Selasa, 17 Februari 2015

KOMUNIKASI ISLAM



Kita mungkin sering mendengar istilah komunikasi Islam. Komunikasi Islam secara sepintas diartikan sebagai ilmu Komunikasi yang ditambah label Islam di belakangnya. Cukup hanya itu? Tentu tidak. Komunikasi Islam bukan sekedar pelabelan kata Islam dibelakang Komunikasi atau mengislamisasi ilmu komunikasi yang dianggap sekuler karena berasal dari barat. Komunikasi Islam memiliki konsep sendiri. Komunikasi Islam banyak yang menyebutkan artinya sepadan dengan Dakwah Islam. Namun istilah dakwah Islam sendiri terlampau luas untuk disejajarkan dengan Komunikasi Islam. Sekalipun keduanya mempunyai ciri yang sama.

Ciri utama komunikasi adalah omni present atau hadir di manapun kita berada. Ketika kita berinteraksi secara sosial kita sedang melakukan komunikasi. berbicara, mendengar, membaca, menulis semuanya adalah bentuk komunikasi yaitu menyampaikan dan menerima pesan. Bahkan ketika kita diam pun, bisa dipahami kita sedang menyampaikan pesan. demikian pula dengan dakwah. Apapun yang kita lakukan bisa dikategorikan sedang berdakwah. Sehingga disebutkan bahwa setiap umat Islam adalah duta Islam dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiah setiap tempat dan setiap waktu.

Berkaitan kegiatan dakwah, komunikasi Islam masuk dalam ranah ilmu tabligh (penyiaran). Ranah lainnya dari Ilmu dakwah adalah irsyad(bimbingan), tadbir (manajemen) dan tathwir (Pengembangan masyarakat). Masing-masing ranah ini memiliki karakteristik yang unik namun saling berkaitan satu sama lain.

Khusus tentang Tabligh sebagai sebuah bentuk komunikasi Alquran mengistilahkannya dengan konsep “Ahsan al-qaul” diambil dari ayat Quran surat Fushilat (41) ayat 33.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”

Kegiatan tabligh atau komunikasi Islam dalam konsep Ahsan al-qaul sebagaimana ayat di atas memiliki makna bahwa tabligh adalah sebuah kegiatan dengan tiga karakter utama yang tidak terpisah satu sama lain, yaitu: 1) melakukan seruan (berdakwah) kepada Allah, 2) mengerjakan amal shaleh, dan 3) berserah diri kepada Allah(muslim). Jadi seseorang bisa disebut telah melakukan tabligh atau menyampaikan pesan dengan cara terbaik ketika tiga aspek itu dia lakukan dengan sebaik-baiknya.

Untuk itulah Dr. Ibrahim Imam dalam sebuah kitabnya berjudul “Ushul I’lam ali-Islamy” (1985) menyebutkan definisi tabligh sebagai berikut

تزويد الناس بالأخبار الصحيحة والمعلومات السليمة والحقائق الثابتة التي تساعد على تكوين رأي صائب في واقعة من الوقائع أو مشكلة من المشكلات


—“ Memberikan informasi yang benar, pengetahuan yang faktual dan hakikat pasti yang bisa menolong atau membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau berbagai kesulitan  (Ibrahim Imam, 1985).

Lebih lanjut beliau pun memberikan definisi ilmu tabligh sebagai berikut :

—علم يبحث عن كيفية التبليغ الإسلامية بشىءالطرق العلمية من الإستنباط والاقتباس والاستقراء ليكون الحق والقسط قائما


—Ilmu yang membahas tentang tata cara menyampaikan pesan Islamiyah dengan metode ilmiah dengan pendekatan istinbath, iqtibas dan istiqrademi tegaknya kebenaran dan keadilan (Ibrahim Imam, 1985).

Jadi berdasarkan definisi Ilmu Tabligh dari Ibrahim Imam di atas ada tiga metode utama untuk meraih ilmu tabligh yaitu istinbath, iqtibas dan istiqra. istinbath artinya pengembangan ilmu tabligh dengan penggunaan nash Al-Quran dan Hadits (deduktif), iqtibas pengembangan ilmu tabligh dengan bantuan ilmu lainnya seperti komunikasi, sosiologi, antropologi, ekonomi, politik dll, dan istiqra yaitu pengembangan ilmu tabligh dengan melakukan penelitian (induktif).

Kita akan bahas tiga metode pengembangan ilmu tabligh ini dalam tulisan berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar

KOMUNIKASI ISLAM


Kita mungkin sering mendengar istilah komunikasi Islam. Komunikasi Islam secara sepintas diartikan sebagai ilmu Komunikasi yang ditambah label Islam di belakangnya. Cukup hanya itu? Tentu tidak. Komunikasi Islam bukan sekedar pelabelan kata Islam dibelakang Komunikasi atau mengislamisasi ilmu komunikasi yang dianggap sekuler karena berasal dari barat. Komunikasi Islam memiliki konsep sendiri. Komunikasi Islam banyak yang menyebutkan artinya sepadan dengan Dakwah Islam. Namun istilah dakwah Islam sendiri terlampau luas untuk disejajarkan dengan Komunikasi Islam. Sekalipun keduanya mempunyai ciri yang sama.

Ciri utama komunikasi adalah omni present atau hadir di manapun kita berada. Ketika kita berinteraksi secara sosial kita sedang melakukan komunikasi. berbicara, mendengar, membaca, menulis semuanya adalah bentuk komunikasi yaitu menyampaikan dan menerima pesan. Bahkan ketika kita diam pun, bisa dipahami kita sedang menyampaikan pesan. demikian pula dengan dakwah. Apapun yang kita lakukan bisa dikategorikan sedang berdakwah. Sehingga disebutkan bahwa setiap umat Islam adalah duta Islam dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiah setiap tempat dan setiap waktu.

Berkaitan kegiatan dakwah, komunikasi Islam masuk dalam ranah ilmu tabligh (penyiaran). Ranah lainnya dari Ilmu dakwah adalah irsyad(bimbingan), tadbir (manajemen) dan tathwir (Pengembangan masyarakat). Masing-masing ranah ini memiliki karakteristik yang unik namun saling berkaitan satu sama lain.

Khusus tentang Tabligh sebagai sebuah bentuk komunikasi Alquran mengistilahkannya dengan konsep “Ahsan al-qaul” diambil dari ayat Quran surat Fushilat (41) ayat 33.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”

Kegiatan tabligh atau komunikasi Islam dalam konsep Ahsan al-qaul sebagaimana ayat di atas memiliki makna bahwa tabligh adalah sebuah kegiatan dengan tiga karakter utama yang tidak terpisah satu sama lain, yaitu: 1) melakukan seruan (berdakwah) kepada Allah, 2) mengerjakan amal shaleh, dan 3) berserah diri kepada Allah(muslim). Jadi seseorang bisa disebut telah melakukan tabligh atau menyampaikan pesan dengan cara terbaik ketika tiga aspek itu dia lakukan dengan sebaik-baiknya.

Untuk itulah Dr. Ibrahim Imam dalam sebuah kitabnya berjudul “Ushul I’lam ali-Islamy” (1985) menyebutkan definisi tabligh sebagai berikut

تزويد الناس بالأخبار الصحيحة والمعلومات السليمة والحقائق الثابتة التي تساعد على تكوين رأي صائب في واقعة من الوقائع أو مشكلة من المشكلات


—“ Memberikan informasi yang benar, pengetahuan yang faktual dan hakikat pasti yang bisa menolong atau membantu manusia untuk membentuk pendapat yang tepat dalam suatu kejadian atau berbagai kesulitan  (Ibrahim Imam, 1985).

Lebih lanjut beliau pun memberikan definisi ilmu tabligh sebagai berikut :

—علم يبحث عن كيفية التبليغ الإسلامية بشىءالطرق العلمية من الإستنباط والاقتباس والاستقراء ليكون الحق والقسط قائما


—Ilmu yang membahas tentang tata cara menyampaikan pesan Islamiyah dengan metode ilmiah dengan pendekatan istinbath, iqtibas dan istiqrademi tegaknya kebenaran dan keadilan (Ibrahim Imam, 1985).

Jadi berdasarkan definisi Ilmu Tabligh dari Ibrahim Imam di atas ada tiga metode utama untuk meraih ilmu tabligh yaitu istinbath, iqtibas dan istiqra. istinbath artinya pengembangan ilmu tabligh dengan penggunaan nash Al-Quran dan Hadits (deduktif), iqtibas pengembangan ilmu tabligh dengan bantuan ilmu lainnya seperti komunikasi, sosiologi, antropologi, ekonomi, politik dll, dan istiqra yaitu pengembangan ilmu tabligh dengan melakukan penelitian (induktif).

Kita akan bahas tiga metode pengembangan ilmu tabligh ini dalam tulisan berikutnya.
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply