Tugas Kuliah Ikut Lomba, Tambah Berat Aja?

Oleh, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag

Renungan untuk mahasiswa yang sedang berjuang fi Sabilillah, para pejuang pencari ilmu.

Yuk kita renungkan Sejenak dengan menggunakan logika dan hati yang tenang. Apakah tugas  perkuliahan itu harus dianggap beban atau tantangan? Bila berpikir tugas adalah beban berarti tugasnya abaikan saja karena beban tidak dikerjakan selesai urusan, tapi bila dianggap tantangan ya kerjakan sampai selesai dengan penuh kesabaran. Nilai kuliah ya sesuai amal-amalan.

Setahu saya masa perkuliahan adalah masa pembelajaran,  masa banyak berlatih dan mencoba. Mumpung belajar, kalau salah ya harap maklum orang lagi belajar.

Tapi, Kuliah bukan hanya melatih hard skill seperti menambah banyak ilmu dan pengetahuan serta keterampilan teknis, tapi juga melatih soft skill, melatih kesabaran, keuletan dan keteguhan, untuk mencapai apa yang diinginkan sebagai tujuan Kuliah. Apa tujuan kuliah? Sederhana saja mahir dalam bidang sesuai ranah jurusan tempat kuliah.


Apakah tugas kuliah seperti membuat video digital itu berat bagi mahasiswa KPI? Ya berat, bila tugasnya dobel. Kenyataannya tugas pekan ini penulisan dihentikan diganti dengan tugas dakwah digital ini. Jadi tetap hanya satu tugas, tidak berat sebenarnya.

Kenapa tugas dakwah digital tidak dijadikan tugas UTS saja. Kemarin UTS kok gampang, pas tugas mingguan malah berat begini? Justru itu, biar tidak memberatkan maka dibuat terpisah dari tugas UTS. Jadi tugas UTS sudah selesai. Maka the show must go on, eh tugas lainnya terus berlanjut.

Saya masih ingat Di awal semester ini, saat Anda ikut mata kuliah jurnalisme dakwah, dan disampaikan tugas penulisan mingguan, berapa banyak yang hobi menulis, mengirimkannya ke koran lagi? Bisa dihitung dengan jari, malah jangankan hobi, justru banyak belum pernah sama sekali.

Minggu Awal tugas penulisan banyak yang laporan bingung, tapi setelah mengikuti petunjuk dan contoh, akhirnya minggu berikutnya tugas penulisan menjadi sesuatu yang biasa. seiring waktu ternyata malah banyak yang tulisannya tembus di media nasional. Nasional loh, bukan media lokal, media nasional iri media dengan editor dan redaktur berpengalaman. Jadi kalau dimuat berarti itu hasil seleksi ketat.

Banyak yang tak pernah membayangkan waktu pertama menulis opini dan mengirimkan  tulisannya ke koran nasional tulisan tersebut akan dimuat. Kebanyakan tujuan mengerjakan tugas menulis agar gugur kewajiban, sederhana, yang penting tugas selesai. Tidak ada beban harus dimuat. Ternyata akhirnya ada yang dimuat, alhamdulilah, bonus. 

Nah soft skill inilah yang perlu dilatih dan disiapkan oleh mahasiswa zaman millenial yang ingin selalu cepat. Karena karakter anak zaman now suka terburu-buru akhirnya tidak menikmati proses tidak menikmati perjalanan. Padahal dibawa Santai saja, nikmati perjalanannya.  Jangan dibuat beban. 


Ada satu buku tentang kepenulisan yang bagus berjudul "Writing Voyage: A Process Approach to Writing" Karya Thomas E. Tyner penerbit Wadsworth Publishing; 7th edition (July 21, 2003) katanya menulis itu seperti mendayung, Kita harus menikmati prosesnya seperti voyage. Mendayung itu lambat, beda dengan perahu bermesin yang bisa cepat sampai tujuan. Karena lambat maka perlu kesabaran. Daripada kesal dengan perjalanan mendayung yang menjemukan maka lebih baik nikmati saja proses mendayung dalam lautan kata-kata tersebut. Toh akhirnya sampai juga, selesai juga tulisannya.

Ada pertanyaan, apa kaitannya Jurnalisme dakwah dengan lomba dakwah digital? Kan yang dilatih menulis bukan ceramah. 

Memang dakwah digital tidak berkaitan langsung dengan matkul, tapi tugas  ini melatih hard skill dalam 3 ranah KPI sekaligus yang saling berkaitan, membuat naskah ceramah (kitabah) menyampaikan ceramah tersebut secara lisan (Khitobah) dan memanfaatkan media untuk menyebarkan hasil ceramah tersebut (i'lam). 


Saya yakin 6 Minggu kemarin mahasiswa sudah terlatih untuk menulis. Maka sekarang waktunya untuk menyampaikan gagasannya melalui media. Salah satunya yang efektif dan memiliki peran ganda melalui perlombaan.

Mengapa lomba, digital lagi? saya kan belum terlatih, belum menguasai retorika, peralatan juga belum siap? karya itu bukan dilihat dari peralatan yang dimiliki tapi semata dari gagasan yang cara penyajiannya. Peralatan lomba yang terbaik adalah yang sekarang dimiliki. 

Sama seperti menulis ke koran, mengirim ceramah digital tujuannya hanya mencoba saja. 50% suksesnya perlombaan ditentukan dari waktu daftar, 50% sisanya takdir. Kalau menang alhamdulilah, kalau tidak, ya tidak masalah.

Jadi, tugas kuliah kalau bisa dikerjakan, ya kerjakan maksimal. Kalau tidak bisa maksimal ya kerjakan seadanya. Kalau tidak bisa dikerjakan sama sekali ya tidak perlu berkecil hati. 

Semua tugas sebenarnya akan kembali dan bermanfaat untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain. Dosen hanya memberi peluang mahasiswa untuk membuka potensi dirinya. Setelah dibuka maka tinggal tunggu takdirnya untuk jadi juara. Tapi, kalau tidak siap mengerjakan tugas ya tidak apa-apa. Berarti potensinya tidak akan terbuka.

Pak saya tetap protes, kata beberapa mahasiswa. Tenang saja protes tugas seperti ini juga pernah terjadi semester kemarin, Bulan April 2020. Dan saya jelaskan dalam tulisan di sini. https://www.kanguwes.com/2020/04/bagi-mahasiswa-kpi-tugas-ikut-lomba.html?m=1 

Hasilnya apa? 11 dari 21 finalis lomba tersebut berasal dari mahasiswa KPI dan 2 orang jadi juara. 

https://www.radarcianjur.com/2020/09/06/mahasiswi-kpi-uin-bandung-raih-juara-lomba-karya-tulis-ilmiah-dispusipda-jawa-barat/ 

Anda bisa baca sendiri beritanya. 

Nah kalau sekarang masih ada yang masih pemasaran agar tidak jadi ada tugas ini, Saya bawa santai saja. Ini penjelasannya, Gara-gara ada protes akhirnya Penjelasannya ini malah jadi tulisan. 

Kalau ada kesulitan dengan tugas lomba dakwah diigital ini boleh kita diskusikan. Bisa ditanyakan saat perkuliahan, nanti kita buat kuliah online zoom. Saya siapkannjuha  tutorial video bagaimana agar bisa mengikuti perlombaan kalau perlu bisa jadi juara. 

Sengaja tugas tersebut disampaikan sebelum perkuliahan pekan ini  biar ada waktu untuk mempersiapkannya. 

Jadi bismillah saja. Insya Allah, bila niat pekerjaan kita baik maka akan dibantu oleh semesta,  ingat ayat Al-Quran Surat At-Taubah ayat 105. Tugas kita adalah menyempurnakan ikhtiar.

“Dan Katakanlah: “”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Barakallahu li walakum

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi wabarokatuhu.

Share:

Posting Komentar

Copyright © Uwes Fatoni. Customized by Kanguwes