Workshop Mendeley di UIN Ar-Raniry Aceh

Berbagi ilmu bersama dosen dan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh 2017

Tour de Merapi Yogyakarta 2017

Rombongan Tour Dosen dan Pegawai Administrasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 2017

Workshop OJS di UPI Tasikmalaya

Foto bersama pimpinan kampus UPI Tasikmalaya setelah Workshop OJS (Open Journal System) Juni 2017

Perpustakaan di Universitas Amerika

Pintu gerbang perpustakaan Davidsons Library UCSB, California Amerika Serikat.

Al Jam'iatul Washliyah Provinsi Jawa Barat

Kunjungan Pengurus Wilayah (PW) Al-Jam'iatul Washliyah ke Pengurus Daerah Al-Washiliyah Cirebon.

Jumat, 21 Februari 2014

Menikmati Fasilitas Perpustakaan di Universitas Amerika


Perpustakaan memiliki fungsi yang ideal sebagai tempat gudang ilmu. Berkunjung ke perpustakaan berarti berupaya mencerdaskan diri kita untuk belajar dan memahami karya-karya bermutu. Perpustakaan menurut UU No. 43 tahun 2007 bertujuan sebagai sumber informasi untuk mencerdasakan bangsa dan menumbuhkan budaya gemar membaca. Dengan demikian perpustakaan dikelola secara profesional.

Sayang, sekalipun UU-nya sudah ada ternyata perpustakaan di Indonesia masih sangat jarang  menjadi tempat utama kunjungan masyarakat, termasuk juga perpustakaan kampus. Masih banyak perpustakaan kampus yang tidak jauh berbeda dengan tempat pemakaman buku. Kondisinya sepi, berdebu, sekali-sekali didatangi  mahasiswa yang ingin membaca skripsi, tesis atau disertasi kakak angkatannya untuk dipelajari, ditiru atau bahkan dicontek. Tak ubahnya pemakaman yang hanya didatangi oleh orang yang ingin memberikan sesajen. Perpustakaan terkadang ramai setahun sekali  ketika mahasiswa akan meminta surat keterangan bebas pinjaman seperti pemakaman yang didatangi setaun sekali untuk nyekar.  Selebihnya, hari-hari biasa perpustakaan, termasuk perpustakaan kampus menjadi gedung yang terabaikan.

Kondisi ini bila di kampus terjadi karena kurangnya perhatian dan dukungan dari pimpinan perguruan tinggi dalam mengadakan buku-buku bermutu dan  terbaru, berlangganan jurnal ilmiah atau menyediakan fasilitas wifi gratis bagi customernya. Imej buruk ini mungkin sudah berubah di beberapa perguruan tinggi terkenal di tanah air yang memahami peran strategis perpustakaan bagi kemajuan akademik penghuninya. Beberapa perguruan tinggi terkenal seperti UI, ITB, UGM sudah memiliki perpustakaan yang wajahnya merah merona, mengundang mahasiswa untuk berkunjung dan betah berlama-lama di sana. Sisanya kebanyakan perpustakaan kampus wujuduhu ka 'adamihi (ada tapi seperti tiada)

Saya beruntung mendapat kesempatan untuk berkunjung menjadi visiting research scholar (peneliti tamu) di UCSB (University of California Santa Barbara) USA. Saya datang kesana sebagai bagian dari kegiatan Prosale Diktis Kemenag RI selama 3 bulan. Penelitian disertasi saya yang menuntut saya untuk membaca banyak buku-buku terbaru dan artikel tentang Ahmadiyah dan ex-Ahmadiyah di Indonesia dan di dunia. Satu hal yang saya cari ketika berada di Davidson Library UCSB adalah mencari buku-buku tersebut. Alhamdulilah buku-buku tentang Ahmadiyah yang dulu susah saya dapatkan ketika berada di Bandung, ternyata begitu banyak tersedia di perpustakaan Davidson Library UCSB ini. Saya bahkan menemukan buku yang dulu hanya bisa melihat covernya saja di Amazon.com atau Google books. Di sini saya bisa meminjamnya dan membacanya sepuas mungkin. Bisa dikatakan di perpustakaan universitas Amerika buku-bukunya hampir lengkap, tersedia dari buku yang cetakan paling lama sampai paling baru semua ada.





Pintu Depan Davidsons Library UCSB



Ruang Koleksi Perpustakaan

Sistem katalog buku yang terkomputerisasi melalui jaringan internet juga sangat membantu dalam  encarian buku sebelum datang ke sana. Saya tinggal search di library.ucsb.edu dan mesin pencari perpustakaan tersebut akan menunjukkan buku/artikel yang kita butuhkan. Untuk tulisan artikel jurnal internasional, perpustakaan telah berlangganan, sehingga tinggal download saja sebanyak yang kita mampu. sedangkan untuk buku-buku yang tidak saya bisa saya temukan di perpustakaan ini sy bisa pesan untuk dipinjam dari perpustakaan kampus kota lain. Jadi kalau kita butuh beberapa buku yang ternyata berada di perpustakaan kota lain pesan saja dan tunggu beberapa hari sampai buku tersebut  diantarkan ke perpustakaan tempat kita terdaftar jadi anggota. Kalau bukunya ada di negara lain kita bisa baca format microtichie atau microfilm. Saya diperkenankan meminjam disertasi asli Prof Deddy Mulyana di perpustakaan Monash University  Australia  dengan membacanya melalui file Microtiche, file khusus yang hanya bisa dibaca melalui microtichie reader yang juga disediakan  di perpustakaan. Luar biasa.....





Rak Buku bertema tentang Keislaman


Di sisi lain, mahasiswa saya lihat sangat betar berada di dalam perpustakaan, ruangan perpustakaan betul-betul diciptakan untuk rasa nyaman. Ruang baca dan ruang koleksi dipisah. Meskipun begitu mahasiswa mau bawa tas dan laptop ke dalam ruangan baca, silahkan saja tidak masalah. Mereka mau ngopi ataungemil makanan bisa beli di toko makanan yang disediakan di lantai dasar perpustakaan dekat bagian sirkulasi. Tapi tentu saja makanan itu tidak boleh dibawa ke ruang baca di lantai atas. Dengan suasana seperti itu mahasiswa betul-betul merasa betah berada di perpustakaan. Mereka bisa baca sepuasnya buku-buku yang ada di sana sampai malam hari, karena jam buka perpustakaan sampai tengah malam. Mereka mau menulis apapun mudah, toh referensinya melimpah.




Ruang Baca Davidsons Library UCSB

Aturan peminjaman sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di perpustakaan tanah air, hanya yang membedakan jumlahnya yang boleh dipinjamnya.  Saya sebagai visiting reseacher diperkenankan meminjam sampai maksimal 50 buku dalam waktu 3 minggu. Ini sama seperti mahasiswaundergraduate/S1. Bagi mahasiswa S2 dan S3 yang lebih banyak kewajiban membacanya bisa meminjam sampai 200 buku bahkan yang sedang riset bisa sampai 300 buah. Sedangkan dosen dan staff UCSB diberi keleluasaan hampir tak terbatas. Mereka bisa meminjam buku sampai 1000 buah. Bahkan berapa pun jumlah buku  yang ingin mereka pinjam akan disediakan asal kuat saja membacanya. Pantas dosen-dosen di Amerika sangat produktif menulis, mereka tidak dipusingkan dengan harga buku yang selangit, karena semua buku akademik terbaru sudah otomatis tersedia di perpustakaan kampus tatkala hari pertama dilanunching.



1390439303314977482Jam Buka Perpustakaan Selama Musim Winter 2014

Cara pengembalian buku juga cukup sederhana. Masukkan saja bukunya ke kotak pengembalian. Mahasiswa tidak perlu mencatatkan lagi buku yang akan dikembalikannya. cukup simpan dan nanti akan didata oleh petugas perpustakaan. Kalau ingin memperpanjang, tidak perlu datang ke perpustakaan, cukup klik saja permohonan perpanjangan lewat internet. Beres. Kita bisa memperpanjang peminjaman sampai lim a kali. Namun, bila perpustakaan meminta kita untuk mengembalikan kita harus segera menyerahkannya. Kalau tidak akan kena denda. Demikian juga dengan keterlambatan dan juga kehilangan dendanya cukup besar &65 dollar. Jadi harus berhati-hati dalam menjaga buku. Jangan sampai hilang.

Anda punya pendapat lain tentang perpustakaan. Silahkan sampaikan di bagian komentar.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center Global and International Studies selama Januari - April 2014. Tunggu tulisan lainnya.)

Baca juga :

Shalat Yuk, tapi di mana?

makan Yuk, tapi yang halal!

Jarak Indonesia-Amerika Serikat itu Dekat Loh!

Strategi Shalat Khusu' di Amerika

uwes shalat

Kesulitan ke-2 hidup di negara non-muslim adalah melaksanakan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Penentuan jadwal waktu shalat di USA tidak bisa merujuk ke negara asal seperti ke Indonesia. Letak geografisnya berbeda. Di sini kita akan kesulitan untuk bisa mendengar azan waktu datangnya shalat, apalagi azan yang riuh seperti di Indonesia. Jadi kita tidak tahu dengan tepat kapan waktu shalat tiba. Awalnya pas saya datang ke Santa Barbara CA, USA saya shalat mengikuti jadwal di Indonesia, Shubuh : +- 04.00, Dhuhur : +- 12.00, Ashar : +- 3.30 sore, Magrib +- 6 sore, dan Isya : +-7 sore. Ternyata pada saat winter seperti sekarang ini, waktu siang di California lebih pendek dibandingkan waktu malam yaitu sekitar 10 jam. Alhasil waktu shalat juga bergeser. Akhirnya saya googling untuk menemukan waktu shalat lokal Santa Barbara. Saya menemukan jadwal shalat dari websitehttp://www.islamsb.org/about-us/. Anda bisa lihat jadwalnya di foto di bagian bawah. Terasa aneh juga mengikuti jadwal shalat yang berbeda. Shalat subuh jam 6 pagi. Kalau di Bandung matahari terbit jam 6, di sini jam 7.30. Sedang shalat Duhur dan Ashar waktunya hampir sama dengan di Indonesia. Untuk shalat magrib waktu lebih cepat satu jam yaitu jam 5 sore. Di Santa Barbara jam 5 sore sudah gelap, matahari sudah terbenam. Jadi kalau saya terlena dengan aktivitas di kampus lalu lihat jam ternyata sudah jam 6 sore saya harus cepat-cepat shalat magrib karena setengah jam lagi sudah masuk waktu Isya.

13896182541479848092
Selain waktu shalat, tempat shalat juga susah ditemukan. Masjid adalah tempat yang mewah di Amerika. Di Santa Barbara masjid hanya ada satu, dikelola olehIslamicSociety SantaBarbara, dengan pemimpinnya imam Yama Niazi. Untuk shalat 5 waktu mereka menggunakan kantor di 650 Ward Dr, Goleta, CA 93111 yang didesain sebagai masjid. Dari luar tidak tampak seperti masjid, tapi ketika masuk terasa aura masjidnya. Saya dapat kesempatan shalat tadi sore untuk shalat magrib di masjid ini, diantar teman mahasiswa S3 UCSB dari Turki Ahmad Farouq. Adapun untuk shalat Jum'at yang butuh ruang lebih luas lokasi masjid terletak di Goleta Valley Community Center. Setiap shalat Jum'at jemaah bisa mencapai 80 orang. Kebetulan Jum'at kemarin saya tidak sempat shalat di sana, masih perjalanan dari Riverside ke Santa Barbara. Dua lokasi ini belum bisa disebut sebagai masjid, karena masih dalam kondisi sementara.

Alhamdulilah bulan Desember 2013 kemarin, komunitas muslim Santa Barbara mendapat izin untuk mendirikan masjid dari dewan pemerintah. Butuh 10 tahun untuk bisa mendapat izin mendirikan bangunan, butuh dukungan dari komunitas agama lain agar izin itu semakin mudah didapat. Tidak seperti di Indonesia ada tempat ibadah yang berdiri hanya dengan syarat 30 kepala keluarga dan tandatangan warga yang diwakilkan kepada RT. Di sini Anda harus minta izin dewan kota. Bila di Indonesia banyak terjadi penentangan pendirian rumah ibadah, karena proses perizinannya tidak diikuti dengan benar. Di Amerika perlu tahunan untuk bisa mendirikan tempat ibadah termasuk masjid. Shalat di masjid tentu berbeda dengan shalat sendirian, Terasa kesejukan ketika shalat di masjid berjamaah dengan sesama muslim dari berbagai negara. Hanya memang harus bolak-balik naik bus/mobil kalau ingin shalat 5 waktu berjamaah di masjid, karena lokasinya yang jauh.

Kita bisa saja shalat di manapun, di kantor, di aula atau di taman. Hanya yang jadi masalah kemana arah kiblatnya. Beruntung ada teknologi yang membantu kita untuk menentukan arah kiblat. Aplikasi android atau Iphone bisa kita manfaatkan menunjukkan kemana arah kiblat. Di AS tentu saja arah kiblat itu tidak sama dengan di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu tahu arah mata angin, saya hanya lihat aplikasi Muslim Adhan di tablet samsung 7+ saya, lalu ikuti arahnya dengan bantuan GPS. Sebetulnya aplikasi-aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, seperti aplikasi yang saya gunakan. Dalam aplikasi tersebut sudah ada arah kiblat, waktu shalat sesuai setting lokasi kita dan juga alamat masjid terdekat kalau kita ingin shalat berjamaah lengkap dengan peta arah menuju masjid dari lokasi kita.

1389618393434737398
Shalat sebenarnya bisa dilakukan di manapun. Amerika adalah negara dengan penduduk yang cukup toleransi dalam hal beragama. Banyak yang tahu bahwa muslim itu punya kewajiban ibadah 5 kali sehari. Contohnya, ketika saya ingin shalat, saya dengan mudah dapat izin untuk menggunakan salah satu ruangan di Orfalea Center UCSB untuk shalat. Mereka memberikan izin untuk shalat di ruangan tersebut yang terasa nyaman, bersih dan mudah berkonsentrasi. Dalam sebuah acara akademik memang sering disediakan "Praying Room" tempat ibadah. Tapi itu bukan mushala seperti petunjuk tulisan bahasa Inggris di ruangan bandara di Indonesia. Praying room adalah tempat ibadah bagi semua agama. Jadi jangan berharap kita bisa konsentrasi ibadah di ruangan itu. Karena ketika kita menggelar sajadah kita dikelilingi oleh atribut ibadah agama lain, ada patung Yesus, Budha, Dewa Hindu, atau simbol Yahudi.

Oleh karena itu, beruntung bila anda tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim. Kita bisa mendengarkan datangnya waktu shalat dari azan yang riuh dari masjid-masjid atau dari media televisi/radio. Kita juga mudah mengetahui arah kiblat atau menemukan masjid, atau mushala terdekat untuk shalat. Itu semua adalah kemewahan yang dimiliki umat Islam di Indonesia dan juga di negara-negara muslim lainnya. manfaatkanlah wahai saudaraku seiman kemewahan tersebut. Kerjakan shalat awal waktu karena kita sangat mudah mengetahui waktu shalat yang teratur.

Namun, tinggal di negara non-muslim juga tidak masalah. Saya sangat yakin dengan ayat Qur'an yang berbunyi "Sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan". Sesungguhnya mengamalkan Islam di negara non-muslim itu tidak berat. Tergantung kepada diri kita sendiri mau memanfaatkan kesulitan itu untuk meraih pahala yang lebih besar atau terlena, terbawa arus lingkungan yang tidak Islami dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Anda punya pendapat ? Saya tunggu komentarnya.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.)

Baca tulisan lainnya

Makan Yuk? Tapi yang Halal

Susahnya Mencari Makanan Halal di Amerika


Ini adalah serial tulisan pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.

Santa Barbara adalah kota kecil di sebelah utara California berjarak sekitar 2,5 jam naik kereta api.  Di kota bekas jajahan Spanyol dan Meksiko ini komunitas muslim sangat sedikit. Sebagai muslimbanyak kesulitan yang harus saya hadapi dalam menjalankan kewajiban agama. Islam itu sangat teratur dalam segala hal sehingga harus diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan beragama bahkan yang sekecil-kecilnya. Tulisan ini bersifat serial, akan menceritakan pengalaman saya tinggal di Amerika mulai dari masalah makanan, shalat, tempat tinggal, cara bergaul, kegiatan akademik, dan lain-lain.

Kesulitan pertama berada di negara non-muslim adalah mencari makanan dan minuman yang halal. Berdasarkan pengalaman sampai hari ini tinggal di CA USA ada 4 kategori makanan dan minuman yang bisa kita temukan di restauran atau rumah makan : 1. jelas halalnya (makan dan minum di restoran muslim atau makanan/minuman ada label halal di kemasannya), 2. bukan makanan haram tapi tidak disembelih dgn cara Islam (seperti chicken atau beef), 3. bukan makanan haram tapi pengolahannya campur dgn makanan haram (seperi ikan digoreng di wajan yg dipakai untuk masakm babi) dan 4. jelas haramnya (pork, bacon, ham : semua artinya babi tapi beda jenisnya). Minuman juga demikian, harus zero alkohol. Beruntung teman2 di UCSB faham dengan keyakinan saya sebagai muslim dan menghargainya keputusan saya untuk memilih makanan tertentu. Mereka bahkan  membantu untuk menjelaskan apakah makanan/minumannya halal atau tidak.

Menurut beberapa teman dosen UIN Bandung yang pernah belajar di luar negeri, kalau kita ingin makanan halal ya harus masak sendiri. Harus mau merepotkan diri menyiapkan makanan untuk beberapa kali makan, sarapan, makan siang dan makan malam. masak sekali lalu tinggal dihangatkan. Selesai. Dengan masak sendiri katanya kita bisa berhemat juga. Berdasarkan pengalaman, harga makanan di Amerika itu berkisar antara 5-8 dolar. Itu makanan yang normal, belum ditambah minumannya. Jadi tinggal anda hitung sendiri, kalikan 3 kali makan sehari, kali 30 hari. Satu bulan kantong langsung menipis. Dengan masak sendiri kita cukup beli bahan 5 dolar dan bisa dimakan untuk satu hari. Saya sendiri belum mencobanya, karena saat ini masih tinggal di hotel. Mungkin setelah tinggal di kosan, saya akan mengikuti saran tersebut.

Dari gambar di bawah ini menurut anda mana minuman dan makanan yang kategori 4 : jelas haramnya?

13896176362016899980

13896176891227063251

Bila anda menjawab makanan yang ada tulisan "Pork" itu makanan haram, Anda benar karena pork itu artinya babi. Minuman yang beralkohol dalam gambar di atas ada di gelas sebelah kanan jus jeruk, itu beer. Harus hati-hati  karena warnanya sama dengan es teh di gelas kedua dari kanan. Yang paling  kanan itu minuman fresh water. Kalau di Indonesia seperti Aqua.

Tunggu tulisan saya berikutnya ya

- Shalat Yuk, Tapi di mana?
Menikmati Fasilitas Perpustakaan di Universitas Amerika

Perpustakaan memiliki fungsi yang ideal sebagai tempat gudang ilmu. Berkunjung ke perpustakaan berarti berupaya mencerdaskan diri kita untuk belajar dan memahami karya-karya bermutu. Perpustakaan menurut UU No. 43 tahun 2007 bertujuan sebagai sumber informasi untuk mencerdasakan bangsa dan menumbuhkan budaya gemar membaca. Dengan demikian perpustakaan dikelola secara profesional.

Sayang, sekalipun UU-nya sudah ada ternyata perpustakaan di Indonesia masih sangat jarang  menjadi tempat utama kunjungan masyarakat, termasuk juga perpustakaan kampus. Masih banyak perpustakaan kampus yang tidak jauh berbeda dengan tempat pemakaman buku. Kondisinya sepi, berdebu, sekali-sekali didatangi  mahasiswa yang ingin membaca skripsi, tesis atau disertasi kakak angkatannya untuk dipelajari, ditiru atau bahkan dicontek. Tak ubahnya pemakaman yang hanya didatangi oleh orang yang ingin memberikan sesajen. Perpustakaan terkadang ramai setahun sekali  ketika mahasiswa akan meminta surat keterangan bebas pinjaman seperti pemakaman yang didatangi setaun sekali untuk nyekar.  Selebihnya, hari-hari biasa perpustakaan, termasuk perpustakaan kampus menjadi gedung yang terabaikan.

Kondisi ini bila di kampus terjadi karena kurangnya perhatian dan dukungan dari pimpinan perguruan tinggi dalam mengadakan buku-buku bermutu dan  terbaru, berlangganan jurnal ilmiah atau menyediakan fasilitas wifi gratis bagi customernya. Imej buruk ini mungkin sudah berubah di beberapa perguruan tinggi terkenal di tanah air yang memahami peran strategis perpustakaan bagi kemajuan akademik penghuninya. Beberapa perguruan tinggi terkenal seperti UI, ITB, UGM sudah memiliki perpustakaan yang wajahnya merah merona, mengundang mahasiswa untuk berkunjung dan betah berlama-lama di sana. Sisanya kebanyakan perpustakaan kampus wujuduhu ka 'adamihi (ada tapi seperti tiada)

Saya beruntung mendapat kesempatan untuk berkunjung menjadi visiting research scholar (peneliti tamu) di UCSB (University of California Santa Barbara) USA. Saya datang kesana sebagai bagian dari kegiatan Prosale Diktis Kemenag RI selama 3 bulan. Penelitian disertasi saya yang menuntut saya untuk membaca banyak buku-buku terbaru dan artikel tentang Ahmadiyah dan ex-Ahmadiyah di Indonesia dan di dunia. Satu hal yang saya cari ketika berada di Davidson Library UCSB adalah mencari buku-buku tersebut. Alhamdulilah buku-buku tentang Ahmadiyah yang dulu susah saya dapatkan ketika berada di Bandung, ternyata begitu banyak tersedia di perpustakaan Davidson Library UCSB ini. Saya bahkan menemukan buku yang dulu hanya bisa melihat covernya saja di Amazon.com atau Google books. Di sini saya bisa meminjamnya dan membacanya sepuas mungkin. Bisa dikatakan di perpustakaan universitas Amerika buku-bukunya hampir lengkap, tersedia dari buku yang cetakan paling lama sampai paling baru semua ada.





Pintu Depan Davidsons Library UCSB



Ruang Koleksi Perpustakaan

Sistem katalog buku yang terkomputerisasi melalui jaringan internet juga sangat membantu dalam  encarian buku sebelum datang ke sana. Saya tinggal search di library.ucsb.edu dan mesin pencari perpustakaan tersebut akan menunjukkan buku/artikel yang kita butuhkan. Untuk tulisan artikel jurnal internasional, perpustakaan telah berlangganan, sehingga tinggal download saja sebanyak yang kita mampu. sedangkan untuk buku-buku yang tidak saya bisa saya temukan di perpustakaan ini sy bisa pesan untuk dipinjam dari perpustakaan kampus kota lain. Jadi kalau kita butuh beberapa buku yang ternyata berada di perpustakaan kota lain pesan saja dan tunggu beberapa hari sampai buku tersebut  diantarkan ke perpustakaan tempat kita terdaftar jadi anggota. Kalau bukunya ada di negara lain kita bisa baca format microtichie atau microfilm. Saya diperkenankan meminjam disertasi asli Prof Deddy Mulyana di perpustakaan Monash University  Australia  dengan membacanya melalui file Microtiche, file khusus yang hanya bisa dibaca melalui microtichie reader yang juga disediakan  di perpustakaan. Luar biasa.....





Rak Buku bertema tentang Keislaman


Di sisi lain, mahasiswa saya lihat sangat betar berada di dalam perpustakaan, ruangan perpustakaan betul-betul diciptakan untuk rasa nyaman. Ruang baca dan ruang koleksi dipisah. Meskipun begitu mahasiswa mau bawa tas dan laptop ke dalam ruangan baca, silahkan saja tidak masalah. Mereka mau ngopi ataungemil makanan bisa beli di toko makanan yang disediakan di lantai dasar perpustakaan dekat bagian sirkulasi. Tapi tentu saja makanan itu tidak boleh dibawa ke ruang baca di lantai atas. Dengan suasana seperti itu mahasiswa betul-betul merasa betah berada di perpustakaan. Mereka bisa baca sepuasnya buku-buku yang ada di sana sampai malam hari, karena jam buka perpustakaan sampai tengah malam. Mereka mau menulis apapun mudah, toh referensinya melimpah.




Ruang Baca Davidsons Library UCSB

Aturan peminjaman sebetulnya tidak jauh berbeda dengan di perpustakaan tanah air, hanya yang membedakan jumlahnya yang boleh dipinjamnya.  Saya sebagai visiting reseacher diperkenankan meminjam sampai maksimal 50 buku dalam waktu 3 minggu. Ini sama seperti mahasiswaundergraduate/S1. Bagi mahasiswa S2 dan S3 yang lebih banyak kewajiban membacanya bisa meminjam sampai 200 buku bahkan yang sedang riset bisa sampai 300 buah. Sedangkan dosen dan staff UCSB diberi keleluasaan hampir tak terbatas. Mereka bisa meminjam buku sampai 1000 buah. Bahkan berapa pun jumlah buku  yang ingin mereka pinjam akan disediakan asal kuat saja membacanya. Pantas dosen-dosen di Amerika sangat produktif menulis, mereka tidak dipusingkan dengan harga buku yang selangit, karena semua buku akademik terbaru sudah otomatis tersedia di perpustakaan kampus tatkala hari pertama dilanunching.



1390439303314977482Jam Buka Perpustakaan Selama Musim Winter 2014

Cara pengembalian buku juga cukup sederhana. Masukkan saja bukunya ke kotak pengembalian. Mahasiswa tidak perlu mencatatkan lagi buku yang akan dikembalikannya. cukup simpan dan nanti akan didata oleh petugas perpustakaan. Kalau ingin memperpanjang, tidak perlu datang ke perpustakaan, cukup klik saja permohonan perpanjangan lewat internet. Beres. Kita bisa memperpanjang peminjaman sampai lim a kali. Namun, bila perpustakaan meminta kita untuk mengembalikan kita harus segera menyerahkannya. Kalau tidak akan kena denda. Demikian juga dengan keterlambatan dan juga kehilangan dendanya cukup besar &65 dollar. Jadi harus berhati-hati dalam menjaga buku. Jangan sampai hilang.

Anda punya pendapat lain tentang perpustakaan. Silahkan sampaikan di bagian komentar.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center Global and International Studies selama Januari - April 2014. Tunggu tulisan lainnya.)

Baca juga :

Shalat Yuk, tapi di mana?

makan Yuk, tapi yang halal!

Jarak Indonesia-Amerika Serikat itu Dekat Loh!
uwes shalat

Kesulitan ke-2 hidup di negara non-muslim adalah melaksanakan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Penentuan jadwal waktu shalat di USA tidak bisa merujuk ke negara asal seperti ke Indonesia. Letak geografisnya berbeda. Di sini kita akan kesulitan untuk bisa mendengar azan waktu datangnya shalat, apalagi azan yang riuh seperti di Indonesia. Jadi kita tidak tahu dengan tepat kapan waktu shalat tiba. Awalnya pas saya datang ke Santa Barbara CA, USA saya shalat mengikuti jadwal di Indonesia, Shubuh : +- 04.00, Dhuhur : +- 12.00, Ashar : +- 3.30 sore, Magrib +- 6 sore, dan Isya : +-7 sore. Ternyata pada saat winter seperti sekarang ini, waktu siang di California lebih pendek dibandingkan waktu malam yaitu sekitar 10 jam. Alhasil waktu shalat juga bergeser. Akhirnya saya googling untuk menemukan waktu shalat lokal Santa Barbara. Saya menemukan jadwal shalat dari websitehttp://www.islamsb.org/about-us/. Anda bisa lihat jadwalnya di foto di bagian bawah. Terasa aneh juga mengikuti jadwal shalat yang berbeda. Shalat subuh jam 6 pagi. Kalau di Bandung matahari terbit jam 6, di sini jam 7.30. Sedang shalat Duhur dan Ashar waktunya hampir sama dengan di Indonesia. Untuk shalat magrib waktu lebih cepat satu jam yaitu jam 5 sore. Di Santa Barbara jam 5 sore sudah gelap, matahari sudah terbenam. Jadi kalau saya terlena dengan aktivitas di kampus lalu lihat jam ternyata sudah jam 6 sore saya harus cepat-cepat shalat magrib karena setengah jam lagi sudah masuk waktu Isya.

13896182541479848092
Selain waktu shalat, tempat shalat juga susah ditemukan. Masjid adalah tempat yang mewah di Amerika. Di Santa Barbara masjid hanya ada satu, dikelola olehIslamicSociety SantaBarbara, dengan pemimpinnya imam Yama Niazi. Untuk shalat 5 waktu mereka menggunakan kantor di 650 Ward Dr, Goleta, CA 93111 yang didesain sebagai masjid. Dari luar tidak tampak seperti masjid, tapi ketika masuk terasa aura masjidnya. Saya dapat kesempatan shalat tadi sore untuk shalat magrib di masjid ini, diantar teman mahasiswa S3 UCSB dari Turki Ahmad Farouq. Adapun untuk shalat Jum'at yang butuh ruang lebih luas lokasi masjid terletak di Goleta Valley Community Center. Setiap shalat Jum'at jemaah bisa mencapai 80 orang. Kebetulan Jum'at kemarin saya tidak sempat shalat di sana, masih perjalanan dari Riverside ke Santa Barbara. Dua lokasi ini belum bisa disebut sebagai masjid, karena masih dalam kondisi sementara.

Alhamdulilah bulan Desember 2013 kemarin, komunitas muslim Santa Barbara mendapat izin untuk mendirikan masjid dari dewan pemerintah. Butuh 10 tahun untuk bisa mendapat izin mendirikan bangunan, butuh dukungan dari komunitas agama lain agar izin itu semakin mudah didapat. Tidak seperti di Indonesia ada tempat ibadah yang berdiri hanya dengan syarat 30 kepala keluarga dan tandatangan warga yang diwakilkan kepada RT. Di sini Anda harus minta izin dewan kota. Bila di Indonesia banyak terjadi penentangan pendirian rumah ibadah, karena proses perizinannya tidak diikuti dengan benar. Di Amerika perlu tahunan untuk bisa mendirikan tempat ibadah termasuk masjid. Shalat di masjid tentu berbeda dengan shalat sendirian, Terasa kesejukan ketika shalat di masjid berjamaah dengan sesama muslim dari berbagai negara. Hanya memang harus bolak-balik naik bus/mobil kalau ingin shalat 5 waktu berjamaah di masjid, karena lokasinya yang jauh.

Kita bisa saja shalat di manapun, di kantor, di aula atau di taman. Hanya yang jadi masalah kemana arah kiblatnya. Beruntung ada teknologi yang membantu kita untuk menentukan arah kiblat. Aplikasi android atau Iphone bisa kita manfaatkan menunjukkan kemana arah kiblat. Di AS tentu saja arah kiblat itu tidak sama dengan di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu tahu arah mata angin, saya hanya lihat aplikasi Muslim Adhan di tablet samsung 7+ saya, lalu ikuti arahnya dengan bantuan GPS. Sebetulnya aplikasi-aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, seperti aplikasi yang saya gunakan. Dalam aplikasi tersebut sudah ada arah kiblat, waktu shalat sesuai setting lokasi kita dan juga alamat masjid terdekat kalau kita ingin shalat berjamaah lengkap dengan peta arah menuju masjid dari lokasi kita.

1389618393434737398
Shalat sebenarnya bisa dilakukan di manapun. Amerika adalah negara dengan penduduk yang cukup toleransi dalam hal beragama. Banyak yang tahu bahwa muslim itu punya kewajiban ibadah 5 kali sehari. Contohnya, ketika saya ingin shalat, saya dengan mudah dapat izin untuk menggunakan salah satu ruangan di Orfalea Center UCSB untuk shalat. Mereka memberikan izin untuk shalat di ruangan tersebut yang terasa nyaman, bersih dan mudah berkonsentrasi. Dalam sebuah acara akademik memang sering disediakan "Praying Room" tempat ibadah. Tapi itu bukan mushala seperti petunjuk tulisan bahasa Inggris di ruangan bandara di Indonesia. Praying room adalah tempat ibadah bagi semua agama. Jadi jangan berharap kita bisa konsentrasi ibadah di ruangan itu. Karena ketika kita menggelar sajadah kita dikelilingi oleh atribut ibadah agama lain, ada patung Yesus, Budha, Dewa Hindu, atau simbol Yahudi.

Oleh karena itu, beruntung bila anda tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim. Kita bisa mendengarkan datangnya waktu shalat dari azan yang riuh dari masjid-masjid atau dari media televisi/radio. Kita juga mudah mengetahui arah kiblat atau menemukan masjid, atau mushala terdekat untuk shalat. Itu semua adalah kemewahan yang dimiliki umat Islam di Indonesia dan juga di negara-negara muslim lainnya. manfaatkanlah wahai saudaraku seiman kemewahan tersebut. Kerjakan shalat awal waktu karena kita sangat mudah mengetahui waktu shalat yang teratur.

Namun, tinggal di negara non-muslim juga tidak masalah. Saya sangat yakin dengan ayat Qur'an yang berbunyi "Sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan". Sesungguhnya mengamalkan Islam di negara non-muslim itu tidak berat. Tergantung kepada diri kita sendiri mau memanfaatkan kesulitan itu untuk meraih pahala yang lebih besar atau terlena, terbawa arus lingkungan yang tidak Islami dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Anda punya pendapat ? Saya tunggu komentarnya.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.)

Baca tulisan lainnya

Makan Yuk? Tapi yang Halal
Susahnya Mencari Makanan Halal di Amerika

Ini adalah serial tulisan pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.

Santa Barbara adalah kota kecil di sebelah utara California berjarak sekitar 2,5 jam naik kereta api.  Di kota bekas jajahan Spanyol dan Meksiko ini komunitas muslim sangat sedikit. Sebagai muslimbanyak kesulitan yang harus saya hadapi dalam menjalankan kewajiban agama. Islam itu sangat teratur dalam segala hal sehingga harus diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan beragama bahkan yang sekecil-kecilnya. Tulisan ini bersifat serial, akan menceritakan pengalaman saya tinggal di Amerika mulai dari masalah makanan, shalat, tempat tinggal, cara bergaul, kegiatan akademik, dan lain-lain.

Kesulitan pertama berada di negara non-muslim adalah mencari makanan dan minuman yang halal. Berdasarkan pengalaman sampai hari ini tinggal di CA USA ada 4 kategori makanan dan minuman yang bisa kita temukan di restauran atau rumah makan : 1. jelas halalnya (makan dan minum di restoran muslim atau makanan/minuman ada label halal di kemasannya), 2. bukan makanan haram tapi tidak disembelih dgn cara Islam (seperti chicken atau beef), 3. bukan makanan haram tapi pengolahannya campur dgn makanan haram (seperi ikan digoreng di wajan yg dipakai untuk masakm babi) dan 4. jelas haramnya (pork, bacon, ham : semua artinya babi tapi beda jenisnya). Minuman juga demikian, harus zero alkohol. Beruntung teman2 di UCSB faham dengan keyakinan saya sebagai muslim dan menghargainya keputusan saya untuk memilih makanan tertentu. Mereka bahkan  membantu untuk menjelaskan apakah makanan/minumannya halal atau tidak.

Menurut beberapa teman dosen UIN Bandung yang pernah belajar di luar negeri, kalau kita ingin makanan halal ya harus masak sendiri. Harus mau merepotkan diri menyiapkan makanan untuk beberapa kali makan, sarapan, makan siang dan makan malam. masak sekali lalu tinggal dihangatkan. Selesai. Dengan masak sendiri katanya kita bisa berhemat juga. Berdasarkan pengalaman, harga makanan di Amerika itu berkisar antara 5-8 dolar. Itu makanan yang normal, belum ditambah minumannya. Jadi tinggal anda hitung sendiri, kalikan 3 kali makan sehari, kali 30 hari. Satu bulan kantong langsung menipis. Dengan masak sendiri kita cukup beli bahan 5 dolar dan bisa dimakan untuk satu hari. Saya sendiri belum mencobanya, karena saat ini masih tinggal di hotel. Mungkin setelah tinggal di kosan, saya akan mengikuti saran tersebut.

Dari gambar di bawah ini menurut anda mana minuman dan makanan yang kategori 4 : jelas haramnya?

13896176362016899980

13896176891227063251

Bila anda menjawab makanan yang ada tulisan "Pork" itu makanan haram, Anda benar karena pork itu artinya babi. Minuman yang beralkohol dalam gambar di atas ada di gelas sebelah kanan jus jeruk, itu beer. Harus hati-hati  karena warnanya sama dengan es teh di gelas kedua dari kanan. Yang paling  kanan itu minuman fresh water. Kalau di Indonesia seperti Aqua.

Tunggu tulisan saya berikutnya ya

- Shalat Yuk, Tapi di mana?