Workshop Mendeley di UIN Ar-Raniry Aceh

Berbagi ilmu bersama dosen dan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh 2017

Tour de Merapi Yogyakarta 2017

Rombongan Tour Dosen dan Pegawai Administrasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 2017

Workshop OJS di UPI Tasikmalaya

Foto bersama pimpinan kampus UPI Tasikmalaya setelah Workshop OJS (Open Journal System) Juni 2017

Perpustakaan di Universitas Amerika

Pintu gerbang perpustakaan Davidsons Library UCSB, California Amerika Serikat.

Al Jam'iatul Washliyah Provinsi Jawa Barat

Kunjungan Pengurus Wilayah (PW) Al-Jam'iatul Washliyah ke Pengurus Daerah Al-Washiliyah Cirebon.

Sabtu, 22 Maret 2014

Awas Uang Laknat Caleg!





 Masa kampanye menjelang Pemilu 9 April 2014 saat ini banyak caleg yang menggelontorkan uang untuk menarik dukungan dari masyarakat. Mereka membagi-bagikan uang, bantuan, paket sembako dan hadiah lainnya agar dipilih oleh rakyat.

Tahukah Anda bahwa caleg yang membagi-bagikan uang seperti itu ditengarai memperolehnya dari jalan yang tidak sah. Ketika terpilih menjadi anggota dewan mereka pun akan menggunakan jalan korupsi untuk mengembalikan modalnya tersebut. Apakah Anda mau ikut berkontribusi menyuburkan korupsi di negeri ini? Banyak yang teriak-teriak marah dengan kasus korupsi tapi pemberian uang hasil korupsi diterima juga.

Bila alasan anda masih tetap menerima uang caleg karena dianggap rezeki nomplok lima tahun sekali, camkanlah bahwa Allah menyatakan itu rezeki yang haram. Rezeki yang tidak akan membawa berkah dunia dan juga akherat.

Rasulullah dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa orang yang membaiat pemimpin karena mendapat imbalan harta  tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dirahmati, tidak akan diampuni dosanya, dan akan disiksa dengan siksaan yang sangat pedih.

Berikut hadits tersebut lebih lengkapnya. Rasulullah bersabda : “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dirahmati, tidak diampuni dosanya, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih. Pertama, orang berkelebihan air, namun tak mau memberikannya kepada musafir yang memerlukan atau makhluk lainnya. Kedua, orang yang menjual barang dagangan sesudah Ashar dengan bersumpah menyebut nama Allah SWT agar pembeli tertarik, tetapi barang tersebut tidak sesuai dengan yang ia tawarkan.

Ketiga, orang yang membaiat pemimpin dan ia tidak membaiatnya, kecuali mendapat imbalan harta. Apabila ia diberi harta itu, ia memenuhi baiatnya dan apabila ia tidak diberi harta, ia tidak membaiatnya.” (HR Imam Ahmad bin Han bal, Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Menurut KH. Ali Mustofa Ya’kub membaiat pemimpin dalam konteks Indonesia saat ini adalah dengan cara memilih atau memberikan suara dalam pemilu. Caleg atau capres yang memberikan uang agar mereka dipilih rakyat, berarti telah melakukan “money politic”, uang politik yang dilaknat Allah karena  membuat bangsa rusak dunia dan akherat.

Anda Masih mau menerima uang politik dari caleg? Silahkan ambil saja, tapi laknat Allah akan bersama Anda, Mau?

Mumpung sedang ramai kampanye Pemilu 2014  ayo kita kampanyekan  : “Jangan ambil uangnya dan jangan pilih orangnya”.

Dakwah di Amerika Serikat

di Masjid Al-Hikmah Komunitas Muslim New York Amerika Serikat


Republika (8/3) memberitakan pencekalan dan penahanan Ustaz Felix Siauw oleh otoritas bandara Internasional Houston, AS, pada 5 Maret 2014. Ustaz keturunan Tionghoa ini dikabarkan dipenjara selama 26 jam sehingga ia membatalkan agenda dakwahnya di 11 negara bagian di AS.


Berita pencekalan Ustaz Felix Siauw ini ramai menjadi topik pembicaraan jamaah masjid Al-Hikmah, New York. Pasalnya, Kota New York akan menjadi kota terakhir rihlah dakwah ustaz muda tersebut di Negeri Paman Sam. Kebetulan ketika dalam proses penahanan, Ustaz Felix Siauw sempat menyampaikan kabar penahanannya tersebut sekaligus memohon doa kepada Ustaz Shamsi Ali, tokoh Islam terkenal New York asal Indonesia. Saya yang sedang meneliti Islam di Amerika dan dakwah Imam Shamsi Ali mengikuti perkembangan penahanan Ustaz Felix Siauw ini dari beliau.


Bagi umat Islam di Amerika, proses pemeriksaan (screening) di Bandara Internasional Amerika memang sering menjadi momok yang menakutkan. Bagi mereka yang memiliki nama Islam, terutama nama yang sama dengan tersangka teroris, akan masuk dalam daftar merah Departement of Home Land (DHL List) Amerika. Ketika ia masuk bandara, namanya otomatis ditandai silang dan langsung ditahan untuk diwawancarai oleh bagian imigrasi bandara. Ketika datang kabar Ustaz Felix Siauw ditahan, jamaah masjid Al-Hikmah menduga bahwa ia ditahan karena masuk dalam daftar tersebut. Namun, ketika diketahui pencekalan terjadi karena pelanggaran visa, akhirnya rumor tersebut hilang.


Ustaz Felix Siauw tahun lalu sebenarnya sudah pernah mengadakan dakwah keliling di Amerika dan tidak ada masalah. Ketika kemarin ia kembali diundang oleh ICMI untuk berceramah di 11 negara bagian dengan biaya ditanggung oleh panitia, visa yang digunakannya adalah visa B1/B2, yaitu visa untuk tujuan berkunjung (visitor). Di Amerika masalah visa sangat sensitif.


Ustaz Felix Siauw ditanya apakah medapat honor dari kegiatan-kegiatan dakwahnya, ia menjawab iya. Akibat salah menggunakan visa tersebut, ia kemudian ditahan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut, bukan dipenjara sebagaimana berita Republika. Setelah pemeriksaan, ia diputuskan tidak boleh masuk Amerika. Dalam beberapa kasus yang lain, penolakan masuk ke Amerika ini biasanya tanpa ada penjelasan sama sekali dari pihak imigrasi bandara.


Tentu saja, peristiwa penolakan Ustaz Felix Siauw ini sangat disayangkan oleh umat Islam di Amerika, khususnya dari Indonesia. Kehadiran ustaz dari Tanah Air akan semakin menyemarakkan kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam yang saat ini sedang menggeliat.


Lahan subur Pascaperistiwa terorisme 9/11, Islam di Amerika menghadapi tantangan yang sangat berat. Umat Islam setelah peristiwa itu digambarkan oleh media sebagai orang-orang yang menganut paham kekerasan dan terorisme sehingga dianggap berbahaya bagi keselamatan negeri Barack Obama ini. Namun seiring waktu, Islam justru semakin berkembang dan menemukan lahan suburnya di Amerika. Imam Faisal Abdul Rauf dalam bukunya, Moving the Mountain: Be yond the Ground Zero to a New Vision of Islam in America (2012), sudah memprediski Islam di Amerika akan berkembang secara bertahap.


Dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah Islamic center atau masjid di Amerika mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut Imam Sham si Ali, sebelum peristiwa 9/11 tahun 2001 jumlah masjid di New York masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu, jumlah masjid ber tambah sampai 250 buah yang tersebar di seantero Kota New York. Bahkan, Islamic Center Park 51 yang berada dua blok dari Ground Zero tempat WTC hancur, diizinkan berdiri oleh wali kota New York saat itu, Bloomberg, yang keturunan Yahudi, padahal saat itu beberapa warga New York menentangnya.


Perkembangan Islam juga bisa dilihat dari menjamurnya kedai makanan halal. Dalam empat tahun terakhir di Kota New York bermunculan pedagang kaki lima (cart food) yang berlabel "halal food". Hampir di setiap pusat keramaian dan tempat wisata New York bisa ditemukan dengan mudah kedai makanan halal tersebut, seperti di Times Square, kantor PBB, bahkan dekat lokasi memorial Park 9/11 Ground Zero.


Umat Islam di Kota New York memang sangat cepat pertumbuhannya. Ini terjadi karena faktor imigrasi atau kedatangan pekerja migran dari negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Bangladesh, dan Mesir, selain juga karena faktor keturunan dan konversi masuk Islam. Pertumbuhan kuantitas umat Islam ini juga dibarengi dengan pertumbuhan aliran Islam. Di Kota New York terdapat komunitas Islam Sunni, Syi'ah, bahkan Ahmadiyah. Mereka menyatu dengan perbedaannya masing-masing mengembangkan dakwahnya dan juga membentuk organisasi Islam di tingkat kota maupun tingkat nasional.


Inovasi dakwah


Ada sisi unik dari kegiatan dakwah Islam di Amerika. Dakwah tidak hanya dilakukan secara eksklusif internal, tapi juga secara eksternal (outreach), yaitu melalui dialog dengan komunitas agama lain. Seperti Imam Shamsi Ali yang menginisiasi program dialog lintas iman (interfaith dialogue) dengan komunitas Yahudi bersama-sama dengan Rabbi Marc Schneier, tokoh terkenal Rabbi Yahudi di New York. Ide dialog ini awalnya banyak ditentang oleh kedua komunitas tersebut.


Isu Palestina-Israel sering menjadi bahan bakar yang mudah menyulut emosi para imam dan rabi ketika mereka awal-awal berdialog. Saat itu, prasangka dan stereotip masih sangat kuat menyelimuti. Seiring waktu kedua komunitas ini mulai saling menyapa dan saling memahami. Imam Shamsi Ali dan Rabbi Schneier bahkan menerbitkan buku bersama berjudul, Sons of Abraham: Issues Unite and Divide Jews and Muslims (2013), yang memaparkan kesamaan dan perbedaan kedua agama turunan Nabi Ibrahim ini. Buku tersebut disambut hangat oleh komunitas Islam dan juga Yahudi. Beberapa kali telah diadakan bedah buku, termasuk pada Ahad (9/3) di Komunitas Islam Jamaica New York. ●

Dimuat di Opini Republika

Uwes Fatoni  ;   Dosen UIN Bandung, Peserta Program Sandwich Kemenag RI di Amerika

Dakwah di Amerika Serikat

8 Pekerjaan yang Jarang Ditemukan di Amerika



Dalam pandangan saya, pekerjaan apapun selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan menghasilkan uang adalah pekerjaan yang baik. Terlepas apakah pekerjaan itu terkategorikan pekerjaan kasar atau pekerjaan profesional. Selama tinggal di Amerika Serikat saat ini, saya memperhatikan ragam profesi yang digeluti oleh orang-orang Amerika dan membandingkannya dengan di tanah air. Ada beberapa pekerjaan yang di Amerika ternyata tidak dikenal atau jarang dilakukan atau tidak lagi dilakukan oleh manusia alias sudah diganti oleh mesin. Pekerjaan apakah itu :

1. Kondektur Bis

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Santa Barbara, angkutan umum yang saya temui selain taksi adalah bis kota yaitu MTD Santa Barbara. Tipenya sama dengan Busway Trans Jakarta. Di sini tidak ada angkutan kota (angkot) seperti di tanah air, hanya ada bis atau kereta untuk angkutan umum darat. Perbedaan Bis kota di sini dengan di tanah air adalah sopir bis yang bekerja sendiri. Tidak ada konduktur apalagi petugas keamanan seperti di Trans Jakarta. Penumpang membayar ongkos dengan memasukkan uang cash atau kartu langganan ke mesin yang berada tepat di pintu masuk bis bersebelahan dengan kursi supir. Ongkos jarak jauh atau dekat sama $1.75. Untuk orang tua dan anak-anak ada pengurangan harga. Kita bisa menghemat dengan membeli kartu tiket pass 10 rit untuk 10 kali naik bis seharga $11. Kalau ingin lebih berhemat lagi beli kartu pass untuk 30 hari hanya $52, mau berapa kali pun dalam sehari kita naik bis bebas dengan kartu ini. Khusus mahasiswa dan pelajar mereka cukup menunjukkan kartu mahasiswa yang sudah diberi stiker khusus, karena mereka sudah membayarnya bersamaan dengan bayara uang kuliah/sekolah. Bila kita ingin berhenti, tidak perlu menggedor-gedor pintu atau memukul kaca bis dengan koin, cukup tarik tali yang melintang di pinggir jendela, dan tanda “request stop” akan berbunyi. Kelebihan bis kota di Amerika, sepeda bisa naik ke bis, ada rak depan bis yang bisa disimpan untuk sepeda. Tapi kita sendiri yang harus menaikkan dan menurunkan sepeda tersebut.

13928804701924784409

2. Tukang Parkir

Bila di tanah air tukang parkir bisa ditemui di mana-mana, baik yang resmi dengan baju oranyenya, maupun yang liar yang menarik tarif parkir seenak jidatnya, seperti di Gazibu hari Minggu, di Amerika saya tidak menemukan satu pun tukang parkir. Semua karcis parkir melalui mesin, sama seperti yang baru diujicobakan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Bedanya, kalau di Bandung masih ada tukang parkir dengan pakaian warna oranye dengan strip batik yang menjaga mesin dan mengawasi pemilik mobil yang tidak membayar parkir, di Amerika hanya ada mesin parkir tidak ada yang menjaga satu orang pun. Setiap orang yang membawa mobil mendatangi mesin tersebut lalu membayar biaya parkir dengan Kartu ATM atau Kartu Kredit untuk satu atau dua jam. Bila ada yang tidak membayar karcis parkir atau waktu parkirnya melebihi dari yang dibayarnya di awal, maka siap-siap akan kena denda karena semua tempat parkir diawasi oleh CCTV.

3. Tukang Ojek

Di Amerika motor bukan salah satu alat transportasi yang umum dipakai masyarakat. Warga lebih memilih sepeda bila bepergian jarak dekat, atau mobil untuk jarak jauh . Jadi, jangankan tukang ojek, motornya sendiri sangat jarang ditemui, bisa dihitung dengan jari. Dalam satu hari saya hanya menemukan paling banyak 3 motor yang berlalu lalang di jalanan. Ini terjadi karena harga mobil di sini lebih murah dibandingkan harga mobil di Indonesia, misalnya, Camry terbaru di tanah air harganya bisa mencapai 400 jutaan, di sini mobil yang sama paling sekitar 250 jutaan. Sedangkan penghasilan warga Amerika 10 kali lipat dari penghasilan warga Indonesia. Jadi harga mobil di sini sama seperti harga motor di tanah air. Tidak aneh bila jarang yang beli motor, apalagi jadi tukang ojek.

4. Pa Ogah

Di Amerika mobil memang banyak, tapi ruas jalanan lebih banyak dan lebih luas. Sangat jarang saya menemukan jalanan macet, kecuali di kota (downtown). Tapi itu juga pada waktu-waktu tertentu, dan tidak begitu panjang seperti di Indonesia. Ini memang pengalaman saya di Santa Barbara, kota yang tidak begitu besar, saya belum mengetahui kalau di kota besar seperti di LA atau New York. Jadi karena tidak ada kemacetan, maka Pa Ogah tidak dibutuhkan di sini. Paling ada juga relawan penyebrang jalan. Seperti yang saya lihat di pasar malam jalan state downtown, yang menggunakan jalan umum beberapa blok untuk tempat pasarnya. Ketika banyak orang yang berkumpula untuk menyebrang di persimpangan jalan, relawan tersebut ikut membantu para penyebrang itu untuk lewat. Namanya relawan mereka melakukan dengan sukarela dan tidak ada satu orang pun yang memberi uang kepadanya.

5. Pengamen

Di Indonesia pengamen itu sudah jadi profesi. Setingkat Aa Gym saja menurut penuturannya dulu sewaktu masih jadi mahasiswa pernah mengamen dengan berkeliling komplek perumahan. Di Indonesia pengamen baik yang tanpa banyak modal, hanya kecrekan atau yang bermodal alat musik canggih bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah berikutnya, atau menghibur (ada juga yang menyebut mengganggu) dari satu toko ke toko berikutnya. Tak jarang mereka juga mendekati orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan. Di Bandung tahun ini pengamen bisa masuk ke restauran dan hotel untuk memberikan hiburan. Walikota Ridwan Kamil yang alumni Amerika itu mengintruksikan hotel dan restauran untuk memberdayakan mereka. Di negeri Paman Sam saya jarang melihat pengamen yang berkeliling seperti di tanah air. Paling ada seniman dengan alat musik canggih menghibur di pasar malam. Itu pun tidak banyak paling satu atau dua orang.

6. Pedagang Kaki Lima

Masalah akut di kota-kota besar Indonesia adalah PKL yang semrawut. Di negeri Barack Obama ini saya tidak menemukan PKL menguasai jalanan. Memang pernah saya menemukan PKL 3 orang menggunakan roda nangkring di taman kota yang banyak didatangi anak-anak bermain karena ada taman bermain yang lengkap. Namun, mereka harus mendapatkan izin yang sangat ketat dan diperiksa makanan yang akan dijualnya. Bandingkan dengan di tanah air PKL ada di mana-mana. Di Gazibu Bandung contohnya, sebelum masa Ridwan Kamil, jumlah pedagang malah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang mau berolah raga pada hari minggu. Sebetulnya itu positif, karena membuka lapangan pekerjaan, namun seringkali para pedagang ini berjualan tanpa izin, tidak mau diatur dan barang dagangannya tidak ada yang mengecek. Lihat saja lihat pedagang di depan sekolah, anak-anak diracun dengan makanan yang tidak jelas agar tetap murah sesuai uang jajan anak sekolah.

7. Pedagang Pulsa

Merebaknya ponsel membuka peluang penjualan pulsa. Itu di tanah air, kalau di sini saya tidak menemukan tukang pulsa yang menjual nomor dan paket pulsa sambil bersaing banting harga. Operator selular di Amerika sebetulnya banyak seperti di Indonesia. Di sini ada AT&T dan T-Mobile untuk GSM, Verizon, US Cellular dan Sprint untuk CDMA. Mereka tidak menjual pulsa murah, tapi mereka lebih memperhatikan paket langganan dimana sms dan nelepon gratis ke nomor manapun selama masih di Amerika. Saya menggunakan AT&T dengan paket onGo, langganan selama 1 bulan dengan tambahan paket data internet LTE atau 4G. Jadi tidak lagi memikirkan mau nelepon habis pulsa harus nyari pulsa dulu. Kalau waktu langganan sudah habis, ya bayar lagi di gerai operator tersebut yang biasanya ada di pusat-pusat perbelanjaan.

8. Petugas Pom Bensin

Berbeda dengan di tanah air yang di tiap pom bensin pasti ada banyak pelayan yang mengisi bensin, Di Amerika Pom bensin itu tidak dijaga pelayan. Kita harus mengoperasikan sendiri mesin bensin ketika mau mengisi bahan bakar. Setelah selesai bayar di kasir yang ada di toko bagian tengah pom bensin tersebut. Pom Bensin mencantumkan harganya di layar di pinggir jalan, jadi kalau ada orang yang mau beli bensin mereka akan mudah untuk mengenali dan menghitung biaya yang harus dikeluarkannya.

Biar adil saya juga akan menyebutkan pekerjaan yang masih laku di sini seperti juga di Indonesia. Beberapa diantaranya 1) tukang kebun dan petani. Di sini tukang kebun dan petani masih digunakan sekalipun tugasnya sudah dibantu oleh alat-alat modern. potong rumput pake mobil pemotong seperti mobil golf, menyiram pohon dengan alat keran yang otomatis keluar air sendiri dalam jangka waktu tertentu. 2) pengemis. pekerjaan yang hina dina ini ternyata masih ada juga. Di sini mereka menyebutnya homeless (tunawisma) mereka membawa poster bertuliskan “help, need food” berdiri di perempatan gerbang pasar. Tapi saya lihat jumlahnya tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Beberapa pengemis bahkan bergaya, mereka punya sepeda, punya anjing dan kalau pengemis di stasiun kereta mereka membawa travel bag. Mereka meminta dengan cara sopan “Can give me 1 dollar for food?”. Kalau kita menolak mereka pergi meminta ke orang berikutnya. 3) pencuri. Sekalipun Amerika aman dari kriminalitas (kecuali beberapa kasus yang muncul di televisi), ternyata banyak pencuri yang menyasar sepeda. Saya pernah mengalami kehilangan sepeda di depan KMart, sebuah supermarket. Saya adukan ke call centernya mereka bilang itu sudah biasa terjadi, silahkan laporkan saja ke polisi. Saya ceritakan ke beberapa teman yang sudah lama tinggal di sana, mereka menyatakan juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi pencurian sepeda itu hal yang umum. Bahkan ada yang mencuri sepeda dengan ditinggalkan ban depannya saja, karena yang dikunci oleh pemilik sepeda hanya ban depan saja ke rak parkir sepeda. Harga sepeda memang lumayan, sepeda bekas harganya sekitar $100 atau 1,2 jutaan, kalau masih bagus bisa lebih mahal lagi.
Awas Uang Laknat Caleg!




 Masa kampanye menjelang Pemilu 9 April 2014 saat ini banyak caleg yang menggelontorkan uang untuk menarik dukungan dari masyarakat. Mereka membagi-bagikan uang, bantuan, paket sembako dan hadiah lainnya agar dipilih oleh rakyat.

Tahukah Anda bahwa caleg yang membagi-bagikan uang seperti itu ditengarai memperolehnya dari jalan yang tidak sah. Ketika terpilih menjadi anggota dewan mereka pun akan menggunakan jalan korupsi untuk mengembalikan modalnya tersebut. Apakah Anda mau ikut berkontribusi menyuburkan korupsi di negeri ini? Banyak yang teriak-teriak marah dengan kasus korupsi tapi pemberian uang hasil korupsi diterima juga.

Bila alasan anda masih tetap menerima uang caleg karena dianggap rezeki nomplok lima tahun sekali, camkanlah bahwa Allah menyatakan itu rezeki yang haram. Rezeki yang tidak akan membawa berkah dunia dan juga akherat.

Rasulullah dalam salah satu haditsnya bersabda bahwa orang yang membaiat pemimpin karena mendapat imbalan harta  tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak akan dirahmati, tidak akan diampuni dosanya, dan akan disiksa dengan siksaan yang sangat pedih.

Berikut hadits tersebut lebih lengkapnya. Rasulullah bersabda : “Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dirahmati, tidak diampuni dosanya, dan bagi mereka siksa yang sangat pedih. Pertama, orang berkelebihan air, namun tak mau memberikannya kepada musafir yang memerlukan atau makhluk lainnya. Kedua, orang yang menjual barang dagangan sesudah Ashar dengan bersumpah menyebut nama Allah SWT agar pembeli tertarik, tetapi barang tersebut tidak sesuai dengan yang ia tawarkan.

Ketiga, orang yang membaiat pemimpin dan ia tidak membaiatnya, kecuali mendapat imbalan harta. Apabila ia diberi harta itu, ia memenuhi baiatnya dan apabila ia tidak diberi harta, ia tidak membaiatnya.” (HR Imam Ahmad bin Han bal, Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Menurut KH. Ali Mustofa Ya’kub membaiat pemimpin dalam konteks Indonesia saat ini adalah dengan cara memilih atau memberikan suara dalam pemilu. Caleg atau capres yang memberikan uang agar mereka dipilih rakyat, berarti telah melakukan “money politic”, uang politik yang dilaknat Allah karena  membuat bangsa rusak dunia dan akherat.

Anda Masih mau menerima uang politik dari caleg? Silahkan ambil saja, tapi laknat Allah akan bersama Anda, Mau?

Mumpung sedang ramai kampanye Pemilu 2014  ayo kita kampanyekan  : “Jangan ambil uangnya dan jangan pilih orangnya”.
Dakwah di Amerika Serikat
di Masjid Al-Hikmah Komunitas Muslim New York Amerika Serikat


Republika (8/3) memberitakan pencekalan dan penahanan Ustaz Felix Siauw oleh otoritas bandara Internasional Houston, AS, pada 5 Maret 2014. Ustaz keturunan Tionghoa ini dikabarkan dipenjara selama 26 jam sehingga ia membatalkan agenda dakwahnya di 11 negara bagian di AS.


Berita pencekalan Ustaz Felix Siauw ini ramai menjadi topik pembicaraan jamaah masjid Al-Hikmah, New York. Pasalnya, Kota New York akan menjadi kota terakhir rihlah dakwah ustaz muda tersebut di Negeri Paman Sam. Kebetulan ketika dalam proses penahanan, Ustaz Felix Siauw sempat menyampaikan kabar penahanannya tersebut sekaligus memohon doa kepada Ustaz Shamsi Ali, tokoh Islam terkenal New York asal Indonesia. Saya yang sedang meneliti Islam di Amerika dan dakwah Imam Shamsi Ali mengikuti perkembangan penahanan Ustaz Felix Siauw ini dari beliau.


Bagi umat Islam di Amerika, proses pemeriksaan (screening) di Bandara Internasional Amerika memang sering menjadi momok yang menakutkan. Bagi mereka yang memiliki nama Islam, terutama nama yang sama dengan tersangka teroris, akan masuk dalam daftar merah Departement of Home Land (DHL List) Amerika. Ketika ia masuk bandara, namanya otomatis ditandai silang dan langsung ditahan untuk diwawancarai oleh bagian imigrasi bandara. Ketika datang kabar Ustaz Felix Siauw ditahan, jamaah masjid Al-Hikmah menduga bahwa ia ditahan karena masuk dalam daftar tersebut. Namun, ketika diketahui pencekalan terjadi karena pelanggaran visa, akhirnya rumor tersebut hilang.


Ustaz Felix Siauw tahun lalu sebenarnya sudah pernah mengadakan dakwah keliling di Amerika dan tidak ada masalah. Ketika kemarin ia kembali diundang oleh ICMI untuk berceramah di 11 negara bagian dengan biaya ditanggung oleh panitia, visa yang digunakannya adalah visa B1/B2, yaitu visa untuk tujuan berkunjung (visitor). Di Amerika masalah visa sangat sensitif.


Ustaz Felix Siauw ditanya apakah medapat honor dari kegiatan-kegiatan dakwahnya, ia menjawab iya. Akibat salah menggunakan visa tersebut, ia kemudian ditahan untuk proses pemeriksaan lebih lanjut, bukan dipenjara sebagaimana berita Republika. Setelah pemeriksaan, ia diputuskan tidak boleh masuk Amerika. Dalam beberapa kasus yang lain, penolakan masuk ke Amerika ini biasanya tanpa ada penjelasan sama sekali dari pihak imigrasi bandara.


Tentu saja, peristiwa penolakan Ustaz Felix Siauw ini sangat disayangkan oleh umat Islam di Amerika, khususnya dari Indonesia. Kehadiran ustaz dari Tanah Air akan semakin menyemarakkan kegiatan dakwah di Negeri Paman Sam yang saat ini sedang menggeliat.


Lahan subur Pascaperistiwa terorisme 9/11, Islam di Amerika menghadapi tantangan yang sangat berat. Umat Islam setelah peristiwa itu digambarkan oleh media sebagai orang-orang yang menganut paham kekerasan dan terorisme sehingga dianggap berbahaya bagi keselamatan negeri Barack Obama ini. Namun seiring waktu, Islam justru semakin berkembang dan menemukan lahan suburnya di Amerika. Imam Faisal Abdul Rauf dalam bukunya, Moving the Mountain: Be yond the Ground Zero to a New Vision of Islam in America (2012), sudah memprediski Islam di Amerika akan berkembang secara bertahap.


Dalam kurun waktu 10 tahun, jumlah Islamic center atau masjid di Amerika mengalami peningkatan yang cukup tajam. Menurut Imam Sham si Ali, sebelum peristiwa 9/11 tahun 2001 jumlah masjid di New York masih bisa dihitung dengan jari. Saat ini, setelah 13 tahun peristiwa itu berlalu, jumlah masjid ber tambah sampai 250 buah yang tersebar di seantero Kota New York. Bahkan, Islamic Center Park 51 yang berada dua blok dari Ground Zero tempat WTC hancur, diizinkan berdiri oleh wali kota New York saat itu, Bloomberg, yang keturunan Yahudi, padahal saat itu beberapa warga New York menentangnya.


Perkembangan Islam juga bisa dilihat dari menjamurnya kedai makanan halal. Dalam empat tahun terakhir di Kota New York bermunculan pedagang kaki lima (cart food) yang berlabel "halal food". Hampir di setiap pusat keramaian dan tempat wisata New York bisa ditemukan dengan mudah kedai makanan halal tersebut, seperti di Times Square, kantor PBB, bahkan dekat lokasi memorial Park 9/11 Ground Zero.


Umat Islam di Kota New York memang sangat cepat pertumbuhannya. Ini terjadi karena faktor imigrasi atau kedatangan pekerja migran dari negara-negara Muslim, seperti Pakistan, Bangladesh, dan Mesir, selain juga karena faktor keturunan dan konversi masuk Islam. Pertumbuhan kuantitas umat Islam ini juga dibarengi dengan pertumbuhan aliran Islam. Di Kota New York terdapat komunitas Islam Sunni, Syi'ah, bahkan Ahmadiyah. Mereka menyatu dengan perbedaannya masing-masing mengembangkan dakwahnya dan juga membentuk organisasi Islam di tingkat kota maupun tingkat nasional.


Inovasi dakwah


Ada sisi unik dari kegiatan dakwah Islam di Amerika. Dakwah tidak hanya dilakukan secara eksklusif internal, tapi juga secara eksternal (outreach), yaitu melalui dialog dengan komunitas agama lain. Seperti Imam Shamsi Ali yang menginisiasi program dialog lintas iman (interfaith dialogue) dengan komunitas Yahudi bersama-sama dengan Rabbi Marc Schneier, tokoh terkenal Rabbi Yahudi di New York. Ide dialog ini awalnya banyak ditentang oleh kedua komunitas tersebut.


Isu Palestina-Israel sering menjadi bahan bakar yang mudah menyulut emosi para imam dan rabi ketika mereka awal-awal berdialog. Saat itu, prasangka dan stereotip masih sangat kuat menyelimuti. Seiring waktu kedua komunitas ini mulai saling menyapa dan saling memahami. Imam Shamsi Ali dan Rabbi Schneier bahkan menerbitkan buku bersama berjudul, Sons of Abraham: Issues Unite and Divide Jews and Muslims (2013), yang memaparkan kesamaan dan perbedaan kedua agama turunan Nabi Ibrahim ini. Buku tersebut disambut hangat oleh komunitas Islam dan juga Yahudi. Beberapa kali telah diadakan bedah buku, termasuk pada Ahad (9/3) di Komunitas Islam Jamaica New York. ●

Dimuat di Opini Republika

Uwes Fatoni  ;   Dosen UIN Bandung, Peserta Program Sandwich Kemenag RI di Amerika

Dakwah di Amerika Serikat
8 Pekerjaan yang Jarang Ditemukan di Amerika


Dalam pandangan saya, pekerjaan apapun selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan menghasilkan uang adalah pekerjaan yang baik. Terlepas apakah pekerjaan itu terkategorikan pekerjaan kasar atau pekerjaan profesional. Selama tinggal di Amerika Serikat saat ini, saya memperhatikan ragam profesi yang digeluti oleh orang-orang Amerika dan membandingkannya dengan di tanah air. Ada beberapa pekerjaan yang di Amerika ternyata tidak dikenal atau jarang dilakukan atau tidak lagi dilakukan oleh manusia alias sudah diganti oleh mesin. Pekerjaan apakah itu :

1. Kondektur Bis

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Santa Barbara, angkutan umum yang saya temui selain taksi adalah bis kota yaitu MTD Santa Barbara. Tipenya sama dengan Busway Trans Jakarta. Di sini tidak ada angkutan kota (angkot) seperti di tanah air, hanya ada bis atau kereta untuk angkutan umum darat. Perbedaan Bis kota di sini dengan di tanah air adalah sopir bis yang bekerja sendiri. Tidak ada konduktur apalagi petugas keamanan seperti di Trans Jakarta. Penumpang membayar ongkos dengan memasukkan uang cash atau kartu langganan ke mesin yang berada tepat di pintu masuk bis bersebelahan dengan kursi supir. Ongkos jarak jauh atau dekat sama $1.75. Untuk orang tua dan anak-anak ada pengurangan harga. Kita bisa menghemat dengan membeli kartu tiket pass 10 rit untuk 10 kali naik bis seharga $11. Kalau ingin lebih berhemat lagi beli kartu pass untuk 30 hari hanya $52, mau berapa kali pun dalam sehari kita naik bis bebas dengan kartu ini. Khusus mahasiswa dan pelajar mereka cukup menunjukkan kartu mahasiswa yang sudah diberi stiker khusus, karena mereka sudah membayarnya bersamaan dengan bayara uang kuliah/sekolah. Bila kita ingin berhenti, tidak perlu menggedor-gedor pintu atau memukul kaca bis dengan koin, cukup tarik tali yang melintang di pinggir jendela, dan tanda “request stop” akan berbunyi. Kelebihan bis kota di Amerika, sepeda bisa naik ke bis, ada rak depan bis yang bisa disimpan untuk sepeda. Tapi kita sendiri yang harus menaikkan dan menurunkan sepeda tersebut.

13928804701924784409

2. Tukang Parkir

Bila di tanah air tukang parkir bisa ditemui di mana-mana, baik yang resmi dengan baju oranyenya, maupun yang liar yang menarik tarif parkir seenak jidatnya, seperti di Gazibu hari Minggu, di Amerika saya tidak menemukan satu pun tukang parkir. Semua karcis parkir melalui mesin, sama seperti yang baru diujicobakan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Bedanya, kalau di Bandung masih ada tukang parkir dengan pakaian warna oranye dengan strip batik yang menjaga mesin dan mengawasi pemilik mobil yang tidak membayar parkir, di Amerika hanya ada mesin parkir tidak ada yang menjaga satu orang pun. Setiap orang yang membawa mobil mendatangi mesin tersebut lalu membayar biaya parkir dengan Kartu ATM atau Kartu Kredit untuk satu atau dua jam. Bila ada yang tidak membayar karcis parkir atau waktu parkirnya melebihi dari yang dibayarnya di awal, maka siap-siap akan kena denda karena semua tempat parkir diawasi oleh CCTV.

3. Tukang Ojek

Di Amerika motor bukan salah satu alat transportasi yang umum dipakai masyarakat. Warga lebih memilih sepeda bila bepergian jarak dekat, atau mobil untuk jarak jauh . Jadi, jangankan tukang ojek, motornya sendiri sangat jarang ditemui, bisa dihitung dengan jari. Dalam satu hari saya hanya menemukan paling banyak 3 motor yang berlalu lalang di jalanan. Ini terjadi karena harga mobil di sini lebih murah dibandingkan harga mobil di Indonesia, misalnya, Camry terbaru di tanah air harganya bisa mencapai 400 jutaan, di sini mobil yang sama paling sekitar 250 jutaan. Sedangkan penghasilan warga Amerika 10 kali lipat dari penghasilan warga Indonesia. Jadi harga mobil di sini sama seperti harga motor di tanah air. Tidak aneh bila jarang yang beli motor, apalagi jadi tukang ojek.

4. Pa Ogah

Di Amerika mobil memang banyak, tapi ruas jalanan lebih banyak dan lebih luas. Sangat jarang saya menemukan jalanan macet, kecuali di kota (downtown). Tapi itu juga pada waktu-waktu tertentu, dan tidak begitu panjang seperti di Indonesia. Ini memang pengalaman saya di Santa Barbara, kota yang tidak begitu besar, saya belum mengetahui kalau di kota besar seperti di LA atau New York. Jadi karena tidak ada kemacetan, maka Pa Ogah tidak dibutuhkan di sini. Paling ada juga relawan penyebrang jalan. Seperti yang saya lihat di pasar malam jalan state downtown, yang menggunakan jalan umum beberapa blok untuk tempat pasarnya. Ketika banyak orang yang berkumpula untuk menyebrang di persimpangan jalan, relawan tersebut ikut membantu para penyebrang itu untuk lewat. Namanya relawan mereka melakukan dengan sukarela dan tidak ada satu orang pun yang memberi uang kepadanya.

5. Pengamen

Di Indonesia pengamen itu sudah jadi profesi. Setingkat Aa Gym saja menurut penuturannya dulu sewaktu masih jadi mahasiswa pernah mengamen dengan berkeliling komplek perumahan. Di Indonesia pengamen baik yang tanpa banyak modal, hanya kecrekan atau yang bermodal alat musik canggih bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah berikutnya, atau menghibur (ada juga yang menyebut mengganggu) dari satu toko ke toko berikutnya. Tak jarang mereka juga mendekati orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan. Di Bandung tahun ini pengamen bisa masuk ke restauran dan hotel untuk memberikan hiburan. Walikota Ridwan Kamil yang alumni Amerika itu mengintruksikan hotel dan restauran untuk memberdayakan mereka. Di negeri Paman Sam saya jarang melihat pengamen yang berkeliling seperti di tanah air. Paling ada seniman dengan alat musik canggih menghibur di pasar malam. Itu pun tidak banyak paling satu atau dua orang.

6. Pedagang Kaki Lima

Masalah akut di kota-kota besar Indonesia adalah PKL yang semrawut. Di negeri Barack Obama ini saya tidak menemukan PKL menguasai jalanan. Memang pernah saya menemukan PKL 3 orang menggunakan roda nangkring di taman kota yang banyak didatangi anak-anak bermain karena ada taman bermain yang lengkap. Namun, mereka harus mendapatkan izin yang sangat ketat dan diperiksa makanan yang akan dijualnya. Bandingkan dengan di tanah air PKL ada di mana-mana. Di Gazibu Bandung contohnya, sebelum masa Ridwan Kamil, jumlah pedagang malah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang mau berolah raga pada hari minggu. Sebetulnya itu positif, karena membuka lapangan pekerjaan, namun seringkali para pedagang ini berjualan tanpa izin, tidak mau diatur dan barang dagangannya tidak ada yang mengecek. Lihat saja lihat pedagang di depan sekolah, anak-anak diracun dengan makanan yang tidak jelas agar tetap murah sesuai uang jajan anak sekolah.

7. Pedagang Pulsa

Merebaknya ponsel membuka peluang penjualan pulsa. Itu di tanah air, kalau di sini saya tidak menemukan tukang pulsa yang menjual nomor dan paket pulsa sambil bersaing banting harga. Operator selular di Amerika sebetulnya banyak seperti di Indonesia. Di sini ada AT&T dan T-Mobile untuk GSM, Verizon, US Cellular dan Sprint untuk CDMA. Mereka tidak menjual pulsa murah, tapi mereka lebih memperhatikan paket langganan dimana sms dan nelepon gratis ke nomor manapun selama masih di Amerika. Saya menggunakan AT&T dengan paket onGo, langganan selama 1 bulan dengan tambahan paket data internet LTE atau 4G. Jadi tidak lagi memikirkan mau nelepon habis pulsa harus nyari pulsa dulu. Kalau waktu langganan sudah habis, ya bayar lagi di gerai operator tersebut yang biasanya ada di pusat-pusat perbelanjaan.

8. Petugas Pom Bensin

Berbeda dengan di tanah air yang di tiap pom bensin pasti ada banyak pelayan yang mengisi bensin, Di Amerika Pom bensin itu tidak dijaga pelayan. Kita harus mengoperasikan sendiri mesin bensin ketika mau mengisi bahan bakar. Setelah selesai bayar di kasir yang ada di toko bagian tengah pom bensin tersebut. Pom Bensin mencantumkan harganya di layar di pinggir jalan, jadi kalau ada orang yang mau beli bensin mereka akan mudah untuk mengenali dan menghitung biaya yang harus dikeluarkannya.

Biar adil saya juga akan menyebutkan pekerjaan yang masih laku di sini seperti juga di Indonesia. Beberapa diantaranya 1) tukang kebun dan petani. Di sini tukang kebun dan petani masih digunakan sekalipun tugasnya sudah dibantu oleh alat-alat modern. potong rumput pake mobil pemotong seperti mobil golf, menyiram pohon dengan alat keran yang otomatis keluar air sendiri dalam jangka waktu tertentu. 2) pengemis. pekerjaan yang hina dina ini ternyata masih ada juga. Di sini mereka menyebutnya homeless (tunawisma) mereka membawa poster bertuliskan “help, need food” berdiri di perempatan gerbang pasar. Tapi saya lihat jumlahnya tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Beberapa pengemis bahkan bergaya, mereka punya sepeda, punya anjing dan kalau pengemis di stasiun kereta mereka membawa travel bag. Mereka meminta dengan cara sopan “Can give me 1 dollar for food?”. Kalau kita menolak mereka pergi meminta ke orang berikutnya. 3) pencuri. Sekalipun Amerika aman dari kriminalitas (kecuali beberapa kasus yang muncul di televisi), ternyata banyak pencuri yang menyasar sepeda. Saya pernah mengalami kehilangan sepeda di depan KMart, sebuah supermarket. Saya adukan ke call centernya mereka bilang itu sudah biasa terjadi, silahkan laporkan saja ke polisi. Saya ceritakan ke beberapa teman yang sudah lama tinggal di sana, mereka menyatakan juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi pencurian sepeda itu hal yang umum. Bahkan ada yang mencuri sepeda dengan ditinggalkan ban depannya saja, karena yang dikunci oleh pemilik sepeda hanya ban depan saja ke rak parkir sepeda. Harga sepeda memang lumayan, sepeda bekas harganya sekitar $100 atau 1,2 jutaan, kalau masih bagus bisa lebih mahal lagi.