Workshop Mendeley di UIN Ar-Raniry Aceh

Berbagi ilmu bersama dosen dan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Ar-Raniry Aceh 2017

Tour de Merapi Yogyakarta 2017

Rombongan Tour Dosen dan Pegawai Administrasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung 2017

Workshop OJS di UPI Tasikmalaya

Foto bersama pimpinan kampus UPI Tasikmalaya setelah Workshop OJS (Open Journal System) Juni 2017

Perpustakaan di Universitas Amerika

Pintu gerbang perpustakaan Davidsons Library UCSB, California Amerika Serikat.

Al Jam'iatul Washliyah Provinsi Jawa Barat

Kunjungan Pengurus Wilayah (PW) Al-Jam'iatul Washliyah ke Pengurus Daerah Al-Washiliyah Cirebon.

Rabu, 30 September 2015

Kesalahan Umum Menulis Berita (1)

Seri Jurnalisme Dakwah


Membaca berita mungkin sudah menjadi aktivitas keseharian kita. Tapi, ketika diminta untuk menulis berita terkadang kita kesulitan untuk memulai dari mana dan bagaimana caranya. Kesulitan ini terjadi karena kurangnya latihan, selain tentu saja kurangnya pengetahuan tentang teknik menulis berita yang baik.

Dalam catatan kali ini saya akan mengungkapkan beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh para calon jurnalis ketika mereka menulis berita. Catatan ini diperoleh setelah memperhatikan dan membaca dengan cermat tulisan berita yang dikumpulkan oleh mahasiswa KPI Semester tiga yang mengikuti mata kuliah Jurnalisme Dakwah yang saya ampu.

Para mahasiswa tersebut sengaja saya beri tugas untuk liputan langsung kegiatan Idul Adha dan kurban di kampungnya masing-masing. Mereka tidak diberikan penjelasan secara langsung tentang teknik menulis berita. Hanya instruksi yang saya berikan, agar mereka menggunakan instingnya untuk meliput berita berdasarkan penilaian mereka peristiwa tersebut memiliki nilai berita untuk dipublikasikan. Saya mengajak mereka untuk belajar sambil melakukan (learning by doing). Melalui cara ini mereka akan belajar dari kesalahan.

Kesalahan dalam penulisan berita oleh mahasiswa tentu perlu dibongkar sehingga mereka tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama dalam liputan berita berikutnya. Dengan demikian mereka juga akan mendapatkan wawasan untuk membuat berita lebih baik.

Dalam tulisan ini saya akan mengungkapkan beberapa kesalahan umum dalam menulis berita. Pada bagian ini saya akan menyoroti tulisan mahasiswa dari aspek penulisan judul berita.

  1. Penggunaan Huruf Kapital di Judul Berita

Salah satu kesalahan terbesar dalam menulis berita adalah keteledoran untuk memperhatikan tanda baca, termasuk huruf kapital. Salah satu aturan penting menulis berita adalah tidak boleh menggunakan huruf kapital untuk judul berita, contohnya:

MEROSOTNYA EKONOMI, KURBAN DI DESA NAGRAK MENGALAMI PENURUNAN

WARGA KAMPUNG DUSUN PUHUN BERHARAP ADANYA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

TRADISI QURBAN DI KAMPUNG LEBAK LAME

MENINGKATNYA MUZAKKI DI DKM NURUL QOLBI

PERISTIWA SAAT SHALAT IED

MUHAMMADIYAH LEBIH AWAL MELAKSANAKAN SHALAT IDUL ADHA 1436 H DARI PENETAPAN PEMERINTAH

Huruf kapital bisa diartikan sebagai tanda kemarahan. Jadi judul berita dengan menggunakan huruf kapital bisa diartikan bahwa penulis sedang marah. Ini tentu tidak sesuai dengan maksud berita tersebut ditulis bukan?

  1. Penggunaan Huruf Kecil di Judul Berita

Berbeda dengan kesalahan di atas, wartawan yang menuliskan judul berita dengan menggunakan huruf kecil semua menandakan bahwa ia tidak memahami kaidah penulisan berita. Contoh judul berita ini seperti:

malam idul adha tanpa kebisingan di maja

malam idul adha komplek cibiru raya

lunturnya budaya idul adha

ikhtilaf penetapan idul adha

  1. Salah Penulisan di Judul Berita

Salah satu kesalahan terbesar wartawan lainnya adalah malas mengedit. Apalagi kesalahannya dilakukan dalam penulisan judul berita. Pembaca akan sangat terganggu dengan judul berita yang salah. Alih-alih mereka akan membaca isi berita, membaca judul berita saja mereka sudah malas.

Sebenarnya ada editor atau redaktur berita yang akan memberikan koreksi dalam kesalahan penulisan ini. Namun, jangan menambah kerja editor atau redaktur dengan hal-hal yang sepele seperti ini. Tugas mereka sudah cukup berat untuk memperhatikan dan mengedit isi berita agar sesuai dengan visi misi media. Jadi jangan malas untuk membaca kembali judul dan mengkoreksinya bila salah. Ini contohnya :

ARISAN QURBAN ,EMJADI SOLUSI WARGA

IDUL ADAH MEMBAWA BERKAH BAGI PEDAGANG TUSUK SATE

  1. Tidak Ada Judul Berita

Judul berita adalah rukunnya penulisan berita. Bila tidak ada judul maka berita tersebut tidak jelas, dan dipastikan tidak layak untuk dijadikan berita. Beberapa mahasiswa masih menganggap bahwa tugas liputan berita ini tidak jauh berbeda dengan tugas membuat makalah, jadi mereka tidak memperhatikan unsur penting dari berita ini.

Ada juga yang menuliskan judul berita dengan tugas kuliah. Misalnya :

Berita tentang Lebaran Idul Adha

JURNALISME DAKWAH

Berita yang tidak memberikan judul atau memberi judul tapi dengan kata "tugas kuliah"  dipastikan tidak akan dimuat. Jadi perhatikan dengan baik hal ini, bila tulisannya ingin dimuat.

  1. Berita Terlalu Panjang

Ada mahasiswa yang karena begitu bersemangatnya membuat berita sampai dalam judul berita dimasukkan semua unsur berita di dalamnya. Ada juga mereka yang menuliskan judul berita dengan kata-kata yang tidak perlu. Misalnya :

Naik nya harga daging sapi tidak membuat masyarakat Rengasdengklok berhenti dari tradisi saat idul Adha

MUHAMMADIYAH LEBIH AWAL MELAKSANAKAN SHALAT IDUL ADHA 1436 H DARI PENETAPAN PEMERINTAH

Tiket tidak hanya untuk masuk bioskop, untuk mengambil sebungkus daging qurban pun ada tiketnya ternyata...

WARGA KAMPUNG DUSUN PUHUN BERHARAP ADANYA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Masjid Ikomah UIN SGD BDG 1436

Libur Idul Adha, Wisata Pemandian Air Panas di Cipanas, Garut Ramai Pengunjung

Judul-judul di atas bila dikoreksi, akan didapatkan judul yang lebih baik, lebih efektif, lebih ringkas, namun tetap mencerminkan isi berita. yaitu:

Harga Sapi Naik, Masyarakat Rengasdengklok Tetap Berkurban

Muhammadiyah Lebih Awal Shalat Idul Adha

Ternyata, Dapat Kurban pun Harus Punya Tiket

Warga Kampung Dusun Puhun Berharap Daging Kurban

Shalat Idul Adha di Masjid Ikomah UIN Bandung

Libur Idul Adha, Wisata Cipanas Garut Ramai Pengunjung

Demikian beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh calon wartawan ketika menulis judul berita. Semoga ini bisa menjadi catatan perbaikan untuk liputan berita berikutnya yang lebih baik.

Nantikan tulisan berikutnya tentang kesalahan umum menulis berita di catatan ini. Jangan lupa terus berlatih. Semoga bermanfaat.

Cijambe Ujung Berung,

Penghujung malam 30 Sept 2015

Senin, 29 Juni 2015

Cerita Islam Nusantara


 Bersama Imam Yama Niazi, Imam Komunitas Muslim Santa Barbara[/caption]

Membaca tulisan artikel Prof. Sarlito Wirawan Sarwono berjudul "Islam Nusantara II"  di harian Sindo (klik linknya di sini) membuat saya tersenyum, membayangkan bagaimana rasanya berteriak "Amiiin" dengan keras dan panjang dalam shalat berjamaah, sedangkan makmum yang lain tidak melakukan hal yang sama. Kisah tersebut juga saya temukan dalam novel Andrea Hirata, kalau tidak salah berjudul "Edensor" dimana Andrea Hirata dan temannya juga melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Prof. Sarlito juga Andrea Hirata dalam kisah lucu mereka. Nabi sendiri menganjurkan dalam haditsnya ketika kita mendengar imam membaca waladh dholliin di penghujung surat al-Fatihah kita sebagai makmum hendaknya membaca Amiin bersama-sama. Apakah cara membaca aminnya dengan suara rendah atau suara tinggi nabi tidak menjelaskan secara spesifik. Karena kebiasaan saja lalu kita muslim Indonesia, khususnya anak-anak, menjawab "Amiin" dengan keras dan panjang.

Pola beragama kita sebagai muslim sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang dikonstruksi selama bertahun-tahun sejak kecil sampai saat ini. Budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang kita miliki tersebut dibentuk oleh penafsiran kita tentang Islam yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru, ustad dan orang tua kita. Maka, cara kita mengekspresikan identitas keagamaan akan sesuai dengan kebiasaan Indonesia yang telah mendarah daging dan membudaya dalam pola berpikir kita. Tidak ada yang salah dengan cara beragama dengan budaya khas Indonesia ini, seperti tidak ada yang salah juga dengan cara beragama orang Turki, orang Pakistan, orang Mesir atau negara-negara mayoritas muslim lainnya selama itu tidak menyalahi ajaran yang dicontohkan Nabi Saw.

Kisah lucu Prof. Sarlito mengingatkan saya pada beberapa cerita unik yang dialami saya ketika sedang berada di Amerika Serikat tahun lalu. Sebagai muslim yang didik untuk taat beribadah, pola berpikir saya telah terkonstruksi oleh budaya warisan orang tua termasuk cara berpakaian untuk shalat. Sebagai seorang muslim yang baik, saya diajarkan oleh orang tua untuk menggunakan baju takwa yang lengkap ketika akan shalat yaitu baju koko dengan kopiah hitam dan sarung. Pengajaran yang sama juga saya peroleh dari (alm) KH. Irfan Hielmy  (Allahummagfirlahu) guru saya ketika dulu mondok di Pesantren Darussalam Ciamis. Menurut beliau ketika shalat kita dianjurkan untuk memakai baju khusus shalat, bukan baju aktivitas sehari-hari. Baju tersebut adalah baju koko, sarung dan kopiah. Beliau sendiri memberikan contoh cara berpakaian seperti itu dalam kesehariannya. Bahkan dalam sebuah momen foto bersama, beliau meminta untuk berganti pakaian terlebih dahulu dengan sarung yang lebih bagus. Di usianya yang sudah sepuh saat itu beliau terlihat gagah. Cara berpakaian takwa tersebut kemudian diikuti oleh saya dan juga santri-santri lainnya. Sebenarnya shalat dengan menggunakan baju biasa, atau seragam sekolah juga tidak salah, tapi terasa kurang afdhol, karena baju tersebut bisa saja kotor, kena najis.

Pola berbaju takwa ketika shalat ini saya bawa juga ketika berada di negeri orang, di sebuah negera di mana muslim minoritas. Saya tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian California AS, bernama Santa Barbara, sekitar 2 jam dari Los Angeles. Di kota tersebut ada komunitas muslim bernama IslamicSociety SantaBarbara​, dengan jamaah kurang lebih 500 orang. di komunitas muslim tersebut tidak ada satu pun orang Indonesia. Komunitas muslim ini masih berusia muda, dibentuk sekitar 10 tahun yang lalu. Mereka belum memiliki bangunan masjidi mandiri dan permanen. Hanya ada sebuah ruangan di lantai 2 dari sebuah bangunan milik salah satu pabrik yang mereka sewa, untuk digunakan shalat berjamaah dan pengajian. Untuk shalat Jumat mereka menyewa aula di Goleta Valley yang bisa menampung seribuan orang untuk berkumpul. Ruangan tersebut milik publik sehingga di hari-hari lainnya biasa digunakan untuk tempat rapat atau acara pernikahan. Sebelumnya saya hanya mengenal komunitas ini dari group Facebook.

Pertama kali saya datang ke komunitas muslim Santa Barbara ini bertepatan dengan hari Jum'at. Lokasi shalat Jumat tersebut saya ketahui berdasarkan informasi dari seorang mahasiswa program doktor UC Santa Barbara, Ahmad Temel, mahasiswa muslim asal Turki.  Saya datang ke lokasi shalat Jum'at tersebut dengan semangat 45. Dengan baju takwa : baju koko, dan kopiah hitam (tanpa sarung) saya berangkat ke sana. Saya tiba ke Aula Goletta Valley tersebut jam 11.30. dalam pikiran saya waktu shalat Jum'at akan dilaksanakan pada jam 11.45 atau paling lambat jam 12.00 sama seperti di Indonesia. Ketika saya sampai ternyata tidak terlihat aktivitas kegiatan shalat berjamaah di aula tersebut. Setelah bertanya ke beberapa orang, ternyata kegiatan shalat Jum'at dilaksanakan mulai jam 13.30. Wah saya salah sangka. Kebiasaan shalat di tanah air ternyata berbeda dengan di tempat lain. Ternyata waktu dhuhur di AS lebih mundur. Saya pun memutuskan untuk menunggu.

Satu per satu jamaah shalat jumat berdatangan. Sebelum shalat Jum'at saya mulai berkenalan dengan beberapa jamaah termasuk dengan Imam masjidnya, Imam Yamma Niazi, Imam adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat muslim Amerika untuk ustad atau Kyai kalau tanah air.

Banyak keunikan di komunitas muslim Santa Barbara ini yang membuat saya takjub. Saya melihat beragam warna kulit dan wajah. Ada yang berkulih putih, hitam, kuning, dan sawo matang (maksudnya kulit saya, hehe..), ada yang berwajah Pakistan, Afganistan (Imam masjidnya keturunan dari Afganistan), Timur-tengah, Turki, Afrika dan China. Mereka semua bersatu dalam keragamannya itu, shalat berjamaah tanpa sekat dan pengelompokkan.

Demikian juga cara berpakaian mereka tidak seragam, mengikuti khas negara masing-masing. Ada yang memakai pakaian khas Arab, khas Pakistan dan tentu saja khas Nusantara yang saya pakai, baju koko dan kopiah hitam. Saya merasa nyaman-nyaman saja. Saya berpikir dengan baju kokok dan kopiah hitam ini saya menunjukkan identitas saya sebagai muslim asal Indonesia. Cara yang sama yang dilakukan oleh guru saya Prof. Deddy Mulyana ketika sedang berada di luar negeri.

Selesai shalat Jum'at saya kembali ngobrol dengan jamaah lainnya. Salah satu jamaah yang sudah saya kenal lewat facebook adalah Ameer Shakour, mahasiswa muslim asal India, kalau tidak salah. Ia menyatakan bahwa pakaian yang saya kenakan terlihat bagus. "Apanya yang bagus?" tanya saya dalam Bahasa Inggris. Ia menjawab bahwa pakaian yang saya kenakan seperti seorang sultan dari negeri melayu, Sultan Brunei. Saya manggut-manggut sambil membayangkan sosok Sultan Hasanal Bolkiah yang fotonya sering terlihat berpakaian khas melayu, baju koko, celana panjang dan kopiah hitam dengan sarung dilipat setengah lutut. Ameer  kemudian bertanya apakah memang pakaian muslim di Indonesia seperti yang saya kenakan. Sambil mengangguk saya jawab "Ya". Inilah pakaian shalat yang orang Islam di nusantara tafsirkan sebagai pakaian takwa yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 26 :

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan, pakaian takwa itu yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Pakaian takwa muslim nusantara yang saya kenakan ini menurutnya unik karena berbeda dengan pakaian muslim dari Arab, Mesir atau Pakistan. Saya menerangkan memang pakaian takwa khas nusantara ini dibentuk oleh budaya, adat dan kebiasaan orang Indonesia. Tapi pakaian ini juga tidak murni nusantara, banyak dipengaruhi juga oleh budaya lain. Baju koko jelas dipengaruhi oleh baju dari China. Kopiah hitam terlihat pengaruhnya dari India, sedangkan sarung, itu adalah kain yang khas digunakan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, kita bisa menemukannya di Thailand, Vietnam yang jelas-jelas bukan muslim. Ketika bagian-bagian itu disatukan menjadi pakaian takwa khas muslim nusantara, ia menjadi identitas pakaian muslim kawasan ini. Teman saya manggut-manggut mendengar penjelasan saya tersebut.

Saat itu kehangatan penyambutan oleh sesama saudara muslim saya rasakan begitu menyenangkan. Rasa persaudaraan sebagai muslim mampu mengalahkan perbedaan warna kulih, wajah dan cara berpakaian kami. Inilah indahnya Islam. Mau Islam Arab, Islam Pakistan, Islam Turki atau Islam Nusantara semuanya adalah satu. Keragaman bukan untuk memecah belah tapi untuk dikenali sebagai keindahan sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13, yang paling penting adalah tingkat ketakwaaannya saja, siapa yang paling baik.

Selasa, 17 Februari 2015

KOMUNIKASI ISLAM



Kita mungkin sering mendengar istilah komunikasi Islam. Komunikasi Islam secara sepintas diartikan sebagai ilmu Komunikasi yang ditambah label Islam di belakangnya. Cukup hanya itu? Tentu tidak. Komunikasi Islam bukan sekedar pelabelan kata Islam dibelakang Komunikasi atau mengislamisasi ilmu komunikasi yang dianggap sekuler karena berasal dari barat. Komunikasi Islam memiliki konsep sendiri. Komunikasi Islam banyak yang menyebutkan artinya sepadan dengan Dakwah Islam. Namun istilah dakwah Islam sendiri terlampau luas untuk disejajarkan dengan Komunikasi Islam. Sekalipun keduanya mempunyai ciri yang sama.

Ciri utama komunikasi adalah omni present atau hadir di manapun kita berada. Ketika kita berinteraksi secara sosial kita sedang melakukan komunikasi. berbicara, mendengar, membaca, menulis semuanya adalah bentuk komunikasi yaitu menyampaikan dan menerima pesan. Bahkan ketika kita diam pun, bisa dipahami kita sedang menyampaikan pesan. demikian pula dengan dakwah. Apapun yang kita lakukan bisa dikategorikan sedang berdakwah. Sehingga disebutkan bahwa setiap umat Islam adalah duta Islam dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiah setiap tempat dan setiap waktu.

Berkaitan kegiatan dakwah, komunikasi Islam masuk dalam ranah ilmu tabligh (penyiaran). Ranah lainnya dari Ilmu dakwah adalah irsyad(bimbingan), tadbir (manajemen) dan tathwir (Pengembangan masyarakat). Masing-masing ranah ini memiliki karakteristik yang unik namun saling berkaitan satu sama lain.

Khusus tentang Tabligh sebagai sebuah bentuk komunikasi Alquran mengistilahkannya dengan konsep “Ahsan al-qaul” diambil dari ayat Quran surat Fushilat (41) ayat 33.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”

Kegiatan tabligh atau komunikasi Islam dalam konsep Ahsan al-qaul sebagaimana ayat di atas memiliki makna bahwa tabligh adalah sebuah kegiatan dengan tiga karakter utama yang tidak terpisah satu sama lain, yaitu: 1) melakukan seruan (berdakwah) kepada Allah, 2) mengerjakan amal shaleh, dan 3) berserah diri kepada Allah(muslim). Jadi seseorang bisa disebut telah melakukan tabligh atau menyampaikan pesan dengan cara terbaik ketika tiga aspek itu dia lakukan dengan sebaik-baiknya.

Untuk itulah Dr. Ibrahim Imam dalam sebuah kitabnya berjudul “Ushul I’lam ali-Islamy” (1985) menyebutkan definisi tabligh sebagai berikut

تزويد الناس بالأخبار الصحيحة والمعلومات السليمة والحقائق الثابتة التي تساعد على تكوين رأي صائب في واقعة من الوقائع أو مشكلة من المشكلات


—“ Memberikan informasi yang benar, pengetahuan yang faktual dan hakikat pasti yang bisa menolong atau membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau berbagai kesulitan  (Ibrahim Imam, 1985).

Lebih lanjut beliau pun memberikan definisi ilmu tabligh sebagai berikut :

—علم يبحث عن كيفية التبليغ الإسلامية بشىءالطرق العلمية من الإستنباط والاقتباس والاستقراء ليكون الحق والقسط قائما


—Ilmu yang membahas tentang tata cara menyampaikan pesan Islamiyah dengan metode ilmiah dengan pendekatan istinbath, iqtibas dan istiqrademi tegaknya kebenaran dan keadilan (Ibrahim Imam, 1985).

Jadi berdasarkan definisi Ilmu Tabligh dari Ibrahim Imam di atas ada tiga metode utama untuk meraih ilmu tabligh yaitu istinbath, iqtibas dan istiqra. istinbath artinya pengembangan ilmu tabligh dengan penggunaan nash Al-Quran dan Hadits (deduktif), iqtibas pengembangan ilmu tabligh dengan bantuan ilmu lainnya seperti komunikasi, sosiologi, antropologi, ekonomi, politik dll, dan istiqra yaitu pengembangan ilmu tabligh dengan melakukan penelitian (induktif).

Kita akan bahas tiga metode pengembangan ilmu tabligh ini dalam tulisan berikutnya.
Kesalahan Umum Menulis Berita (1)
Seri Jurnalisme Dakwah


Membaca berita mungkin sudah menjadi aktivitas keseharian kita. Tapi, ketika diminta untuk menulis berita terkadang kita kesulitan untuk memulai dari mana dan bagaimana caranya. Kesulitan ini terjadi karena kurangnya latihan, selain tentu saja kurangnya pengetahuan tentang teknik menulis berita yang baik.

Dalam catatan kali ini saya akan mengungkapkan beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh para calon jurnalis ketika mereka menulis berita. Catatan ini diperoleh setelah memperhatikan dan membaca dengan cermat tulisan berita yang dikumpulkan oleh mahasiswa KPI Semester tiga yang mengikuti mata kuliah Jurnalisme Dakwah yang saya ampu.

Para mahasiswa tersebut sengaja saya beri tugas untuk liputan langsung kegiatan Idul Adha dan kurban di kampungnya masing-masing. Mereka tidak diberikan penjelasan secara langsung tentang teknik menulis berita. Hanya instruksi yang saya berikan, agar mereka menggunakan instingnya untuk meliput berita berdasarkan penilaian mereka peristiwa tersebut memiliki nilai berita untuk dipublikasikan. Saya mengajak mereka untuk belajar sambil melakukan (learning by doing). Melalui cara ini mereka akan belajar dari kesalahan.

Kesalahan dalam penulisan berita oleh mahasiswa tentu perlu dibongkar sehingga mereka tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama dalam liputan berita berikutnya. Dengan demikian mereka juga akan mendapatkan wawasan untuk membuat berita lebih baik.

Dalam tulisan ini saya akan mengungkapkan beberapa kesalahan umum dalam menulis berita. Pada bagian ini saya akan menyoroti tulisan mahasiswa dari aspek penulisan judul berita.

  1. Penggunaan Huruf Kapital di Judul Berita

Salah satu kesalahan terbesar dalam menulis berita adalah keteledoran untuk memperhatikan tanda baca, termasuk huruf kapital. Salah satu aturan penting menulis berita adalah tidak boleh menggunakan huruf kapital untuk judul berita, contohnya:

MEROSOTNYA EKONOMI, KURBAN DI DESA NAGRAK MENGALAMI PENURUNAN

WARGA KAMPUNG DUSUN PUHUN BERHARAP ADANYA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

TRADISI QURBAN DI KAMPUNG LEBAK LAME

MENINGKATNYA MUZAKKI DI DKM NURUL QOLBI

PERISTIWA SAAT SHALAT IED

MUHAMMADIYAH LEBIH AWAL MELAKSANAKAN SHALAT IDUL ADHA 1436 H DARI PENETAPAN PEMERINTAH

Huruf kapital bisa diartikan sebagai tanda kemarahan. Jadi judul berita dengan menggunakan huruf kapital bisa diartikan bahwa penulis sedang marah. Ini tentu tidak sesuai dengan maksud berita tersebut ditulis bukan?

  1. Penggunaan Huruf Kecil di Judul Berita

Berbeda dengan kesalahan di atas, wartawan yang menuliskan judul berita dengan menggunakan huruf kecil semua menandakan bahwa ia tidak memahami kaidah penulisan berita. Contoh judul berita ini seperti:

malam idul adha tanpa kebisingan di maja

malam idul adha komplek cibiru raya

lunturnya budaya idul adha

ikhtilaf penetapan idul adha

  1. Salah Penulisan di Judul Berita

Salah satu kesalahan terbesar wartawan lainnya adalah malas mengedit. Apalagi kesalahannya dilakukan dalam penulisan judul berita. Pembaca akan sangat terganggu dengan judul berita yang salah. Alih-alih mereka akan membaca isi berita, membaca judul berita saja mereka sudah malas.

Sebenarnya ada editor atau redaktur berita yang akan memberikan koreksi dalam kesalahan penulisan ini. Namun, jangan menambah kerja editor atau redaktur dengan hal-hal yang sepele seperti ini. Tugas mereka sudah cukup berat untuk memperhatikan dan mengedit isi berita agar sesuai dengan visi misi media. Jadi jangan malas untuk membaca kembali judul dan mengkoreksinya bila salah. Ini contohnya :

ARISAN QURBAN ,EMJADI SOLUSI WARGA

IDUL ADAH MEMBAWA BERKAH BAGI PEDAGANG TUSUK SATE

  1. Tidak Ada Judul Berita

Judul berita adalah rukunnya penulisan berita. Bila tidak ada judul maka berita tersebut tidak jelas, dan dipastikan tidak layak untuk dijadikan berita. Beberapa mahasiswa masih menganggap bahwa tugas liputan berita ini tidak jauh berbeda dengan tugas membuat makalah, jadi mereka tidak memperhatikan unsur penting dari berita ini.

Ada juga yang menuliskan judul berita dengan tugas kuliah. Misalnya :

Berita tentang Lebaran Idul Adha

JURNALISME DAKWAH

Berita yang tidak memberikan judul atau memberi judul tapi dengan kata "tugas kuliah"  dipastikan tidak akan dimuat. Jadi perhatikan dengan baik hal ini, bila tulisannya ingin dimuat.

  1. Berita Terlalu Panjang

Ada mahasiswa yang karena begitu bersemangatnya membuat berita sampai dalam judul berita dimasukkan semua unsur berita di dalamnya. Ada juga mereka yang menuliskan judul berita dengan kata-kata yang tidak perlu. Misalnya :

Naik nya harga daging sapi tidak membuat masyarakat Rengasdengklok berhenti dari tradisi saat idul Adha

MUHAMMADIYAH LEBIH AWAL MELAKSANAKAN SHALAT IDUL ADHA 1436 H DARI PENETAPAN PEMERINTAH

Tiket tidak hanya untuk masuk bioskop, untuk mengambil sebungkus daging qurban pun ada tiketnya ternyata...

WARGA KAMPUNG DUSUN PUHUN BERHARAP ADANYA PEMBAGIAN DAGING QURBAN

Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Masjid Ikomah UIN SGD BDG 1436

Libur Idul Adha, Wisata Pemandian Air Panas di Cipanas, Garut Ramai Pengunjung

Judul-judul di atas bila dikoreksi, akan didapatkan judul yang lebih baik, lebih efektif, lebih ringkas, namun tetap mencerminkan isi berita. yaitu:

Harga Sapi Naik, Masyarakat Rengasdengklok Tetap Berkurban

Muhammadiyah Lebih Awal Shalat Idul Adha

Ternyata, Dapat Kurban pun Harus Punya Tiket

Warga Kampung Dusun Puhun Berharap Daging Kurban

Shalat Idul Adha di Masjid Ikomah UIN Bandung

Libur Idul Adha, Wisata Cipanas Garut Ramai Pengunjung

Demikian beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh calon wartawan ketika menulis judul berita. Semoga ini bisa menjadi catatan perbaikan untuk liputan berita berikutnya yang lebih baik.

Nantikan tulisan berikutnya tentang kesalahan umum menulis berita di catatan ini. Jangan lupa terus berlatih. Semoga bermanfaat.

Cijambe Ujung Berung,

Penghujung malam 30 Sept 2015
Cerita Islam Nusantara

 Bersama Imam Yama Niazi, Imam Komunitas Muslim Santa Barbara[/caption]

Membaca tulisan artikel Prof. Sarlito Wirawan Sarwono berjudul "Islam Nusantara II"  di harian Sindo (klik linknya di sini) membuat saya tersenyum, membayangkan bagaimana rasanya berteriak "Amiiin" dengan keras dan panjang dalam shalat berjamaah, sedangkan makmum yang lain tidak melakukan hal yang sama. Kisah tersebut juga saya temukan dalam novel Andrea Hirata, kalau tidak salah berjudul "Edensor" dimana Andrea Hirata dan temannya juga melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Prof. Sarlito juga Andrea Hirata dalam kisah lucu mereka. Nabi sendiri menganjurkan dalam haditsnya ketika kita mendengar imam membaca waladh dholliin di penghujung surat al-Fatihah kita sebagai makmum hendaknya membaca Amiin bersama-sama. Apakah cara membaca aminnya dengan suara rendah atau suara tinggi nabi tidak menjelaskan secara spesifik. Karena kebiasaan saja lalu kita muslim Indonesia, khususnya anak-anak, menjawab "Amiin" dengan keras dan panjang.

Pola beragama kita sebagai muslim sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang dikonstruksi selama bertahun-tahun sejak kecil sampai saat ini. Budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang kita miliki tersebut dibentuk oleh penafsiran kita tentang Islam yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru, ustad dan orang tua kita. Maka, cara kita mengekspresikan identitas keagamaan akan sesuai dengan kebiasaan Indonesia yang telah mendarah daging dan membudaya dalam pola berpikir kita. Tidak ada yang salah dengan cara beragama dengan budaya khas Indonesia ini, seperti tidak ada yang salah juga dengan cara beragama orang Turki, orang Pakistan, orang Mesir atau negara-negara mayoritas muslim lainnya selama itu tidak menyalahi ajaran yang dicontohkan Nabi Saw.

Kisah lucu Prof. Sarlito mengingatkan saya pada beberapa cerita unik yang dialami saya ketika sedang berada di Amerika Serikat tahun lalu. Sebagai muslim yang didik untuk taat beribadah, pola berpikir saya telah terkonstruksi oleh budaya warisan orang tua termasuk cara berpakaian untuk shalat. Sebagai seorang muslim yang baik, saya diajarkan oleh orang tua untuk menggunakan baju takwa yang lengkap ketika akan shalat yaitu baju koko dengan kopiah hitam dan sarung. Pengajaran yang sama juga saya peroleh dari (alm) KH. Irfan Hielmy  (Allahummagfirlahu) guru saya ketika dulu mondok di Pesantren Darussalam Ciamis. Menurut beliau ketika shalat kita dianjurkan untuk memakai baju khusus shalat, bukan baju aktivitas sehari-hari. Baju tersebut adalah baju koko, sarung dan kopiah. Beliau sendiri memberikan contoh cara berpakaian seperti itu dalam kesehariannya. Bahkan dalam sebuah momen foto bersama, beliau meminta untuk berganti pakaian terlebih dahulu dengan sarung yang lebih bagus. Di usianya yang sudah sepuh saat itu beliau terlihat gagah. Cara berpakaian takwa tersebut kemudian diikuti oleh saya dan juga santri-santri lainnya. Sebenarnya shalat dengan menggunakan baju biasa, atau seragam sekolah juga tidak salah, tapi terasa kurang afdhol, karena baju tersebut bisa saja kotor, kena najis.

Pola berbaju takwa ketika shalat ini saya bawa juga ketika berada di negeri orang, di sebuah negera di mana muslim minoritas. Saya tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian California AS, bernama Santa Barbara, sekitar 2 jam dari Los Angeles. Di kota tersebut ada komunitas muslim bernama IslamicSociety SantaBarbara​, dengan jamaah kurang lebih 500 orang. di komunitas muslim tersebut tidak ada satu pun orang Indonesia. Komunitas muslim ini masih berusia muda, dibentuk sekitar 10 tahun yang lalu. Mereka belum memiliki bangunan masjidi mandiri dan permanen. Hanya ada sebuah ruangan di lantai 2 dari sebuah bangunan milik salah satu pabrik yang mereka sewa, untuk digunakan shalat berjamaah dan pengajian. Untuk shalat Jumat mereka menyewa aula di Goleta Valley yang bisa menampung seribuan orang untuk berkumpul. Ruangan tersebut milik publik sehingga di hari-hari lainnya biasa digunakan untuk tempat rapat atau acara pernikahan. Sebelumnya saya hanya mengenal komunitas ini dari group Facebook.

Pertama kali saya datang ke komunitas muslim Santa Barbara ini bertepatan dengan hari Jum'at. Lokasi shalat Jumat tersebut saya ketahui berdasarkan informasi dari seorang mahasiswa program doktor UC Santa Barbara, Ahmad Temel, mahasiswa muslim asal Turki.  Saya datang ke lokasi shalat Jum'at tersebut dengan semangat 45. Dengan baju takwa : baju koko, dan kopiah hitam (tanpa sarung) saya berangkat ke sana. Saya tiba ke Aula Goletta Valley tersebut jam 11.30. dalam pikiran saya waktu shalat Jum'at akan dilaksanakan pada jam 11.45 atau paling lambat jam 12.00 sama seperti di Indonesia. Ketika saya sampai ternyata tidak terlihat aktivitas kegiatan shalat berjamaah di aula tersebut. Setelah bertanya ke beberapa orang, ternyata kegiatan shalat Jum'at dilaksanakan mulai jam 13.30. Wah saya salah sangka. Kebiasaan shalat di tanah air ternyata berbeda dengan di tempat lain. Ternyata waktu dhuhur di AS lebih mundur. Saya pun memutuskan untuk menunggu.

Satu per satu jamaah shalat jumat berdatangan. Sebelum shalat Jum'at saya mulai berkenalan dengan beberapa jamaah termasuk dengan Imam masjidnya, Imam Yamma Niazi, Imam adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat muslim Amerika untuk ustad atau Kyai kalau tanah air.

Banyak keunikan di komunitas muslim Santa Barbara ini yang membuat saya takjub. Saya melihat beragam warna kulit dan wajah. Ada yang berkulih putih, hitam, kuning, dan sawo matang (maksudnya kulit saya, hehe..), ada yang berwajah Pakistan, Afganistan (Imam masjidnya keturunan dari Afganistan), Timur-tengah, Turki, Afrika dan China. Mereka semua bersatu dalam keragamannya itu, shalat berjamaah tanpa sekat dan pengelompokkan.

Demikian juga cara berpakaian mereka tidak seragam, mengikuti khas negara masing-masing. Ada yang memakai pakaian khas Arab, khas Pakistan dan tentu saja khas Nusantara yang saya pakai, baju koko dan kopiah hitam. Saya merasa nyaman-nyaman saja. Saya berpikir dengan baju kokok dan kopiah hitam ini saya menunjukkan identitas saya sebagai muslim asal Indonesia. Cara yang sama yang dilakukan oleh guru saya Prof. Deddy Mulyana ketika sedang berada di luar negeri.

Selesai shalat Jum'at saya kembali ngobrol dengan jamaah lainnya. Salah satu jamaah yang sudah saya kenal lewat facebook adalah Ameer Shakour, mahasiswa muslim asal India, kalau tidak salah. Ia menyatakan bahwa pakaian yang saya kenakan terlihat bagus. "Apanya yang bagus?" tanya saya dalam Bahasa Inggris. Ia menjawab bahwa pakaian yang saya kenakan seperti seorang sultan dari negeri melayu, Sultan Brunei. Saya manggut-manggut sambil membayangkan sosok Sultan Hasanal Bolkiah yang fotonya sering terlihat berpakaian khas melayu, baju koko, celana panjang dan kopiah hitam dengan sarung dilipat setengah lutut. Ameer  kemudian bertanya apakah memang pakaian muslim di Indonesia seperti yang saya kenakan. Sambil mengangguk saya jawab "Ya". Inilah pakaian shalat yang orang Islam di nusantara tafsirkan sebagai pakaian takwa yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 26 :

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan, pakaian takwa itu yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Pakaian takwa muslim nusantara yang saya kenakan ini menurutnya unik karena berbeda dengan pakaian muslim dari Arab, Mesir atau Pakistan. Saya menerangkan memang pakaian takwa khas nusantara ini dibentuk oleh budaya, adat dan kebiasaan orang Indonesia. Tapi pakaian ini juga tidak murni nusantara, banyak dipengaruhi juga oleh budaya lain. Baju koko jelas dipengaruhi oleh baju dari China. Kopiah hitam terlihat pengaruhnya dari India, sedangkan sarung, itu adalah kain yang khas digunakan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, kita bisa menemukannya di Thailand, Vietnam yang jelas-jelas bukan muslim. Ketika bagian-bagian itu disatukan menjadi pakaian takwa khas muslim nusantara, ia menjadi identitas pakaian muslim kawasan ini. Teman saya manggut-manggut mendengar penjelasan saya tersebut.

Saat itu kehangatan penyambutan oleh sesama saudara muslim saya rasakan begitu menyenangkan. Rasa persaudaraan sebagai muslim mampu mengalahkan perbedaan warna kulih, wajah dan cara berpakaian kami. Inilah indahnya Islam. Mau Islam Arab, Islam Pakistan, Islam Turki atau Islam Nusantara semuanya adalah satu. Keragaman bukan untuk memecah belah tapi untuk dikenali sebagai keindahan sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13, yang paling penting adalah tingkat ketakwaaannya saja, siapa yang paling baik.
KOMUNIKASI ISLAM


Kita mungkin sering mendengar istilah komunikasi Islam. Komunikasi Islam secara sepintas diartikan sebagai ilmu Komunikasi yang ditambah label Islam di belakangnya. Cukup hanya itu? Tentu tidak. Komunikasi Islam bukan sekedar pelabelan kata Islam dibelakang Komunikasi atau mengislamisasi ilmu komunikasi yang dianggap sekuler karena berasal dari barat. Komunikasi Islam memiliki konsep sendiri. Komunikasi Islam banyak yang menyebutkan artinya sepadan dengan Dakwah Islam. Namun istilah dakwah Islam sendiri terlampau luas untuk disejajarkan dengan Komunikasi Islam. Sekalipun keduanya mempunyai ciri yang sama.

Ciri utama komunikasi adalah omni present atau hadir di manapun kita berada. Ketika kita berinteraksi secara sosial kita sedang melakukan komunikasi. berbicara, mendengar, membaca, menulis semuanya adalah bentuk komunikasi yaitu menyampaikan dan menerima pesan. Bahkan ketika kita diam pun, bisa dipahami kita sedang menyampaikan pesan. demikian pula dengan dakwah. Apapun yang kita lakukan bisa dikategorikan sedang berdakwah. Sehingga disebutkan bahwa setiap umat Islam adalah duta Islam dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiah setiap tempat dan setiap waktu.

Berkaitan kegiatan dakwah, komunikasi Islam masuk dalam ranah ilmu tabligh (penyiaran). Ranah lainnya dari Ilmu dakwah adalah irsyad(bimbingan), tadbir (manajemen) dan tathwir (Pengembangan masyarakat). Masing-masing ranah ini memiliki karakteristik yang unik namun saling berkaitan satu sama lain.

Khusus tentang Tabligh sebagai sebuah bentuk komunikasi Alquran mengistilahkannya dengan konsep “Ahsan al-qaul” diambil dari ayat Quran surat Fushilat (41) ayat 33.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”

Kegiatan tabligh atau komunikasi Islam dalam konsep Ahsan al-qaul sebagaimana ayat di atas memiliki makna bahwa tabligh adalah sebuah kegiatan dengan tiga karakter utama yang tidak terpisah satu sama lain, yaitu: 1) melakukan seruan (berdakwah) kepada Allah, 2) mengerjakan amal shaleh, dan 3) berserah diri kepada Allah(muslim). Jadi seseorang bisa disebut telah melakukan tabligh atau menyampaikan pesan dengan cara terbaik ketika tiga aspek itu dia lakukan dengan sebaik-baiknya.

Untuk itulah Dr. Ibrahim Imam dalam sebuah kitabnya berjudul “Ushul I’lam ali-Islamy” (1985) menyebutkan definisi tabligh sebagai berikut

تزويد الناس بالأخبار الصحيحة والمعلومات السليمة والحقائق الثابتة التي تساعد على تكوين رأي صائب في واقعة من الوقائع أو مشكلة من المشكلات


—“ Memberikan informasi yang benar, pengetahuan yang faktual dan hakikat pasti yang bisa menolong atau membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau berbagai kesulitan  (Ibrahim Imam, 1985).

Lebih lanjut beliau pun memberikan definisi ilmu tabligh sebagai berikut :

—علم يبحث عن كيفية التبليغ الإسلامية بشىءالطرق العلمية من الإستنباط والاقتباس والاستقراء ليكون الحق والقسط قائما


—Ilmu yang membahas tentang tata cara menyampaikan pesan Islamiyah dengan metode ilmiah dengan pendekatan istinbath, iqtibas dan istiqrademi tegaknya kebenaran dan keadilan (Ibrahim Imam, 1985).

Jadi berdasarkan definisi Ilmu Tabligh dari Ibrahim Imam di atas ada tiga metode utama untuk meraih ilmu tabligh yaitu istinbath, iqtibas dan istiqra. istinbath artinya pengembangan ilmu tabligh dengan penggunaan nash Al-Quran dan Hadits (deduktif), iqtibas pengembangan ilmu tabligh dengan bantuan ilmu lainnya seperti komunikasi, sosiologi, antropologi, ekonomi, politik dll, dan istiqra yaitu pengembangan ilmu tabligh dengan melakukan penelitian (induktif).

Kita akan bahas tiga metode pengembangan ilmu tabligh ini dalam tulisan berikutnya.