Sabtu, 22 Maret 2014

8 Pekerjaan yang Jarang Ditemukan di Amerika



Dalam pandangan saya, pekerjaan apapun selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan menghasilkan uang adalah pekerjaan yang baik. Terlepas apakah pekerjaan itu terkategorikan pekerjaan kasar atau pekerjaan profesional. Selama tinggal di Amerika Serikat saat ini, saya memperhatikan ragam profesi yang digeluti oleh orang-orang Amerika dan membandingkannya dengan di tanah air. Ada beberapa pekerjaan yang di Amerika ternyata tidak dikenal atau jarang dilakukan atau tidak lagi dilakukan oleh manusia alias sudah diganti oleh mesin. Pekerjaan apakah itu :

1. Kondektur Bis

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Santa Barbara, angkutan umum yang saya temui selain taksi adalah bis kota yaitu MTD Santa Barbara. Tipenya sama dengan Busway Trans Jakarta. Di sini tidak ada angkutan kota (angkot) seperti di tanah air, hanya ada bis atau kereta untuk angkutan umum darat. Perbedaan Bis kota di sini dengan di tanah air adalah sopir bis yang bekerja sendiri. Tidak ada konduktur apalagi petugas keamanan seperti di Trans Jakarta. Penumpang membayar ongkos dengan memasukkan uang cash atau kartu langganan ke mesin yang berada tepat di pintu masuk bis bersebelahan dengan kursi supir. Ongkos jarak jauh atau dekat sama $1.75. Untuk orang tua dan anak-anak ada pengurangan harga. Kita bisa menghemat dengan membeli kartu tiket pass 10 rit untuk 10 kali naik bis seharga $11. Kalau ingin lebih berhemat lagi beli kartu pass untuk 30 hari hanya $52, mau berapa kali pun dalam sehari kita naik bis bebas dengan kartu ini. Khusus mahasiswa dan pelajar mereka cukup menunjukkan kartu mahasiswa yang sudah diberi stiker khusus, karena mereka sudah membayarnya bersamaan dengan bayara uang kuliah/sekolah. Bila kita ingin berhenti, tidak perlu menggedor-gedor pintu atau memukul kaca bis dengan koin, cukup tarik tali yang melintang di pinggir jendela, dan tanda “request stop” akan berbunyi. Kelebihan bis kota di Amerika, sepeda bisa naik ke bis, ada rak depan bis yang bisa disimpan untuk sepeda. Tapi kita sendiri yang harus menaikkan dan menurunkan sepeda tersebut.

13928804701924784409

2. Tukang Parkir

Bila di tanah air tukang parkir bisa ditemui di mana-mana, baik yang resmi dengan baju oranyenya, maupun yang liar yang menarik tarif parkir seenak jidatnya, seperti di Gazibu hari Minggu, di Amerika saya tidak menemukan satu pun tukang parkir. Semua karcis parkir melalui mesin, sama seperti yang baru diujicobakan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Bedanya, kalau di Bandung masih ada tukang parkir dengan pakaian warna oranye dengan strip batik yang menjaga mesin dan mengawasi pemilik mobil yang tidak membayar parkir, di Amerika hanya ada mesin parkir tidak ada yang menjaga satu orang pun. Setiap orang yang membawa mobil mendatangi mesin tersebut lalu membayar biaya parkir dengan Kartu ATM atau Kartu Kredit untuk satu atau dua jam. Bila ada yang tidak membayar karcis parkir atau waktu parkirnya melebihi dari yang dibayarnya di awal, maka siap-siap akan kena denda karena semua tempat parkir diawasi oleh CCTV.

3. Tukang Ojek

Di Amerika motor bukan salah satu alat transportasi yang umum dipakai masyarakat. Warga lebih memilih sepeda bila bepergian jarak dekat, atau mobil untuk jarak jauh . Jadi, jangankan tukang ojek, motornya sendiri sangat jarang ditemui, bisa dihitung dengan jari. Dalam satu hari saya hanya menemukan paling banyak 3 motor yang berlalu lalang di jalanan. Ini terjadi karena harga mobil di sini lebih murah dibandingkan harga mobil di Indonesia, misalnya, Camry terbaru di tanah air harganya bisa mencapai 400 jutaan, di sini mobil yang sama paling sekitar 250 jutaan. Sedangkan penghasilan warga Amerika 10 kali lipat dari penghasilan warga Indonesia. Jadi harga mobil di sini sama seperti harga motor di tanah air. Tidak aneh bila jarang yang beli motor, apalagi jadi tukang ojek.

4. Pa Ogah

Di Amerika mobil memang banyak, tapi ruas jalanan lebih banyak dan lebih luas. Sangat jarang saya menemukan jalanan macet, kecuali di kota (downtown). Tapi itu juga pada waktu-waktu tertentu, dan tidak begitu panjang seperti di Indonesia. Ini memang pengalaman saya di Santa Barbara, kota yang tidak begitu besar, saya belum mengetahui kalau di kota besar seperti di LA atau New York. Jadi karena tidak ada kemacetan, maka Pa Ogah tidak dibutuhkan di sini. Paling ada juga relawan penyebrang jalan. Seperti yang saya lihat di pasar malam jalan state downtown, yang menggunakan jalan umum beberapa blok untuk tempat pasarnya. Ketika banyak orang yang berkumpula untuk menyebrang di persimpangan jalan, relawan tersebut ikut membantu para penyebrang itu untuk lewat. Namanya relawan mereka melakukan dengan sukarela dan tidak ada satu orang pun yang memberi uang kepadanya.

5. Pengamen

Di Indonesia pengamen itu sudah jadi profesi. Setingkat Aa Gym saja menurut penuturannya dulu sewaktu masih jadi mahasiswa pernah mengamen dengan berkeliling komplek perumahan. Di Indonesia pengamen baik yang tanpa banyak modal, hanya kecrekan atau yang bermodal alat musik canggih bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah berikutnya, atau menghibur (ada juga yang menyebut mengganggu) dari satu toko ke toko berikutnya. Tak jarang mereka juga mendekati orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan. Di Bandung tahun ini pengamen bisa masuk ke restauran dan hotel untuk memberikan hiburan. Walikota Ridwan Kamil yang alumni Amerika itu mengintruksikan hotel dan restauran untuk memberdayakan mereka. Di negeri Paman Sam saya jarang melihat pengamen yang berkeliling seperti di tanah air. Paling ada seniman dengan alat musik canggih menghibur di pasar malam. Itu pun tidak banyak paling satu atau dua orang.

6. Pedagang Kaki Lima

Masalah akut di kota-kota besar Indonesia adalah PKL yang semrawut. Di negeri Barack Obama ini saya tidak menemukan PKL menguasai jalanan. Memang pernah saya menemukan PKL 3 orang menggunakan roda nangkring di taman kota yang banyak didatangi anak-anak bermain karena ada taman bermain yang lengkap. Namun, mereka harus mendapatkan izin yang sangat ketat dan diperiksa makanan yang akan dijualnya. Bandingkan dengan di tanah air PKL ada di mana-mana. Di Gazibu Bandung contohnya, sebelum masa Ridwan Kamil, jumlah pedagang malah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang mau berolah raga pada hari minggu. Sebetulnya itu positif, karena membuka lapangan pekerjaan, namun seringkali para pedagang ini berjualan tanpa izin, tidak mau diatur dan barang dagangannya tidak ada yang mengecek. Lihat saja lihat pedagang di depan sekolah, anak-anak diracun dengan makanan yang tidak jelas agar tetap murah sesuai uang jajan anak sekolah.

7. Pedagang Pulsa

Merebaknya ponsel membuka peluang penjualan pulsa. Itu di tanah air, kalau di sini saya tidak menemukan tukang pulsa yang menjual nomor dan paket pulsa sambil bersaing banting harga. Operator selular di Amerika sebetulnya banyak seperti di Indonesia. Di sini ada AT&T dan T-Mobile untuk GSM, Verizon, US Cellular dan Sprint untuk CDMA. Mereka tidak menjual pulsa murah, tapi mereka lebih memperhatikan paket langganan dimana sms dan nelepon gratis ke nomor manapun selama masih di Amerika. Saya menggunakan AT&T dengan paket onGo, langganan selama 1 bulan dengan tambahan paket data internet LTE atau 4G. Jadi tidak lagi memikirkan mau nelepon habis pulsa harus nyari pulsa dulu. Kalau waktu langganan sudah habis, ya bayar lagi di gerai operator tersebut yang biasanya ada di pusat-pusat perbelanjaan.

8. Petugas Pom Bensin

Berbeda dengan di tanah air yang di tiap pom bensin pasti ada banyak pelayan yang mengisi bensin, Di Amerika Pom bensin itu tidak dijaga pelayan. Kita harus mengoperasikan sendiri mesin bensin ketika mau mengisi bahan bakar. Setelah selesai bayar di kasir yang ada di toko bagian tengah pom bensin tersebut. Pom Bensin mencantumkan harganya di layar di pinggir jalan, jadi kalau ada orang yang mau beli bensin mereka akan mudah untuk mengenali dan menghitung biaya yang harus dikeluarkannya.

Biar adil saya juga akan menyebutkan pekerjaan yang masih laku di sini seperti juga di Indonesia. Beberapa diantaranya 1) tukang kebun dan petani. Di sini tukang kebun dan petani masih digunakan sekalipun tugasnya sudah dibantu oleh alat-alat modern. potong rumput pake mobil pemotong seperti mobil golf, menyiram pohon dengan alat keran yang otomatis keluar air sendiri dalam jangka waktu tertentu. 2) pengemis. pekerjaan yang hina dina ini ternyata masih ada juga. Di sini mereka menyebutnya homeless (tunawisma) mereka membawa poster bertuliskan “help, need food” berdiri di perempatan gerbang pasar. Tapi saya lihat jumlahnya tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Beberapa pengemis bahkan bergaya, mereka punya sepeda, punya anjing dan kalau pengemis di stasiun kereta mereka membawa travel bag. Mereka meminta dengan cara sopan “Can give me 1 dollar for food?”. Kalau kita menolak mereka pergi meminta ke orang berikutnya. 3) pencuri. Sekalipun Amerika aman dari kriminalitas (kecuali beberapa kasus yang muncul di televisi), ternyata banyak pencuri yang menyasar sepeda. Saya pernah mengalami kehilangan sepeda di depan KMart, sebuah supermarket. Saya adukan ke call centernya mereka bilang itu sudah biasa terjadi, silahkan laporkan saja ke polisi. Saya ceritakan ke beberapa teman yang sudah lama tinggal di sana, mereka menyatakan juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi pencurian sepeda itu hal yang umum. Bahkan ada yang mencuri sepeda dengan ditinggalkan ban depannya saja, karena yang dikunci oleh pemilik sepeda hanya ban depan saja ke rak parkir sepeda. Harga sepeda memang lumayan, sepeda bekas harganya sekitar $100 atau 1,2 jutaan, kalau masih bagus bisa lebih mahal lagi.

0 komentar:

Posting Komentar

8 Pekerjaan yang Jarang Ditemukan di Amerika


Dalam pandangan saya, pekerjaan apapun selama itu dilakukan dengan cara yang baik dan menghasilkan uang adalah pekerjaan yang baik. Terlepas apakah pekerjaan itu terkategorikan pekerjaan kasar atau pekerjaan profesional. Selama tinggal di Amerika Serikat saat ini, saya memperhatikan ragam profesi yang digeluti oleh orang-orang Amerika dan membandingkannya dengan di tanah air. Ada beberapa pekerjaan yang di Amerika ternyata tidak dikenal atau jarang dilakukan atau tidak lagi dilakukan oleh manusia alias sudah diganti oleh mesin. Pekerjaan apakah itu :

1. Kondektur Bis

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Santa Barbara, angkutan umum yang saya temui selain taksi adalah bis kota yaitu MTD Santa Barbara. Tipenya sama dengan Busway Trans Jakarta. Di sini tidak ada angkutan kota (angkot) seperti di tanah air, hanya ada bis atau kereta untuk angkutan umum darat. Perbedaan Bis kota di sini dengan di tanah air adalah sopir bis yang bekerja sendiri. Tidak ada konduktur apalagi petugas keamanan seperti di Trans Jakarta. Penumpang membayar ongkos dengan memasukkan uang cash atau kartu langganan ke mesin yang berada tepat di pintu masuk bis bersebelahan dengan kursi supir. Ongkos jarak jauh atau dekat sama $1.75. Untuk orang tua dan anak-anak ada pengurangan harga. Kita bisa menghemat dengan membeli kartu tiket pass 10 rit untuk 10 kali naik bis seharga $11. Kalau ingin lebih berhemat lagi beli kartu pass untuk 30 hari hanya $52, mau berapa kali pun dalam sehari kita naik bis bebas dengan kartu ini. Khusus mahasiswa dan pelajar mereka cukup menunjukkan kartu mahasiswa yang sudah diberi stiker khusus, karena mereka sudah membayarnya bersamaan dengan bayara uang kuliah/sekolah. Bila kita ingin berhenti, tidak perlu menggedor-gedor pintu atau memukul kaca bis dengan koin, cukup tarik tali yang melintang di pinggir jendela, dan tanda “request stop” akan berbunyi. Kelebihan bis kota di Amerika, sepeda bisa naik ke bis, ada rak depan bis yang bisa disimpan untuk sepeda. Tapi kita sendiri yang harus menaikkan dan menurunkan sepeda tersebut.

13928804701924784409

2. Tukang Parkir

Bila di tanah air tukang parkir bisa ditemui di mana-mana, baik yang resmi dengan baju oranyenya, maupun yang liar yang menarik tarif parkir seenak jidatnya, seperti di Gazibu hari Minggu, di Amerika saya tidak menemukan satu pun tukang parkir. Semua karcis parkir melalui mesin, sama seperti yang baru diujicobakan di Bandung beberapa waktu yang lalu. Bedanya, kalau di Bandung masih ada tukang parkir dengan pakaian warna oranye dengan strip batik yang menjaga mesin dan mengawasi pemilik mobil yang tidak membayar parkir, di Amerika hanya ada mesin parkir tidak ada yang menjaga satu orang pun. Setiap orang yang membawa mobil mendatangi mesin tersebut lalu membayar biaya parkir dengan Kartu ATM atau Kartu Kredit untuk satu atau dua jam. Bila ada yang tidak membayar karcis parkir atau waktu parkirnya melebihi dari yang dibayarnya di awal, maka siap-siap akan kena denda karena semua tempat parkir diawasi oleh CCTV.

3. Tukang Ojek

Di Amerika motor bukan salah satu alat transportasi yang umum dipakai masyarakat. Warga lebih memilih sepeda bila bepergian jarak dekat, atau mobil untuk jarak jauh . Jadi, jangankan tukang ojek, motornya sendiri sangat jarang ditemui, bisa dihitung dengan jari. Dalam satu hari saya hanya menemukan paling banyak 3 motor yang berlalu lalang di jalanan. Ini terjadi karena harga mobil di sini lebih murah dibandingkan harga mobil di Indonesia, misalnya, Camry terbaru di tanah air harganya bisa mencapai 400 jutaan, di sini mobil yang sama paling sekitar 250 jutaan. Sedangkan penghasilan warga Amerika 10 kali lipat dari penghasilan warga Indonesia. Jadi harga mobil di sini sama seperti harga motor di tanah air. Tidak aneh bila jarang yang beli motor, apalagi jadi tukang ojek.

4. Pa Ogah

Di Amerika mobil memang banyak, tapi ruas jalanan lebih banyak dan lebih luas. Sangat jarang saya menemukan jalanan macet, kecuali di kota (downtown). Tapi itu juga pada waktu-waktu tertentu, dan tidak begitu panjang seperti di Indonesia. Ini memang pengalaman saya di Santa Barbara, kota yang tidak begitu besar, saya belum mengetahui kalau di kota besar seperti di LA atau New York. Jadi karena tidak ada kemacetan, maka Pa Ogah tidak dibutuhkan di sini. Paling ada juga relawan penyebrang jalan. Seperti yang saya lihat di pasar malam jalan state downtown, yang menggunakan jalan umum beberapa blok untuk tempat pasarnya. Ketika banyak orang yang berkumpula untuk menyebrang di persimpangan jalan, relawan tersebut ikut membantu para penyebrang itu untuk lewat. Namanya relawan mereka melakukan dengan sukarela dan tidak ada satu orang pun yang memberi uang kepadanya.

5. Pengamen

Di Indonesia pengamen itu sudah jadi profesi. Setingkat Aa Gym saja menurut penuturannya dulu sewaktu masih jadi mahasiswa pernah mengamen dengan berkeliling komplek perumahan. Di Indonesia pengamen baik yang tanpa banyak modal, hanya kecrekan atau yang bermodal alat musik canggih bisa berkeliling dari satu rumah ke rumah berikutnya, atau menghibur (ada juga yang menyebut mengganggu) dari satu toko ke toko berikutnya. Tak jarang mereka juga mendekati orang yang sedang menikmati makanan di rumah makan. Di Bandung tahun ini pengamen bisa masuk ke restauran dan hotel untuk memberikan hiburan. Walikota Ridwan Kamil yang alumni Amerika itu mengintruksikan hotel dan restauran untuk memberdayakan mereka. Di negeri Paman Sam saya jarang melihat pengamen yang berkeliling seperti di tanah air. Paling ada seniman dengan alat musik canggih menghibur di pasar malam. Itu pun tidak banyak paling satu atau dua orang.

6. Pedagang Kaki Lima

Masalah akut di kota-kota besar Indonesia adalah PKL yang semrawut. Di negeri Barack Obama ini saya tidak menemukan PKL menguasai jalanan. Memang pernah saya menemukan PKL 3 orang menggunakan roda nangkring di taman kota yang banyak didatangi anak-anak bermain karena ada taman bermain yang lengkap. Namun, mereka harus mendapatkan izin yang sangat ketat dan diperiksa makanan yang akan dijualnya. Bandingkan dengan di tanah air PKL ada di mana-mana. Di Gazibu Bandung contohnya, sebelum masa Ridwan Kamil, jumlah pedagang malah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah masyarakat yang mau berolah raga pada hari minggu. Sebetulnya itu positif, karena membuka lapangan pekerjaan, namun seringkali para pedagang ini berjualan tanpa izin, tidak mau diatur dan barang dagangannya tidak ada yang mengecek. Lihat saja lihat pedagang di depan sekolah, anak-anak diracun dengan makanan yang tidak jelas agar tetap murah sesuai uang jajan anak sekolah.

7. Pedagang Pulsa

Merebaknya ponsel membuka peluang penjualan pulsa. Itu di tanah air, kalau di sini saya tidak menemukan tukang pulsa yang menjual nomor dan paket pulsa sambil bersaing banting harga. Operator selular di Amerika sebetulnya banyak seperti di Indonesia. Di sini ada AT&T dan T-Mobile untuk GSM, Verizon, US Cellular dan Sprint untuk CDMA. Mereka tidak menjual pulsa murah, tapi mereka lebih memperhatikan paket langganan dimana sms dan nelepon gratis ke nomor manapun selama masih di Amerika. Saya menggunakan AT&T dengan paket onGo, langganan selama 1 bulan dengan tambahan paket data internet LTE atau 4G. Jadi tidak lagi memikirkan mau nelepon habis pulsa harus nyari pulsa dulu. Kalau waktu langganan sudah habis, ya bayar lagi di gerai operator tersebut yang biasanya ada di pusat-pusat perbelanjaan.

8. Petugas Pom Bensin

Berbeda dengan di tanah air yang di tiap pom bensin pasti ada banyak pelayan yang mengisi bensin, Di Amerika Pom bensin itu tidak dijaga pelayan. Kita harus mengoperasikan sendiri mesin bensin ketika mau mengisi bahan bakar. Setelah selesai bayar di kasir yang ada di toko bagian tengah pom bensin tersebut. Pom Bensin mencantumkan harganya di layar di pinggir jalan, jadi kalau ada orang yang mau beli bensin mereka akan mudah untuk mengenali dan menghitung biaya yang harus dikeluarkannya.

Biar adil saya juga akan menyebutkan pekerjaan yang masih laku di sini seperti juga di Indonesia. Beberapa diantaranya 1) tukang kebun dan petani. Di sini tukang kebun dan petani masih digunakan sekalipun tugasnya sudah dibantu oleh alat-alat modern. potong rumput pake mobil pemotong seperti mobil golf, menyiram pohon dengan alat keran yang otomatis keluar air sendiri dalam jangka waktu tertentu. 2) pengemis. pekerjaan yang hina dina ini ternyata masih ada juga. Di sini mereka menyebutnya homeless (tunawisma) mereka membawa poster bertuliskan “help, need food” berdiri di perempatan gerbang pasar. Tapi saya lihat jumlahnya tidak banyak, hanya satu atau dua orang saja. Beberapa pengemis bahkan bergaya, mereka punya sepeda, punya anjing dan kalau pengemis di stasiun kereta mereka membawa travel bag. Mereka meminta dengan cara sopan “Can give me 1 dollar for food?”. Kalau kita menolak mereka pergi meminta ke orang berikutnya. 3) pencuri. Sekalipun Amerika aman dari kriminalitas (kecuali beberapa kasus yang muncul di televisi), ternyata banyak pencuri yang menyasar sepeda. Saya pernah mengalami kehilangan sepeda di depan KMart, sebuah supermarket. Saya adukan ke call centernya mereka bilang itu sudah biasa terjadi, silahkan laporkan saja ke polisi. Saya ceritakan ke beberapa teman yang sudah lama tinggal di sana, mereka menyatakan juga pernah mengalami hal yang sama. Jadi pencurian sepeda itu hal yang umum. Bahkan ada yang mencuri sepeda dengan ditinggalkan ban depannya saja, karena yang dikunci oleh pemilik sepeda hanya ban depan saja ke rak parkir sepeda. Harga sepeda memang lumayan, sepeda bekas harganya sekitar $100 atau 1,2 jutaan, kalau masih bagus bisa lebih mahal lagi.
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply