Senin, 29 Juni 2015

Cerita Islam Nusantara


 Bersama Imam Yama Niazi, Imam Komunitas Muslim Santa Barbara[/caption]

Membaca tulisan artikel Prof. Sarlito Wirawan Sarwono berjudul "Islam Nusantara II"  di harian Sindo (klik linknya di sini) membuat saya tersenyum, membayangkan bagaimana rasanya berteriak "Amiiin" dengan keras dan panjang dalam shalat berjamaah, sedangkan makmum yang lain tidak melakukan hal yang sama. Kisah tersebut juga saya temukan dalam novel Andrea Hirata, kalau tidak salah berjudul "Edensor" dimana Andrea Hirata dan temannya juga melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Prof. Sarlito juga Andrea Hirata dalam kisah lucu mereka. Nabi sendiri menganjurkan dalam haditsnya ketika kita mendengar imam membaca waladh dholliin di penghujung surat al-Fatihah kita sebagai makmum hendaknya membaca Amiin bersama-sama. Apakah cara membaca aminnya dengan suara rendah atau suara tinggi nabi tidak menjelaskan secara spesifik. Karena kebiasaan saja lalu kita muslim Indonesia, khususnya anak-anak, menjawab "Amiin" dengan keras dan panjang.

Pola beragama kita sebagai muslim sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang dikonstruksi selama bertahun-tahun sejak kecil sampai saat ini. Budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang kita miliki tersebut dibentuk oleh penafsiran kita tentang Islam yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru, ustad dan orang tua kita. Maka, cara kita mengekspresikan identitas keagamaan akan sesuai dengan kebiasaan Indonesia yang telah mendarah daging dan membudaya dalam pola berpikir kita. Tidak ada yang salah dengan cara beragama dengan budaya khas Indonesia ini, seperti tidak ada yang salah juga dengan cara beragama orang Turki, orang Pakistan, orang Mesir atau negara-negara mayoritas muslim lainnya selama itu tidak menyalahi ajaran yang dicontohkan Nabi Saw.

Kisah lucu Prof. Sarlito mengingatkan saya pada beberapa cerita unik yang dialami saya ketika sedang berada di Amerika Serikat tahun lalu. Sebagai muslim yang didik untuk taat beribadah, pola berpikir saya telah terkonstruksi oleh budaya warisan orang tua termasuk cara berpakaian untuk shalat. Sebagai seorang muslim yang baik, saya diajarkan oleh orang tua untuk menggunakan baju takwa yang lengkap ketika akan shalat yaitu baju koko dengan kopiah hitam dan sarung. Pengajaran yang sama juga saya peroleh dari (alm) KH. Irfan Hielmy  (Allahummagfirlahu) guru saya ketika dulu mondok di Pesantren Darussalam Ciamis. Menurut beliau ketika shalat kita dianjurkan untuk memakai baju khusus shalat, bukan baju aktivitas sehari-hari. Baju tersebut adalah baju koko, sarung dan kopiah. Beliau sendiri memberikan contoh cara berpakaian seperti itu dalam kesehariannya. Bahkan dalam sebuah momen foto bersama, beliau meminta untuk berganti pakaian terlebih dahulu dengan sarung yang lebih bagus. Di usianya yang sudah sepuh saat itu beliau terlihat gagah. Cara berpakaian takwa tersebut kemudian diikuti oleh saya dan juga santri-santri lainnya. Sebenarnya shalat dengan menggunakan baju biasa, atau seragam sekolah juga tidak salah, tapi terasa kurang afdhol, karena baju tersebut bisa saja kotor, kena najis.

Pola berbaju takwa ketika shalat ini saya bawa juga ketika berada di negeri orang, di sebuah negera di mana muslim minoritas. Saya tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian California AS, bernama Santa Barbara, sekitar 2 jam dari Los Angeles. Di kota tersebut ada komunitas muslim bernama IslamicSociety SantaBarbara​, dengan jamaah kurang lebih 500 orang. di komunitas muslim tersebut tidak ada satu pun orang Indonesia. Komunitas muslim ini masih berusia muda, dibentuk sekitar 10 tahun yang lalu. Mereka belum memiliki bangunan masjidi mandiri dan permanen. Hanya ada sebuah ruangan di lantai 2 dari sebuah bangunan milik salah satu pabrik yang mereka sewa, untuk digunakan shalat berjamaah dan pengajian. Untuk shalat Jumat mereka menyewa aula di Goleta Valley yang bisa menampung seribuan orang untuk berkumpul. Ruangan tersebut milik publik sehingga di hari-hari lainnya biasa digunakan untuk tempat rapat atau acara pernikahan. Sebelumnya saya hanya mengenal komunitas ini dari group Facebook.

Pertama kali saya datang ke komunitas muslim Santa Barbara ini bertepatan dengan hari Jum'at. Lokasi shalat Jumat tersebut saya ketahui berdasarkan informasi dari seorang mahasiswa program doktor UC Santa Barbara, Ahmad Temel, mahasiswa muslim asal Turki.  Saya datang ke lokasi shalat Jum'at tersebut dengan semangat 45. Dengan baju takwa : baju koko, dan kopiah hitam (tanpa sarung) saya berangkat ke sana. Saya tiba ke Aula Goletta Valley tersebut jam 11.30. dalam pikiran saya waktu shalat Jum'at akan dilaksanakan pada jam 11.45 atau paling lambat jam 12.00 sama seperti di Indonesia. Ketika saya sampai ternyata tidak terlihat aktivitas kegiatan shalat berjamaah di aula tersebut. Setelah bertanya ke beberapa orang, ternyata kegiatan shalat Jum'at dilaksanakan mulai jam 13.30. Wah saya salah sangka. Kebiasaan shalat di tanah air ternyata berbeda dengan di tempat lain. Ternyata waktu dhuhur di AS lebih mundur. Saya pun memutuskan untuk menunggu.

Satu per satu jamaah shalat jumat berdatangan. Sebelum shalat Jum'at saya mulai berkenalan dengan beberapa jamaah termasuk dengan Imam masjidnya, Imam Yamma Niazi, Imam adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat muslim Amerika untuk ustad atau Kyai kalau tanah air.

Banyak keunikan di komunitas muslim Santa Barbara ini yang membuat saya takjub. Saya melihat beragam warna kulit dan wajah. Ada yang berkulih putih, hitam, kuning, dan sawo matang (maksudnya kulit saya, hehe..), ada yang berwajah Pakistan, Afganistan (Imam masjidnya keturunan dari Afganistan), Timur-tengah, Turki, Afrika dan China. Mereka semua bersatu dalam keragamannya itu, shalat berjamaah tanpa sekat dan pengelompokkan.

Demikian juga cara berpakaian mereka tidak seragam, mengikuti khas negara masing-masing. Ada yang memakai pakaian khas Arab, khas Pakistan dan tentu saja khas Nusantara yang saya pakai, baju koko dan kopiah hitam. Saya merasa nyaman-nyaman saja. Saya berpikir dengan baju kokok dan kopiah hitam ini saya menunjukkan identitas saya sebagai muslim asal Indonesia. Cara yang sama yang dilakukan oleh guru saya Prof. Deddy Mulyana ketika sedang berada di luar negeri.

Selesai shalat Jum'at saya kembali ngobrol dengan jamaah lainnya. Salah satu jamaah yang sudah saya kenal lewat facebook adalah Ameer Shakour, mahasiswa muslim asal India, kalau tidak salah. Ia menyatakan bahwa pakaian yang saya kenakan terlihat bagus. "Apanya yang bagus?" tanya saya dalam Bahasa Inggris. Ia menjawab bahwa pakaian yang saya kenakan seperti seorang sultan dari negeri melayu, Sultan Brunei. Saya manggut-manggut sambil membayangkan sosok Sultan Hasanal Bolkiah yang fotonya sering terlihat berpakaian khas melayu, baju koko, celana panjang dan kopiah hitam dengan sarung dilipat setengah lutut. Ameer  kemudian bertanya apakah memang pakaian muslim di Indonesia seperti yang saya kenakan. Sambil mengangguk saya jawab "Ya". Inilah pakaian shalat yang orang Islam di nusantara tafsirkan sebagai pakaian takwa yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 26 :

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan, pakaian takwa itu yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Pakaian takwa muslim nusantara yang saya kenakan ini menurutnya unik karena berbeda dengan pakaian muslim dari Arab, Mesir atau Pakistan. Saya menerangkan memang pakaian takwa khas nusantara ini dibentuk oleh budaya, adat dan kebiasaan orang Indonesia. Tapi pakaian ini juga tidak murni nusantara, banyak dipengaruhi juga oleh budaya lain. Baju koko jelas dipengaruhi oleh baju dari China. Kopiah hitam terlihat pengaruhnya dari India, sedangkan sarung, itu adalah kain yang khas digunakan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, kita bisa menemukannya di Thailand, Vietnam yang jelas-jelas bukan muslim. Ketika bagian-bagian itu disatukan menjadi pakaian takwa khas muslim nusantara, ia menjadi identitas pakaian muslim kawasan ini. Teman saya manggut-manggut mendengar penjelasan saya tersebut.

Saat itu kehangatan penyambutan oleh sesama saudara muslim saya rasakan begitu menyenangkan. Rasa persaudaraan sebagai muslim mampu mengalahkan perbedaan warna kulih, wajah dan cara berpakaian kami. Inilah indahnya Islam. Mau Islam Arab, Islam Pakistan, Islam Turki atau Islam Nusantara semuanya adalah satu. Keragaman bukan untuk memecah belah tapi untuk dikenali sebagai keindahan sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13, yang paling penting adalah tingkat ketakwaaannya saja, siapa yang paling baik.

0 komentar:

Posting Komentar

Cerita Islam Nusantara

 Bersama Imam Yama Niazi, Imam Komunitas Muslim Santa Barbara[/caption]

Membaca tulisan artikel Prof. Sarlito Wirawan Sarwono berjudul "Islam Nusantara II"  di harian Sindo (klik linknya di sini) membuat saya tersenyum, membayangkan bagaimana rasanya berteriak "Amiiin" dengan keras dan panjang dalam shalat berjamaah, sedangkan makmum yang lain tidak melakukan hal yang sama. Kisah tersebut juga saya temukan dalam novel Andrea Hirata, kalau tidak salah berjudul "Edensor" dimana Andrea Hirata dan temannya juga melakukan hal yang sama.

Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan oleh Prof. Sarlito juga Andrea Hirata dalam kisah lucu mereka. Nabi sendiri menganjurkan dalam haditsnya ketika kita mendengar imam membaca waladh dholliin di penghujung surat al-Fatihah kita sebagai makmum hendaknya membaca Amiin bersama-sama. Apakah cara membaca aminnya dengan suara rendah atau suara tinggi nabi tidak menjelaskan secara spesifik. Karena kebiasaan saja lalu kita muslim Indonesia, khususnya anak-anak, menjawab "Amiin" dengan keras dan panjang.

Pola beragama kita sebagai muslim sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang dikonstruksi selama bertahun-tahun sejak kecil sampai saat ini. Budaya, kebiasaan, dan pengalaman yang kita miliki tersebut dibentuk oleh penafsiran kita tentang Islam yang diajarkan dan dicontohkan oleh guru, ustad dan orang tua kita. Maka, cara kita mengekspresikan identitas keagamaan akan sesuai dengan kebiasaan Indonesia yang telah mendarah daging dan membudaya dalam pola berpikir kita. Tidak ada yang salah dengan cara beragama dengan budaya khas Indonesia ini, seperti tidak ada yang salah juga dengan cara beragama orang Turki, orang Pakistan, orang Mesir atau negara-negara mayoritas muslim lainnya selama itu tidak menyalahi ajaran yang dicontohkan Nabi Saw.

Kisah lucu Prof. Sarlito mengingatkan saya pada beberapa cerita unik yang dialami saya ketika sedang berada di Amerika Serikat tahun lalu. Sebagai muslim yang didik untuk taat beribadah, pola berpikir saya telah terkonstruksi oleh budaya warisan orang tua termasuk cara berpakaian untuk shalat. Sebagai seorang muslim yang baik, saya diajarkan oleh orang tua untuk menggunakan baju takwa yang lengkap ketika akan shalat yaitu baju koko dengan kopiah hitam dan sarung. Pengajaran yang sama juga saya peroleh dari (alm) KH. Irfan Hielmy  (Allahummagfirlahu) guru saya ketika dulu mondok di Pesantren Darussalam Ciamis. Menurut beliau ketika shalat kita dianjurkan untuk memakai baju khusus shalat, bukan baju aktivitas sehari-hari. Baju tersebut adalah baju koko, sarung dan kopiah. Beliau sendiri memberikan contoh cara berpakaian seperti itu dalam kesehariannya. Bahkan dalam sebuah momen foto bersama, beliau meminta untuk berganti pakaian terlebih dahulu dengan sarung yang lebih bagus. Di usianya yang sudah sepuh saat itu beliau terlihat gagah. Cara berpakaian takwa tersebut kemudian diikuti oleh saya dan juga santri-santri lainnya. Sebenarnya shalat dengan menggunakan baju biasa, atau seragam sekolah juga tidak salah, tapi terasa kurang afdhol, karena baju tersebut bisa saja kotor, kena najis.

Pola berbaju takwa ketika shalat ini saya bawa juga ketika berada di negeri orang, di sebuah negera di mana muslim minoritas. Saya tinggal di sebuah kota kecil di negara bagian California AS, bernama Santa Barbara, sekitar 2 jam dari Los Angeles. Di kota tersebut ada komunitas muslim bernama IslamicSociety SantaBarbara​, dengan jamaah kurang lebih 500 orang. di komunitas muslim tersebut tidak ada satu pun orang Indonesia. Komunitas muslim ini masih berusia muda, dibentuk sekitar 10 tahun yang lalu. Mereka belum memiliki bangunan masjidi mandiri dan permanen. Hanya ada sebuah ruangan di lantai 2 dari sebuah bangunan milik salah satu pabrik yang mereka sewa, untuk digunakan shalat berjamaah dan pengajian. Untuk shalat Jumat mereka menyewa aula di Goleta Valley yang bisa menampung seribuan orang untuk berkumpul. Ruangan tersebut milik publik sehingga di hari-hari lainnya biasa digunakan untuk tempat rapat atau acara pernikahan. Sebelumnya saya hanya mengenal komunitas ini dari group Facebook.

Pertama kali saya datang ke komunitas muslim Santa Barbara ini bertepatan dengan hari Jum'at. Lokasi shalat Jumat tersebut saya ketahui berdasarkan informasi dari seorang mahasiswa program doktor UC Santa Barbara, Ahmad Temel, mahasiswa muslim asal Turki.  Saya datang ke lokasi shalat Jum'at tersebut dengan semangat 45. Dengan baju takwa : baju koko, dan kopiah hitam (tanpa sarung) saya berangkat ke sana. Saya tiba ke Aula Goletta Valley tersebut jam 11.30. dalam pikiran saya waktu shalat Jum'at akan dilaksanakan pada jam 11.45 atau paling lambat jam 12.00 sama seperti di Indonesia. Ketika saya sampai ternyata tidak terlihat aktivitas kegiatan shalat berjamaah di aula tersebut. Setelah bertanya ke beberapa orang, ternyata kegiatan shalat Jum'at dilaksanakan mulai jam 13.30. Wah saya salah sangka. Kebiasaan shalat di tanah air ternyata berbeda dengan di tempat lain. Ternyata waktu dhuhur di AS lebih mundur. Saya pun memutuskan untuk menunggu.

Satu per satu jamaah shalat jumat berdatangan. Sebelum shalat Jum'at saya mulai berkenalan dengan beberapa jamaah termasuk dengan Imam masjidnya, Imam Yamma Niazi, Imam adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat muslim Amerika untuk ustad atau Kyai kalau tanah air.

Banyak keunikan di komunitas muslim Santa Barbara ini yang membuat saya takjub. Saya melihat beragam warna kulit dan wajah. Ada yang berkulih putih, hitam, kuning, dan sawo matang (maksudnya kulit saya, hehe..), ada yang berwajah Pakistan, Afganistan (Imam masjidnya keturunan dari Afganistan), Timur-tengah, Turki, Afrika dan China. Mereka semua bersatu dalam keragamannya itu, shalat berjamaah tanpa sekat dan pengelompokkan.

Demikian juga cara berpakaian mereka tidak seragam, mengikuti khas negara masing-masing. Ada yang memakai pakaian khas Arab, khas Pakistan dan tentu saja khas Nusantara yang saya pakai, baju koko dan kopiah hitam. Saya merasa nyaman-nyaman saja. Saya berpikir dengan baju kokok dan kopiah hitam ini saya menunjukkan identitas saya sebagai muslim asal Indonesia. Cara yang sama yang dilakukan oleh guru saya Prof. Deddy Mulyana ketika sedang berada di luar negeri.

Selesai shalat Jum'at saya kembali ngobrol dengan jamaah lainnya. Salah satu jamaah yang sudah saya kenal lewat facebook adalah Ameer Shakour, mahasiswa muslim asal India, kalau tidak salah. Ia menyatakan bahwa pakaian yang saya kenakan terlihat bagus. "Apanya yang bagus?" tanya saya dalam Bahasa Inggris. Ia menjawab bahwa pakaian yang saya kenakan seperti seorang sultan dari negeri melayu, Sultan Brunei. Saya manggut-manggut sambil membayangkan sosok Sultan Hasanal Bolkiah yang fotonya sering terlihat berpakaian khas melayu, baju koko, celana panjang dan kopiah hitam dengan sarung dilipat setengah lutut. Ameer  kemudian bertanya apakah memang pakaian muslim di Indonesia seperti yang saya kenakan. Sambil mengangguk saya jawab "Ya". Inilah pakaian shalat yang orang Islam di nusantara tafsirkan sebagai pakaian takwa yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-A'raf ayat 26 :

“Hai anak Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan, pakaian takwa itu yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Pakaian takwa muslim nusantara yang saya kenakan ini menurutnya unik karena berbeda dengan pakaian muslim dari Arab, Mesir atau Pakistan. Saya menerangkan memang pakaian takwa khas nusantara ini dibentuk oleh budaya, adat dan kebiasaan orang Indonesia. Tapi pakaian ini juga tidak murni nusantara, banyak dipengaruhi juga oleh budaya lain. Baju koko jelas dipengaruhi oleh baju dari China. Kopiah hitam terlihat pengaruhnya dari India, sedangkan sarung, itu adalah kain yang khas digunakan masyarakat di negara-negara Asia Tenggara, kita bisa menemukannya di Thailand, Vietnam yang jelas-jelas bukan muslim. Ketika bagian-bagian itu disatukan menjadi pakaian takwa khas muslim nusantara, ia menjadi identitas pakaian muslim kawasan ini. Teman saya manggut-manggut mendengar penjelasan saya tersebut.

Saat itu kehangatan penyambutan oleh sesama saudara muslim saya rasakan begitu menyenangkan. Rasa persaudaraan sebagai muslim mampu mengalahkan perbedaan warna kulih, wajah dan cara berpakaian kami. Inilah indahnya Islam. Mau Islam Arab, Islam Pakistan, Islam Turki atau Islam Nusantara semuanya adalah satu. Keragaman bukan untuk memecah belah tapi untuk dikenali sebagai keindahan sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13, yang paling penting adalah tingkat ketakwaaannya saja, siapa yang paling baik.
«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama


Tidak ada komentar:

Leave a Reply