Bagi Mahasiswa KPI Tugas Ikut Lomba Penulisan Itu, Beban atau Tantangan?



Jumat siang, 17/04/2020, Saya menyampaikan kepada Kosma salah satu mata kuliah info tentang tugas mengikuti Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang dilaksanakan oleh Dispusipda Jawa Barat dengan Tema "Perangi Covid-19 dengan Diam di Rumah" memperebutkan hadiah 37 juta. Kosma kelas tersebut segera me-WA saya memberikan pandangan bahwa tugas ikut lomba penulisan Karya Tulis Ilmiah (KTI) itu menurutnya jadi beban yang berat bagi mahasiswa di saat perkuliahan online hari ini di masa pandemi Covid-19. Banyak kuliah online yang cukup menyita waktu, tenaga dan biaya dengan tugas yang bertumpuk dan bertubi-tubi.

Alasan lainnya disampaikan juga bahwa banyak mahasiswa yang belum tahu bagaimana  lomba KTI itu sehingga mereka bingung, pusing bahkan sebelum tugasnya dijelaskan lebih lanjut, Akhirnya daripada jadi beban tambahan, sejak awal tugas diberikan mereka kompak meminta agar tugas penulisan lomba KTI ini tidak jadi salah satu tugas mata kuliah.

Tulisan ini mencoba menjelaskan sekilas tentang alasan mengapa mahasiswa KPI perlu diberikan tugas ikut lomba penulisan. Paling tidak ada tiga aspek yang menjadi dasar mengapa tugas ini penting dan bisa merubah masa depan mereka sebagai mahasiswa KPI UIN SGD Bandung, yaitu Aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik.

Mendorong Peningkatan Kognisi Mahasiswa

Kognitif adalah istilah psikologi yang mengacu pada kemampuan berpikir. Mahasiswa sebagai orang yang sedang belajar di level pendidikan tingkat tertinggi, diharapkan memiliki kognisi yang tinggi dan mampu terus meningkatkan kemampuan utamanya ini dalam setiap proses belajar dan kuliah. Di jurusan KPI kemampuan kognisi ini diturunkan ke dalam mata kuliah yang berkaitan dengan keislaman, dakwah dan komunikasi.

Kemampuan kognisi ini keudian diturunkan dalam tiga ranah KPI (Khitabah, Kitabah, dan I'lam) dana penulisan (kitabah) adalah salah satu ranah kognisi KPI yang masih perlu terus ditingkatkan. Dalam pandangan saya lomba penulisan ini merupakan bagian dari core utama kompetensi mahasiswa KPI. Sayangnya, kemampuan penulisan ini kurang didorong oleh dosen dalam praktek mata kuliah maupun oleh mahasiswa melalui komunitas jurusan.

Ada satu laporan riset dari dosen Amerika, Janet Steel, dosen Jurnalisme di George Washington University yang meneliti tentang kemampuan penulisan mahasiswa Komunikasi di Perguruan Tinggi Islam (PTKI) di Indonesia dengan judul "Journalism and "The Call to Allah": Teaching Journalism in Indonesia’s Islamic Universities and State Institutes" yang dipublikasikan di International Journal of Communication (lihat linknya di https://ijoc.org/index.php/ijoc/article/view/1524. Kesimpulannya mahasiswa KPI di 4 kampus besar (UIN Jakarta, Bandung, Yogya dan Surabaya) itu tidak banyak yang kerja di dunia media, karena banyak yang tidak mahir menulis ketika kuliah kurang praktek.

Hasil riset ini dikonfirmasi ulang dalam penelitian yang saya lakukan kepada mahasiswa KPI di Semester 8 tahun 2019 lalu. Ketika ditanya apa karya tulisan yang sudah mereka buat sebagai modal untuk terjun di dunia kerja. Mayoritas calon sarjana tersebut menyebutkan tidak punya. Temuan riset ini jelas mengkhawatirkan karena ternyata tujuan jurusan KPI untuk membentuk mubaligh yang ahli menulis (selain ahli berceramah dan ahli membuat karya media elektronik) itu tidak tercapai.

Keahlian sesuai kompetensi jurusan (seperti menulis ini) ternyata belum cukup dipenuhi melalui praktek perkuliahan selama ini. Maka tahun 2020 mata kuliah di jurusan KPI (termasuk semua mata kuliah di UIN Bandung) didorong untuk menerapkan kurikulum pendidikan berbasis output (output based Education).  Anda bisa baca dalam RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi.  bagian V. CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH (CPMK):
"Mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi untuk memenuhi capaian pembelajaran keterampilan khusus, untuk profil lulusan Asisten Peneliti dan Pengembang
Komunikasi dan Penyiaran Islam,dan Praktisi Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan outcome artikel kajian ilmu Komunikasi yang diterbitkan dalam bentuk buku ber-
ISBN."
Dalam hal ini tugas penulisan mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi ini dilakukan melalui lomba KTI untuk mencapai target perkuliahan tersebut. Melalui lomba ini diharapkan banyak keuntungan yang didapatkan, yang secara kognitif menghasilkan dua skill yaitu hardskill (keahlian kasar) kemampuan mencari referensi, kemampuan menyusun draft tulisan, kemampuan menuliskan gagasan) dan juga softskill (kesabaran, keuletan dalam membaca dan menulis).

Beberapa mahasiswa KPI kata Kosma banyak yang tidak punya kemampuan membuat KTI. Jadi tugas ini menjadi beban tambahan katanya. Ini akan dijawab dalam penjelasan sisi psikomotorik di bagian berikutnya. Saya akan menjelaskan dulu aspek afektif tugas ini.

Melejitkan Afeksi Mahasiswa

Afeksi atau afektif itu berkaitan dengan perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai dalam kajian psikologi. Apakah lomba KTI bisa meningkatkan sisi afektif mahasiswa KPI? ya sangat bisa dan itu sudah dirasakan oleh mahasiswa KPI angkatan 2017.

Tahun 2018 ketika saya mengajar salah satu mata kuliah jurusan KPI saya tanya mahasiswa di tiap kelas, siapa yang senang menulis? Jawabannya mayoritas tidak menyukai penulisan. Hanya 2-3 orang yang punya basic belajar menulis ketika SMA. Itu pun tidak terasah lagi ketika sudah kuliah. Padahal sebagaimana dijelaskan di atas salah satu kompetensi KPI adalah membuat karya tulis. Lalu bagaimana bisa mereka tidak senang dengan kompetensi yang akan dipelajarinya. Maka Saya mengajak mereka untuk mencintai proses menulis dengan beberapa tugas. dan tugas akhir mata kuliah tersebut ikut lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh Kementerian Agama.

Dari 4 kelas yang saya ajar, jika dihitung masing-masing kelas 40 orang maka saat itu ada 160 orang yang diasah kemampuan menulisnya. mereka mengirimkan tulisan ke panitia lomba. Ternyata yang mengikuti lomba tersebut ada 1000 orang. artinya mahasiswa dari UIN Bandung yang ikut lomba tersebut ada 16%, jumlah yang besar. Terseleksi 23 orang lolos di babak semi final, dan mahasiswa KPI masuk final juara Katagori Essay Individu, yaitu Zulfa Ulyah Kartika.

Lihat berita pengumuman resmi di Website Pendis Kemenag http://www.pendis.kemenag.go.id/index.php?a=detil&id=10069#.Xpl4eJmyTIU dan berita dari Suaka di https://suakaonline.com/zulfa-ulyah-kartika-bawa-uin-bandung-juara-1-lomba-essay-kemenag/ 

Siapa yang bangga dengan prestasi mahasiswa KPI tersebut? bukan hanya Zulfa, tapi juga teman-temannya, Ketua Jurusan, Dekan, bahkan Rektor. Zulfa dapat hadiah uang tunai dari Kemenag. Lalu Dekan juga memberikan uang pembinaan, dan tidak lupa Rektor memberi penghargaan. Saya ikut mengantarnya ketemu pimpinan Dekanat dan  Rektorat saat itu.

Ini sisi afeksi ikut lomba ada kebanggaan ketika perjuangan berbuah keberhasilan. Kebanggaan ini juga ditampilkan ketika Zulfa ikut berjajar dalam pameran prestasi UIN Bandung dalam rangka visitasi akreditasi Perguruan Tinggi UIN Bandung tahun 2019 berjejer bersama dengan mahasiswa jurusan lainnya yang juga berprestasi tingkat nasional.

Keberhasilan Zulfa memenangkan perlombaan tersebut memberikan  efek positif pada teman-temannya. Muncul perasaan, minat, sikap, dan nilai yang positif dalam bidang penulisan. Banyak yang awalnya skeptis dengan kemampuan dirinya untuk bisa menulis, berubah menjadi optimis. Perlu ikhtiar lebih untuk bisa sukses dalam mengembangkan kompetensi menulis.Apalagi lomba penulisan ada iming-iming hadiah besar. Kalau berhasil tentu keuntungannya berlipat.

Merawat Psikomotorik Menulis

Menurut Bloom (1979) psikomotik adalah ranah yang menitikberatkan kepada kemampuan fisik dan kerja otot. Kaitannya dengan lomba ini, yang harus Anda siapkan dalam menulis itu kemampuan untuk menulis, menulis dan menulis. Kata Thomas E. Tyner (2007) dalam bukunya Writing Voyage: A Process Approach to Writing, bahwa menulis itu adalah perjalanan. Kita harus menikmati prosesnya bukan sekedar ingin langsung mendapatkan hasilnya.

Lomba KTI yang diadakan Bapusipda tersebut itu ada jadwalnya yang cukup panjang 14 April 2020-15 Mei 2020, artinya ada waktu 4 minggu untuk proses membuat draft, merevisi, memperbaiki, melengkapi, menghasilkan, dan baru mengirimkan. Membuat tulisan tidak cukup hanya menggunakan SKS seperti gaya mahasiswa millenial mengerjakan tugas makalah. Sistem Kebut Semalam dengan mencontek, plagiat karya orang lain dari internet. Tapi harus disusun kata-per kata, setiap gagasan dalam paragraf. Berarti itu banyak menyita waktu pak? tidak juga. Kerjakan saja dalam waktu 10-15 menit. tapi setiap hari. Harus menyisihkan waktu.

Makanya saya mengagendakan dari 4 minggu waktu penulisan minggu ke-1 siapkan judul, cari referensi dan cari bahan tulisan, Minggu ke-2 laporkan judul, buat draft. Minggu ke-3 Kita evaluasi draft tulisan dan segera perbaiki dan minggu ke-4 tulisan final dan kirimkan. Setelah itu tawakal.

Bagi mahasiswa semester 2 target ikut lomba untuk mengasah saja. Anda kirimkan tulisan yang sudah maksimal dan rasakan proses perjalanan penulisannya. Tidak harus ideal, yang penting kerjakan sesuai dengan tahapan perjalanan tugas penulisan. Dosen juga tidak akan diam, membiarkan Anda terjun tanpa bimbingan dan pemantauan.

Sistem bimbingan penulisan yang saya lakukan, Anda terjun saja langsung dalam penulisan. seperti berenang langsung saja terjun ke air, rasakan dinginnya air, rasakan menahan nafas dalam air, dalam menulis juga begitu, rasakan susahnya mencari referensi, rasakan bingungnya membuat kalimat dan paragraf, rasakan berdebarnya jantung ketika ingat deadline pengiriman utlisan semakin dekat. Proses belajar menulis itu akan terasa manfaatnya.sekali lagi Writing Voyage

Ingat nasehat dari Imam Syafei yang mazhab fikihnya menjadi anutan mayoritas umat Islam di Indonesia.
Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar,
Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya,
maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya.

Demi Allah, hakekat seorang pemuda
adalah dengan ilmu dan takwa.”

Jadi masihkah Anda merasa bahwa ikut lomba menulis itu beban atau tantangan?

Berikut informasi lomba tersebut dalam format poster dan teks




LOMBA KARYA TULIS ILMIAH
Tema:
PERANGI COVID-19 DENGAN DIAM DI RUMAH

SUBTEMA
- Politik, Sosial & Humaniora
- Sains & Teknologi
- Ekonomi & Pembangunan
- Agrokomplek
- Hukum & Pertanahan
- Kesehatan


Persyaratan Peserta
- Pegiat Literasi
- Mahasiswa
- Umum

Syarat Karya Tulis 
- 5000 Kata
- Huruf Times New Roman 12
- Kertas A4
- Spasi 1,5

TIMELINE
Penulisan mulai 14 April s.d 15 Mei 2020
Penilaian oleh Juri 20 Mei s.d 25 Juni 2020

KARYA TULIS DAPAT DIKIRIM KE 

bidangbpbgmdispusipdajabar@gmail.com

LINK PENDAFTARAN
https:/ /bit.ly/2xezi1i

INFO
Peserta Tidak Dipungut Biaya

JURI
- Adi Rustandi, M.Pd. FKIP UNPAS
- dr. Basti Andriyoko, SPPK(K) Staf Laboratorium Patologi RSHS
- Ir. Jumari Haryadi Penulis dan Motivator

HADIAH TOTAL 37 JUTA

TULISAN TERBAIK AKAN DIBUKUKAN

CONTACT PERSON
IKA (081321961585)
FIA (08112441563)
Share:

Posting Komentar

Copyright © Uwes Fatoni. Customized by Kanguwes