Jumat, 21 Februari 2014

Strategi Shalat Khusu' di Amerika

uwes shalat

Kesulitan ke-2 hidup di negara non-muslim adalah melaksanakan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Penentuan jadwal waktu shalat di USA tidak bisa merujuk ke negara asal seperti ke Indonesia. Letak geografisnya berbeda. Di sini kita akan kesulitan untuk bisa mendengar azan waktu datangnya shalat, apalagi azan yang riuh seperti di Indonesia. Jadi kita tidak tahu dengan tepat kapan waktu shalat tiba. Awalnya pas saya datang ke Santa Barbara CA, USA saya shalat mengikuti jadwal di Indonesia, Shubuh : +- 04.00, Dhuhur : +- 12.00, Ashar : +- 3.30 sore, Magrib +- 6 sore, dan Isya : +-7 sore. Ternyata pada saat winter seperti sekarang ini, waktu siang di California lebih pendek dibandingkan waktu malam yaitu sekitar 10 jam. Alhasil waktu shalat juga bergeser. Akhirnya saya googling untuk menemukan waktu shalat lokal Santa Barbara. Saya menemukan jadwal shalat dari websitehttp://www.islamsb.org/about-us/. Anda bisa lihat jadwalnya di foto di bagian bawah. Terasa aneh juga mengikuti jadwal shalat yang berbeda. Shalat subuh jam 6 pagi. Kalau di Bandung matahari terbit jam 6, di sini jam 7.30. Sedang shalat Duhur dan Ashar waktunya hampir sama dengan di Indonesia. Untuk shalat magrib waktu lebih cepat satu jam yaitu jam 5 sore. Di Santa Barbara jam 5 sore sudah gelap, matahari sudah terbenam. Jadi kalau saya terlena dengan aktivitas di kampus lalu lihat jam ternyata sudah jam 6 sore saya harus cepat-cepat shalat magrib karena setengah jam lagi sudah masuk waktu Isya.

13896182541479848092
Selain waktu shalat, tempat shalat juga susah ditemukan. Masjid adalah tempat yang mewah di Amerika. Di Santa Barbara masjid hanya ada satu, dikelola olehIslamicSociety SantaBarbara, dengan pemimpinnya imam Yama Niazi. Untuk shalat 5 waktu mereka menggunakan kantor di 650 Ward Dr, Goleta, CA 93111 yang didesain sebagai masjid. Dari luar tidak tampak seperti masjid, tapi ketika masuk terasa aura masjidnya. Saya dapat kesempatan shalat tadi sore untuk shalat magrib di masjid ini, diantar teman mahasiswa S3 UCSB dari Turki Ahmad Farouq. Adapun untuk shalat Jum'at yang butuh ruang lebih luas lokasi masjid terletak di Goleta Valley Community Center. Setiap shalat Jum'at jemaah bisa mencapai 80 orang. Kebetulan Jum'at kemarin saya tidak sempat shalat di sana, masih perjalanan dari Riverside ke Santa Barbara. Dua lokasi ini belum bisa disebut sebagai masjid, karena masih dalam kondisi sementara.

Alhamdulilah bulan Desember 2013 kemarin, komunitas muslim Santa Barbara mendapat izin untuk mendirikan masjid dari dewan pemerintah. Butuh 10 tahun untuk bisa mendapat izin mendirikan bangunan, butuh dukungan dari komunitas agama lain agar izin itu semakin mudah didapat. Tidak seperti di Indonesia ada tempat ibadah yang berdiri hanya dengan syarat 30 kepala keluarga dan tandatangan warga yang diwakilkan kepada RT. Di sini Anda harus minta izin dewan kota. Bila di Indonesia banyak terjadi penentangan pendirian rumah ibadah, karena proses perizinannya tidak diikuti dengan benar. Di Amerika perlu tahunan untuk bisa mendirikan tempat ibadah termasuk masjid. Shalat di masjid tentu berbeda dengan shalat sendirian, Terasa kesejukan ketika shalat di masjid berjamaah dengan sesama muslim dari berbagai negara. Hanya memang harus bolak-balik naik bus/mobil kalau ingin shalat 5 waktu berjamaah di masjid, karena lokasinya yang jauh.

Kita bisa saja shalat di manapun, di kantor, di aula atau di taman. Hanya yang jadi masalah kemana arah kiblatnya. Beruntung ada teknologi yang membantu kita untuk menentukan arah kiblat. Aplikasi android atau Iphone bisa kita manfaatkan menunjukkan kemana arah kiblat. Di AS tentu saja arah kiblat itu tidak sama dengan di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu tahu arah mata angin, saya hanya lihat aplikasi Muslim Adhan di tablet samsung 7+ saya, lalu ikuti arahnya dengan bantuan GPS. Sebetulnya aplikasi-aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, seperti aplikasi yang saya gunakan. Dalam aplikasi tersebut sudah ada arah kiblat, waktu shalat sesuai setting lokasi kita dan juga alamat masjid terdekat kalau kita ingin shalat berjamaah lengkap dengan peta arah menuju masjid dari lokasi kita.

1389618393434737398
Shalat sebenarnya bisa dilakukan di manapun. Amerika adalah negara dengan penduduk yang cukup toleransi dalam hal beragama. Banyak yang tahu bahwa muslim itu punya kewajiban ibadah 5 kali sehari. Contohnya, ketika saya ingin shalat, saya dengan mudah dapat izin untuk menggunakan salah satu ruangan di Orfalea Center UCSB untuk shalat. Mereka memberikan izin untuk shalat di ruangan tersebut yang terasa nyaman, bersih dan mudah berkonsentrasi. Dalam sebuah acara akademik memang sering disediakan "Praying Room" tempat ibadah. Tapi itu bukan mushala seperti petunjuk tulisan bahasa Inggris di ruangan bandara di Indonesia. Praying room adalah tempat ibadah bagi semua agama. Jadi jangan berharap kita bisa konsentrasi ibadah di ruangan itu. Karena ketika kita menggelar sajadah kita dikelilingi oleh atribut ibadah agama lain, ada patung Yesus, Budha, Dewa Hindu, atau simbol Yahudi.

Oleh karena itu, beruntung bila anda tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim. Kita bisa mendengarkan datangnya waktu shalat dari azan yang riuh dari masjid-masjid atau dari media televisi/radio. Kita juga mudah mengetahui arah kiblat atau menemukan masjid, atau mushala terdekat untuk shalat. Itu semua adalah kemewahan yang dimiliki umat Islam di Indonesia dan juga di negara-negara muslim lainnya. manfaatkanlah wahai saudaraku seiman kemewahan tersebut. Kerjakan shalat awal waktu karena kita sangat mudah mengetahui waktu shalat yang teratur.

Namun, tinggal di negara non-muslim juga tidak masalah. Saya sangat yakin dengan ayat Qur'an yang berbunyi "Sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan". Sesungguhnya mengamalkan Islam di negara non-muslim itu tidak berat. Tergantung kepada diri kita sendiri mau memanfaatkan kesulitan itu untuk meraih pahala yang lebih besar atau terlena, terbawa arus lingkungan yang tidak Islami dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Anda punya pendapat ? Saya tunggu komentarnya.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.)

Baca tulisan lainnya

Makan Yuk? Tapi yang Halal

0 komentar:

Posting Komentar

uwes shalat

Kesulitan ke-2 hidup di negara non-muslim adalah melaksanakan shalat tepat waktu dan berjamaah di masjid. Penentuan jadwal waktu shalat di USA tidak bisa merujuk ke negara asal seperti ke Indonesia. Letak geografisnya berbeda. Di sini kita akan kesulitan untuk bisa mendengar azan waktu datangnya shalat, apalagi azan yang riuh seperti di Indonesia. Jadi kita tidak tahu dengan tepat kapan waktu shalat tiba. Awalnya pas saya datang ke Santa Barbara CA, USA saya shalat mengikuti jadwal di Indonesia, Shubuh : +- 04.00, Dhuhur : +- 12.00, Ashar : +- 3.30 sore, Magrib +- 6 sore, dan Isya : +-7 sore. Ternyata pada saat winter seperti sekarang ini, waktu siang di California lebih pendek dibandingkan waktu malam yaitu sekitar 10 jam. Alhasil waktu shalat juga bergeser. Akhirnya saya googling untuk menemukan waktu shalat lokal Santa Barbara. Saya menemukan jadwal shalat dari websitehttp://www.islamsb.org/about-us/. Anda bisa lihat jadwalnya di foto di bagian bawah. Terasa aneh juga mengikuti jadwal shalat yang berbeda. Shalat subuh jam 6 pagi. Kalau di Bandung matahari terbit jam 6, di sini jam 7.30. Sedang shalat Duhur dan Ashar waktunya hampir sama dengan di Indonesia. Untuk shalat magrib waktu lebih cepat satu jam yaitu jam 5 sore. Di Santa Barbara jam 5 sore sudah gelap, matahari sudah terbenam. Jadi kalau saya terlena dengan aktivitas di kampus lalu lihat jam ternyata sudah jam 6 sore saya harus cepat-cepat shalat magrib karena setengah jam lagi sudah masuk waktu Isya.

13896182541479848092
Selain waktu shalat, tempat shalat juga susah ditemukan. Masjid adalah tempat yang mewah di Amerika. Di Santa Barbara masjid hanya ada satu, dikelola olehIslamicSociety SantaBarbara, dengan pemimpinnya imam Yama Niazi. Untuk shalat 5 waktu mereka menggunakan kantor di 650 Ward Dr, Goleta, CA 93111 yang didesain sebagai masjid. Dari luar tidak tampak seperti masjid, tapi ketika masuk terasa aura masjidnya. Saya dapat kesempatan shalat tadi sore untuk shalat magrib di masjid ini, diantar teman mahasiswa S3 UCSB dari Turki Ahmad Farouq. Adapun untuk shalat Jum'at yang butuh ruang lebih luas lokasi masjid terletak di Goleta Valley Community Center. Setiap shalat Jum'at jemaah bisa mencapai 80 orang. Kebetulan Jum'at kemarin saya tidak sempat shalat di sana, masih perjalanan dari Riverside ke Santa Barbara. Dua lokasi ini belum bisa disebut sebagai masjid, karena masih dalam kondisi sementara.

Alhamdulilah bulan Desember 2013 kemarin, komunitas muslim Santa Barbara mendapat izin untuk mendirikan masjid dari dewan pemerintah. Butuh 10 tahun untuk bisa mendapat izin mendirikan bangunan, butuh dukungan dari komunitas agama lain agar izin itu semakin mudah didapat. Tidak seperti di Indonesia ada tempat ibadah yang berdiri hanya dengan syarat 30 kepala keluarga dan tandatangan warga yang diwakilkan kepada RT. Di sini Anda harus minta izin dewan kota. Bila di Indonesia banyak terjadi penentangan pendirian rumah ibadah, karena proses perizinannya tidak diikuti dengan benar. Di Amerika perlu tahunan untuk bisa mendirikan tempat ibadah termasuk masjid. Shalat di masjid tentu berbeda dengan shalat sendirian, Terasa kesejukan ketika shalat di masjid berjamaah dengan sesama muslim dari berbagai negara. Hanya memang harus bolak-balik naik bus/mobil kalau ingin shalat 5 waktu berjamaah di masjid, karena lokasinya yang jauh.

Kita bisa saja shalat di manapun, di kantor, di aula atau di taman. Hanya yang jadi masalah kemana arah kiblatnya. Beruntung ada teknologi yang membantu kita untuk menentukan arah kiblat. Aplikasi android atau Iphone bisa kita manfaatkan menunjukkan kemana arah kiblat. Di AS tentu saja arah kiblat itu tidak sama dengan di Indonesia. Saya sendiri tidak begitu tahu arah mata angin, saya hanya lihat aplikasi Muslim Adhan di tablet samsung 7+ saya, lalu ikuti arahnya dengan bantuan GPS. Sebetulnya aplikasi-aplikasi tersebut sudah cukup lengkap, seperti aplikasi yang saya gunakan. Dalam aplikasi tersebut sudah ada arah kiblat, waktu shalat sesuai setting lokasi kita dan juga alamat masjid terdekat kalau kita ingin shalat berjamaah lengkap dengan peta arah menuju masjid dari lokasi kita.

1389618393434737398
Shalat sebenarnya bisa dilakukan di manapun. Amerika adalah negara dengan penduduk yang cukup toleransi dalam hal beragama. Banyak yang tahu bahwa muslim itu punya kewajiban ibadah 5 kali sehari. Contohnya, ketika saya ingin shalat, saya dengan mudah dapat izin untuk menggunakan salah satu ruangan di Orfalea Center UCSB untuk shalat. Mereka memberikan izin untuk shalat di ruangan tersebut yang terasa nyaman, bersih dan mudah berkonsentrasi. Dalam sebuah acara akademik memang sering disediakan "Praying Room" tempat ibadah. Tapi itu bukan mushala seperti petunjuk tulisan bahasa Inggris di ruangan bandara di Indonesia. Praying room adalah tempat ibadah bagi semua agama. Jadi jangan berharap kita bisa konsentrasi ibadah di ruangan itu. Karena ketika kita menggelar sajadah kita dikelilingi oleh atribut ibadah agama lain, ada patung Yesus, Budha, Dewa Hindu, atau simbol Yahudi.

Oleh karena itu, beruntung bila anda tinggal di Indonesia yang mayoritas muslim. Kita bisa mendengarkan datangnya waktu shalat dari azan yang riuh dari masjid-masjid atau dari media televisi/radio. Kita juga mudah mengetahui arah kiblat atau menemukan masjid, atau mushala terdekat untuk shalat. Itu semua adalah kemewahan yang dimiliki umat Islam di Indonesia dan juga di negara-negara muslim lainnya. manfaatkanlah wahai saudaraku seiman kemewahan tersebut. Kerjakan shalat awal waktu karena kita sangat mudah mengetahui waktu shalat yang teratur.

Namun, tinggal di negara non-muslim juga tidak masalah. Saya sangat yakin dengan ayat Qur'an yang berbunyi "Sesungguhnya dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan". Sesungguhnya mengamalkan Islam di negara non-muslim itu tidak berat. Tergantung kepada diri kita sendiri mau memanfaatkan kesulitan itu untuk meraih pahala yang lebih besar atau terlena, terbawa arus lingkungan yang tidak Islami dan meninggalkan kewajiban sebagai muslim. Masing-masing pilihan ada konsekuensinya.

Anda punya pendapat ? Saya tunggu komentarnya.

(Ini adalah tulisan serial pengalaman saya  tinggal di Amerika, tepatnya di University of California Santa Barbara, (UCSB) California, USA, sebagai Visiting Research Scholar di Orfalea Center of Global and International Studies.)

Baca tulisan lainnya

Makan Yuk? Tapi yang Halal
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply