parkirnya melebihi dari yang dibayarnya di awal, maka siap-siap akan kena denda karena semua tempat parkir diawasi oleh CCTV.

3. Tukang Ojek

Di Amerika motor bukan salah satu alat transportasi yang umum dipakai masyarakat. Warga lebih memilih sepeda bila bepergian jarak dekat, atau mobil untuk jarak jauh . Jadi, jangankan tukang ojek, motornya sendiri sangat jarang ditemui, bisa dihitung dengan jari. Dalam satu hari saya hanya menemukan paling banyak 3 motor yang berlalu lalang di jalanan. Ini terjadi karena harga mobil di sini lebih murah dibandingkan harga mobil di Indonesia, misalnya, Camry terbaru di tanah air harganya bisa mencapai 400 jutaan, di sini mobil yang sama paling sekitar 250 jutaan. Sedangkan penghasilan warga Amerika 10 kali lipat dari penghasilan warga Indonesia. Jadi harga mobil di sini sama seperti harga motor di tanah air. Tidak aneh bila jarang yang beli motor, apalagi jadi tukang ojek.

4. Pa Ogah

Di Amerika mobil memang banyak, tapi ruas jalanan lebih banyak dan lebih luas. Sangat jarang saya menemukan jalanan macet, kecuali di kota (downtown). Tapi itu juga pada waktu-waktu tertentu, dan tidak begitu panjang seperti di Indonesia. Ini memang pengalaman saya di Santa Barbara, kota yang tidak begitu besar, saya belum mengetahui kalau di kota besar seperti di LA atau New York. Jadi karena tidak ada kemacetan, maka Pa Ogah tidak dibutuhkan di sini. Paling ada juga relawan penyebrang jalan. Seperti yang saya lihat di pasar malam jalan state downtown, yang menggunakan jalan umum beberapa blok untuk tempat pasarnya. Ketika banyak orang yang berkumpula untuk menyebrang di persimpangan jalan, relawan tersebut ikut membantu para penyebrang itu untuk lewat. Namanya relawan mereka melakukan dengan sukarela dan tidak ada satu orang pun yang memberi uang kepadanya.

5. Pengamen

Di Indonesia pengamen itu sudah jadi profesi. Setingkat Aa Gym saja menurut penuturannya dulu sewaktu masih jadi mahasiswa pernah mengamen dengan berkeliling komplek perumahan. Di Indonesia pengamen baik yang tanpa banyak modal, hanya kecrekan atau yang bermodal alat musik canggih bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah berikutnya, atau menghibur (ada juga yang menyebut mengganggu) dari satu toko ke toko berikutnya. Tak jarang mereka juga mendekati orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan. Di Bandung tahun ini pengamen bisa masuk ke restauran dan hotel untuk memberikan hiburan. Walikota Ridwan Kamil yang alumni Amerika itu mengintruksikan hotel dan restauran untuk memberdayakan mereka. Di negeri Paman Sam saya jarang melihat pengamen yang berkeliling seperti di tanah air. Paling ada seniman dengan alat musik canggih menghibur di pasar malam. Itu pun tidak banyak paling satu atau dua orang.

6. Pedagang Kaki Lima

Masalah akut di kota-kota besar Indonesia adalah PKL yang semrawut. Di negeri Barack Obama ini saya tidak menemukan PKL menguasai jalanan. Memang pernah saya menemukan PKL 3 orang menggunakan roda nangkring di taman kota yang banyak didatangi anak-anak bermain karena ada taman bermain yang lengkap. Namun, mereka harus mendapatkan izin yang sangat ketat dan diperiksa makanan yang akan dijualnya. Bandingkan dengan di tanah air PKL ada di mana-mana. Di Gazibu Bandung contohnya, sebelum masa Ridwan Kamil, jumlah pedagang malah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang mau berolah raga pada hari minggu. Sebetulnya itu positif, karena membuka lapangan pekerjaan, namun seringkali para pedagang ini berjualan tanpa izin, tidak mau diatur dan barang dagangannya tidak ada yang mengecek. Lihat saja lihat pedagang di depan sekolah, anak-anak diracun dengan makanan yang tidak jelas agar tetap murah sesuai uang jajan anak sekolah.

7. Pedagang Pulsa

Merebaknya ponsel membuka peluang penjualan pulsa. Itu di tanah air, kalau di sini saya tidak menemukan tukang pulsa yang menjual nomor dan paket pulsa sambil bersaing banting harga. Operator selular di Amerika sebetulnya banyak seperti di Indonesia. Di sini ada AT&T dan T-Mobile untuk GSM, Verizon, US Cellular dan Sprint untuk CDMA. Mereka tidak menjual pulsa murah, tapi mereka lebih memperhatikan paket langganan dimana sms dan nelepon gratis ke nomor manapun selama masih di Amerika. Saya menggunakan AT&T dengan paket onGo, langganan selama 1 bulan dengan tambahan paket data internet LTE atau 4G. Jadi tidak lagi memikirkan mau nelepon habis pulsa harus nyari pulsa dulu. Kalau waktu langganan sudah habis, ya bayar lagi di gerai operator tersebut yang biasanya ada di pusat-pusat perbelanjaan.

8. Petugas Pom Bensin

Berbeda dengan di tanah air yang di tiap pom bensin pasti ada banyak pelayan yang mengisi bensin, Di Amerika Pom bensin itu tidak dijaga pelayan. Kita harus mengoperasikan sendiri mesin bensin ketika mau mengisi bahan bakar. Setelah selesai bayar di kasir yang ada di toko bagian tengah pom bensin tersebut. Pom Bensin mencantumkan harganya di layar di pinggir jalan, jadi kalau ada orang yang mau beli bensin mereka akan mudah untuk mengenali dan menghitung biaya yang harus dikeluarkannya.

Biar adil saya juga akan menyebutkan pekerjaan yang masih laku di sini seperti juga di Indonesia. Beberapa diantaranya 1) tukang kebun dan petani. Di sini tukang kebun dan petani masih digunakan sekalipun tugasnya sudah dibantu oleh alat-alat modern. potong rumput pake mobil pemotong seperti mobil golf, menyiram pohon dengan alat keran yang otomatis keluar air sendiri dalam jangka waktu tertentu. 2) pengemis. pekerjaan yang hina dina ini ternyata masih ada juga. Di sini mereka menyebutnya homeless (tunawisma) mereka membawa poster bertuliskan “help, need food” berdiri di perempatan gerbang pasar. Tapi saya lihat jumlahnya tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Beberapa pengemis bahkan bergaya, mereka punya sepeda, punya anjing dan kalau pengemis di stasiun kereta mereka membawa travel bag. Mereka meminta dengan cara sopan “Can give me 1 dollar for food?”. Kalau kita menolak mereka pergi meminta ke orang berikutnya. 3) pencuri. Sekalipun Amerika aman dari kriminalitas (kecuali beberapa kasus yang muncul di televisi), ternyata banyak pencuri yang menyasar sepeda. Saya pernah mengalami kehilangan sepeda di depan KMart, sebuah supermarket. Saya adukan ke call centernya mereka bilang itu sudah biasa terjadi, silahkan laporkan saja ke polisi. Saya ceritakan ke beberapa teman yang sudah lama tinggal di sana, mereka menyatakan juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi pencurian sepeda itu hal yang umum. Bahkan ada yang mencuri sepeda dengan ditinggalkan ban depannya saja, karena yang dikunci oleh pemilik sepeda hanya ban depan saja ke rak parkir sepeda. Harga sepeda memang lumayan, sepeda bekas harganya sekitar $100 atau 1,2 jutaan, kalau masih bagus bisa lebih mahal lagi.

Jumat, 21 Februari 2014

Menikmati Fasilitas Perpustakaan di Universitas Amerika


Perpustakaan memiliki fungsi yang ideal sebagai tempat gudang ilmu. Berkunjung ke perpustakaan berarti berupaya mencerdaskan diri kita untuk belajar dan memahami karya-karya bermutu. Perpustakaan menurut UU No. 43 tahun 2007 bertujuan sebagai sumber informasi untuk mencerdasakan bangsa dan menumbuhkan budaya gemar membaca. Dengan demikian perpustakaan dikelola secara profesional.

Sayang, sekalipun UU-nya sudah ada ternyata perpustakaan di Indonesia masih sangat jarang  menjadi tempat utama kunjungan masyarakat, termasuk juga perpustakaan kampus. Masih banyak perpustakaan kampus yang tidak jauh berbeda dengan tempat pemakaman buku. Kondisinya sepi, berdebu, sekali-sekali didatangi  mahasiswa yang ingin membaca skripsi, tesis atau disertasi kakak angkatannya untuk dipelajari, ditiru atau bahkan dicontek. Tak ubahnya pemakaman yang hanya didatangi oleh orang yang ingin memberikan sesajen. Perpustakaan terkadang ramai setahun sekali  ketika mahasiswa akan meminta surat keterangan bebas pinjaman seperti pemakaman yang didatangi setaun sekali untuk nyekar.  Selebihnya, hari-hari biasa perpustakaan, termasuk perpustakaan kampus menjadi gedung yang terabaikan.

Kondisi ini bila di kampus terjadi karena kurangnya perhatian dan dukungan dari pimpinan perguruan tinggi dalam mengadakan buku-buku bermutu dan  terbaru, berlangganan jurnal ilmiah atau menyediakan fasilitas wifi gratis bagi customernya. Imej buruk ini mungkin sudah berubah di beberapa perguruan tinggi terkenal di tanah air yang memahami peran strategis perpustakaan bagi kemajuan akademik penghuninya. Beberapa perguruan tinggi terkenal seperti UI, ITB, UGM sudah memiliki perpustakaan yang wajahnya merah merona, mengundang mahasiswa untuk berkunjung dan betah berlama-lama di sana. Sisanya kebanyakan perpustakaan kampus wujuduhu ka 'adamihi (ada tapi seperti tiada)

Saya beruntung mendapat kesempatan untuk berkunjung menjadi visiting research scholar (peneliti tamu) di UCSB (University of California Santa Barbara) USA. Saya datang kesana sebagai bagian dari kegiatan Prosale Diktis Kemenag RI selama 3 bulan. Penelitian disertasi saya yang menuntut saya untuk membaca banyak buku-buku terbaru dan artikel tentang Ahmadiyah dan ex-Ahmadiyah di Indonesia dan di dunia. Satu hal yang saya cari ketika berada di Davidson Library UCSB adalah mencari buku-buku tersebut. Alhamdulilah buku-buku tentang Ahmadiyah yang dulu susah saya dapatkan ketika berada di Bandung, ternyata begitu banyak tersedia di perpustakaan Davidson Library UCSB ini. Saya bahkan menemukan buku yang dulu hanya bisa melihat covernya saja di Amazon.com atau Google books. Di sini saya bisa meminjamnya dan membacanya sepuas mungkin. Bisa dikatakan di perpustakaan universitas Amerika buku-bukunya hampir lengkap, tersedia dari buku yang cetakan paling lama sampai paling baru semua ada.





Pintu Depan Davidsons Library UCSB



Ruang Koleksi Perpustakaan

Sistem katalog buku yang terkomputerisasi melalui jaringan internet juga sangat membantu dalam  encarian buku sebelum datang ke sana. Saya tinggal search di library.ucsb.edu dan mesin pencari perpustakaan tersebut akan menunjukkan buku/artikel yang kita butuhkan. Untuk tulisan artikel jurnal internasional, perpustakaan telah berlangganan, sehingga tinggal download saja sebanyak yang kita mampu. sedangkan untuk buku-buku yang tidak saya bisa saya temukan di perpustakaan ini sy bisa pesan untuk dipinjam dari perpustakaan kampus kota lain. Jadi kalau kita butuh beberapa buku yang ternyata berada di perpustakaan kota lain pesan saja dan tunggu beberapa hari sampai buku tersebut  diantarkan ke perpustakaan tempat kita terdaftar jadi anggota. Kalau bukunya ada di negara lain kita bisa baca format microtichie atau microfilm. Saya diperkenankan meminjam disertasi asli Prof Deddy Mulyana di perpustakaan Monash University  Australia  dengan membacanya melalui file Microtiche, file khusus yang hanya bisa dibaca melalui microtichie reader yang juga disediakan  di perpustakaan. Luar biasa.....





Rak Buku bertema tentang Keislaman


Di sisi lain, mahasiswa saya lihat sangat betar berada di dalam perpustakaan, ruangan perpustakaan betul-betul diciptakan untuk rasa nyaman. Ruang baca dan ruang koleksi dipisah. Meskipun begitu mahasiswa mau bawa tas dan laptop ke dalam ruangan baca, silahkan saja tidak masalah. Mereka mau ngopi ataungemil makanan bisa beli di toko makanan yang disediakan di lantai dasar perpustakaan dekat bagian sirkulasi. Tapi tentu saja makanan itu tidak boleh dibawa ke ruang baca di lantai atas. Dengan suasana seperti itu mahasiswa betul-betul merasa betah berada di perpustakaan. Mereka bisa baca sepuasnya buku-buku yang ada di sana sampai malam hari, karena jam buka perpustakaan sampai tengah malam. Mereka mau menulis apapun mudah, toh referensinya melimpah.




Ruang Baca Davidsons Library UCSB

Aturan peminjaman sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di perpustakaan tanah air, hanya yang membedakan jumlahnya yang boleh dipinjamnya.  Saya sebagai visiting reseacher diperkenankan meminjam sampai maksimal 50 buku dalam waktu 3 minggu. Ini sama seperti mahasiswaundergraduate/S1. Bagi mahasiswa S2 dan S3 yang lebih banyak kewajiban membacanya bisa meminjam sampai 200 buku bahkan yang sedang riset bisa sampai 300 buah. Sedangkan dosen dan staff UCSB diberi keleluasaan hampir tak terbatas. Mereka bisa meminjam buku sampai 1000 buah. Bahkan berapa pun jumlah buku  yang ingin mereka pinjam akan disediakan asal kuat saja membacanya. Pantas dosen-dosen di Amerika sangat produktif menulis, mereka tidak dipusingkan dengan harga buku yang selangit, karena semua buku akademik terbaru sudah otomatis tersedia di perpustakaan kampus tatkala hari pertama dilanunching.



1390439303314977482Jam Buka Perpustakaan Selama Musim Winter 2014

Cara pengembalian buku juga cukup sederhana. Masukkan saja bukunya ke kotak pengembalian. Mahasiswa tidak perlu mencatatkan lagi buku yang akan dikembalikannya. cukup simpan dan nanti akan didata oleh petugas perpustakaan. Kalau ingin memperpanjang, tidak perlu datang ke perpustakaan, cukup klik saja permohonan perpanjangan lewat internet. Beres. Kita bisa memperpanjang peminjaman sampai lim a kali. Namun, bila perpustakaan meminta kita untuk mengembalikan kita harus segera menyerahkannya. Kalau tidak akan kena denda. Demikian juga dengan keterlambatan dan juga kehilangan dendanya cukup besar &65 dollar. Jadi harus berhati-hati dalam menjaga buku. Jangan sampai hilang.

Anda punya pendapat lain tentang perpustakaan. Silahkan sampaikan di bagian komentar.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center Global and International Studies selama Januari - April 2014. Tunggu tulisan lainnya.)

Baca juga :

Shalat Yuk, tapi di mana?

makan Yuk, tapi yang halal!

Jarak Indonesia-Amerika Serikat itu Dekat Loh!

Strategi Shalat Khusu' di Amerika

uwes shalat

Kesulitan ke-2 hidup di negara non-muslim adalah melaksanakan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Penentuan jadwal waktu shalat di USA tidak bisa merujuk ke negara asal seperti ke Indonesia. Letak geografisnya berbeda. Di sini kita akan kesulitan untuk bisa mendengar azan waktu datangnya shalat, apalagi azan yang riuh seperti di Indonesia. Jadi kita tidak tahu dengan tepat kapan waktu shalat tiba. Awalnya pas saya datang ke Santa Barbara CA, USA saya shalat mengikuti jadwal di Indonesia, Shubuh : +- 04.00, Dhuhur : +- 12.00, Ashar : +- 3.30 sore, Magrib +- 6 sore, dan Isya : +-7 sore. Ternyata pada saat winter seperti sekarang ini, waktu siang di California lebih pendek dibandingkan waktu malam yaitu sekitar 10 jam. Alhasil waktu shalat juga bergeser. Akhirnya saya googling untuk menemukan waktu shalat lokal Santa Barbara. Saya menemukan jadwal shalat dari websitehttp://www.islamsb.org/about-us/. Anda bisa lihat jadwalnya di foto di bagian bawah. Terasa aneh juga mengikuti jadwal shalat yang berbeda. Shalat subuh jam 6 pagi. Kalau di Bandung matahari terbit jam 6, di sini jam 7.30. Sedang shalat Duhur dan Ashar waktunya hampir sama dengan di Indonesia. Untuk shalat magrib waktu lebih cepat satu jam yaitu jam 5 sore. Di Santa Barbara jam 5 sore sudah gelap, matahari sudah terbenam. Jadi kalau saya terlena dengan aktivitas di kampus lalu lihat jam ternyata sudah jam 6 sore saya harus cepat-cepat shalat magrib karena setengah jam lagi sudah masuk waktu Isya.

13896182541479848092
Selain waktu shalat, tempat shalat juga susah ditemukan. Masjid adalah tempat yang mewah di Amerika. Di Santa Barbara masjid hanya ada satu, dikelola olehIslamicSociety SantaBarbara, dengan pemimpinnya imam Yama Niazi. Untuk shalat 5 waktu mereka menggunakan kantor di 650 Ward Dr, Goleta, CA 93111 yang didesain sebagai masjid. Dari luar tidak tampak seperti masjid, tapi ketika masuk terasa aura masjidnya. Saya dapat kesempatan shalat tadi sore untuk shalat magrib di masjid ini, diantar teman mahasiswa S3 UCSB dari Turki Ahmad Farouq. Adapun untuk shalat Jum'at yang butuh ruang lebih luas lokasi masjid terletak di Goleta Valley Community Center. Setiap shalat Jum'at jemaah bisa mencapai 80 orang. Kebetulan Jum'at kemarin saya tidak sempat shalat di sana, masih perjalanan dari Riverside ke Santa Barbara. Dua lokasi ini belum bisa disebut sebagai masjid, karena masih dalam kondisi sementara.

Alhamdulilah bulan Desember 2013 kemarin, komunitas muslim Santa Barbara mendapat izin untuk mendirikan masjid dari dewan pemerintah. Butuh 10 tahun untuk bisa mendapat izin mendirikan bangunan, butuh dukungan dari komunitas agama lain agar izin itu semakin mudah didapat. Tidak seperti di Indonesia ada tempat ibadah yang berdiri hanya dengan syarat 30 kepala keluarga dan tandatangan warga yang diwakilkan kepada RT. Di sini Anda harus minta izin dewan kota. Bila di Indonesia banyak terjadi penentangan pendirian rumah ibadah, karena proses perizinannya tidak diikuti dengan benar. Di Amerika perlu tahunan untuk bisa mendirikan tempat ibadah termasuk masjid. Shalat di masjid tentu berbeda dengan shalat sendirian, Terasa kesejukan ketika shalat di masjid berjamaah dengan sesama muslim dari berbagai negara. Hanya memang harus bolak-balik naik bus/mobil kalau ingin shalat 5 waktu berjamaah di masjid, karena lokasinya yang jauh.

Kita bisa saja shalat di manapun, di kantor, di aula atau di taman. Hanya yang jadi masalah kemana arah kiblatnya. Beruntung ada teknologi yang membantu kita untuk menentukan arah kiblat. Aplikasi android atau Iphone bisa kita manfaatkan menunjukkan kemana arah kiblat. Di AS tentu saja arah kiblat itu tidak sama dengan di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu tahu arah mata angin, saya hanya lihat aplikasi Muslim Adhan di tablet samsung 7+ saya, lalu ikuti arahnya dengan bantuan GPS. Sebetulnya aplikasi-aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, seperti aplikasi yang saya gunakan. Dalam aplikasi tersebut sudah ada arah kiblat, waktu shalat sesuai setting lokasi kita dan juga alamat masjid terdekat kalau kita ingin shalat berjamaah lengkap dengan peta arah menuju masjid dari lokasi kita.

1389618393434737398
Shalat sebenarnya bisa dilakukan di manapun. Amerika adalah negara dengan penduduk yang cukup toleransi dalam hal beragama. Banyak yang tahu bahwa muslim itu punya kewajiban ibadah 5 kali sehari. Contohnya, ketika saya ingin shalat, saya dengan mudah dapat izin untuk menggunakan salah satu ruangan di Orfalea Center UCSB untuk shalat. Mereka memberikan izin untuk shalat di ruangan tersebut yang terasa nyaman, bersih dan mudah berkonsentrasi. Dalam sebuah acara akademik memang sering disediakan "Praying Room" tempat ibadah. Tapi itu bukan mushala seperti petunjuk tulisan bahasa Inggris di ruangan bandara di Indonesia. Praying room adalah tempat ibadah bagi semua agama. Jadi jangan berharap kita bisa konsentrasi ibadah di ruangan itu. Karena ketika kita menggelar sajadah kita dikelilingi oleh atribut ibadah agama lain, ada patung Yesus, Budha, Dewa Hindu, atau simbol Yahudi.

Oleh karena itu, beruntung bila anda tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim. Kita bisa mendengarkan datangnya waktu shalat dari azan yang riuh dari masjid-masjid atau dari media televisi/radio. Kita juga mudah mengetahui arah kiblat atau menemukan masjid, atau mushala terdekat untuk shalat. Itu semua adalah kemewahan yang dimiliki umat Islam di Indonesia dan juga di negara-negara muslim lainnya. manfaatkanlah wahai saudaraku seiman kemewahan tersebut. Kerjakan shalat awal waktu karena kita sangat mudah mengetahui waktu shalat yang teratur.

Namun, tinggal di negara non-muslim juga tidak masalah. Saya sangat yakin dengan ayat Qur'an yang berbunyi "Sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan". Sesungguhnya mengamalkan Islam di negara non-muslim itu tidak berat. Tergantung kepada diri kita sendiri mau memanfaatkan kesulitan itu untuk meraih pahala yang lebih besar atau terlena, terbawa arus lingkungan yang tidak Islami dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Anda punya pendapat ? Saya tunggu komentarnya.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.)

Baca tulisan lainnya

Makan Yuk? Tapi yang Halal

Susahnya Mencari Makanan Halal di Amerika


Ini adalah serial tulisan pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.

Santa Barbara adalah kota kecil di sebelah utara California berjarak sekitar 2,5 jam naik kereta api.  Di kota bekas jajahan Spanyol dan Meksiko ini komunitas muslim sangat sedikit. Sebagai muslimbanyak kesulitan yang harus saya hadapi dalam menjalankan kewajiban agama. Islam itu sangat teratur dalam segala hal sehingga harus diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan beragama bahkan yang sekecil-kecilnya. Tulisan ini bersifat serial, akan menceritakan pengalaman saya tinggal di Amerika mulai dari masalah makanan, shalat, tempat tinggal, cara bergaul, kegiatan akademik, dan lain-lain.

Kesulitan pertama berada di negara non-muslim adalah mencari makanan dan minuman yang halal. Berdasarkan pengalaman sampai hari ini tinggal di CA USA ada 4 kategori makanan dan minuman yang bisa kita temukan di restauran atau rumah makan : 1. jelas halalnya (makan dan minum di restoran muslim atau makanan/minuman ada label halal di kemasannya), 2. bukan makanan haram tapi tidak disembelih dgn cara Islam (seperti chicken atau beef), 3. bukan makanan haram tapi pengolahannya campur dgn makanan haram (seperi ikan digoreng di wajan yg dipakai untuk masakm babi) dan 4. jelas haramnya (pork, bacon, ham : semua artinya babi tapi beda jenisnya). Minuman juga demikian, harus zero alkohol. Beruntung teman2 di UCSB faham dengan keyakinan saya sebagai muslim dan menghargainya keputusan saya untuk memilih makanan tertentu. Mereka bahkan  membantu untuk menjelaskan apakah makanan/minumannya halal atau tidak.

Menurut beberapa teman dosen UIN Bandung yang pernah belajar di luar negeri, kalau kita ingin makanan halal ya harus masak sendiri. Harus mau merepotkan diri menyiapkan makanan untuk beberapa kali makan, sarapan, makan siang dan makan malam. masak sekali lalu tinggal dihangatkan. Selesai. Dengan masak sendiri katanya kita bisa berhemat juga. Berdasarkan pengalaman, harga makanan di Amerika itu berkisar antara 5-8 dolar. Itu makanan yang normal, belum ditambah minumannya. Jadi tinggal anda hitung sendiri, kalikan 3 kali makan sehari, kali 30 hari. Satu bulan kantong langsung menipis. Dengan masak sendiri kita cukup beli bahan 5 dolar dan bisa dimakan untuk satu hari. Saya sendiri belum mencobanya, karena saat ini masih tinggal di hotel. Mungkin setelah tinggal di kosan, saya akan mengikuti saran tersebut.

Dari gambar di bawah ini menurut anda mana minuman dan makanan yang kategori 4 : jelas haramnya?

13896176362016899980

13896176891227063251

Bila anda menjawab makanan yang ada tulisan "Pork" itu makanan haram, Anda benar karena pork itu artinya babi. Minuman yang beralkohol dalam gambar di atas ada di gelas sebelah kanan jus jeruk, itu beer. Harus hati-hati  karena warnanya sama dengan es teh di gelas kedua dari kanan. Yang paling  kanan itu minuman fresh water. Kalau di Indonesia seperti Aqua.

Tunggu tulisan saya berikutnya ya

- Shalat Yuk, Tapi di mana?
Awas Uang Laknat Caleg!




 Masa kampanye menjelang Pemilu 9 April 2014 saat ini banyak caleg yang menggelontorkan uang untuk menarik dukungan dari masyarakat. Mereka membagi-bagikan uang, bantuan, paket sembako dan hadiah lainnya agar dipilih oleh rakyat.

Tahukah Anda bahwa caleg yang membagi-bagikan uang seperti itu ditengarai memperolehnya dari jalan yang tidak sah. Ketika terpilih menjadi anggota dewan mereka pun akan menggunakan jalan korupsi untuk mengembalikan modalnya tersebut. Apakah Anda mau ikut berkontribusi menyuburkan korupsi di negeri ini? Banyak yang teriak-teriak marah dengan kasus korupsi tapi pemberian uang hasil korupsi diterima juga.

Bila alasan anda masih tetap menerima uang caleg karena dianggap rezeki nomplok lima tahun sekali, camkanlah bahwa Allah menyatakan itu rezeki yang haram. Rezeki yang tidak akan membawa berkah dunia dan juga akherat.

Rasulullah dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa orang yang membaiat pemimpin karena mendapat imbalan harta  tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dirahmati, tidak akan diampuni dosanya, dan akan disiksa dengan siksaan yang sangat pedih.

Berikut hadits tersebut lebih lengkapnya. Rasulullah bersabda : “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dirahmati, tidak diampuni dosanya, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih. Pertama, orang berkelebihan air, namun tak mau memberikannya kepada musafir yang memerlukan atau makhluk lainnya. Kedua, orang yang menjual barang dagangan sesudah Ashar dengan bersumpah menyebut nama Allah SWT agar pembeli tertarik, tetapi barang tersebut tidak sesuai dengan yang ia tawarkan.

Ketiga, orang yang membaiat pemimpin dan ia tidak membaiatnya, kecuali mendapat imbalan harta. Apabila ia diberi harta itu, ia memenuhi baiatnya dan apabila ia tidak diberi harta, ia tidak membaiatnya.” (HR Imam Ahmad bin Han bal, Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Menurut KH. Ali Mustofa Ya’kub membaiat pemimpin dalam konteks Indonesia saat ini adalah dengan cara memilih atau memberikan suara dalam pemilu. Caleg atau capres yang memberikan uang agar mereka dipilih rakyat, berarti telah melakukan “money politic”, uang politik yang dilaknat Allah karena  membuat bangsa rusak dunia dan akherat.

Anda Masih mau menerima uang politik dari caleg? Silahkan ambil saja, tapi laknat Allah akan bersama Anda, Mau?

Mumpung sedang ramai kampanye Pemilu 2014  ayo kita kampanyekan  : “Jangan ambil uangnya dan jangan pilih orangnya”.
Dakwah di Amerika Serikat
di Masjid Al-Hikmah Komunitas Muslim New York Amerika Serikat


Republika (8/3) memberitakan pencekalan dan penahanan Ustaz Felix Siauw oleh otoritas bandara Internasional Houston, AS, pada 5 Maret 2014. Ustaz keturunan Tionghoa ini dikabarkan dipenjara selama 26 jam sehingga ia membatalkan agenda dakwahnya di 11 negara bagian di AS.


Berita pencekalan Ustaz Felix Siauw ini ramai menjadi topik pembicaraan jamaah masjid Al-Hikmah, New York. Pasalnya, Kota New York akan menjadi kota terakhir rihlah dakwah ustaz muda tersebut di Negeri Paman Sam. Kebetulan ketika dalam proses penahanan, Ustaz Felix Siauw sempat menyampaikan kabar penahanannya tersebut sekaligus memohon doa kepada Ustaz Shamsi Ali, tokoh Islam terkenal New York asal Indonesia. Saya yang sedang meneliti Islam di Amerika dan dakwah Imam Shamsi Ali mengikuti perkembangan penahanan Ustaz Felix Siauw ini dari beliau.


Bagi umat Islam di Amerika, proses pemeriksaan (screening) di Bandara Internasional Amerika memang sering menjadi momok yang menakutkan. Bagi mereka yang memiliki nama Islam, terutama nama yang sama dengan tersangka teroris, akan masuk dalam daftar merah Departement of Home Land (DHL List) Amerika. Ketika ia masuk bandara, namanya otomatis ditandai silang dan langsung ditahan untuk diwawancarai oleh bagian imigrasi bandara. Ketika datang kabar Ustaz Felix Siauw ditahan, jamaah masjid Al-Hikmah menduga bahwa ia ditahan karena masuk dalam daftar tersebut. Namun, ketika diketahui pencekalan terjadi karena pelanggaran visa, akhirnya rumor tersebut hilang.


Ustaz Felix Siauw tahun lalu sebenarnya sudah pernah mengadakan dakwah keliling di Amerika dan tidak ada masalah. Ketika kemarin ia kembali diundang oleh ICMI untuk berceramah di 11 negara bagian dengan biaya ditanggung oleh panitia, visa yang digunakannya adalah visa B1/B2, yaitu visa untuk tujuan berkunjung (visitor). Di Amerika masalah visa sangat sensitif.


Ustaz Felix Siauw ditanya apakah medapat honor dari kegiatan-kegiatan dakwahnya, ia menjawab iya. Akibat salah menggunakan visa tersebut, ia kemudian ditahan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut, bukan dipenjara sebagaimana berita Republika. Setelah pemeriksaan, ia diputuskan tidak boleh masuk Amerika. Dalam beberapa kasus yang lain, penolakan masuk ke Amerika ini biasanya tanpa ada penjelasan sama sekali dari pihak imigrasi bandara.


Tentu saja, peristiwa penolakan Ustaz Felix Siauw ini sangat disayangkan oleh umat Islam di Amerika, khususnya dari Indonesia. Kehadiran ustaz dari Tanah Air akan semakin menyemarakkan kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam yang saat ini sedang menggeliat.


Lahan subur Pascaperistiwa terorisme 9/11, Islam di Amerika menghadapi tantangan yang sangat berat. Umat Islam setelah peristiwa itu digambarkan oleh media sebagai orang-orang yang menganut paham kekerasan dan terorisme sehingga dianggap berbahaya bagi keselamatan negeri Barack Obama ini. Namun seiring waktu, Islam justru semakin berkembang dan menemukan lahan suburnya di Amerika. Imam Faisal Abdul Rauf dalam bukunya, Moving the Mountain: Be yond the Ground Zero to a New Vision of Islam in America (2012), sudah memprediski Islam di Amerika akan berkembang secara bertahap.


Dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah Islamic center atau masjid di Amerika mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut Imam Sham si Ali, sebelum peristiwa 9/11 tahun 2001 jumlah masjid di New York masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu, jumlah masjid ber tambah sampai 250 buah yang tersebar di seantero Kota New York. Bahkan, Islamic Center Park 51 yang berada dua blok dari Ground Zero tempat WTC hancur, diizinkan berdiri oleh wali kota New York saat itu, Bloomberg, yang keturunan Yahudi, padahal saat itu beberapa warga New York menentangnya.


Perkembangan Islam juga bisa dilihat dari menjamurnya kedai makanan halal. Dalam empat tahun terakhir di Kota New York bermunculan pedagang kaki lima (cart food) yang berlabel "halal food". Hampir di setiap pusat keramaian dan tempat wisata New York bisa ditemukan dengan mudah kedai makanan halal tersebut, seperti di Times Square, kantor PBB, bahkan dekat lokasi memorial Park 9/11 Ground Zero.


Umat Islam di Kota New York memang sangat cepat pertumbuhannya. Ini terjadi karena faktor imigrasi atau kedatangan pekerja migran dari negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Bangladesh, dan Mesir, selain juga karena faktor keturunan dan konversi masuk Islam. Pertumbuhan kuantitas umat Islam ini juga dibarengi dengan pertumbuhan aliran Islam. Di Kota New York terdapat komunitas Islam Sunni, Syi'ah, bahkan Ahmadiyah. Mereka menyatu dengan perbedaannya masing-masing mengembangkan dakwahnya dan juga membentuk organisasi Islam di tingkat kota maupun tingkat nasional.


Inovasi dakwah


Ada sisi unik dari kegiatan dakwah Islam di Amerika. Dakwah tidak hanya dilakukan secara eksklusif internal, tapi juga secara eksternal (outreach), yaitu melalui dialog dengan komunitas agama lain. Seperti Imam Shamsi Ali yang menginisiasi program dialog lintas iman (interfaith dialogue) dengan komunitas Yahudi bersama-sama dengan Rabbi Marc Schneier, tokoh terkenal Rabbi Yahudi di New York. Ide dialog ini awalnya banyak ditentang oleh kedua komunitas tersebut.


Isu Palestina-Israel sering menjadi bahan bakar yang mudah menyulut emosi para imam dan rabi ketika mereka awal-awal berdialog. Saat itu, prasangka dan stereotip masih sangat kuat menyelimuti. Seiring waktu kedua komunitas ini mulai saling menyapa dan saling memahami. Imam Shamsi Ali dan Rabbi Schneier bahkan menerbitkan buku bersama berjudul, Sons of Abraham: Issues Unite and Divide Jews and Muslims (2013), yang memaparkan kesamaan dan perbedaan kedua agama turunan Nabi Ibrahim ini. Buku tersebut disambut hangat oleh komunitas Islam dan juga Yahudi. Beberapa kali telah diadakan bedah buku, termasuk pada Ahad (9/3) di Komunitas Islam Jamaica New York. ●

Dimuat di Opini Republika

Uwes Fatoni  ;   Dosen UIN Bandung, Peserta Program Sandwich Kemenag RI di Amerika

Dakwah di Amerika Serikat
8 Pekerjaan yang Jarang Ditemukan di Amerika


Dalam pandangan saya, pekerjaan apapun selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan menghasilkan uang adalah pekerjaan yang baik. Terlepas apakah pekerjaan itu terkategorikan pekerjaan kasar atau pekerjaan profesional. Selama tinggal di Amerika Serikat saat ini, saya memperhatikan ragam profesi yang digeluti oleh orang-orang Amerika dan membandingkannya dengan di tanah air. Ada beberapa pekerjaan yang di Amerika ternyata tidak dikenal atau jarang dilakukan atau tidak lagi dilakukan oleh manusia alias sudah diganti oleh mesin. Pekerjaan apakah itu :

1. Kondektur Bis

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Santa Barbara, angkutan umum yang saya temui selain taksi adalah bis kota yaitu MTD Santa Barbara. Tipenya sama dengan Busway Trans Jakarta. Di sini tidak ada angkutan kota (angkot) seperti di tanah air, hanya ada bis atau kereta untuk angkutan umum darat. Perbedaan Bis kota di sini dengan di tanah air adalah sopir bis yang bekerja sendiri. Tidak ada konduktur apalagi petugas keamanan seperti di Trans Jakarta. Penumpang membayar ongkos dengan memasukkan uang cash atau kartu langganan ke mesin yang berada tepat di pintu masuk bis bersebelahan dengan kursi supir. Ongkos jarak jauh atau dekat sama $1.75. Untuk orang tua dan anak-anak ada pengurangan harga. Kita bisa menghemat dengan membeli kartu tiket pass 10 rit untuk 10 kali naik bis seharga $11. Kalau ingin lebih berhemat lagi beli kartu pass untuk 30 hari hanya $52, mau berapa kali pun dalam sehari kita naik bis bebas dengan kartu ini. Khusus mahasiswa dan pelajar mereka cukup menunjukkan kartu mahasiswa yang sudah diberi stiker khusus, karena mereka sudah membayarnya bersamaan dengan bayara uang kuliah/sekolah. Bila kita ingin berhenti, tidak perlu menggedor-gedor pintu atau memukul kaca bis dengan koin, cukup tarik tali yang melintang di pinggir jendela, dan tanda “request stop” akan berbunyi. Kelebihan bis kota di Amerika, sepeda bisa naik ke bis, ada rak depan bis yang bisa disimpan untuk sepeda. Tapi kita sendiri yang harus menaikkan dan menurunkan sepeda tersebut.

13928804701924784409

2. Tukang Parkir

Bila di tanah air tukang parkir bisa ditemui di mana-mana, baik yang resmi dengan baju oranyenya, maupun yang liar yang menarik tarif parkir seenak jidatnya, seperti di Gazibu hari Minggu, di Amerika saya tidak menemukan satu pun tukang parkir. Semua karcis parkir melalui mesin, sama seperti yang baru diujicobakan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Bedanya, kalau di Bandung masih ada tukang parkir dengan pakaian warna oranye dengan strip batik yang menjaga mesin dan mengawasi pemilik mobil yang tidak membayar parkir, di Amerika hanya ada mesin parkir tidak ada yang menjaga satu orang pun. Setiap orang yang membawa mobil mendatangi mesin tersebut lalu membayar biaya parkir dengan Kartu ATM atau Kartu Kredit untuk satu atau dua jam. Bila ada yang tidak membayar karcis parkir atau waktu parkirnya melebihi dari yang dibayarnya di awal, maka siap-siap akan kena denda karena semua tempat parkir diawasi oleh CCTV.

3. Tukang Ojek

Di Amerika motor bukan salah satu alat transportasi yang umum dipakai masyarakat. Warga lebih memilih sepeda bila bepergian jarak dekat, atau mobil untuk jarak jauh . Jadi, jangankan tukang ojek, motornya sendiri sangat jarang ditemui, bisa dihitung dengan jari. Dalam satu hari saya hanya menemukan paling banyak 3 motor yang berlalu lalang di jalanan. Ini terjadi karena harga mobil di sini lebih murah dibandingkan harga mobil di Indonesia, misalnya, Camry terbaru di tanah air harganya bisa mencapai 400 jutaan, di sini mobil yang sama paling sekitar 250 jutaan. Sedangkan penghasilan warga Amerika 10 kali lipat dari penghasilan warga Indonesia. Jadi harga mobil di sini sama seperti harga motor di tanah air. Tidak aneh bila jarang yang beli motor, apalagi jadi tukang ojek.

4. Pa Ogah

Di Amerika mobil memang banyak, tapi ruas jalanan lebih banyak dan lebih luas. Sangat jarang saya menemukan jalanan macet, kecuali di kota (downtown). Tapi itu juga pada waktu-waktu tertentu, dan tidak begitu panjang seperti di Indonesia. Ini memang pengalaman saya di Santa Barbara, kota yang tidak begitu besar, saya belum mengetahui kalau di kota besar seperti di LA atau New York. Jadi karena tidak ada kemacetan, maka Pa Ogah tidak dibutuhkan di sini. Paling ada juga relawan penyebrang jalan. Seperti yang saya lihat di pasar malam jalan state downtown, yang menggunakan jalan umum beberapa blok untuk tempat pasarnya. Ketika banyak orang yang berkumpula untuk menyebrang di persimpangan jalan, relawan tersebut ikut membantu para penyebrang itu untuk lewat. Namanya relawan mereka melakukan dengan sukarela dan tidak ada satu orang pun yang memberi uang kepadanya.

5. Pengamen

Di Indonesia pengamen itu sudah jadi profesi. Setingkat Aa Gym saja menurut penuturannya dulu sewaktu masih jadi mahasiswa pernah mengamen dengan berkeliling komplek perumahan. Di Indonesia pengamen baik yang tanpa banyak modal, hanya kecrekan atau yang bermodal alat musik canggih bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah berikutnya, atau menghibur (ada juga yang menyebut mengganggu) dari satu toko ke toko berikutnya. Tak jarang mereka juga mendekati orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan. Di Bandung tahun ini pengamen bisa masuk ke restauran dan hotel untuk memberikan hiburan. Walikota Ridwan Kamil yang alumni Amerika itu mengintruksikan hotel dan restauran untuk memberdayakan mereka. Di negeri Paman Sam saya jarang melihat pengamen yang berkeliling seperti di tanah air. Paling ada seniman dengan alat musik canggih menghibur di pasar malam. Itu pun tidak banyak paling satu atau dua orang.

6. Pedagang Kaki Lima

Masalah akut di kota-kota besar Indonesia adalah PKL yang semrawut. Di negeri Barack Obama ini saya tidak menemukan PKL menguasai jalanan. Memang pernah saya menemukan PKL 3 orang menggunakan roda nangkring di taman kota yang banyak didatangi anak-anak bermain karena ada taman bermain yang lengkap. Namun, mereka harus mendapatkan izin yang sangat ketat dan diperiksa makanan yang akan dijualnya. Bandingkan dengan di tanah air PKL ada di mana-mana. Di Gazibu Bandung contohnya, sebelum masa Ridwan Kamil, jumlah pedagang malah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang mau berolah raga pada hari minggu. Sebetulnya itu positif, karena membuka lapangan pekerjaan, namun seringkali para pedagang ini berjualan tanpa izin, tidak mau diatur dan barang dagangannya tidak ada yang mengecek. Lihat saja lihat pedagang di depan sekolah, anak-anak diracun dengan makanan yang tidak jelas agar tetap murah sesuai uang jajan anak sekolah.

7. Pedagang Pulsa

Merebaknya ponsel membuka peluang penjualan pulsa. Itu di tanah air, kalau di sini saya tidak menemukan tukang pulsa yang menjual nomor dan paket pulsa sambil bersaing banting harga. Operator selular di Amerika sebetulnya banyak seperti di Indonesia. Di sini ada AT&T dan T-Mobile untuk GSM, Verizon, US Cellular dan Sprint untuk CDMA. Mereka tidak menjual pulsa murah, tapi mereka lebih memperhatikan paket langganan dimana sms dan nelepon gratis ke nomor manapun selama masih di Amerika. Saya menggunakan AT&T dengan paket onGo, langganan selama 1 bulan dengan tambahan paket data internet LTE atau 4G. Jadi tidak lagi memikirkan mau nelepon habis pulsa harus nyari pulsa dulu. Kalau waktu langganan sudah habis, ya bayar lagi di gerai operator tersebut yang biasanya ada di pusat-pusat perbelanjaan.

8. Petugas Pom Bensin

Berbeda dengan di tanah air yang di tiap pom bensin pasti ada banyak pelayan yang mengisi bensin, Di Amerika Pom bensin itu tidak dijaga pelayan. Kita harus mengoperasikan sendiri mesin bensin ketika mau mengisi bahan bakar. Setelah selesai bayar di kasir yang ada di toko bagian tengah pom bensin tersebut. Pom Bensin mencantumkan harganya di layar di pinggir jalan, jadi kalau ada orang yang mau beli bensin mereka akan mudah untuk mengenali dan menghitung biaya yang harus dikeluarkannya.

Biar adil saya juga akan menyebutkan pekerjaan yang masih laku di sini seperti juga di Indonesia. Beberapa diantaranya 1) tukang kebun dan petani. Di sini tukang kebun dan petani masih digunakan sekalipun tugasnya sudah dibantu oleh alat-alat modern. potong rumput pake mobil pemotong seperti mobil golf, menyiram pohon dengan alat keran yang otomatis keluar air sendiri dalam jangka waktu tertentu. 2) pengemis. pekerjaan yang hina dina ini ternyata masih ada juga. Di sini mereka menyebutnya homeless (tunawisma) mereka membawa poster bertuliskan “help, need food” berdiri di perempatan gerbang pasar. Tapi saya lihat jumlahnya tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Beberapa pengemis bahkan bergaya, mereka punya sepeda, punya anjing dan kalau pengemis di stasiun kereta mereka membawa travel bag. Mereka meminta dengan cara sopan “Can give me 1 dollar for food?”. Kalau kita menolak mereka pergi meminta ke orang berikutnya. 3) pencuri. Sekalipun Amerika aman dari kriminalitas (kecuali beberapa kasus yang muncul di televisi), ternyata banyak pencuri yang menyasar sepeda. Saya pernah mengalami kehilangan sepeda di depan KMart, sebuah supermarket. Saya adukan ke call centernya mereka bilang itu sudah biasa terjadi, silahkan laporkan saja ke polisi. Saya ceritakan ke beberapa teman yang sudah lama tinggal di sana, mereka menyatakan juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi pencurian sepeda itu hal yang umum. Bahkan ada yang mencuri sepeda dengan ditinggalkan ban depannya saja, karena yang dikunci oleh pemilik sepeda hanya ban depan saja ke rak parkir sepeda. Harga sepeda memang lumayan, sepeda bekas harganya sekitar $100 atau 1,2 jutaan, kalau masih bagus bisa lebih mahal lagi.
Menikmati Fasilitas Perpustakaan di Universitas Amerika

Perpustakaan memiliki fungsi yang ideal sebagai tempat gudang ilmu. Berkunjung ke perpustakaan berarti berupaya mencerdaskan diri kita untuk belajar dan memahami karya-karya bermutu. Perpustakaan menurut UU No. 43 tahun 2007 bertujuan sebagai sumber informasi untuk mencerdasakan bangsa dan menumbuhkan budaya gemar membaca. Dengan demikian perpustakaan dikelola secara profesional.

Sayang, sekalipun UU-nya sudah ada ternyata perpustakaan di Indonesia masih sangat jarang  menjadi tempat utama kunjungan masyarakat, termasuk juga perpustakaan kampus. Masih banyak perpustakaan kampus yang tidak jauh berbeda dengan tempat pemakaman buku. Kondisinya sepi, berdebu, sekali-sekali didatangi  mahasiswa yang ingin membaca skripsi, tesis atau disertasi kakak angkatannya untuk dipelajari, ditiru atau bahkan dicontek. Tak ubahnya pemakaman yang hanya didatangi oleh orang yang ingin memberikan sesajen. Perpustakaan terkadang ramai setahun sekali  ketika mahasiswa akan meminta surat keterangan bebas pinjaman seperti pemakaman yang didatangi setaun sekali untuk nyekar.  Selebihnya, hari-hari biasa perpustakaan, termasuk perpustakaan kampus menjadi gedung yang terabaikan.

Kondisi ini bila di kampus terjadi karena kurangnya perhatian dan dukungan dari pimpinan perguruan tinggi dalam mengadakan buku-buku bermutu dan  terbaru, berlangganan jurnal ilmiah atau menyediakan fasilitas wifi gratis bagi customernya. Imej buruk ini mungkin sudah berubah di beberapa perguruan tinggi terkenal di tanah air yang memahami peran strategis perpustakaan bagi kemajuan akademik penghuninya. Beberapa perguruan tinggi terkenal seperti UI, ITB, UGM sudah memiliki perpustakaan yang wajahnya merah merona, mengundang mahasiswa untuk berkunjung dan betah berlama-lama di sana. Sisanya kebanyakan perpustakaan kampus wujuduhu ka 'adamihi (ada tapi seperti tiada)

Saya beruntung mendapat kesempatan untuk berkunjung menjadi visiting research scholar (peneliti tamu) di UCSB (University of California Santa Barbara) USA. Saya datang kesana sebagai bagian dari kegiatan Prosale Diktis Kemenag RI selama 3 bulan. Penelitian disertasi saya yang menuntut saya untuk membaca banyak buku-buku terbaru dan artikel tentang Ahmadiyah dan ex-Ahmadiyah di Indonesia dan di dunia. Satu hal yang saya cari ketika berada di Davidson Library UCSB adalah mencari buku-buku tersebut. Alhamdulilah buku-buku tentang Ahmadiyah yang dulu susah saya dapatkan ketika berada di Bandung, ternyata begitu banyak tersedia di perpustakaan Davidson Library UCSB ini. Saya bahkan menemukan buku yang dulu hanya bisa melihat covernya saja di Amazon.com atau Google books. Di sini saya bisa meminjamnya dan membacanya sepuas mungkin. Bisa dikatakan di perpustakaan universitas Amerika buku-bukunya hampir lengkap, tersedia dari buku yang cetakan paling lama sampai paling baru semua ada.





Pintu Depan Davidsons Library UCSB



Ruang Koleksi Perpustakaan

Sistem katalog buku yang terkomputerisasi melalui jaringan internet juga sangat membantu dalam  encarian buku sebelum datang ke sana. Saya tinggal search di library.ucsb.edu dan mesin pencari perpustakaan tersebut akan menunjukkan buku/artikel yang kita butuhkan. Untuk tulisan artikel jurnal internasional, perpustakaan telah berlangganan, sehingga tinggal download saja sebanyak yang kita mampu. sedangkan untuk buku-buku yang tidak saya bisa saya temukan di perpustakaan ini sy bisa pesan untuk dipinjam dari perpustakaan kampus kota lain. Jadi kalau kita butuh beberapa buku yang ternyata berada di perpustakaan kota lain pesan saja dan tunggu beberapa hari sampai buku tersebut  diantarkan ke perpustakaan tempat kita terdaftar jadi anggota. Kalau bukunya ada di negara lain kita bisa baca format microtichie atau microfilm. Saya diperkenankan meminjam disertasi asli Prof Deddy Mulyana di perpustakaan Monash University  Australia  dengan membacanya melalui file Microtiche, file khusus yang hanya bisa dibaca melalui microtichie reader yang juga disediakan  di perpustakaan. Luar biasa.....





Rak Buku bertema tentang Keislaman


Di sisi lain, mahasiswa saya lihat sangat betar berada di dalam perpustakaan, ruangan perpustakaan betul-betul diciptakan untuk rasa nyaman. Ruang baca dan ruang koleksi dipisah. Meskipun begitu mahasiswa mau bawa tas dan laptop ke dalam ruangan baca, silahkan saja tidak masalah. Mereka mau ngopi ataungemil makanan bisa beli di toko makanan yang disediakan di lantai dasar perpustakaan dekat bagian sirkulasi. Tapi tentu saja makanan itu tidak boleh dibawa ke ruang baca di lantai atas. Dengan suasana seperti itu mahasiswa betul-betul merasa betah berada di perpustakaan. Mereka bisa baca sepuasnya buku-buku yang ada di sana sampai malam hari, karena jam buka perpustakaan sampai tengah malam. Mereka mau menulis apapun mudah, toh referensinya melimpah.




Ruang Baca Davidsons Library UCSB

Aturan peminjaman sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di perpustakaan tanah air, hanya yang membedakan jumlahnya yang boleh dipinjamnya.  Saya sebagai visiting reseacher diperkenankan meminjam sampai maksimal 50 buku dalam waktu 3 minggu. Ini sama seperti mahasiswaundergraduate/S1. Bagi mahasiswa S2 dan S3 yang lebih banyak kewajiban membacanya bisa meminjam sampai 200 buku bahkan yang sedang riset bisa sampai 300 buah. Sedangkan dosen dan staff UCSB diberi keleluasaan hampir tak terbatas. Mereka bisa meminjam buku sampai 1000 buah. Bahkan berapa pun jumlah buku  yang ingin mereka pinjam akan disediakan asal kuat saja membacanya. Pantas dosen-dosen di Amerika sangat produktif menulis, mereka tidak dipusingkan dengan harga buku yang selangit, karena semua buku akademik terbaru sudah otomatis tersedia di perpustakaan kampus tatkala hari pertama dilanunching.



1390439303314977482Jam Buka Perpustakaan Selama Musim Winter 2014

Cara pengembalian buku juga cukup sederhana. Masukkan saja bukunya ke kotak pengembalian. Mahasiswa tidak perlu mencatatkan lagi buku yang akan dikembalikannya. cukup simpan dan nanti akan didata oleh petugas perpustakaan. Kalau ingin memperpanjang, tidak perlu datang ke perpustakaan, cukup klik saja permohonan perpanjangan lewat internet. Beres. Kita bisa memperpanjang peminjaman sampai lim a kali. Namun, bila perpustakaan meminta kita untuk mengembalikan kita harus segera menyerahkannya. Kalau tidak akan kena denda. Demikian juga dengan keterlambatan dan juga kehilangan dendanya cukup besar &65 dollar. Jadi harus berhati-hati dalam menjaga buku. Jangan sampai hilang.

Anda punya pendapat lain tentang perpustakaan. Silahkan sampaikan di bagian komentar.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center Global and International Studies selama Januari - April 2014. Tunggu tulisan lainnya.)

Baca juga :

Shalat Yuk, tapi di mana?

makan Yuk, tapi yang halal!

Jarak Indonesia-Amerika Serikat itu Dekat Loh!
uwes shalat

Kesulitan ke-2 hidup di negara non-muslim adalah melaksanakan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Penentuan jadwal waktu shalat di USA tidak bisa merujuk ke negara asal seperti ke Indonesia. Letak geografisnya berbeda. Di sini kita akan kesulitan untuk bisa mendengar azan waktu datangnya shalat, apalagi azan yang riuh seperti di Indonesia. Jadi kita tidak tahu dengan tepat kapan waktu shalat tiba. Awalnya pas saya datang ke Santa Barbara CA, USA saya shalat mengikuti jadwal di Indonesia, Shubuh : +- 04.00, Dhuhur : +- 12.00, Ashar : +- 3.30 sore, Magrib +- 6 sore, dan Isya : +-7 sore. Ternyata pada saat winter seperti sekarang ini, waktu siang di California lebih pendek dibandingkan waktu malam yaitu sekitar 10 jam. Alhasil waktu shalat juga bergeser. Akhirnya saya googling untuk menemukan waktu shalat lokal Santa Barbara. Saya menemukan jadwal shalat dari websitehttp://www.islamsb.org/about-us/. Anda bisa lihat jadwalnya di foto di bagian bawah. Terasa aneh juga mengikuti jadwal shalat yang berbeda. Shalat subuh jam 6 pagi. Kalau di Bandung matahari terbit jam 6, di sini jam 7.30. Sedang shalat Duhur dan Ashar waktunya hampir sama dengan di Indonesia. Untuk shalat magrib waktu lebih cepat satu jam yaitu jam 5 sore. Di Santa Barbara jam 5 sore sudah gelap, matahari sudah terbenam. Jadi kalau saya terlena dengan aktivitas di kampus lalu lihat jam ternyata sudah jam 6 sore saya harus cepat-cepat shalat magrib karena setengah jam lagi sudah masuk waktu Isya.

13896182541479848092
Selain waktu shalat, tempat shalat juga susah ditemukan. Masjid adalah tempat yang mewah di Amerika. Di Santa Barbara masjid hanya ada satu, dikelola olehIslamicSociety SantaBarbara, dengan pemimpinnya imam Yama Niazi. Untuk shalat 5 waktu mereka menggunakan kantor di 650 Ward Dr, Goleta, CA 93111 yang didesain sebagai masjid. Dari luar tidak tampak seperti masjid, tapi ketika masuk terasa aura masjidnya. Saya dapat kesempatan shalat tadi sore untuk shalat magrib di masjid ini, diantar teman mahasiswa S3 UCSB dari Turki Ahmad Farouq. Adapun untuk shalat Jum'at yang butuh ruang lebih luas lokasi masjid terletak di Goleta Valley Community Center. Setiap shalat Jum'at jemaah bisa mencapai 80 orang. Kebetulan Jum'at kemarin saya tidak sempat shalat di sana, masih perjalanan dari Riverside ke Santa Barbara. Dua lokasi ini belum bisa disebut sebagai masjid, karena masih dalam kondisi sementara.

Alhamdulilah bulan Desember 2013 kemarin, komunitas muslim Santa Barbara mendapat izin untuk mendirikan masjid dari dewan pemerintah. Butuh 10 tahun untuk bisa mendapat izin mendirikan bangunan, butuh dukungan dari komunitas agama lain agar izin itu semakin mudah didapat. Tidak seperti di Indonesia ada tempat ibadah yang berdiri hanya dengan syarat 30 kepala keluarga dan tandatangan warga yang diwakilkan kepada RT. Di sini Anda harus minta izin dewan kota. Bila di Indonesia banyak terjadi penentangan pendirian rumah ibadah, karena proses perizinannya tidak diikuti dengan benar. Di Amerika perlu tahunan untuk bisa mendirikan tempat ibadah termasuk masjid. Shalat di masjid tentu berbeda dengan shalat sendirian, Terasa kesejukan ketika shalat di masjid berjamaah dengan sesama muslim dari berbagai negara. Hanya memang harus bolak-balik naik bus/mobil kalau ingin shalat 5 waktu berjamaah di masjid, karena lokasinya yang jauh.

Kita bisa saja shalat di manapun, di kantor, di aula atau di taman. Hanya yang jadi masalah kemana arah kiblatnya. Beruntung ada teknologi yang membantu kita untuk menentukan arah kiblat. Aplikasi android atau Iphone bisa kita manfaatkan menunjukkan kemana arah kiblat. Di AS tentu saja arah kiblat itu tidak sama dengan di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu tahu arah mata angin, saya hanya lihat aplikasi Muslim Adhan di tablet samsung 7+ saya, lalu ikuti arahnya dengan bantuan GPS. Sebetulnya aplikasi-aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, seperti aplikasi yang saya gunakan. Dalam aplikasi tersebut sudah ada arah kiblat, waktu shalat sesuai setting lokasi kita dan juga alamat masjid terdekat kalau kita ingin shalat berjamaah lengkap dengan peta arah menuju masjid dari lokasi kita.

1389618393434737398
Shalat sebenarnya bisa dilakukan di manapun. Amerika adalah negara dengan penduduk yang cukup toleransi dalam hal beragama. Banyak yang tahu bahwa muslim itu punya kewajiban ibadah 5 kali sehari. Contohnya, ketika saya ingin shalat, saya dengan mudah dapat izin untuk menggunakan salah satu ruangan di Orfalea Center UCSB untuk shalat. Mereka memberikan izin untuk shalat di ruangan tersebut yang terasa nyaman, bersih dan mudah berkonsentrasi. Dalam sebuah acara akademik memang sering disediakan "Praying Room" tempat ibadah. Tapi itu bukan mushala seperti petunjuk tulisan bahasa Inggris di ruangan bandara di Indonesia. Praying room adalah tempat ibadah bagi semua agama. Jadi jangan berharap kita bisa konsentrasi ibadah di ruangan itu. Karena ketika kita menggelar sajadah kita dikelilingi oleh atribut ibadah agama lain, ada patung Yesus, Budha, Dewa Hindu, atau simbol Yahudi.

Oleh karena itu, beruntung bila anda tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim. Kita bisa mendengarkan datangnya waktu shalat dari azan yang riuh dari masjid-masjid atau dari media televisi/radio. Kita juga mudah mengetahui arah kiblat atau menemukan masjid, atau mushala terdekat untuk shalat. Itu semua adalah kemewahan yang dimiliki umat Islam di Indonesia dan juga di negara-negara muslim lainnya. manfaatkanlah wahai saudaraku seiman kemewahan tersebut. Kerjakan shalat awal waktu karena kita sangat mudah mengetahui waktu shalat yang teratur.

Namun, tinggal di negara non-muslim juga tidak masalah. Saya sangat yakin dengan ayat Qur'an yang berbunyi "Sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan". Sesungguhnya mengamalkan Islam di negara non-muslim itu tidak berat. Tergantung kepada diri kita sendiri mau memanfaatkan kesulitan itu untuk meraih pahala yang lebih besar atau terlena, terbawa arus lingkungan yang tidak Islami dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Anda punya pendapat ? Saya tunggu komentarnya.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.)

Baca tulisan lainnya

Makan Yuk? Tapi yang Halal
Susahnya Mencari Makanan Halal di Amerika

Ini adalah serial tulisan pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.

Santa Barbara adalah kota kecil di sebelah utara California berjarak sekitar 2,5 jam naik kereta api.  Di kota bekas jajahan Spanyol dan Meksiko ini komunitas muslim sangat sedikit. Sebagai muslimbanyak kesulitan yang harus saya hadapi dalam menjalankan kewajiban agama. Islam itu sangat teratur dalam segala hal sehingga harus diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan beragama bahkan yang sekecil-kecilnya. Tulisan ini bersifat serial, akan menceritakan pengalaman saya tinggal di Amerika mulai dari masalah makanan, shalat, tempat tinggal, cara bergaul, kegiatan akademik, dan lain-lain.

Kesulitan pertama berada di negara non-muslim adalah mencari makanan dan minuman yang halal. Berdasarkan pengalaman sampai hari ini tinggal di CA USA ada 4 kategori makanan dan minuman yang bisa kita temukan di restauran atau rumah makan : 1. jelas halalnya (makan dan minum di restoran muslim atau makanan/minuman ada label halal di kemasannya), 2. bukan makanan haram tapi tidak disembelih dgn cara Islam (seperti chicken atau beef), 3. bukan makanan haram tapi pengolahannya campur dgn makanan haram (seperi ikan digoreng di wajan yg dipakai untuk masakm babi) dan 4. jelas haramnya (pork, bacon, ham : semua artinya babi tapi beda jenisnya). Minuman juga demikian, harus zero alkohol. Beruntung teman2 di UCSB faham dengan keyakinan saya sebagai muslim dan menghargainya keputusan saya untuk memilih makanan tertentu. Mereka bahkan  membantu untuk menjelaskan apakah makanan/minumannya halal atau tidak.

Menurut beberapa teman dosen UIN Bandung yang pernah belajar di luar negeri, kalau kita ingin makanan halal ya harus masak sendiri. Harus mau merepotkan diri menyiapkan makanan untuk beberapa kali makan, sarapan, makan siang dan makan malam. masak sekali lalu tinggal dihangatkan. Selesai. Dengan masak sendiri katanya kita bisa berhemat juga. Berdasarkan pengalaman, harga makanan di Amerika itu berkisar antara 5-8 dolar. Itu makanan yang normal, belum ditambah minumannya. Jadi tinggal anda hitung sendiri, kalikan 3 kali makan sehari, kali 30 hari. Satu bulan kantong langsung menipis. Dengan masak sendiri kita cukup beli bahan 5 dolar dan bisa dimakan untuk satu hari. Saya sendiri belum mencobanya, karena saat ini masih tinggal di hotel. Mungkin setelah tinggal di kosan, saya akan mengikuti saran tersebut.

Dari gambar di bawah ini menurut anda mana minuman dan makanan yang kategori 4 : jelas haramnya?

13896176362016899980

13896176891227063251

Bila anda menjawab makanan yang ada tulisan "Pork" itu makanan haram, Anda benar karena pork itu artinya babi. Minuman yang beralkohol dalam gambar di atas ada di gelas sebelah kanan jus jeruk, itu beer. Harus hati-hati  karena warnanya sama dengan es teh di gelas kedua dari kanan. Yang paling  kanan itu minuman fresh water. Kalau di Indonesia seperti Aqua.

Tunggu tulisan saya berikutnya ya

- Shalat Yuk, Tapi di mana?